Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 36


__ADS_3

Meski hanya bisa memandangi wajah Salma yang terlelap, itu tak mengurangi rasa bahagia di hati Sabda. Rasanya bak kembang api yang meletup-letup, dan alasannya karena kini dia sudah sah menjadi suami dari Amora Salmadani. Di mana kembali memiliki wanita itu adalah keinginan besar dalam hidupnya.


Sesekali ekor mata Sabda melirik Aundy yang tidur di antara mereka berdua. Jika dilihat lebih detail, wajah mereka semakin mirip. Atau memang wajahnya dan Salma yang memang hampir sama. Kata pepatah, jodoh biasanya ada kemiripan. Dulu, digadang-gadang Aundy mirip dengan dirinya, tapi seiiring berjalannya waktu dia merasa Aundy mirip dengan Salma. "Sebenarnya kamu anak bunda atau anak ayah!" Sabda tertawa tanpa suara. Lalu mengusap pipi Aundy dengan telunjuknya.


Malam ini, Sabda tidak bisa tidur, ranjang yang mereka tempati tidak begitu besar. Apalagi dua wanita itu begitu banyak tingkah, membuat tubuhnya hampir jatuh ke dasar lantai.


Sampai akhirnya, Sabda memutuskan untuk berpindah tidur di lantai, menumpuk beberapa selimut supaya dinginnya ubin tak menembus pori-pori kulitnya.


Apa yang dilakukan Sabda tak juga membuatnya bisa langsung terlelap. Pikirannya sudah melayang membayangkan kehidupan keluarga kecilnya di perantauan. "Aku harus mencari rumah!" gumamnya ketika pikirannya membayangkan rumah sederhana yang ada Salma dan Aundy di dalamnya.


Sabda sibuk menggulir layar ponselnya, diam-diam mulai mengakses akun media sosial. Memantau jual-beli rumah di wilayah Tabalong. Bukan hanya rumah, beberapa kendaraan bekas pun kini sedang dalam pengawasannya.


Berulangkali Sabda mengambil gambar tangkapan layar, menyimpan untuk nanti ditawarkan kepada Salma. Dia akan membicarakannya besok dengan Salma, sebelum nanti dia kembali ke jobsite, dan melakukan jual beli.


Akhirnya setelah hampir satu jam jemari Sabda sibuk menggulir layar, pria itu ketiduran dengan ponsel masih menampilkan kondisi rumah incarannya.


Sabda tersentak saat kain tebal berusaha menghangatkan tubuhnya. Ketika matanya terbuka sempurna, dia mendapati Salma berdiri di sampingnya.


“Kenapa tidur di bawah?” protes Salma.


“Kasihan Ody nanti ke ganggu tidurnya. Kalian kelihatan kecapekan.”


“Tapi di sini dingin, Mas!” protes Salma dengan suara pelan. Dia lalu beranjak keluar kamar, mengambil kasur lantai yang biasa di letakan di depan layar tv.


“Pakai ini! kamu bisa sakit kalau seperti ini sampai pagi.”


Mau tak mau Sabda beranjak dari posisinya. Membiarkan Salma sibuk membentangkan kasur tipis itu untuknya. "Tidurlah! Ini belum ada tengah malam!" minta Salma setelah berhasil menyelesaikan tugasnya.


“Sayang, kamu nggak mau tidur bareng aku? di sini masih longgar juga kok!” Sabda menepuk tempat kosong di sampingnya.


“Nanti Ody nyariin aku?”

__ADS_1


“Kita kan di sini. Dia pasti lihat kita. Lagian nggak bakalan jauh juga kok.”


“Aku ambil bantal dulu!” Salma berniat pergi.


“Pakai ini aja berdua, Sayang!” Sabda menarik lengan istri barunya itu, lalu meletakan kepala Salma di lengannya. Dia bakal ikhlas meski tahu saat bangun nanti lengannya akan mati rasa.


Kali ini apa yang ada di kepala Sabda tak lagi bisa dibendung. Dia memaksa Salma untuk memeluknya, menganggap seakan-akan tubuh Salma adalah sebuah guling kesayangan.


Sejenak hanya terdengar deru napas dari bibir ke duanya. Rasa hangat langsung menyapa kening Salma yang berada tepat di depan bibir Sabda.


“Sayang, kamu senang nggak nikah sama aku?” tanya Sabda, setelah cukup lama terdiam.


“Biasa saja.”


“Aku seneng banget!”


“Sudah kuduga.” Salma memang begitu pintar berbohong, dia tidak ingin menunjukan kepada Sabda, kalau sejujurnya dia juga tergila-gila pada pria itu.


"Siapa juga yang nggak bahagia, kalau keinginan besarnya dikabulkan."


“Emang Mas Sabda punya uang? Kalau nggak punya nggak usah maksain. Kita bisa ngontrak dulu, Mas.”


“Punya kalau untuk harga di bawah 500 juta, kalau Miliaran ya nggak ada. Kamu lupa, kalau dari dulu aku udah ngambil ancang-ancang buat bawa kamu ke sana. Tapi keburu kejadian itu terjadi, dan sekarang adalah uangnya. Tapi untuk barang-barangnya nanti kita nyicil dulu, ya!”


Salma mengangguk. “Jadi kapan aku dan Ody diajak ke sana.”


“Tiga bulan lagi ya! tunggu aku balik lagi ke jawa. Setelah itu, kita nggak akan pisah-pisah lagi.”


“Kamu nggak sedang merencanakan putus dengan kekasihmu yang ada di sana, kan?”


Tiba-tiba saja, Sabda menggigit pipi Salma, gemas dengan tuduhan wanita itu. “Sembarangan aja kalau ngomong!”

__ADS_1


“Kan siapa tahu! Kamu udah punya pacar di sana.”


“Enggak! Aku berani bersumpah. Dari dulu aku terlalu sibuk mikirin kamu,” kata Sabda lirih. Bibirnya kini mulai merambat turun, yang semula berada di kening Salma—kini mulai bergerak mendekati bibir. Membuat sepasang mata keduanya saling berhadapan.


Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Sabda langsung saja melu mat bibir Salma. Bibir kenyal dan basahnya, bergerak lembut mencoba menikmati rasa hangat yang perlahan menghantam tubuhnya. Perlahan dan pasti, gerakan bibir Sabda semakin dalam, seolah sedang mengobati rasa haus yang selama ini ditahan, dan kali ini ketika menemukan penawarnya dia seakan membalas dendam dengan menelannya tanpa ampun.


Mereka berdua tak lagi peduli dengan suara decapan yang semakin jelas mengudara. Beruntung sosok Aundy semakin terbuai dalam mimpinya. Gadis itu meringkuk sambil memeluk guling. Dia tidak sadar jika kedua orang tuanya sedang sibuk pemanasan.


Salma yang berada di fase mendekati masa subur mudah sekali terpancing, hanya dengan sentuhan bibir saja, dia bisa merasakan area sensitifnya mulai lembab. Salma menyerah, dia menyesal karena begitu mudah terlena oleh sentuhan bibir Sabda. Dia pun kini ikut aktive mengikuti setiap gerakan yang dilakukan suaminya.


Sepasang tangan mereka mulai bergerak tak tentu arah. Mereka saling memberikan sentuhan lembut, membelai penuh cinta dan rasa, dari ujung kepala hingga pusar, seiring kegiatan bibir yang semakin sulit dipisahkan.


“Mau dilanjutin atau berhenti?” tawar Sabda, dengan bibir yang sudah basah kuyup.


“Tidur saja, besok kita harus balik ke Kulonprogo.”


Sabda tersenyum palsu, menutupi rasa kecewa yang menderanya, dia menyesal sudah memberi Salma pilihan. Tahu gitu tadi aku serang langsung saja! Batinnya menggerutu.


“Ada Ody, nanti ketahuan,” lirih Salma berusaha memberi pengertian.


“Baiklah, aku masih bisa sabar, kok!” kata Sabda sambil menarik selimut menutupi tubuh Salma. Dia mendekap erat tubuh Salma yang sudah terselimuti bedcover.


“Panas Mas!”


“Bahaya kalau nggak ditutup!” balas Sabda yang sudah memeluk Salma.


“Kenapa nggak matamu aja yang ditutup.”


“Ya, enggak! Aku masih ingin menikmati kecantikanmu!”


“Aku jadi nggak bisa tidur kalau kamu liatin aku terus!” tegur Salma.

__ADS_1


Alih-alih menjauh, pandangan Sabda justru semakin intens ke arah Salma. "Sama-sama begadang, gimana kalau kita pindah ke kamar Panji," lirih Sabda, dengan suara serak. Tak tahan lagi rasanya. Bagian sensitif di tubuhnya meminta untuk dijam mah.


 


__ADS_2