Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 7


__ADS_3

Tentu saja Aundy bahagia melihat sosok yang dirindukan kini tengah memeluknya erat. Sangking bingungnya dengan apa yang hendak dilakukan, Aundy hanya bisa menangis dalam dekapan Sabda.


"A—ayah ... Ke-kenapa ba—ru dateng!" keluhnya dengan napas tersendat-sendat, tangisnya masih bisa didengar oleh Sabda. Tangis yang membuat Sabda semakin menyesal karena membiarkan Salma lepas selama setahun ini.


"Ayah, kan kerja. Ayah terpenjara di pekerjaan. Nggak bisa pulang ke Jawa." Sabda tidak ingin mengatakan jujur kalau Salma sengaja menjauhkan mereka berdua. Dia harus menjaga perasaan Aundy supaya tidak membenci mantan istrinya itu.


"A—ayah ja—jahat. Ody kangen banget sama ayah." di sela tangisnya Aundy menarik napas dalam-dalam, dia seperti kehabisan pasokan udara. "Ayah tahu nggak! Dulu ponsel bunda hilang—diambil sama penjahat. Jadi, bunda ganti nomor. Apa ayah juga kebingungan mencariku?!"


"Jelas! Ayah bingung ke mana lagi bisa menghubungi Ody. Ayah juga kangen banget sama Ody, sampai nggak doyan makan, nggak bisa kerja juga. Tapi, ayah selalu berdoa supaya secepatnya bisa dipertemukan sama putri kesayangan ayah." Sabda membantu menyeka air mata putrinya. "Sekarang jangan menangis lagi, kan ayah udah di sini."


Aundy mengangguk, tiba tiba saja dia menyingkirkan tangan Sabda dari pipinya. Dia teringat akan ucapan sang bunda. "Apa ayah sudah menikah dengan Tante Hani? apa ayah sudah ingkar janji?"


Ternyata bukan hanya Salma yang mengira aku sudah menikah lagi. Aundy pun sama. "Ody, selama bunda Salma masih bernapas itu tidak akan terjadi. Karena cintanya ayah cuma buat Ody dan Bunda."


"Tapi—nanti ayah pergi lagi?"


Sabda menatap sosok wanita yang baru saja keluar dari ruangan. Tampak Salma menghampiri posisi mereka berdua. "Ayah tentu saja harus pergi. Tapi perginya untuk bekerja. Karena sekarang ayah sudah tahu nomor telepon bunda Salma. Kita bisa kaya dulu lagi. Setiap saat kita bisa saling melepas rindu."


Aundy kembali memeluk Sabda. Mengobati rasa rindu yang sudah lama menyiksa batinnya, dia sungguh merindukan ayahnya. Hanya saja, selama ini bingung dengan cara apa dia bertemu sang ayah. Sekarang dia bahagia melihat Sabda nyata memeluk tubuhnya.


"Kok tahu aku di sini?" Salma yang baru saja tiba bertanya.


"Cewek yang tadi di kedai, yang ngasih tahu aku."


"Ow." Salma menganggukan kepala, paham.


"Bunda, bunda nggak mau peluk ayah Sabda? Emangnya bunda enggak kangen sama ayah?" tanya Aundy sedikit protes.


"Tadi udah. Lama banget pelukannya," sahut Sabda terlampau jujur.


"Ih, jadi bunda udah ketemu sama ayah! kenapa enggak cerita sama Ody? Bunda kapan ketemunya? kok bunda curang sih!?"


Pertanyaan demi pertanyaan terus saja menyela. Salma sampai bingung hendak menjawab apa.


"Baru tadi pagi ayah ketemu sama bunda—udah yuk lebih baik kita pulang!" lerai Sabda.

__ADS_1


"Ayo, ayah Sabda ikut kan?"


"Ikut dong!" Sabda menggendong Aundy di punggungnya, sambil berlari ke arah mobil. Membuat gadis itu berteriak meminta sabda untuk berjalan pelan saja. Saat sabda membuka pintu mobil. Aundy enggan turun, dia justru mencengkram kuat leher Sabda.


"Ody mau duduk di depan?" tawar Sabda. Padahal dia sudah berencana supaya kursi depan ditempati oleh Salma. Tapi demi Aundy mau pulang bersamanya, Sabda mengalah, membuka pintu mobil bagian depan.


"Ayo, kita pulang, Ody!"


Aundy menggeleng cepat. "Ody enggak mau naik mobil ayah!" jelasnya dengan emosi yang tertahan, wajahnya sudah merah padam ketakutan.


"Mas Sabda!" Salma yang sudah keluar dengan motornya, berusaha mencegah Sabda yang ingin membawa Aundy masuk ke mobil. Dia lupa memberitahu Sabda jika Aundy masih ketakutan untuk naik mobil. "Biarkan Ody naik motor sama aku."


"Panas, Sal! Kenapa enggak bareng aja sih!" protes Sabda.


Salma melirik ke arah Aundy. "Nanti aku ceritain. Jadi sebaiknya biarkan Aundy bersama ku dulu."


Sabda mengalah. Dia membiarkan Aundy naik motor, duduk di belakang tubuh Salma.


"Sal!" Sabda mengusap-usap perutnya. "Aku belum sarapan!" akunya membuat Salma geleng-geleng kepala.


"Ya, sudah kita nyari makan dulu."


Salma sempat melemparkan tatapan tajam ke arah Sabda. Sebelum akhirnya menarik tuas gas motor yang dikendarai. Sabda yang tidak ingin ketinggalan lekas memasuki mobil, mengejar mereka berdua.


Mereka kembali bertemu di persimpangan lampu merah. Sabda berhenti di sisi kiri Salma. Sejajar dengan motor mantan istrinya itu. Alih-alih menggoda Salma, pria itu justru menggoda putrinya. Memberikan permen lolipop pada Aundy.


"Naik mobil aja yuk, sama ayah, biar bunda aja yang item Ody -nya jangan!"


Aura Sabda saat ini jauh berbeda dengan Sabda yang ditemui Salma tadi pagi. Kali ini lebih maskulin dengan kaca mata hitam yang membingkai wajahnya. Salma sampai menahan tawa saat melihat jawaban Aundy yang hanya mau mejulurkan lidah.


"Item-item gini kamu juga susah move on, kan? Dasar laki!"


"Kamu sih, guna-gunanya terlalu kuat! jadi yowes pasrah!"


"Ayah nggak nyadar, tu ada kaca, ngaca dulu lah. Masih iteman ayah sama bunda!"

__ADS_1


Sabda menatap spion kecil di sampingnya, melakukan apa yang diperintahkan Aundy. Sesekali melirik ke arah Salma. "Iya, deh. Yang ganteng ngalah!" Lalu kembali fokus ke arah jalan saat lampu menyala hijau. Dia mengikuti Salma yang sepuluh meter berada di depannya. Sampai akhirnya, Salma menghentikan motornya di warung makan yang ada di kiri jalan.


"Bunda, aku mau duduk sama ayah!" Izin Aundy ketika Salma tengah mengelap meja dengan tisyu. Padahal Sabda sendiri belum duduk, pria itu tengah sibuk mencari tempat parkir untuk mobilnya.


"Iya. Ody duduk di depan, Bunda," perintahnya. Dia tidak ingin berhadapan langsung dengan mantan suaminya.


Sabda yang baru saja tiba kembali memeluk Aundy. Dia mencium pipi Aundy berulangkali sampai gadis itu mengeluh risih atas tindakannya. "Ayah masih kangen sama Ody!" kini giliran jari Sabda yang bermain-main di rambut Aundy.


"Mas, Ody udah bukan bayi lagi. Hampir delapan tahun loh! malu dia kamu gituin!"


"Iya, ya! udah pantas punya adek," balas Sabda.


Kaki Salma yang berada di bawah meja langsung menendang kaki Sabda. "Sekali ngomong kaya gitu didepan Ody, hangus ya!" ancamnya.


Setelah merintih kesakitan Sabda memamerkan barisan giginya. "Ampun, Nyai. Iya deh janji—hanya kita berdua."


Obrolan mereka terjeda saat pelayan menyajikan bakso di atas meja. Aundy begitu antusias menyantap bakso sapi di depannya. Sedangkan Sabda tengah sibuk mencari ketupat sebagai pengganti nasi.


"Kamu enggak makan?" tanya Sabda, mendadak canggung saat hendak memanggil sayang ketika berada di depan Aundy.


"Lagi diet."


Sepasang alis Sabda menukik tajam. "O, iya ya—kan mau nikah. Boleh juga ide kamu!"


Kali ini Salma tidak bersuara, hanya tatapannya saja yang menajam ke arah Sabda. "Mau nikah sama siapa? jodohnya belum ada."


"Sama ayahnya Ody." Sabda mengulurkan sendoknya, berniat menyuapi Salma. "Makan?" perintahnya ketika Salma tidak mau merespon. "Makan, Sayang! Malu, ih sama Ody."


Terpaksa, Salma terpaksa menerima suapan Sabda saat potongan bakso itu seakan mengetuk bibirnya yang terkatup rapat. Aroma daging yang menguap menggoda Salma untuk segera melahap.


"Enggak usah diet! Aku nggak bakal masalahin berat badan kamu kok ke depannya," ucap Sabda. Kini mengambilkan potongan ketupat, berniat kembali menyuapi Salma.


"Jadi bunda aja yang disuap? Ody enggak?" Protes Aundy, saat melihat tingkah kedua orang tuanya.


"Emang Ody mau? punya ayah kan udah dikasih sambel!" Sabda menjulurkan bakso ke depan bibir Aundy.

__ADS_1


"Nggak. Ody nggak mau makan pedas!" Aundy menggeleng hingga sendok itu kembali di arahkan ke Salma.


"Jadi, kenapa? Apa alasan Ody enggak mau naik mobil?" tanya Sabda, setelah berhasil menyuapi Salma.


__ADS_2