
Dering panggilan masuk membuyarkan lamunan Salma yang tengah duduk di samping jendela kamar. Tanpa berniat mengabaikan panggilan itu, Salma lekas mengangkat nya.
“Salma, kamu pulang ke Semarang? Kenapa nggak ngasih kabar aku dulu!”
Pertanyaan itu menyambut pendengaran Salma, saat panggilannya terhubung.
“Hehehe, iya Mas—maaf. Ada acara dadakan yang mengharuskan aku pergi. Saudaraku satu-satunya menikah besok pagi. Apa Mas Farhan sudah kembali lagi ke kedai? syukurlah kalau sudah kembali, itu artinya Mas Farhan bisa menggantikan aku untuk sementara waktu.”
“Lalu Aundy gimana kondisinya?”
“Alhamdulillah dia udah mau main kok. Kemarin kita ambil perjalanan malam hari. Jadi, tidak begitu rewel.”
“Begitu? Kalau begitu, aku ke Semarang, biar kita bisa pulang sama-sama.”
"Hah? Jangan Mas! Jangan!" tolak Salma, sungkan jika terus merepotkan atasannya.
“Kenapa, Sal? Rencana kapan kamu kembali ke Kulonprogo? Eh, tunggu lalu sekolah Aundy gimana?”
Salma mengernyit bingung atas pertanyaan yang dilemparkan Farhan. Bukankah itu pertanyaan berlebihan dari sebuah hubungan antara bos dan karyawannya?
“Be—lum tahu sih, Mas. Tapi aku usahain secepatnya kembali ke kedai kok.”
“Baiklah. Aku akan menunggumu di sini.”
Belum juga Salma menjawab, panggilan itu diputus sepihak oleh Farhan. Pria di seberang sana seakan keberatan dengan kepergiannya tanpa pamit ini. "Aneh emang ya Mas Farhan ini. Bertingkah sok jadi suami," gumamnya, seraya mengayunkan langkahnya ke atas ranjang. Dua merebahkan tubuhnya di sana. Seharian ini Salma sudah membersihkan kamarnya. Jadi, dia bisa menempati kamarnya sendiri.
Acara pernikahan Panji akan digelar besok pagi. Dan rencananya, pernikahan itu akan diadakan di rumah mempelai wanita. Yang kebetulan rumahnya tidak begitu jauh dari rumah pak Arif.
__ADS_1
Dari cerita tetangga yang tadi bantu-bantu ibu memasak di dapur. Calon mertua Panji begitu senang menerima hubungan Panji dan Rianty. Siapa yang menyangka kalau hubungan mereka sudah terjalin dua tahun lamanya. Panji begitu pintar menutupi semuanya dari keluarga, termasuk Salma sendiri.
Dan masalah penggrebekan itu, mereka hanya salah paham karena Panji sering mendatangi rumah wanita itu di malam hari supaya tidak ketahuan—mereka mengira Panji dan Rianty berbuat zina, padahal tidak sama sekali. Dan ternyata, sosok yang ada di balik penggrebekan itu adalah mantan suami Rianty.
Salma hanya termangu saat mendengar pengakuan Panji tadi siang. Tapi apapun itu dia akan mendukung sepenuhnya keputusan Panji. Dia salut dengan Panji yang begitu berani mengambil langkah untuk menikah.
“Bunda! Ayah datang.” suara teriakan dari Aundy yang baru saja memasuki kamar mengejutkan Salma. Gadis itu seakan melaporkan suasana di luar kamar.
“Apa?!” tanya Salma memastikan jika dia tidak salah mendengar.
“Ayah datang, Bunda! Ditemani om-om ganteng!” ujarnya penuh antusias.
“Astaghfirullah, Ody! Emangnya Ody tahu cowok ganteng itu seperti apa?” goda Salma seraya turun dari ranjang. Dia terpaksa menunda niatannya yang ingin tidur lebih awal.
“Tahu, dong! Udah bunda keluar aja! Nanti keburu akung sama ayah bertengkar!” pinta Aundy seraya menarik lengan Salma. Gadis itu tidak paham saja, jika kedatangan Sabda bukan untuk menemui Salma, melainkan untuk bertemu dengan pak Arif.
“Ngapain kamu datang?!”
Suara Salma berhasil menarik perhatian mereka. Dua pria itu langsung menoleh ke arah Salma. Berbeda dengan Rendi yang tampak tersenyum cerah melihat keberadaan Salma. Wajah Sabda justru berubah tegang, melihat Salma berdiri di sampingnya. Mendadak rasa nerveos menyergap, padahal jika dipikir lagi bukan sekali dua kali dia mendatangi rumah Salma.
“Kok ngapain sih? Ya mau berjuang demi kamu. Minta langsung sama bapak kamu! Syukur –syukur besok kita dinikahkan langsung sama bapak kamu.” Sabda berkata terus terang.
“Nggak usah bicara ngawur, Mas!” menurut Salma, Sabda terlalu gegabah. Tapi, asal Salma tahu—menurut Sabda dia tidak bicara ngawur niat kedatangannya malam ini memang untuk meminang Salma. Besar harapannya akan langsung mendapat restu dari pria itu.
“Pulang, Mas! Sebelum bapak mengusir kalian,” perintah Salma dengan wajah penuh emosi. "Bawa temanmu pulang, Ren!" titah Salma.
“Tenang, Salma lebih baik kamu masuk ke kamar. Biarkan aku yang berjuang!” pinta Sabda.
__ADS_1
Melihat Salma kembali berlenggang masuk rumah, Sabda berusaha mencegahnya. “Eh, bawa anak kita juga—siapa tahu dia penasaran dan ingin tahu apa yang dilakuin ayahnya!” pinta Sabda melirik ke arah Aundy yang berdiri di bibir pintu.
“Dasar! Awas saja kalau sampai bapak kenapa-kenapa!” ancam Salma seraya melemparkan tatapan tajam ke arah Sabda.
Tak selang lama menunggu, pak Arif muncul dengan wajah judesnya. Sabda yang melihat pun semakin ragu mengatakan maksud dan niatnya.
“Ada apa? Masih berani kamu datang ke rumahku?” tanya pak Arif, dengan nada kesal. Bahkan, Sabda tidak dipersilakan masuk, dia hanya diizinkan duduk di teras rumah.
Meski jantung Sabda terasa mau lepas, tapi dia enggan menunda lagi niatnya. Ucapan Aundy tempo hari tentang Farhan semakin jelas, terngiang-ngiang di kepalanya. Kalau dia tidak mengatakan sekarang, bisa jadi Farhan dan orang tuanya datang lebih dulu menemui keluarga Salma.
Sabda menarik napas dalam-dalam, berulangkali. Sebelum akhirnya, setelah merasa siap dia menatap pak Arif lalu berbicara dengan tenang. “Pak Arif, saya yakin Bapak sudah mendengar sekilas tentang niat saya yang meminta rujuk kepada Salma.”
Senggolan tangan di lengan Sabda seolah memperingati pria itu supaya tidak langsung mengatakan niatnya. Rendi khawatir pak Arif akan langsung mengusirnya.
Namun, alih-alih Sabda menanggapi isyarat yang dilakukan Rendi, dia justru melanjutkan ucapannya, kali ini keberaniannya semakin membumbung tinggi.
“Pak, saya mau menikah lagi dengan Salma. Saya ingin bahagiain Salma dan Aundy. Saya ingin menebus kesalahan yang pernah saya lakuin, Pak!” ucapnya sungguh-sungguh.
Pak Arif justru terpingkal mendengar pengakuan Sabda. Tawanya terdengar meremehkan seolah mengolok, memiliki keberanian dari mana dia kembali meminta Salma, kembali.
“Apa kamu waras? Kamu sudah membuangnya, lalu sekarang kamu berniat memungutnya?” Ternyata nyali Sabda sebesar itu. Dia sampai bingung hendak merespon apa. Meski semua keputusan ada di tangan Salma, tapi dia juga tidak bisa membiarkan putrinya jatuh pada kesalahan yang sama, dia harus tahu sejauh apa Sabda serius mengenai niatnya itu.
“Pak Arif, saya tahu kesalahan saya besar sekali pada keluarga ini. Tapi—jujur saya nggak bisa jauh bahkan lupa dengan Salma. Rasa bersalah tentang perceraian itu seakan terus mengikuti saya. Dan saya ingin sekali menebus kesalahan yang pernah saya lakuin, Pak!”
“Kalau aku, menantangmu untuk menikahi Salma malam ini juga apa kamu bersedia?” tanya pak Arif, membuat Sabda dan Rendi cukup shock mendengar pertanyaan itu.
“Pa—pak?!” tanya Sabda tergagap.
__ADS_1
Pak Arif tertawa puas melihat ekspresi keraguan yang ditampilkan Sabda. “Sebaiknya pikirkan lagi untuk menikah dengan Salma! Masih ada keraguan di hatimu! Paham Sabda? Aku hanya khawatir, niatmu ini hanyalah keinginan sesaat. Supaya kamu ingin menang dari seseorang. Dan lagi, anakku bukan barang yang bisa dijadikan ajang kompetisi, dia punya hati yang tahu untuk siapa dia akan memberikannya! Salma pernah gagal dalam memilih pasangan hidup, kami juga pernah gagal dalam memilihkan pasangan untuknya. Dan kali ini, kami tidak ingin kejadian di masa lalunya kembali terulang! Berusahalah untuk meyakinkan kami, Sabda!”