
Meski keinginan Salma belum terlalu menggebu untuk memiliki anak kedua. Tapi rasanya begitu kecewa saat bangun tidur, dia justru menemukan bercak darah di cela na da lamnya.
Setelah keluar dari kamar, Salma langsung memberi tahu Sabda mengenai kondisinya saat ini.
Salma : Aku mens.
Ayah Ody nama yang disimpan di buku teleponnya hanya membalas dengan stiker tertawa.
Salma : Kamu pasti kecewa ya? 🥹
Tak ada balasan dari Sabda membuat dugaan Salma semakin kuat. Bagian dadanya berdesir perih, napasnya sesak. Hormone estrogen yang naik membuat perasaanya jauh lebih sensitive. Dia lupa jika Sabda adalah karyawan yang harus taat pada aturan yang dibuat perusahaan.
Salma berusaha melupakan respon Sabda. Mulai menyibukkan diri di dapur. Setelah sarapan siap, dia menghubungi Biyan meminta tolong supaya mengantar Aundy ke sekolah.
__ADS_1
Setelah Aundy berangkat, dia bersiap-siap untuk membuka kedai. Namun, saat kakinya melangkah ke arah dapur untuk membuat teh hangat, lagi dan lagi saat Salma mendengar suara tangisan dari kamar Aruni. Kali ini dia langsung memasuki kamar gadis itu. Kakinya berlari kecil mendekati Aruni yang duduk di tepi ranjang.
“Ada apa, Run?” Salma tidak tahu apa yang sebenarnya menyerang Aruni, yang dia lihat kali ini Aruni begitu kacau.
Bukannya menjawab pertanyaan Salma, Aruni justru sibuk mengeringkan air matanya. Seakan masih berniat menyembunyikan apa yang dia alami dari Salma.
“Nggak usah begini Run, aku mendengar kamu menangis. Nggak ada yang bisa kamu tutupi dariku lagi!” protes Salma. “Ibumu sakit? ya udah kamu pulang saja, aku dan Biyan masih bisa menghandle kedai kok, Run.” Salma masih berusaha menenangkan, dia bisa mentolerir jika itu berhubungan dengan keluarga.
"Kapanpun aku siap mendengar ceritamu!" pesan Salma, berniat meninggalkan Aruni. Akan tetapi, dia yang hendak berbalik pandangannya langsung tertahan pada alat testpack yang sengaja diinjak kaki Aruni.
Salma berusaha menyingkirkan kaki Aruni, penasaran dengan hasil yang ditunjukan oleh alat uji kehamilan. “Singkirkan kakimu, Run!” sentak Salma saat kaki Aruni menginjak kuat alat uji kehamilan itu.
Dari sikap yang ditunjukan Aruni, Salma sebenarnya sudah bisa menebak hasilnya akan seperti apa. Tapi dia juga ingin melihat kebenarannya langsung. “RUN!” bentak Salma, sampai akhirnya kaki Aruni perlahan terangkat, dan Salma bisa melihat dua garis merah dari alat testpack itu.
__ADS_1
Salma mengepalkan tangannya kuat, selama ini dia mengenal Aruni adalah gadis baik-baik. Dia juga jarang keluar malam. “Siapa yang ngelakuin ini sama kamu? Rendi!” Dua minggu yang lalu Rendi memang sempat datang ke Kulonprogo, Salma berusaha menepati janjinya sebelum pergi ke Tabalong. Siapa tahu dua orang itu memang jodoh. Tapi bukan seperti ini yang dia inginkan?!
"Run?! Rendi yang ngelakuin ini sama kamu!"
Aruni menggelengkan kepala. “Bukan, Mbak. Aku sendiri bingung, harus bilang apa sama dia?” Sebenarnya Aruni merasa cocok dengan Rendi, mungkin karena pria itu lebih tua darinya jadi lebih bisa mengayomi. Sayang, di saat Aruni mulai serius, hal seperti ini justru terjadi.
Dalam hati Salma mengutuk siapapun yang sudah melakukan ini pada Aruni. “Lalu siapa? Biyan, atau tamu yang datang malam-malam itu.” Ah, banyak sekali tamu yang datang ke kedainya, ada juga yang mengenal baik dengan Aruni. Tapi siapa tersangkanya, Salma tidak bisa menemukan nama pengunjungnya.
Salma menjambak rambutnya kuat, tubuhnya terduduk di lantai sedangkan punggungnya bersandar di sisi ranjang kayu. Dia sedikit mendongak, menatap Aruni yang lebih tinggi darinya. “Bukan Sabda, kan Run?” tanya Salma lirih.
Entah kenapa Salma mendadak curiga dengan suaminya. Pria itu pernah menginap selama tiga malam di kedai, ditambah lagi sifat Sabda yang terlalu mudah mengenal orang, dia takut Sabda khilaf dan meniduri Aruni.
Kecurigaannya semakin menjadi saat menyadari respon Sabda satu jam yang lalu. Mungkin pria itu sedang bingung hendak merespon apa. “Run, please, bukan Sabda, kan? katakan padaku! BUKAN SABDA KAN YANG MELAKUKAN INI?!”
__ADS_1