
Sabda tidak tahu pasti pukul berapa putrinya itu terlelap. Yang jelas saat dia membuka mata pagi ini, kaki Aundy sudah berada di atas dadanya yang bidang. Tingkah Aundy yang seperti ini mirip dengan Salma yang selalu banyak tingkah saat terlelap.
Mengingat kebiasaan itu, Sabda merasa seperti dibawa pada kenangannya di masa lalu. Sepasang bola matanya menatap wajah polos Aundy, menelisik kembali kesamaan yang ada di antara mereka berdua.
Mendengar dengkuran halus yang keluar dari bibir Aundy. Ada rasa tidak tega untuk membangunkan gadis itu. Sabda membiarkan Aundy tetap terlelap, tidak peduli dengan sinar matahari di luar sana, yang sudah memancar terang.
Saat Sabda hendak menjauhkan kaki Aundy dari tubuhnya, getar ponsel di atas meja menahan niatnya itu. Sabda lekas meraih benda pipih itu, lalu melihat siapa yang saat ini menghubunginya.
“Khawatirin aku apa khawatirin Ody!” gumam Sabda sebelum menerima panggilan itu. Lalu segera jemarinya menggeser tanda terima.
“Hai, Sayang, selamat pagi.” Sabda menyapa setelah panggilan itu tersambung. “Eh tunggu, tunggu! sebenarnya kamu kangen sama aku apa Ody?” godanya.
Hening sejenak, hanya terdengar deru napas menggebu dari seberang panggilan. Sabda curiga ada sesuatu terjadi dengan Salma.
“Salma … ada apa? Anak kita masih terlelap nih. Jadi ngomong sama aku aja!” Sabda berusaha mengalihkan perhatian Salma.
“Kalian lagi di mana?” tanya Salma.
Sabda memejamkan mata rapat. Ada penyesalan mendalam saat menyadari, semalam lupa memberitahu Salma jika dia terpaksa menginap di rumah pak Ageng.
“Iya, aku yang salah, aku yang nggak ngasih kabar ke kamu kalau aku dan Ody menginap di rumah ayah Ageng!” Sabda mengaku.
__ADS_1
“Kenapa nggak bilang?! Aku nggak penting ya untuk tahu keberadaan kalian?!” tanya Salma dengan nada marah.
“Lupa! Aku lupa Sayang.”
“Lupa! Atau kamu sengaja melupa?"
Satu tarikan napas berat terdengar jelas dari arah seberang panggilan. Sabda mulai curiga ada sesuatu terjadi dengan Salma.
"Dan kamu sengaja menyembunyikan acara lamaranmu dengan perempuan lain dariku?!”
Pernyataan Salma membuat Sabda semakin tidak paham. Sejauh ini, tidak ada niatan untuk melamar wanita lain, selain Salma. Niatannya tidur di sini hanya menuruti permintaan sang ayah yang merindukan cucunya. “Apaan sih, Salma?!”
"Apaan? Jujur sama Salma, Mas! Jujurlah!"
Ada keheningan yang berhasil menjeda obrolan mereka. Sabda melirik ke arah Aundy yang masih terlelap.
“Mas, barusan aku ketemu ibu Habibah. Aku nggak papa kok kalau emang kamu ingin melamar wanita lain. Tapi, kamu juga jangan seperti ini, menebar janji sembarangan padaku. Janji itu hutang, dan hutang harus dibayar!”
Sabda mulai bisa menemukan titik terang masalahnya. Yang kini bersumber dari ibunya sendiri. “Kamu kenapa sih? Aku cuma minta sama kamu buat percaya omonganku.”
“Nyatanya omonganmu itu hanya omong kosong. Ibu semakin benci padamu ngerti, nggak!” protes Salma.
__ADS_1
“Salma, ini masih pagi loh! Jangan begini bisa nggak sih! Aku jelasin ya, semalam itu dari tempat acara, ayah Ageng menelpon, dia bilang kangen Ody. Dan memaksa Ody buat tidur di sini. Aku juga cuma nuruti Ody karena dia setuju. Dan asal kamu tahu juga, aku belum ketemu sama ibu sama sekali. Kamu bisa tanya ke Ody. Sampai di rumah ayah aku ngapain aja! Jadi, lamaran apa aku nggak paham?”
“Kamu itu terlalu emosional, Sal! aku udah berjanji sama kamu. Jadi mana bisa aku melupakan janjiku sendiri!”
“Kalau gitu bawa Ody padaku!”
“Dia masih tidur. Nanti kalau dia sudah bangun,” ucap Sabda, sedikit emosi mendengar nada keras yang dilontarkan Salma.
“Alasan aja kamu!”
“Astaghfirullah, enggak Sal! Ody benar-benar masih tidur.” Sabda menjelaskan.
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Salma. Membuat Sabda frustasi karena pagi-pagi sudah dibuat naik pitam oleh mantan istrinya itu.
Sabda berusaha mengontrol diri, meredakan amarah yang kini masih merundung dirinya. Setelah semua terkendali, Sabda bergegas keluar kamar, berniat ingin tahu apa yang dilakukan ibunya saat tadi bertemu dengan Salma.
Tepat saat pintu kamar berhasil terbuka lebar. Tampak Bu Habibah yang baru saja pulang dari pasar berjalan ke arah dapur. Sabda yang melihat sang ibu tengah sibuk mencuci ayam, dia lekas mendekat, pura-pura mengambil air mineral untuk membasahi kerongkongannya.
“Ibu bakalan masak buat kamu, Sabda!” Nada ketus yang dilontarkan bu Habibah mengudara. Sabda hanya menarik sudut bibirnya, seolah tidak ada kejadian berarti sebelum ini.
“Kenapa ibu ngelakuin ini?!” tanya Sabda tanpa mengindahkan sapaan Bu Habibah. "Ibu, apa yang sudah ibu lakuin ke Salma?" desaknya ketika melihat wajah Bu Habibah yang terlihat kebingungan. "Jawab! Kenapa, Bu? Kenapa ibu begitu membenci Salma! Apa salah Salma sama ibu?!" nada bicara Sabda meninggi, kesabarannya nyaris habis menghadapi sifat ibunya ini.
__ADS_1
Bu Habibah memutar tubuhnya menghadap Sabda. Dia hanya melemparkan tatapan tajam ke arah putra semata wayangnya itu. "Ibu nggak suka sama Salma! Dari awal ibu nggak ikhlas melepasmu menikah dengannya. Paham?"
"Apa alasannya?!" tanya Sabda lirih. "Aku butuh alasan kenapa ibu tidak merestui kami. Padahal ibu tahu aku sangat mencintai Salma!"