Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 20


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Salma. Akhirnya yang ditunggu-tunggu telepon juga."


Suara ramah menyapa pendengaran Sabda ketika panggilan itu diangkat oleh Bu Deva. Tapi tiba-tiba saja, lidah Sabda terasa kelu. Rasa takut diabaikan mendadak muncul, baru kali ini Sabda berharap Bu Deva tidak akan langsung menutup panggilannya.


"Salma!"


"Wa'alaikumsalam, Bu Deva. I-ini saya, Bu!" sahut Sabda, terbata-bata.


Hening, seakan wanita di ujung panggilan sana. Tengah sibuk mengenali sosok yang sedang berbicara.


"Saya? Saya si—apa maksudnya?"


Suara marah dari ujung panggilan membuat nyali Sabda menciut. Akan tetapi, raut kekecewaan yang ditampilkan oleh Salma, seakan mencambuknya supaya dia tidak menyerah. "Bu, maaf, ini saya Sabda! Saya yang menelpon ibu."


"Sa—Sabda?! Kenapa kamu datangi Salma? Belum puas nyakitin putri dan cucunya!" fakta tersembunyi di balik perceraian Sabda dan Salma sepertinya begitu membekas di hati Bu Deva, menciptakan rasa dendam yang justru semakin tumbuh subur, karena hingga detik ini mereka belum tahu cerita aslinya seperti apa.


Hanya omelan yang bercampur amarah yang mampu didengar oleh Sabda. Seandainya jarak mereka dekat, pasti saat ini juga dia akan duduk bersimpuh di depan Bu Deva dan pak Arif, berjanji akan bertanggung jawab penuh atas kehidupan Salma dan Aundy. Memang tidak semua orang berhak mendapat kesempatan kedua. Tapi, kali ini Sabda sudah berniat maju, untuk menjelaskan semuanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Dia harus mengantongi restu dari keluarga Salma.


"Ibu, tolong berikan saya restu. Saya ingin menikahi Salma!"


Terdengar tawa dari seberang panggilan. Tawa yang seakan meruntuhkan keinginan Sabda yang begitu tinggi.


"Tidak akan, Sabda! Sudah cukup kamu menyakiti Salma. Dan sampai kapan pun kami keluarga Salma tidak akan rela kamu masuk dalam kehidupan Salma lagi. Di mana putriku?!"


Wajah Sabda tampak frustasi. Dengan berat hati dia memberikan ponselnya kepada Salma.


"Hallo, Bu—kenapa? Ada apa?!" sapa Salma. Sambil tersenyum licik ke arah Sabda.


"Astaghfirullah, Salma. Apa kamu baik-baik saja? Apa pria itu mengganggumu?"


"Ti—tidak, Bu! Mas Sabda datang baik-baik ke Salma. Dia minta rujuk ke Salma demi Ody. Dan sepertinya dia sudah move on dari Salma."


"Apa kamu setuju? Ingat Salma, tembok penghalang kalian itu banyak, apa kamu tidak takut dia akan selingkuh lagi, dan lagi keluarga Sabda nggak akan rela dia menikah denganmu!"


"Salma sedang berusaha membuang rasa takut itu, Bu! Kalau dia orang pandai, Sabda tidak akan jatuh pada lubang yang sama. Dan lagi, Bu. Untuk kejadian di masalalu, sepertinya ... Salma yang terlalu cepat mengambil keputusan tanpa mendengar penjelasan dari Sabda dan Regina. Tapi apapun itu, tanpa restu dari bapak dan ibu Salma tidak akan menikah dengan Sabda."


"Kamu masih cinta sama Sabda?!" tanya Bu Deva.


"Kenapa ibu tanyanya begitu?" Salma sengaja menjauh dari Sabda. Dia duduk di sofa yang ada di dalam kamar, membiarkan kaca menjadi penghalang antara dirinya dengan pria itu.


"Salma! Itu perlu, Nak!"


"Mengenai perasaan Salma, aku masih berpikir, Bu!" ujarnya pelan. Meski sebenarnya Salma tidak bisa membohongi hatinya, dia masih teramat mencintai Sabda. Apalagi semenjak kemunculannya di hari itu.


Hening, keduanya saling diam. "Masalah ini, ibu akan bicarakan dulu dengan bapak. Untuk sementara jangan terlalu dekat dulu dengan Sabda. Bisa jadi kami tidak akan merestui hubungan kalian."

__ADS_1


"I—iya, Bu!" Jawab Salma.


"Sekarang, ibu mau ngomong serius sama kamu!"


"Hm? Kenapa, Bu?" Salma menegakan tubuhnya.


"Apa kamu enggak berniat pulang?"


"Kenapa memangnya, Bu?'


Helaan napas panjang terdengar mengapa pendengaran Salma. Bu Deva seakan tengah dirundung beban berat.


"Salma, lusa adikmu mau menikah. Maaf kami ngasih tahunya dadakan." terdengar suara Isak tangis dari seberang panggilan.


Salma khawatir, apa adiknya itu menghamili anak orang? Kenapa ibu menangis seperti itu? "Bagus dong, Bu! Kenapa ibu menangis?"


"Salma, Panji kemarin digrebek sama warga di rumah Rianti. Dia ngencani janda tetangga kampung. Anaknya pak KADES."


"Hah? Ibu serius?" Salma tampak terkejut mendengar penjelasan ibunya.


"Iya, Sal! Gimana nggak kesel coba! Bayangin aja, udah janda, punya anak satu, seumuran lagi sama Ody!"


Ibu saja nggak setuju anaknya menikahi seorang Janda? Apalagi pria yang akan mendekati ku pasti juga akan ditentang mentah-mentah oleh keluarganya. Pikir Salma.


"Apa salahnya dengan janda, Bu?!" Protes Salma. "Kalau keduanya saling suka, kenapa harus ditentang? Kebahagian Panji dia yang menentukan, ibu hanya perlu memberi restu dan berdoa yang terbaik untuknya." Salma menarik napas dalam -dalam. "Apa ibu lupa, kalau punya putri yang juga berstatus janda. Janda juga punya perasaan, Bu. Entah luka apa yang pernah dialami Rianti, mungkin Panji juga kebahagian yang dikirim Tuhan atas kesabaran Rianti. Apa ibu malu punya anak janda dua kali?"


"Ibu yang ikhlas, jangan sampai dicap mertua jahat di depan menantu ibu. Okay? Apapun itu, Sayangi Rianti dan anaknya!"


"Terus kamu mau pulang nggak?!"


"Bu, Salma kirim hadiah aja ya buat Panji. Sama doain dari sini. Soalnya trauma Ody belum juga sembuh."


"Padahal ibu sudah kangen banget sama kalian. Ibu kangen sama cucu ibu."


"Maaf, Bu. Salma usahain buat menyembuhkan trauma Ody dulu—nanti setelah semuanya kondusif insya Allah, tempat pertama yang akan Salma kunjungi adalah rumah ibu dan bapak."


Diam-diam Sabda menelinga obrolan Salma dengan Bu Deva. Usai panggilan itu terputus Sabda berusaha memberikan tawaran kepada Salma.


"Si Panji serius mau menikah?" tanyanya basa-basi.


"Ya."


"Kapan?"


"Besok."

__ADS_1


"Dan kamu nggak mau pulang?"


"Enggak, kondisi Ody nggak memungkinkan untuk dibawa naik mobil."


Sabda berusaha memikirkan solusi. "Apa kalau kita melakukan perjalanan malam hasilnya akan sama saja?"


"Aku belum pernah mencoba?!"


"Kenapa nggak dicoba? Mungkin itu bisa dijadikan alternatif. Supaya bisa balik ke Semarang. Aku bisa mengantarmu, kita bisa melakukan perjalanan dengan santai, Sal!"


"Aku pikirkan nanti lagi." Salma mendekati ranjang, dia tersenyum cerah melihat Aundy sudah membuka mata.


"Bunda— mau peluk! Semalam Ody kangen banget sama bunda. Ody sampai marah-marah sama ayah!"


"O, ya?" Salma mengabulkan permintaan putrinya, sepertinya dia memang tidak bisa berpisah jauh dengan Aundy.


"Gimana kalau kita pergi sarapan dulu! Lihat kalian berdua rasanya perut ayah selalu lapar dan ingin makan enak." Melirik ke arah Salma, sosok itulanh yang dimaksud santapan paling enak menurutnya.


"Ayah, gimana kalau kita sarapannya di dalam kamar saja?!" Tangan Aundy mendarat di kening Salma. "Tuh, bunda masih demam, Ayah!"


"O, ya?" Sabda melangkah mendekati mereka, melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Aundy. "Iya, bunda masih demam. Ayah pesan sarapan dulu, ya! Sama sekalian tanya dokter jaga," pamit Sabda.


Melihat Sabda berlalu dari kamar, Aundy buru-buru melepas bajunya. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk berendam di dalam bathtub. Gadis itu sibuk berendam, mengabaikan Salma yang berbaring di atas ranjang.


Hampir dua puluh menit berlalu, Sabda sudah kembali masuk ke dalam kamar. Kali ini kedatangannya tidak sendiri, dia bersama dokter jaga yang biasa merawat tamu hotel.


"Sudah sejak kapan anda demam, Bu?" tanya sang dokter sambil melakukan pemeriksaan di tubuh Salma.


"Sejak kemarin, Dok."


"Apa anda sedang datang bulan?"


"Iya, Dok." Salma menjawab ragu, mengingat dokter yang didatangkan adalah laki-laki.


"Apa anda ada gejala awal kehamilan."


"Enggak. Saya sedang datang bulan, Dok. Lagian mana mungkin saya hamil, berhubungan saja tidak pernah!"


Melihat sang dokter melirik ke arah Sabda, membuat Salma sadar jika dia sudah salah bicara.


"Dok, siklus datang bulan saya carut marut, jadi saya tidak begitu paham berapa lama periode datang bulan saya. Apa ini ada hubungannya dengan demam dan kram perut yang saya alami, Dok?"


"Sepertinya begitu. Untuk sementara waktu, saya beri obat pereda nyeri dulu ya! Misalkan gangguan nyarinya belum juga mereda segera datang ke rumah sakit Pelangi nanti ketemu dengan dokter Wulan ya!"


"Baik, Dok terima kasih."

__ADS_1


Salma masih terdiam menatap punggung Sabda yang mengantarkan dokter. Saat pria itu kembali, dia langsung menyuapi Salma dengan menu sarapan. Membiarkan Aundy sejenak bermain di dalam kamar mandi.


"Setelah ini kita bicara dengan Ody!" kata Sabda. Selain menghantarkan Salma, dia juga ingin meminta restu dari keluarga besar Salma.


__ADS_2