Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 31


__ADS_3

Keduanya saling tatap. "Jawaban Mas Farhan menentukan keputusan saya. Jadi, mohon jujur!” kata Salma.


Dari tatapan Farhan saat ini, Salma sudah bisa melihat raut keraguan yang ditunjukan pria itu. Bagaimana bisa dia menerima pria yang tidak mencintainya.


“Salma, apa bisa kita bicara empat mata?!”


Salma tersenyum kecut. Melihat tatapan memohon yang ditampilkan Farhan, Salma akhirnya memberikan kesempatan kepada Farhan. "Pak, izin bicara dengan Mas Farhan." Salma berbisik di samping teling pak Arif. Dia langsung menuntun Farhan menuju dapur, setelah mendapat izin dari pria itu.


Saat ini, mereka berdua sudah berada di area dapur meninggalkan orang tua mereka. Satu menit berlalu hanya keheningan mengudara.


Salma sendiri tengah menunggu jawaban dari Farhan atas pertanyaan yang tadi dilemparkan. Tapi, saat ini dia seperti tidak memiliki jawaban apapun dari Farhan. Pria itu membisu seraya menundukan kepala.


“Jadi, ya atau tidak, Mas?” tanya Salma, tidak ingin berlama-lama dengan Farhan dan membuat keluarga mereka menunggu. “Mas Farhan masih mencintai mbak Astrid, kan? Buktinya tadi tidak bisa menjawab langsung.”


Sepasang telapak tangan Farhan mengepal kuat, dan Salma bisa menyaksikan itu. Dia hanya tertawa sumbang, merespon sikap Farhan saat ini.


“Bukankah kamu juga masih mencintai Sabda?" tanya Farhan, seakan menemukan situasi yang impas di antara keduanya. "Salma, kita bisa saling membantu, seperti yang aku katakan padamu sebelumnya. Bukankah untuk melupakan mantan kita harus memulai dengan orang baru. Dan aku merasa kamu adalah orang yang tepat. Kita sama-sama belum bisa melupakan mantan.”


“Menurutku bukan begitu, Mas!” Salma berusaha tenang. “Orang yang kucintai masih hidup, sedangkan mbak Astrid sudah tiada. Perlu digaris bawahi kalau kami masih saling mencintai. Aku yakin bisa hidup bersama dengannya. Sampai detik ini, tidak ada seorang pun yang mampu mengusir mas Sabda dari hatiku. Aku jatuh cinta, padanya. Se-nyebelin apapun pria itu! Aku merasa bahagia saat melihatnya.” wajah Salma tampak frustasi, rasanya sungguh berat mengatakan dengan jujur tentang perasaanya. Terlebih seseorang yang bersangkutan tidak mengetahui hal itu.


“Salma, tapi hubungan kalian tidak bisa dilanjutkan! Kamu sadar sifat ibunya, kan?”


“Ya, kita sedang berupaya untuk itu! Mendapat restu ibunya.” Salma menjelaskan. “Maaf, Mas. Aku belajar dari masalah pernikahanku dengan Mas Endra. Hubunganku dengannya selesai karena hatinya belum lari dari masa lalu. Dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Mbak Astrid memang nggak bisa diajak selingkuh, tapi aku juga tidak bisa memiliki hatimu. Bukankah itu jauh lebih menyakitkan? Sama saja membohongi diri.”


Ada rasa tidak terima yang ditunjukan Farhan usai Salma mengatakan hal itu padanya. Tapi, apalah daya apa yang diucapkan Salma memang benar. Mungkin, selama ini dia mengkhawatirkan Salma. khawatir wanita rapuh itu akan lebih disakiti lagi.


“Salma berdoa semoga ke depannya, Mas Farhan bisa menemukan wanita baik-baik, yang bisa menerima mas Farhan. Waktu terus berjalan, Mas. Kehilangan itu pasti, tapi kita juga harus melanjutkan hidup. Mbak Astrid akan sedih melihatmu seperti ini. Dia mencintaimu, sampai akhir napasnya. Dia akan sangat marah melihatmu terpuruk dalam kenangannya. Apalagi menggunakan aku sebagai alat untuk melupakannya! Dia pasti juga kesal padaku.”


Farhan ingin memastikan lagi jawaban Salma. “Kamu yakin, Sal? Kamu yakin tidak ingin menikah denganku?”


Salma menggeleng pelan. “Maaf, Mas.”

__ADS_1


“Apa kamu ingin menikah lagi dengan Sabda?” Farhan penasaran dengan apa yang ingin dilakukan Salma tentang hubungannya dengan Sabda.


“Doain yang terbaik untuk kami, Mas. Selain untuk perasaan kami yang memang masih saling mencintai, semua juga untuk Ody, kami ingin melihat Ody tumbuh di tengah orang yang dia sayangi.”


Farhan tersenyum masam. “Maaf kalau kedatanganku mengganggumu,” gumamnya.


“Ah, tidak. Aku hanya terkejut saja melihat Mas Farhan membawa pak Eko dan bu Andini ke Semarang.”


Sepertinya memang sudah waktunya Farhan menyerah. Menerima dengan lapang dada keputusan yang dipilih oleh Salma. “Insya Allah, aku bisa menerima keputusanmu, Sal! Kamu benar, dia mencintaiku sampai akhir napasnya. Seharusnya aku juga bisa melakukannya. Mungkin, selama ini aku hanya bersimpati padamu.”


“Terima kasih, Mas. Tapi saranku, Mas kan masih muda! Jadi carilah seorang wanita yang bisa membuat hati Mas Farhan nyaman.”


Farhan menganggukan kepala lagi. “Tapi, aku minta satu hal sama kamu!”


“Apa?”


“Tetap kembali ke kedai ya. Jangan sampai karena kejadian ini, hubungan kita rusak. Aku janji akan tahu batasan mengenai hubungan kita. Anggap saja tidak ada kejadian apapun hari ini yang akan mengakibatkan hubungan kita semakin canggung.”


Mereka berdua tertawa kecil.


“Setelah ini, aku akan langsung pulang ke Malang, mengurus pekerjaanku di sana. Titip kedai ya! titip anak-anak juga!” pesan Farhan.


“Langsung? Enggak mau jalan—jalan dulu di Semarang?” tanya Salma. "Coba nikmati udara panas di sini. Pasti bapak dan ibu juga lelah, kan?!"


“Aku nggak begitu tahu daerah Semarang. Kecuali kamu mau jadi tour guide nya.”


“Bisa dicoba!” Salma tersenyum cerah, hingga senyumannya itu menimbulkan kesalahpahaman seorang pria yang baru saja masuk rumah melalui pintu dapur.


“Papa Farhan!” teriakan Aundy yang membahana mengalihkan perhatian keduanya.


“Hai, Aundy! Papa punya oleh-oleh buat kamu.” Farhan mendekati Aundy lalu memeluknya erat. Layaknya menabur kasih sayang pada putri kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Papa ngapain di sini?" selidik Aundy begitu penasaran, merasa tidak nyaman dia mengurai pelukannya.


Suara obrolan mereka mengiringi Salma dan Sabda yang saling bertukar pandang. Salma berusaha menyapa dengan senyuman, lain halnya dengan Sabda yang menampilkan raut kecewa.


"Bunda, apa aku boleh ikut piknik?"


Suara itu mengalihkan fokus Salma. Dia lalu mengangguk membuat Sabda semakin salah paham.


"Jadi kamu menerimanya?" tanya Sabda lirih, setelah melihat dua orang itu berlalu dari wilayah dapur.


"Nerima apa?"


"Nerima lamaran Farhan, dia datang untuk melamarmu, bukan?"


"Ya, kamu benar Mas. Dia melamarku." Salma terkekeh, seakan menunjukan hatinya yang kini sedang berbunga-bunga.


"Kamu mau menikah dengannya?"


"Aku belum menjawab apapun." Salma tersenyum simpul. Dia sengaja berbohong berharap Sabda akan percaya dengan ucapannya. "ikut piknik aja, yuk!"


"Nggak, aku nggak mau ganggu acaramu dengan priamu!"


Salma melangkah maju mendekati Sabda. Dia lalu berbisik tepat di depan wajah Sabda. "Ini kesempatan supaya ibu bisa luluh lagi, Mas! Aku cinta kamu, bagiku nggak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Dan lagi, tidak ada pria yang pantas selain kamu untuk jadi ayah dari anak kita! Maafin sikapku tadi pagi, aku terlalu menuntutmu untuk berbuat apa yang kuinginkan."


"Jadi, apapun yang terjadi kamu akan tetap di sampingku?!"


"Hm?"


"Baiklah! Aku akan baik-baik saja kalau kalian ada di sampingku! aku harap kamu nggak akan melupakan ucapanmu ini."


"Jadi, mau ikut piknik?"

__ADS_1


"Ya. Supaya pria itu nggak akan menggodamu!"


__ADS_2