
Hari Sabtu Aundy terlihat pulang lebih awal. Gadis itu bersorak senang melihat uti dan Akung nya berada di kedai. Sabda sudah mengatur kedatangan mereka. Bahkan Salma juga kaget melihat mereka bisa sampai di kedai.
"Sabda sudah cerita sama ibu dan bapak," kata Bu Deva, seraya mengusap lengan Salma, berusaha menghibur. Wajah pucat dan sembab yang ditunjukan Salma, membuat Bu Deva yakin mental putrinya sedang digembleng habis -habisan. Beruntung saja, dia memutuskan untuk datang. Jika tidak, dia tidak akan tahu gimana jadinya Salma.
"Bu, Salma masih ingin menunggu mujizat. Siapa tahu lusa besok atau bahkan satu Minggu lagi calon adik Ody bisa bergeser sendiri ke dalam rahim."
"Salma ...." Bu Deva memanggil dengan lembut. "Ibu jauh akan merasa bersalah seandainya terjadi hal buruk sama kamu!"
Ucapan ibu terdengar jauh lebih tegas, membuat Salma kembali mengingat irama detak jantung calon anaknya. Bagaimana bisa dia melepaskan sesuatu yang sudah membuatnya jatuh cinta saat mendengar detak jantungnya saja.
"Tapi, Bu?"
Bu Deva meminta Salma supaya menatap Aundy yang sedang bermain dakon dengan pak Arif. "Dia, dan Sabda masih butuh kamu. Mereka mencintaimu Salma. Jangan egois! Ibu yakin Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik."
Tangis Salma pecah, dengan sigap bu Deva langsung menangkap tubuh Salma. "Kalau nggak?! Gimana kalau tidak, Bu? Gimana kalau anak Salma cuma Ody?!"
"Salma, dengarkan ibu! Anak itu anugrah, semakin banyak anak semakin banyak pula nanti tanggungjawab kalian. Dan ingat bukan hanya perkara dunia saja, tapi di akhirat nanti kamu juga akan ditanya bagaimana tanggungjawab kalian terhadap anakmu. Kalaupun Allah hanya memberi mu Ody. Ya tidak masalah. Itu artinya pertanggungjawaban mu tidak begitu banyak."
Tubuh Salma terasa semakin lemas, kepalanya semakin berat dan akhirnya lunglai di bahu Bu Deva. Kram perut yang dirasakan bertambah hebat, tapi yang lebih menyakitkan adalah batinnya, mau tidak mau dia harus menerima fakta jika keputusannya memang harus melepaskan.
"Ibu, apa ini kutukan dari Bu Habibah karena kami menikah tanpa restu darinya? Apa pernikahan kami ini sudah salah, sampai-sampai Allah menghukum kita seperti ini?"
"Salma!" sentak Bu Deva. "Jangan bicara sembarangan! Ibu tahu ini berat buat kamu. Tapi kamu nggak boleh berprasangka buruk seperti itu! Rencana Allah itu adalah sebaik-baiknya rencana manusia. Harusnya dengan dikasih cobaan seperti ini, kamu semakin ingat sama Allah, kamu tunjukin kalau kamu bisa dengan tegar menghadapi semuanya."
Hening, hanya terdengar suara tangisan Salma. Dia menangis di pelukan ibunya.
__ADS_1
"Yang ikhlas, Nak! Menangislah, setelah ini kamu harus bisa melepaskannya. Ibu juga menyayangimu, ibu nggak mau terjadi sesuatu sama kamu."
Salma diam, dia menuntaskan tangisnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya menganggukan kepala. "Salma akan menuruti saran dokter, Bu. Tapi, Salma ingin mas Sabda dengar dulu detak jantungnya. Dia harus tahu kalau Salma nggak membohonginya. Ada anaknya di perut Salma!" sejujurnya bukan itu kemauan Salma, dia hanya ingin mengulur waktu perpisahan dengan calon anaknya.
Pukul dua siang, Salma masih berada di dalam kamar, Bu Deva memaksanya untuk beristirahat saat melihat kondisinya yang semakin pucat. Aundy pun tidak berani mendekat setelah mendengar penjelasan dari Bu Deva yang mengatakan jika Salma sedang sakit.
Tepat pukul tiga, sebuah mobil berhenti di depan kedai. Rupanya Sabda yang mengajukan cuti emergency sudah tiba di Jawa. Pria itu lekas berlari memasuki kedai yang masih cukup ramai. Setelah tidak melihat keberadaan Salma, ia pun berlari menuju lantai dua, memasuki kamar istrinya.
Sabda memelankan suara langkahnya saat menyadari Salma yang sedang terlelap. Bukan bermaksud mengganggu jam istirahat Salma. Tapi Sabda hanya ingin memberitahu melalui physical touch, seakan menjelaskan jika semuanya akan baik-baik saja.
Sabda mendaratkan kecupan hampir di seluruh wajah Salma, memeluknya untuk menenangkan sekaligus melepas rindu yang ditahan selama ini. Dan sialnya, kegiatannya itu mengganggu waktu tidur Salma. Dia menggeliat lalu mendongak.
"Mas Sabda!" lirihnya.
Kali ini Salma tidak menjawab, bibir Salma bergetar, perlahan dan pasti tangisnya pun meledak. Sabda hanya bisa membiarkan Salma memuaskan diri untuk menuntaskan tangisnya. Rasanya menyiksa sekali mendengar tangisan Salma.
"Kenapa sih nangis begini? Toh kita masih bisa bikin lagi." Sabda berusaha menghibur. "Kita bisa explore dulu gaya ber cinta yang lain. Kalau kamu hamil sekarang kan nggak bisa." lirih Sabda bibirnya tak henti menelusuri kulit wajah Salma, ikut membantu mengusap air matanya.
"Sayang, sebaiknya kita langsung ikuti kata dokter aja ya! Kabag ku kemarin cerita, istrinya juga mengalami hal serupa denganmu. Dan saluran tuba nya terpaksa di potong karena sudah terlambat dan rusak. Jadi dia hanya memiliki satu tuba saja sebelah kiri. Kalau kamu pengen cepet hamil lagi. Sebaiknya ikuti kata dokter. Jangan sampai kamu mengalami hal serupa dengan istri Kabag ku!"
"Besok kita ke dokter. Setelah itu kamu yang memutuskan aku akan menurut dengan apa perintahmu." Salma menjawab.
Sabda tersenyum masam. Lalu kembali mendaratkan kecupan di kening Salma. "Aku akan selalu ada di sampingmu. Kita hadapi ini sama-sama." kali ini dia berhenti memberi kecupan, dia memeluk Salma erat seakan ingin menyatukan tubuh mereka.
"Mas Sabda nggak marah sama aku?"
__ADS_1
"Kenapa aku harus marah sama kamu?" Sabda justru balik bertanya. "Nggak ada yang perlu disalahkan jika itu sudah ketetapan Allah. Kita harus tetap menjalaninya."
"Tapi aku nggak bisa hamil, aku nggak bisa jaga anakmu, Mas."
"Siapa bilang? itu Ody, dia anak kita. Dia lahir dari rahimmu! Sayang, sudah ya, tenang, nggak usah mikirin macam-macam. Kalaupun kamu hanya memberiku Ody, aku nggak akan berhenti berusaha untuk membuat kalian bahagia. Aku juga nggak akan berhenti mencintaimu. Jadi jangan khawatir, tujuan nikah kan supaya kita bisa saling melengkapi, bukan saling menuntut. Aku nggak papa, dan aku sama sekali tidak marah sama kamu. Jadi jangan terlalu berpikir jauh."
"Nanti kamu selingkuh karena ingin punya anak?"
"Pikirannya mulai nakal!" Sabda gemas sendiri, dia terpaksa menggigit hidung Salma. "Apa perlu diadu lagi kesetiaanku?"
Salma menggeleng cepat. Dia mulai tenang, perlahan dia bisa ikhlas menjalani takdir hidupnya.
Padahal mereka sudah berencana hendak ke dokter Wira esok hari. Tapi sepertinya Salma terlalu stress, hingga setelah melaksanakan salat isya dia justru pendarahan dan dilarikan ke rumah sakit.
Di saat Salma merasakan nyeri hebat di perutnya Sabda tak jauh-jauh brankar yang kini ditempati. Pria itu membantu mengusap perutnya, seakan tahu apa yang dilakukan bisa meringankan rasa sakit yang diderita.
Ke esokan harinya Salma baru ditangani oleh dokter spesialis kandungan. Sebelum dilakukan tindakan, sekali lagi Salma ingin melihat calon anaknya. Dokter Wira menuruti, tapi rupanya itu hanya membuat kesedihannya bertambah. Bahkan Sabda yang duduk di sampingnya hanya bisa menahan tangis saat sang dokter merekam irama jantung calon anak kedua mereka.
"Alhamdulillah kalian mengambil keputusan nya cepat dan tepat, saluran tuba nya masih bisa diperbaiki. Jadi hanya janinnya saja yang perlu diangkat."
Mereka berdua tidak merespon, tapi Sabda bisa merasakan genggaman tangan Salma di telapak tangannya semakin erat. Mereka sedang berusaha untuk saling menguatkan.
Tepat pukul sepuluh pagi, Salma menjalani proses laparoskopi pengangkatan janin. Tindakan itu dilakukan cepat oleh dokter ahli. Berbeda dengan luka batinnya yang mungkin akan menyisakan kesedihan yang mendalam.
"Setelah ini, kita nggak akan jauh-jauh lagi. Aku akan membawamu bersamaku. Pernikahan kita akan jadi seperti yang kamu inginkan. Kamu akan ngerasain lelahnya menungguku pulang kerja, gimana repotnya ngurus aku dan Ody." lirih Sabda, setelah proses itu rampung. "Begitu terus, sampai anak kita besar, sampai kita tua, sampai kita jadi kakek dan nenek dan sampai Allah memanggil salah satu dari kita."
__ADS_1