Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 26


__ADS_3

”Akung, aku mau bobo tempat ayah Sabda boleh, kan?” bujuk Aundy. Tidak mendapat restu dari sang bunda, ia pun tak kehabisan cara untuk membujuk pak Arif. Menurut pepatah, seorang kakek akan lebih sayang cucu ketimbang anaknya, dan Aundy berusaha menggunakan cara itu untuk tetap bisa bersama Sabda.


“Akung, nggak akan ada seorang ayah menyakiti putrinya, kan?! Jadi, boleh ya!” desaknya lagi, tak henti meluluhkan hati sang kakek.


Sedangkan pria yang kini berdiri di depan pintu hanya melemparkan tatapan curiga ke arah Sabda. Ada kekhawatiran tersendiri saat melihat sifat Sabda yang begitu nekad ingin membawa Aundy bersamanya.


“Ya, sudah! Ody boleh tidur sama ayah Sabda. Tapi, kalau ada yang menyakiti Ody, langsung hubungi Akung, paham?” Pak Arif mengalah, tidak tega juga melihat Aundy memohon seperti itu. Terlebih lagi mereka memang jarang bertemu.


“Bapak!”


“Kita lihat saja apa laki-laki ini bisa mengurusi Ody!” jelas Pak Arif saat mendengar kalimat protes yang dilemparkan Salma.


“Saya akan menjaga Ody, Pak. Tenang saja!” ucap Sabda lalu menuntun Aundy untuk berpamitan sebelum meninggalkan rumah pak Arif.


Suasana rumah pak Arif terlihat sepi, beberapa tamu yang datang untuk mengikuti acara pengajian sudah undur diri. Kini hanya ada keluarga inti di rumah sederhana itu.


Melihat mobil yang disewa Sabda sudah melesat pergi, Salma bergegas memasuki rumah. Dia yang merasa tubuhnya lelah, memilih langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Beruntungnya pak Arif tidak mencurigai penyebab bengkak yang ditunjukan matanya saat ini.


Salma bertekad menyembunyikan masalahnya dengan bu Habibah, atau pak Arif semakin mencegahnya dekat dengan Sabda.


Perlahan dan pasti, Salma mulai kesulitan untuk menahan rasa kantuk. Bahkan, jemarinya tak sanggup lagi membuka pesan singkat yang baru saja masuk. Salma mengabaikan pesan singkat yang dikirim seseorang ke nomornya.


Tidur Salma terlihat begitu nyenyak. Hingga terdengar suara Bu Deva membangunnya, tepat ketika suara adzan subuh berkumandang.


“Kamu udah selesai datang bulan, kan Salma?” tanya Bu Deva, yang sudah berhasil memasuki kamar.


Salma menganggukan kepala. Dia lekas mengambil air wudhu lalu ikut Bu Deva pergi ke mushola di dekat rumah.


“Habis salat subuh, anterin ibu ke pasar ya, Sal!” minta Bu Deva, berusaha memecah keheningan.


“Naik motor, kan? bisa deh kalau naik motor.”

__ADS_1


“Iya, ibu kan tahu kalau kamu nggak bisa nyetir mobil.”


Salma menampilkan senyum palsu, rasa kantuk yang mendera sejujurnya membuatnya malas untuk menerjang udara dingin pagi ini. Tapi ini permintaan ibu, jadi apapun itu dia tidak akan berani menolak permintaanya.


Selesai salat subuh, Salma memasuki kamar untuk mengambil jaket, bersiap untuk mengantar bu Deva pergi ke pasar.


Lokasi pasar tradisional tidak begitu jauh dari rumah pak Arif. Hanya menempuh jarak kurang lebih sepuluh menit mereka sudah tiba di area pasar.


Tiga puluh menit memutari pasar, sudah banyak barang belanjaan yang didapatkan Bu Deva. Meski begitu Bu Deva masih saja sibuk memilih belanjaan yang diperlukan.


“Bu, aku mau beli dada ayam dulu!” cegah Salma saat Bu Deva berniat membawanya ke area parkir.


“Tadi udah beli daging sapi buat Ody!”


Salma meringis, “bikin ayam katsu aja, udah lama aku nggak bikin buat dia.”


“Buat dia atau buat Sabda!” ledek Bu Deva.


Bu Deva tersenyum masam. “Jujur saja, ibu itu tahu Sabda itu paling doyan ayam katsu buatanmu!”


"Ya, nanti biar Salma kasih dia sekalian. Masak aku masak enak dia nggak kukasih."


Di tengah Salma tengah menunggu ayam pesanannya dipotong, seseorang wanita tiba-tiba saja berdiri di sampingnya.


Seorang wanita yang tidak ingin ditemui oleh Salma saat ini. Mendadak Salma tidak bisa berpikir jernih. Khawatir Bu Habibah akan menyerang ibunya.


“Bu, mau beli ayam 5 kg ya!” bu Habibah sengaja menyela, seolah tidak menganggap Salma dan Bu Deva berdiri di sana.


“Sabar ya, Bu! antre dulu!” ucap si pedagang ayam potong.


“Udah Bu, duluin aja nggak papa, kok!” Salma mengalah. Lagian tumben banget wanita itu pergi ke pasar, padahal masak aja nggak pernah. Bukankah dia sengaja ingin mencari ribut dengannya?

__ADS_1


“Heh, enak aja, nggak bisa gitu, Sal!” Bu Deva merasa keberatan.


Ini yang ditakutkan oleh Salma, adanya perdebatan antara ibu dan bu Habibah. "udah, Bu. Hanya sebentar aja kok," lirih Salma, bukan bermaksud menyakiti ibunya tapi dia tidak ingin terjadi kericuhan.


“Anakmu saja paham siapa yang lebih bermartabat di sini. Masa iya, aku memintamu untuk mengajari ibumu.” Bu Habibah melirik tajam ke arah Salma.


Salma curiga; apa dulu Bu Habibah punya kenangan buruk dengan ibu, kenapa kelihatannya beliau benci sekali dengan ibu. Dulu saat dia masih menjadi menantunya, sering juga bu Habibah menyebut ibu nggak becus mendidikku? Astaga kenapa aku baru menyadari, dan kenapa aku tidak bertanya sejak dulu pada ibu.


Salma menarik pergelangan tangan bu Deva, sebelum terjadi adu mulut yang lebih menggemparkan lagi. “Ibu, ini di pasar!” bisiknya.


“Ya ibu tahu ini pasar." Bu Deva melemparkan tatapan tajam ke arah Bu Habibah. "Apa kamu yakin akan menikah lagi dengan Sabda? Apa kamu betah tinggal sama manusia macam dia yang sukanya menghina?! Dia itu lupa dari apa manusia diciptakan! Kita sama ya, sama-sama dari tanah, jadi jangan bersikap seolah kamu paling tinggi martabatnya!”


Salma melirik ke arah penjual ayam, melihat pesanannya sudah jadi, Salma lekas mengambil barang itu lalu meninggalkan uang kembaliannya begitu saja.


“Jangan hubungi anakku lagi! awas saja kalau kamu rewel minta dia bertemu denganmu. Nanti malam aku akan membawanya bertemu dengan calon istrinya.” Bu Habibah memperingati, sebelum langkah Salma semakin jauh dari posisinya.


“Terserah ibu!” sahut Salma lantang, kemudian meninggalkan wilayah per-ayaman.


Mood bu Deva yang semula menggebu-gebu mendadak sirna. Dia langsung mengajak Salma pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Bu Deva tak henti mengomel. Bahkan tak malu saat mendapati Rianty dan Panji ada di rumahnya.


“Siapa juga yang betah hidup dengan manusia semacam itu. Udah Sal, kalau bisa kamu itu nyari laki-laki lain selain Sabda. Stok pria yang mau sama kamu itu banyak! Mertua yang jauh lebih dari dia itu banyak, Sal!”


“Tapi itu juga belum tentu sreg di hati Salma, Bu! Ibu, udah ya jangan berdebat lagi mengenai Sabda. Kami sedang berusaha meminta restu dari keluarga kami, Bu. Karena kami sadar, untuk memberikan yang terbaik buat Ody, kita harus bersama.”


“Ngelawan aja terus, nanti kalau udah dibuat nangis sama Sabda, larinya ke siapa? Ke orang tua juga kan!”


Salma memilih untuk menjauh dari wilayah dapur, sebelum amarah ibu semakin membumbung tinggi. Pagi-pagi moodnya sudah dibuat hancur oleh pertemuan bu Deva dengan Bu Habibah.


Salma yang ingin mendengar langsung penjelasan Sabda lekas menghubungi pria itu. Dia ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2