Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 17


__ADS_3

Sore hari, di saat cahaya matahari hampir sepenuhnya lenyap dari peredaran bumi, Salma baru beranjak dari kamar. Itupun, karena tidak melihat Aundy memasuki kamar.


Saat tiba di lantai satu, hanya Aruni dan beberapa pelanggan yang menyambut penglihatan Salma.


"Lihat Ody enggak, Run?" tanya Salma setelah tak menemukan Aundy di bangku depan.


"Loh, tadi enggak pamitan ya sama Mbak Salma?"


Salma menggeleng tegas. "Emangnya ke mana dia?" Mendadak khawatir seseorang sengaja merencanakan hal buruk pada Aundy.


"Pergi sama Bapak, Mbak. Tadi aku dengar sih mereka mau ke makam almarhumah Bu Astrid." Aruni menatap Salma dari ujung kaki hingga rambut. "Udah sembuh?"


"Masih sedikit lemas. Udah kapok aku Runi, nggak mau lagi deh begadang sampai pagi gara-gara mikirin cowok!"


Aruni terpingkal. "Lagian siapa suruh mikirin. Tinggal milih mas Sabda atau mas Endra. Gitu aja masalah langsung selesai. Mereka juga ganteng dan tampan, cocok banget diajak pergi kondangan."


Salma menatap Aruni, lekat. "Ternyata enggak semudah itu, Run! Aku justru diingatkan untuk terus berhati-hati, takutnya kejadian di masa lalu justru akan kualami lagi. Ternyata, nyari cowok yang sreg di hati itu susah!" Salma tersenyum semringah. "Kamu juga, umur sudah hampir kepala tiga tapi tetap saja jomblo!"


"Kalau aku kan karena emang belum datang jodohnya."


"Bukannya belum datang, tapi kamu nggak niat nyari. Biyan aja kamu tolak!"


Ketika Aruni hendak menjawab, suara lonceng menghentikan gerakan bibirnya. Kedua wanita itu kompak menoleh ke arah pintu. Tampak Sabda datang seorang diri.


Salma pikir pria itu hendak menyapanya. Tapi, ternyata tidak. Sabda justru duduk di samping jendela, menghadap ke arah pantai. Membelakangi meja kasir.


"Sepertinya lagi marahan ya, Mbak!" ledek Aruni, lalu berlenggang meninggalkan meja kasir hendak menawarkan jenis minuman untuk pelanggan yang baru saja tiba. Sabda.


"Hidupnya teramat manis, jadi dia memesan kopi pahit." Aruni mengomel setelah berhasil menerima orderan dari Sabda.


"Layani aja apa yang dia mau!" balas Salma acuh. Dia masih menyimpan perasaan kesal, dengan sikap dingin yang justru ditampilkan oleh Sabda. Seharusnya, dia dong yang bersikap dingin pada pria itu.


Tak lama kemudian, Aruni kembali menyajikan kopi hitam untuk Sabda. Dia kembali dengan senyuman lebar, sepertinya dia baru saja mendapat bisikan dari pria itu.


Salma berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang dilakukan Sabda. Karena merasa sejak perdebatannya di dalam kamar semuanya sudah jelas. Ibarat pacaran hubungan mereka sudah putus. Mereka hanya akan menjadi mantan pasangan. Benteng mereka terlalu tinggi untuk diruntuhkan.


"Ayah Sabda!" Panggilan dari Aundy membuat pria itu menoleh ke pintu masuk.


"Ody, dari mana saja? Ayah udah lama nungguin kamu!"


Melihat reaksi Sabda, Salma menyimpulkan jika kedatangan pria itu hanya untuk Aundy bukan untuk meminta maaf apalagi membujuknya. Sejenak terdengar obrolan hangat antara Aundy dan Sabda.

__ADS_1


Di saat Salma mengawasi mereka dari balik punggung Sabda, telapak tangan seseorang mendarat di keningnya. Salma tersentak, tapi saat menyadari siapa yang melakukan itu dia membiarkan begitu saja.


"Mau ku antar ke dokter, Sal?" tawar Farhan, merasakan suhu tubuh Salma yang masih terasa di atas normal.


Salma menggeleng pelan. "Enggak perlu, Mas!"


"Tapi demam mu nggak turun loh! Dari pagi segitu terus!"


"Udah kok. Mungkin tangan Mas Farhan aja yang terlalu dingin, kan habis dari luar." Salma berusaha turun dari kursi. "Balik ke kamar dulu ya, nitip Ody!" Pesan Salma, kakinya melangkah menaiki anak tangga, berjalan menuju kamar.


Sampai di dalam kamar, Salma mendadak bingung hendak melakukan apa. Bibirnya justru terus menggerutu menyebut sifat asli Sabda yang terlalu kekanak-kanakan dan dia tidak menyukai apa yang dilakukan pria itu. Salma juga membenci dirinya sendiri yang tidak bisa berhenti memikirkan pria itu. Bahkan, tangannya langsung bergerak cepat, saat melihat nomor Sabda mengirimkan pesan singkat ke nomornya.


Ayah Ody : Aku bawa Ody buat nginep di hotel. Mumpung weekend, boleh?


Tak ingin pikir panjang Salma lekas menyetujui permintaan Sabda.


Salma : Ya.


Ayah Ody : Kamu juga ikut!


Salma : Tidak.


Salma : Kalau nggak siap, ya jangan dibawa!


Salma menjawab sesuai fakta dan risiko apa yang akan terjadi.


Ayah Ody : Okay. Siapin pakaian Ody.


Salma : Suruh dia naik! Aku mau bicara.


Tak ada balasan yang dikirim Sabda. Tapi setelah beberapa menit terdengar suara langkah kaki Aundy memasuki kamar.


"Bunda, Ody boleh ikut ayah, kan?"


"Ody yakin mau ikut ayah pergi?" tanya Salma, khawatir Aundy akan merepotkan Sabda.


"Iya, boleh kan Bunda?" tanya Aundy. "Bunda udah sembuh, kan?"


Salma tidak akan menolak permintaan Aundy mengingat mereka sangat jarang bertemu. Toh, Sabda juga tidak akan lama tinggal di Jawa.


"Berapa hari, Ody?"

__ADS_1


"Kata ayah besok udah pulang kok. Bunda kenapa enggak mau ikut?"


"Bunda sedang nggak enak badan!"


Salma menepuk pundak Aundy. "Jangan nakal ya, nurut sama ayah Sabda!" pesannya.


"Iya, Bunda juga cepat sembuh, biar kita bisa main bertiga lagi."


"Hm." Salma menganggukan kepala lagi. "Ody, jangan bilang ke ayah kalau bunda sakit ya!"


"Iya, Ody juga nggak mau liburan sama ayah batal karena ayah tahu bunda sedang sakit." Setelah berpamitan, Aundy lekas berlari keluar kamar.


Sedangkan Salma kembali fokus ke arah ponsel. Berharap Sabda akan meneleponnya terlebih dahulu sebelum mereka benar-benar pergi. Sayang, hanya pesan singkat yang masuk ke nomornya.


Ayah Ody : Aku bawa Ody.


Salma : Ya hati-hati jaga anakku.


Ayah Ody : ANAK KITA.


Rasanya aneh saja, jarak mereka dekat tapi obrolan mereka begitu formal. Mendengar suara mesin motor menjauh, Salma lekas merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Kram di perutnya memang tidak separah tadi pagi, tapi mual dan sakit kepala yang menyerang masih saja hadir.


Sepanjang malam, Salma justru tidak bisa memejamkan mata. Dia merasa hampa saat tidak ada Aundy di sampingnya. Dia ingin sekali mengirimkan pesan singkat ke nomor Sabda. Tapi melihat status pria itu yang menunjukan Aundy sudah terlelap dia jadi tidak enak untuk bertanya pada pria itu.


Salma kembali keluar kamar, berniat membuat coklat panas untuk mengeluarkan keringat di tubuhnya. Saat hendak duduk di tempat biasa, sosok Farhan lebih dulu duduk di sana.


"Belum tidur, Sal?"


"Belum, Mas. Rasanya aneh enggak ada Ody. Tapi aku juga tidak ingin egois membiarkan Ody terus terusan bersamaku, dia berhak memiliki waktu dengan ayahnya."


Farhan menganggukan kepalanya. "O, ya. Besok pagi aku mau ke Malang. Sekalian pamit ya."


Salma menganggukan kepala. "Hati-hati, Mas. Semoga selamat sampai tujuan ya."


"Aamiin, tapi mungkin Senin malam sudah balik sini lagi."


"Mas mau menetap di sini?" tanya Salma, penasaran.


"Sepertinya iya."


Salma tersenyum canggung, kekhawatiran mendadak muncul. Jika begitu, bukankah seharusnya dia mencari tempat tinggal lain. Tidak baik mereka tinggal satu atap tapi tidak memiliki hubungan apapun.

__ADS_1


__ADS_2