Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 48


__ADS_3

Dua hari, Salma hanya bisa berbaring di atas ranjang rumah sakit. Dan Sabda selalu setia menemaninya. Pria itu belum pulang sama sekali. Dia juga menitipkan Aundy pada mertuanya.


Selama di rumah sakit, Sabda jauh lebih protektif dari biasanya. Bahkan untuk pergi ke toilet saja, Sabda tidak membiarkan Salma berjalan sendirian. Pria itu menggendongnya, lalu menunggu di depan pintu.


Kesetiaan mereka sedang diuji. Bukan hanya di saat suka saja Sabda ada untuk Salma. Tapi di kala seperti ini pun Sabda tidak sedikitpun meninggalkan Salma. Dia setia merawat istrinya yang sedang sakit. Dan bahkan, rela kurang tidur demi Salma bisa tidur nyenyak di malam hari.


Sesuai dengan pesan perawat yang baru keluar dari ruangan. Mereka bertolak ke ruangan dokter Wira. Sebelum diizinkan pulang, dokter Wira berniat melakukan USG demi memastikan kondisi rahim Salma.


Sekarang Salma sudah siap untuk kembali diperiksa. Dia sedang mengumpulkan mentalnya untuk mendengar apapun yang disampaikan oleh dokter.


Jel sudah dituangkan di atas perut Salma. Detik selanjutnya dokter Wira mulai aktive menggerakan transduser di tangannya. Salma tak berkedip mengamati layar lcd yang ditempel di dinding. Benar-benar kosong. Suara detak jantung bayinya sudah tidak ada lagi, dia sudah kehilangan calon anaknya. Dokter Wira benar-benar sudah berhasil menghilangkan janin yang baru beberapa Minggu bersemayam di dalam tubuhnya. Mata Salma Salma terlihat berkaca-kaca melihat rahimnya bersih tak ada apapun.


Sabda yang paham lekas menggenggam tangannya erat. Seakan meredakan kekalutan di hati Salma.


“Sudah bersih ya, Ibu … tidak ada kista juga. Tapi, bukan berarti ibu boleh langsung hamil. Eh sebenarnya boleh saja sih, tapi alangkah baiknya ibu menunggu sampai rahim ibu normal dan siap dulu. Takutnya kejadian seperti kemarin akan terulang lagi.” dokter Wira menjelaskan.


“Dokter, kalau boleh tahu sebenarnya penyebabnya apa? Kenapa bisa begitu?” tanya Sabda, penasaran.


“Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi kondisi kehamilan Bu Salma kemarin, satu di antaranya, kesehatan sel telur dan sper ma. Jadi kalau bisa jaga kesehatan bapak dan ibu. Usahakan gaya hidup sehat ya Pak, Bu!”


“Tapi apa rahim saya sehat, Dok?” kondisi buruk mengenai rahimnya seperti momok bagi Salma, dia takut apa yang menjadi ketakutannya benar terjadi.


“Jangan berpikiran negatif dulu, Bu. Ibu sehat kok, tenang saja! nikmati masa-masa pacaran dulu dengan suami anda, kalau sudah ada anak itu akan merepotkan. Mungkin ibu dan bapak akan kehilangan momen kebersamaan!” goda sang dokter disusul tawa pelan dari bibirnya. “Jaga kondisi ibunya ya, Pak! Insya Allah akan segera dapat gantinya.”


Sabda tersenyum masam, dia hanya ingin fokus memulihkan kondisi Salma tidak berniat menghamilinya terlebih dahulu. “Dok, apa kita bisa langsung melakukan perjalanan jauh. Setelah ini?”

__ADS_1


“Boleh-boleh saja. Tapi nanti sebelum berangkat kita periksa lagi ya!” pesan sang dokter.


“Jadi hari ini istri saya boleh pulang kan, Dok?”


“Iya, bisa. Ingat ya, Pak! Jaga supaya istri bapak tidak stress berat. Karena itu bisa menghambat proses penyembuhan ibu,” pesan Dokter Wira, lagi.


“Saya akan selalu mengingatkan, Dok!” Sabda menyahut. Lalu mereka segera pamit setelah dokter Wira selesai melakukan pemeriksaan.


Sabda begitu setia mendorong kursi roda, dia meminta Salma untuk menunggu di dalam kamar terlebih dahulu, dia hendak menyelesaikan administrasi.


Sejak proses laparoskopi usai, Salma memang tak banyak bicara. Dia terus saja bungkam, bicara seperlunya. Dan itu membuat Sabda semakin khawatir dengan kondisi mentalnya. Dia tak pernah absen, selalu mengajak Salma bicara tapi dijawab pun hanya sepatah dua patah. Jadi ketika Salma melemparkan pertanyaan ke dokter Wira, dia bersyukur wanita itu sudah mulai mau berdialog dengan orang lain.


Setelah menyelesaikan administrasi, Sabda lekas kembali ke kamar Salma. Perlengkapan yang digunakan selama dua hari ini, sudah dibereskan, mereka siap untuk kembali ke kedai.


“Apa kamu pengen makan sesuatu, Sayang?” tanya Sabda, yang sudah sibuk berada di bangku balik kemudi.


Padahal Sabda selalu berusaha mengalihkan perhatian Salma dari bayang-bayang calon anak mereka yang telah pergi. Tapi Salma seakan enggan mempedulikannya.


Dan siang ini, Sabda tak langsung membawa Salma pulang ke kedai. Dia justru menghentikan mobilnya di tepian pantai. Sabda merasa butuh bicara berdua dengan Salma.


"Kenapa nggak langsung pulang?" protes Salma, setelah mesin mobil dimatikan oleh Sabda.



"Kenapa?" Sabda menoleh ke arah Salma. "Yah, aku nggak mau lihat Ody sedih juga mikirin kamu kaya gini, Sayang!" Sabda lebih dulu turun, kemudian, membuka pintu yang ada di samping Salma. "Mau aku gendong?" tawar Sabda, tapi Salma enggan menjawab dia justru memegang erat lengan Sabda sebagai tumpuan.

__ADS_1



Sabda meminta Salma untuk duduk di kap mobil sedan yang disewa. Mereka berdua duduk menghadap pantai sambil mengamati pengunjung lain yang sedang bermain air.


Merasakan angin laut begitu kencang, Sabda kembali masuk mobil, mengambil jaket yang sudah dua hari ini tertinggal di dalam mobil. Lalu menyelimuti badan Salma dengan jaketnya.


"Ibu gimana kabarnya, Mas?" tanya Salma tanpa menoleh ke arah Sabda. Melihat Sabda tidak menjawab, Salma kembali mengulangi pertanyaannya. "Ibu gimana kabarnya? Apa kamu tidak merasa berdosa menikah tanpa restu dari ibu?"


"Sayang, kamu tahu sendiri aku nggak pernah menghubungi ibu." Sabda menjawab singkat, jujur saja sejak kembali ke Tabalong, dia juga belum menelpon ibunya.



Salma tersenyum masam, beberapa hari ini dia berpikir mungkin, apa yang terjadi saat ini memang akibat sumpah serapah sang ibu mertua. Rasa bersalah itu terus saja menghantuinya, menuntutnya untuk melepaskan apa yang ada di genggamannya.


"Kenapa sih kamu dulu buru-buru nikahin aku? Kenapa nggak minta izin dulu sama ibu?!" Protes Salma, dia merasa pernikahannya dengan Sabda sudah salah kaprah.


Sabda diam dengan mata sibuk membaca ekspresi Salma.


"Melawan ibu hanya akan membuat hidup kita terpuruk. Atau ke depannya kita tidak akan pernah bahagia! Seperti saat ini, hubungan kita baru satu setengah bulan tapi sudah diterpa musibah seperti ini."


"Lanjutkan, ungkapkan apa yang mengganggu pikiranmu, Sayang!" minta Sabda tegas.



Salma menunduk, menyembunyikan sepasang matanya yang sudah dilapisi cairan cristal bening. Saat ini dia sedang mencoba berpikir jernih mengenai hubungannya dengan Sabda. Dulu, sebelum pria itu kembali, hidupnya dengan Aundy bisa tenang, dia bisa merasakan damai tanpa kehadiran pria itu. Pasti selanjutnya, dia akan bisa hidup tanpa Sabda.

__ADS_1


"Ayo, kita cerai saja!" kata Salma lirih.


Sabda langsung menoleh ke arah Salma, keputusan gegabah hanya akan membuat kondisi mereka semakin memburuk. Dan sekarang, Salma mengulangi lagi. Tapi mungkin, Sabda tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia tidak ingin ibu menjadi alasan hubungan mereka sulit bertahan.


__ADS_2