Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 38


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Sabda tiba di kedai Kayu Manis pukul empat lewat lima belas menit. Biyan yang tengah duduk santai sambil menikmati angin sore langsung mengarahkan ke mana mobil Sabda harus parkir.


“Di mana Aruni, Yan?” Salma langsung turun begitu mobil Sabda berhenti.


“Di kamar Mbak, asam lambungnya naik, nggak bisa ngapa-ngapain.” Biyan menjelaskan detail.


“Udah periksa ke dokter?” tanya Salma lagi. Dia membiarkan Sabda mengangkat tubuh Aundy yang masih terlelap di bangku belakang.


“Mana mau Aruni periksa, Mbak Ma. Cuma diobatin sama mylanta.”


Salma lantas berlari kecil menaik tangga kayu, kakinya langsung tertuju pada kamar Aruni yang ada di bagian paling ujung. Dulu saat dia sakit, selalu ada Aruni yang merawatnya. Dan sekarang giliran dia yang wajib merawat Aruni.


“Run, udah baikan belum—yuk ke dokter?” tawar Salma, begitu memasuki kamar Aruni.


“Ih, nggak perlu, Mbak. Udah mendingan kok, aku minumin obat asam lambung. Tenang aja nggak usah panik! Pasti si Biyan yang udah lapor ke Mbak Salma! Jadi, nggak enak deh.”


“Gimana nggak panik, kalian cuma berdua di sini. Biyan juga nggak bisa buka kedai kalau kamu sakit.”


“Ih Mbak Salma, kaya sama siapa saja loh. Jadi gimana? akhirnya Mbak Salma nikah juga? Sama siapa? Ih bikin aku penasaran tahu nggak!” Aruni menatap Salma dengan raut penuh penasaran, dia memang mendengar kabar jika Salma menikah tapi belum tapi dengan siapa.


“Sama ayahnya Ody.” Salma meletakan tangannya di atas kening Aruni, badannya memang tidak begitu panas. Melihat kondisi Aruni saat ini, cukup membuatnya lega. “O, iya, Run. Aku izin bawa mas Sabda tinggal sementara di sini, ya! Nanggung mau nyari kontrakan sedangkan cutinya sisa tiga hari lagi.”

__ADS_1


“Iya, aman, Mbak! Kasurnya gimana atau mbak tidur di sana saja, biar aku tidur sama Ody!” meski di rumah itu ada tiga kamar, tapi Salma tidak ingin menempati kamar utama yang biasa di pakai Farhan. Itu hanya akan membuatnya teringat dengan Astrid.


“Nggak perlu, kan tujuan mas Sabda nginep biar bisa dekat sama anaknya.”


“Ow, gitu! Ya sudah, aku nyerah! tapi kalau mau tidur di sini juga nggak papa sih, Mbak, pintunya nggak aku kunci kok. Aku tahu ranjang di sana itu sempit.”


"Okay, istirahatlah—aku tidak akan menuntutmu kerja keras hari ini!" Melihat Aruni sudah baik-baik saja, Salma memutuskan untuk keluar kamar. Dia ingin melihat apa yang tengah dilakukan suaminya di luar sana.


Tiba di teras Sabda sedang mengawasi Aundy yang tengah bermain sepeda. Gadisnya itu seperti tak kenal lelah, mengayuh sepedanya di lautan pasir putih.


“Mau aku bikinkan kopi, Mas?” tawar Salma.


“Nggak, usah deh, Yang! aku mau mandi dulu,” Kata Sabda. “Aku ada janji sama Biyan setelah magrib mau ngembaliin mobil. Dia baru mandi.”


“Enggak, besok sudah harus buka kedai!"


“Okay, baiklah. Ada waktu tiga hari buatku bantuin kamu di kedai!” Sabda mengusap tulang pipi Salma. Bibirnya tersenyum penuh arti.


Salma merasakan perubahan besar dalam diri Sabda, pria itu lebih sering menunjukan perasaan cinta yang tengah melanda. Tak terhitung sudah beberapa kali pria itu mendaratkan kecupan di pipinya.


Di sisa waktu tiga hari Sabda di jawa, Salma cukup terbantu dengan kehadiran pria itu. Dia meminta Aruni untuk beristirahat memulihkan tenaganya yang belum sepenuhnya pulih.

__ADS_1


Dan pagi ini, Sabda sudah harus kembali ke jobsite, lantaran waktu cutinya sudah selesai. Salma terpaksa merahasiakan kepergian Sabda dari Aundy, takut gadis itu akan menangis saat melewati perpisahan dengan sang ayah.


Saat travel sudah menjemputnya, itu artinya ikhlas tidak ikhlas Salma harus melepas Sabda. Dia berusaha tegar, meyakinkan diri sepuluh minggu itu tidaklah lama.


Pelukan mereka tak kunjung terlepas. Seakan enggan dipisahkan oleh keadaan. “Pamit ya,” lirih Sabda seraya mengusap rambut Salma.


Wanita itu tidak menjawab, dia takut tangisnya akan meledak hingga memberatkan Sabda yang hendak pergi untuk bekerja.


“Sepuluh minggu aja! Nggak lama, Sayang.”


Salma mengangguk. Dia masih memeluk erat tubuh Sabda.


“Udah, ya. Udah ditungguin tu sama travel.” Sabda berusaha meminta pelukan itu terlepas.


“Kabari aku ya! jaga kesehatan.” Salma berpesan, meski berat tapi dia wajib melepas pelukannya.


“Pasti.” Sabda menjawab. “Aku mencintaimu, aku bakal kangen banget sama kalian,” imbuhnya seiiring pelukannya yang terlepas dari tubuh Salma.


“Sama—aku juga. Udah sana, pergi. Hati-hati! Jangan lupa untuk selalu ngasih kabar.” Salma melambaikan tangan, sebagai tanda jika dia meminta Sabda untuk pergi.


Sabda tampak berat meninggalkan pujaan hatin. Setelah mengucapkan salam, ia pun naik ke dalam travel.

__ADS_1


Sedangkan Salma, tepat ketika mobil itu berlalu air matanya jatuh. Dia menangis, meluapkan rasa sedih yang kini dirasakan. Entah kenapa rasanya berat sekali ditinggal Sabda. Tapi dia harus bisa, semuanya akan sama, seperti saat-saat yang lalu.


__ADS_2