Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 43


__ADS_3

Salma kini sedang dilanda kebingungan karena Sabda hanya membaca pesan yang baru saja terkirim. Dan yang membuatnya semakin gusar, status nomor Sabda masih online. Sepertinya, pria itu masih menyimpan amarah padanya.


“Haruskah aku menceritakan tentang Endra padanya!” Salma mulai frustasi saat tak lagi melihat status online di bawah nama ‘ayah ody’ pria itu mengabaikan pesan yang tadi dikirim olehnya. Dan mungkin sekarang Sabda mulai merajut mimpi.


Salma menoleh ke arah Aundy yang sudah terlelap. Wajah polos Aundy sedikit menghibur hatinya yang tengah dilanda kegelisahan. Bayangan rona bahagia Aundy saat bersama Sabda melintas di kepala, membuatnya semakin bingung hendak pergi atau bertahan di sini. Harus aku merelakan kebahagian Ody, demi menemani Aruni?


Salma semakin bingung, akal sehatnya tak bisa lagi berpikir jernih. “Bunda harus ngapain, Ody?” ucap Salma pelan, nyaris tak keluar suaranya.


Perlahan rasa kantuk yang menyerang menghantarkan Salma masuk ke alam mimpi. Rasa gelisah sampai terbawa dasar mimpi, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hampir setiap satu jam sekali Salma terbangun dari tidurnya.


Sampai terdengar suara alarm ponselnya. Salma bergegas menuju dapur. Kali ini Salma menyiapkan sarapan lebih, selain untuk dibawa bekal Aundy, dia juga harus menyiapkan sarapan untuk bumil satu itu.


Salma sudah merencanakan, kegiatan yang akan dilakukan olehnya hari ini. Setelah mengantar Aundy, dia berniat membawa Aruni ke dokter untuk melakukan pemeriksaan kehamilannya.


Di tengah proses memasak, seseorang yang baru masuk rumah menyapa Salma. Siapa lagi kalau bukan Biyan. Cuma pria itu yang memiliki duplikat kunci kedai.


“Tumben pagi-pagi sudah datang, Yan?” sindir Salma.


“Iya. Mau numpang mandi sekaligus sarapan.” Meski bibirnya berkata seperti itu, pandangan Biyan tak jauh dari pintu kamar Aruni. Seakan dia begitu mengkhawatirkan kondisi wanita itu.


“Dia pasti gelisah banget ya, Mbak?”


“Wajar sih, yang penting kita nggak ninggalin dia! Nggak semua wanita bisa kuat ngadepin ini, Yan!”


Biyan mengangguk setuju. “Adikku udah bangun belum?” tanya Biyan, mengalihkan topik obrolan.


“Adik?” Salma mengernyit, bingung.


“Iya, Aundy sendiri yang minta. Kalau dia mau manggil aku Mas saja.”


Salma mencebikkan bibirnya, heran juga bisa-bisanya Aundy itu berkata seperti itu pada Biyan setelah satu tahun memanggil Biyan dengan sebutan Om?! Mudah -mudahan tidak ada maksud lain di balik sebutan itu. “Mungkin baru mandi.” lalu Salma berjalan ke arah meja makan, meletakan sosis goreng ke atas meja.

__ADS_1


“Biar aku aja yang ngantar Ody, Mbak!”


“Alhamdulillah, akhirnya nemu juga ojek gratis.”


“Heh, mana bisa, aku akan minta transfer sama Mas Sabda.”


“Minta saja! tanpa persetujuanku mana bisa kamu dapat. Gaji dia yang pegang aku!” kata Salma penuh bangga. Meski Sabda membawa kartu ATM, tapi untuk transaksi mobile banking dia yang pegang, jadi uang berapapun uang keluar, dia akan selalu menerima laporan.


Salma tersentak oleh ucapannya sendiri, sebegitu percayanya Sabda padanya. Tapi, dia justru menuduh pria itu yang tidak-tidak.


“Enak banget jadi kamu, Mbak!” cibir Biyan, menggoda seraya memasukan sosis goreng ke mulutnya.


“Makanya cantik, kalau cantik bakal enak idupnya.” Salma berkata asal.


Biyan menahan tawa, menertawakan tingkat percaya diri Salma yang melewati batas normal. Tak ingin memperpanjang lagi obrolan mereka berdua karena Aundy tampak sudah siap berangkat sekolah.


Setelah melepas pergi putrinya. Salma masuk ke kamar Aruni. Dia memberitahu Aruni, supaya siap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


“Udah kamu tenang saja. Biar nanti kita daftar pakai namaku, sekalian aku mau periksa juga, jadwal haidku nggak lancar. Dan aku merasa perlu periksa ke dokter.”


Aruni pun menurut, dia mulai bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Begitu pun dengan Salma. Mereka pergi bahkan sebelum Biyan tiba di kedai.


Tiba di rumah sakit umum, mereka terpaksa harus menunggu lama. Jadwal dokter memang tercatat pukul delapan pagi, tapi karena ada operasi dadakan, jam prakteknya pun ikut mundur.


Sembari menunggu Salma membuka ponselnya. Lagi-lagi tidak ada pesan apapun dari Sabda. Padahal dia berharap pria itu akan menelponnya. Atau setidaknya membujuknya supaya tetap pergi.


Hampir satu setengah jam menunggu antrean, akhirnya sampailah di nomor antrian Salma. Dia meminta Aruni untuk naik ke atas ranjang terlebih dahulu, guna melakukan pemeriksaan dengan dokter Wira.


Dan ternyata, setelah melakukan pemeriksaan USG, Aruni benar-benar hamil usianya enam minggu lebih satu hari. Salma pun tak banyak bicara saat dokter menanyakan apa yang dirasakan Aruni saat ini. Sedangkan Aruni menjawab dengan perasaan takut setengah mati.


Saat dokter mengatakan proses pemeriksaan sudah selesai dan mereka diizinkan keluar, Salma justru mencegahnya.

__ADS_1


“Dok, boleh saya menyela untuk melakukan pemeriksaan, terlalu banyak pasien yang mengantre, jadi kalau saya kembali ke bagian pendaftaran akan memakan waktu banyak,” kata Salma memohon. Melihat keraguan yang ditunjukan sang dokter Salma kembali bersuara. “Jangan khawatir, Dok, saya akan membayar biayanya kok, saya cuma malas untuk mengantre.” Salma berusaha menjelaskan, padahal aslinya dia hanya ingin menutupi status kehamilan Aruni yang hamil di luar ikatan pernikahan.


“Naiklah ke atas ranjang!” pinta dokter Wira.


Sebelum melakukan apa yang diperintahkan oleh dokter, Salma menjelaskan detail tentang riwayat kesehatan rahimnya. Sampai di titik kondisinya saat ini, di mana darah haid yang keluar tidak seperti biasanya.


“Jadi kamu terlambat datang bulan?”


“Enggak, Dok! Aku haid, tapi nggak seperti biasanya yang langsung banyak gitu.” Salma menjawab sambil menahan perasaan kesal. Padahal sebelumnya dia sudah menjelaskan detail mengenai kondisinya.


“Bantu ibunya naik ke ranjang, Sus!” pinta dokter, memberi perintah ketika Salma tak kunjung naik ke ranjang.


Salma menurut, dia mengikuti arahan assiten dokter. Jantung berdebar lebih cepat, aliran darahnya mulai mengalir lebih deras saat sesuatu yang dingin menyentuh perutnya. Dia cemas, belum siap menerima kenyataan jika semua ini akibat kista di rahimnya yang belum tuntas.


“Jadi, apa kistanya masih ada, Dok?” tanya Salma, saat beberapa menit berlalu hanya kebisuan yang menghampiri.


“Sudah bersih, kok.” sang dokter menjawab singkat.


“Terus penyebabnya apa, Dok?”


Dokter kembali fokus menggerakan transdusernya. “Sudah ada kantung janin di dalam rahim, Ibu, tapi belum keliatan janinnya. Jadi kesimpulannya, Ibu memang hamil, sama seperti mbaknya tadi! Belum keliatan janinnya. Satu atau dua minggu lagi, silakan datang untuk memastikan perkembangannya.”


“Dok, saya haid!” bantah Salma, seakan tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh dokter.


“Bukan, ini bukan haid. Saya akan meresepkan obat penguat kandungan untuk Ibu. Hindari stress, dan sebaiknya jangan terlalu lelah dulu. Ingat ya Ibu—kehamilan ibu ini jauh lebih riskan keguguran. Soalnya ibu mengalami flek di awal kehamilan. Jadi kalau bisa jaga baik-baik kondisi ibu.”


Salma tidak mengira kalau dia justru hamil anak kedua. Ada rasa bahagia yang tengah menerpanya saat ini. Dia sudah tidak sabar memberitahukan kabar ini kepada Sabda.


Saat duduk di depan apotik untuk mengantre obat, Salma mengirimkan kertas putih hasil USG di tangannya ke Sabda.


Salma : Calon anak ke dua kita. Kata dokter baru kantung janin. Satu/dua Minggu lagi aku diminta datang. Kata dokter juga, flek yang keluar bukan haid, aku diminta bed rest dan tidak boleh terlalu stress, takut mempengaruhi kondisi calon anak kita.

__ADS_1


__ADS_2