Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 37


__ADS_3

Rasanya menyenangkan sekali bisa mendengar kembali suara lenguhan Salma. Sebutan nama yang terdengar jauh lebih se-xy dari biasanya. Karena kalian tahu? Suara itu disertai sedikit de sahan yang membuat Sabda semakin jatuh pada gelombang kenikmatan yang tidak bisa diucapkan dalam bentuk kalimat,


Meski rasanya sudah tak tahan ingin ikut berteriak, Sabda berupaya keras untuk menahannya. Dia tidak ingin, apa yang kini mereka lakukan justru menganggu ketenangan penghuni rumah.


Belum lagi, derit ranjang yang selaras dengan gen jotan Sabda. Rasanya akan semakin sungkan jika pak Arif besok akan bertanya; Apa Panji dan istrinya menginap? Sebab pria itu tahu kalau mereka masuk ke kamar Salma. Sepertinya malam ini dia harus menyusun kalimat yang tepat, berjaga-jaga jika ada pertanyaan nyleneh dari penghuni rumah.


"Udah, kan?" tanya Salma, dengan mata setengah terbuka. Bagaimana tidak lelah, mereka sudah bermain satu jam lima belas menit. Seprei warna tosca pun sudah penuh bekas keringat mereka berdua.


"Kamu lelah?"


"Sedikit. Tapi kamu udah belum?"


"Tadi sih udah, yang ketiga bentar lagi!"


"Habis ini udah ya?"


Sabda tidak menjawab. Dia justru mendaratkan bibirnya di atas bibir Salma. Melu matnya penuh nafsu. Berusaha mendaki ******* untuk ke tiga kali, dengan gerakan di bawah sana semakin cepat dan dalam. Saat hampir sampai puncak teratas, Sabda justru mengubah gaya ber cinta mereka, kini giliran Salma yang berperan aktif di atas tubuhnya.


Dibantu dengan kedua tangan Sabda yang menekan pinggang Salma. Akhirnya, pria itu tiba di titik ******* bibirnya yang terbuka langsung diraup oleh Salma, sepertinya dia juga takut teriakan Sabda membangunkan Bapak dan ibu.


Salma ambruk di atas tubuh Sabda, dia bisa merasakan bagaimana bibir Sabda berusaha mengecupi wajahnya. Sayangnya, rasa kantuk yang menerpa membuatnya enggan untuk melayani pria itu.


"Mas, kita harus pindah ke kamar. Nanti Ody nyariin kita?!" Kata Salma, di tengah rasa kantuk dia masih ingat jika mereka berdua tengah berada di dalam kamar Panji.


"Di sini dulu, aja. Sebelum adzan subuh nanti kita pindah." Sabda membalas tanpa membuka matanya. Kalau sudah memeluk tubuh Salma rasanya malas untuk kembali menjauh. Dia merasa tubuh Salma itu magnet dan dia adalah benda logam yang ingin terus menempel.


Salma yang merasa tubuhnya remuk redam hanya bisa pasrah. Dia berpindah ke samping Sabda, dengan tangan memeluk tubuh pria itu.


Jarum jam terus bergerak maju. Suara adzan subuh terdengar samar di pendengaran Salma. Sangking lelahnya, tubuhnya masih enggan untuk beranjak dari ranjang.


"Yang, salat nggak?"


"Iya." Salma menjawab lirih. "Aku salat di rumah saja," sambungnya dengan suara serak.


"Mas Sabda bangun! sana salat ke masjid!" kata Salma lagi, ketika tak mendengar respon apapun dari Sabda.


"Aku juga di rumah aja, jadi imamnya kamu."

__ADS_1


Udara kota Semarang yang kebetulan sedang dilanda hawa dingin membuat Salma kian meringkuk, mencari kehangatan dari tubuh Sabda.


Sialnya kantuk dan lelah membuat keduanya khilaf.


Tepat pukul setengah enam, keduanya terperanjat mendengar teriakan dari seorang anak kecil yang mendadak masuk ke dalam kamar. Salma yang hanya mengenakan pakaian dal am langsung bersembunyi di bawah selimut, bahkan ujung rambutnya sampai tak terlihat sedikitpun.


"Apa sih, Ody. Masih pagi kok udah teriak-teriak!" kata Sabda sambil mengucek matanya yang terasa lengket.


"Besok lagi Ody nggak mau bobo duluan. Ujung-ujungnya Ody ditinggalin ayah sama bunda!" protes Aundy, ternyata ada niatan tersembunyi, atas permintaan orang tuanya yang memintanya tidur lebih awal. Dia tidak tahu saja jika semalam Salma juga ikut terlelap.


Ah, gadis kecil ini—nggak ada pengertian sama sekali! Sabda menggerutu dalam hati.


"Bunda! Bangun bunda! Gantian aku yang bobo sama ayah! Ih, bunda manja banget!" oloknya.


"Iya, bunda udah bangun kok, ini bunda juga mau mandi. Ody, sana keluar dulu!" Usir Salma. Dia tidak ingin Aundy melihatnya berjalan tanpa pakaian.


"Enggak mau!" tolak Aundy.


"Ody, sana dulu ya Sayang—nanti kita bobo bareng, ayah janji! Kita mau salat nih! Keburu masuk salat duha!" bujuk Sabda.


"Ody tunggu di depan pintu ya!" bujuk Salma. Ikut memohon.


Melihat Aundy sudah keluar Sabda lekas mengunci pintu kamar. "Kamu sih kemarin lupa ngunci pintu, kan!"


"Gara-gara kamu yang langsung main sosor aja!"


"Udah yuk mandi! Keburu habis waktunya!" ajak Sabda, yang langsung menggendong tubuh Salma masuk ke dalam kamar mandi.


Sabda masih dalam mode waras, bahkan hanya butuh lima menit saja mereka berdua bisa menyelesaikan mandinya.


Dalam hati Salma merasa bahagia bisa kembali salat dengan Sabda. Setelah salat selesai, tak lupa dia menyisipkan doa untuk kebahagian keluarga kecilnya.


Setelah selesai mereka berdua keluar dari kamar Panji. Aundy terlihat sudah berdiri di depan pintu. Gadis itu begitu manja dengan Sabda, dia langsung minta gendong bak batita yang ingin ditimang-timang.


Sedangkan Salma, memilih sibuk di dapur membantu ibu yang sedang menyiapkan sarapan. Bu Deva yang melihat tetesan air dari rambut Salma hanya menahan tawa. Dia tidak mau bertanya pada Salma, pasti putrinya akan sangat malu jika tahu ternyata dia paham akan arti air yang masih menetes di rambutnya itu.


"Ibu, nanti aku balik ke Kulonprogo ya."

__ADS_1


"Terus kapan lagi kamu mau main lagi ke Semarang?"


"Em, mas Sabda punya rencana kalau cuti berikutnya dia akan langsung membawa Salma ikut dengannya. Jadi, Salma nggak tahu kapan bisa balik lagi."


"Kamu sudah bicarakan ini dengan Farhan?"


"Belum, lagian masih lama."


"Tapi semakin cepat semakin baik. Dia juga bisa menemukan pegawai pengganti yang bisa dipercaya."


"Iya. Nanti Salma bakal bahas ini ke mas Farhan."


Hening ketika Salma mulai sibuk mengupas bawang. Dia fokus dengan apa yang ada di depannya.


"Sal? Segera bikin adik untuk Ody jangan ditunda-tunda lagi. Biar manjanya Ody juga berkurang," kata Bu Deva saat melihat Aundy yang masih nyaman di gendongan Sabda.


"Doain aja Bu. Soalnya datang bulan Salma juga nggak lancar."


"Ya, pasti. Seorang Ibu akan selalu berdoa untuk kebahagiaan anak-anaknya."


Salma mengangguk, kegiatannya sudah beralih menggoreng ayam katsu yang sudah disiapkan ibunya. "Ibu juga jaga kesehatan. Jangan terlalu ngurusin laundry an!"


"Ibu itu kalau nggak kerja badannya sakit semua!"


"Ya asal ibu nggak lupa, sama tujuan ibu buka laundry itu hanya untuk hiburan semata. Sebenarnya kalau masalah uang, bapak juga masih bisa ngasih ke ibu."


"Hm, iya, iya! Nanti kalau Rianty udah punya anak, mungkin ibu akan berhenti dan ngasuh anaknya saja."


Salma berdecak. "Ngurus anak kan jauh lebih capek, Bu! Udah ibu di rumah saja, berpangku tangan, nyiapin makanan untuk bapak. Nikmati masa tuamu Bu!"


"Udah, udah! dari pada kamu mikirin ibu, lebih baik memikirkan usaha apa yang akan kamu buat saat nanti di sana. Mau ikut-ikutan buka laundry?"


Salma sendiri masih bingung, mungkin setelah melihat situasi di sana dia akan membicarakannya dengan Sabda.


Pagi ini Salma menerima banyak wejangan dari Bu Deva. Sampai sarapan siap Bu Deva baru mengakhiri obrolannya.


Di meja makan sederhana itu, giliran Sabda yang mendapat ceramah dari ibu. Lain hal nya dengan pak Arif yang sibuk melayani Aundy.

__ADS_1


Saat jarum jam menunjukan pukul sepuluh pagi, mereka memutuskan untuk kembali ke Kulonprogo. Salma tidak bisa menunda lagi saat mendengar kabar jika partner kerjanya tengah sakit.


__ADS_2