
Senyum puas yang ditampilkan oleh Endra, seakan menunjukan jika pria itu sudah menyadari keberadaan Sabda sejak awal. "Apa dia pria yang kamu maksud itu?!" tanya Endra. "Dia juga mengkhianatimu, bukan?!" suara Endra lebih terdengar protes atas kesempatan kedua yang diberikan Salma untuk Sabda.
Salma enggan merespon, melihat amarah Sabda kian membara, Salma dengan cepat meraih lengan pria itu. "Mas udah! Sebaiknya kita jauhi dia!" minta Salma, tak ingin terjadi keributan yang lebih besar lagi.
"Udah apanya? Aku belum memulainya, Sal!" Pria itu memaksa cekalan Salma supaya terlepas. Supaya dia bisa melanjutkan langkahnya menghampiri Endra. "UNTUK APA KAMU DATANG?!" bentak Sabda.
"Mas Sabda!" Salma terkejut ketika Sabda langsung mendaratkan pukulan keras di wajah Endra. "Apaan sih kamu, Mas!" protes Salma, berusaha menghentikan tindakan Sabda.
Endra hanya tersenyum miring, sambil mengusap sudut bibirnya yang terasa ngilu. Membuat Sabda makin geram dan ingin segera menghabisinya. "Siapa kamu berani men-cium wanitaku!" Sabda melayangkan pukulan ke dua di wajah Endra.
Salma mulai khawatir. Dari segi postur tubuh Sabda jauh lebih pendek dari Endra. Tapi emosi yang kini menimpa pria itu, bisa jadi Endra kalah. Kejadian ini membuat Salma teringat masalalu di mana mereka masih duduk di bangku sekolah. Sabda memukuli pria yang menggendongnya ke ruang UKS. Lalu, tanpa sepengetahuannya Sabda justru memukuli pria yang menolongnya.
"Mas udah!" bentak Salma, saat keduanya saling melayangkan pukulan. "Mas Sabda, udah!" Jeritnya lagi. Suara Salma tak diindahkan sama sekali oleh dua pria itu. Mereka berdua seakan tengah berada di atas ring tinju, mencari siapa yang paling layak untuk jadi juara.
__ADS_1
Salma tidak kuat lagi, dia mendekat, berusaha memisahkan tubuh mereka berdua. Sialnya dorongan tak sengaja dari Sabda justru membuatnya terjatuh ke pasir.
Melihat dua pria itu masih sibuk bertarung, Salma memutuskan untuk meninggalkan mereka terserah, mereka mau mati karena adegan pukul memukul atau hanyut ditarik dewi pantai, dia berusaha untuk tidak peduli.
"Sialan!" Sabda yang menyadari lebih dulu kepergian Salma langsung menghentikan aksinya. Segera melangkah mengejar Salma.
Namun, karena jarak mereka sudah jauh sabda jadi kesusahan menarik lengan wanita itu. Keduanya baru berbicara setelah pintu masuk kedai tertutup rapat.
Salma hendak menutup pintu kamar tapi segera di hadang oleh tangan pria itu. Membuat Sabda dengan mudahnya masuk ke kamar itu lagi.
"Salma! Jangan-jangan kamu sengaja ya ber cium man di depanku. Sengaja buat aku marah! Kamu tahu kan kalau aku marah, reaksiku seperti apa?!"
Dada Salma kian bergemuruh, kesal juga dengan Sabda yang bersikap menyebalkan seperti itu. "Keluarlah!" Pintanya, lemah berusaha menahan amarah.
__ADS_1
"Dulu, aku nggak selingkuh kamu tuduh selingkuh aku berusaha sabar. Dan untuk sekarang, aku lihat bibirmu berciuman dengan Endra. Kesal banget ngerti nggak! Kenapa harus di depan mataku!"
"Ya, udah kalau emang kamu kesal, lebih baik keluar saja dari kamar ini!" usir Salma.
"Jadi, kamu nggak keberatan sama sekali jika dalam satu hari ada dua pria yang mencium bibirmu?!"
"Kamu kenapa sih?! Masih nyebelin begini?! Aku ngasih kesempatan ke kamu, mana mungkin juga membiarkan orang lain menjamahku! Aku sudah berusaha lepas, tapi tenagaku tetap saja kalah dengan Endra! Kamu pikir aku senang disentuh dia?! ENGGAK!"
"Enak banget jelasinnya! Makin kesel ngerti!" lirih Sabda, melengos ke arah jendela kamar. Dari sinilah dia menemukan Salma berjalan dengan Endra, sampai akhirnya dia memutuskan untuk turun dan menghampiri mereka. Akan tetapi, saat jarak yang memisahkan mereka semakin dekat, Sabda justru disuguhkan dengan adegan mesra dua orang itu.
"YA UDAH, KALAU MEMANG KAMU KESEL PERGI AJA, DAN NGGAK USAH BALIK KE SINI!" Salma berteriak lantang. Mengundang perhatian seseorang yang baru saja keluar dari kamar. "Lagian, kamu juga cuma mantan! Belum jadi suami aku! Aku jadi berpikir ulang lagi untuk hubungan kita. Yang dilakukan Endra baru men cium bibirku, gimana kalau kejadian selama aku menjadi istrinya selalu menghantui hubungan kita ke depannya! Pikir-pikir lagi ajakan rujukmu itu! Aku nggak mau, sesuatu yang kupikir akan mendatangkan kebahagian justru akan berakhir pada luka yang sama dengan sebelumnya!" Salma mendekat ke arah jendela, tampak sosok yang tadi bertengkar dengan Sabda masih berada di pesisir pantai.
Sedangkan Sabda, menyadari apa yang dilakukan oleh Salma dia langsung meninggalkan kamar wanita itu. Menutup kasar pintu kamar Salma, hingga menimbulkan bunyi yang begitu keras. Salma berusaha memejamkan mata, mengatur napasnya yang menggebu. Hatinya bimbang, rasa takut untuk membuka lembaran baru dengan Sabda kembali hadir dan menghantuinya.
__ADS_1