Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 24


__ADS_3

Pernikahan antara Panji dan Rianty terasa begitu sakral pagi ini. Tidak banyak tamu yang hadir di sana, hanya ada keluarga inti dan kerabat dekat yang sengaja diundang Panji dan Rianty.


Rencananya Panji akan mengadakan resepsi pernikahan usai wisuda yang akan dilaksanakan sebulan lagi. Pernikahan yang sengaja dibuat semeriah mungkin, demi menutupi luka yang pernah diterima Rianty. Beruntung keluarga Rianty tidak mempermasalahkan itu. Mereka hanya bisa menurut pada pihak laki-laki.


Dan sekarang, mempelai pria tampak begitu gugup sebelum mengucapkan kalimat qobul. Dalam hati Panji berharap ini yang pertama dan terakhir dalam hidupnya. Dia berjanji tidak akan menyia-nyiakan wanita yang baru saja sah menjadi istrinya.


Tidak lama kemudian Aundy terlihat mendekati Panji, membawa nampan berisikan cincin emas dan perak untuk kedua mempelai. Sedangkan gadis satunya yang merupakan anak dari Rianty, justru enggan mendekat. Gadis bernama Jemima itu seakan takut dengan kericuhan yang ada di rumahnya. Sifatnya sangat kontras dengan Aundy yang lebih ceria.


Di sudut bangku tamu, Salma dan Sabda terlihat duduk berdampingan. Keduanya saling bungkam, seolah tengah memutar kenangan mengenai pernikahan mereka. Sebelum akhirnya, sebuah sapaan menyapa keduanya.


"Apa kalian balik'an?" tanya sosok wanita yang kini duduk di balik tubuh Salma. Wanita itu adalah tetangga Sabda, rumahnya bersebelahan dengan rumah Bu Habibah. Mungkin pihak dari keluarga Rianty mengenal beliau, jadi wanita itu turut diundang.


"Doain aja yang terbaik, Bu." Sabda yang menjawab lirih.


"Syukurlah, Da! Kasihan anak kalian!"


Salma ikut tersenyum, ternyata masih ada juga yang diam-diam memperhatikan mental Aundy. Ya, di mana-mana jika pasangan bercerai, anak yang akan menjadi korban.


"Kalau diresmikan jangan lupa undang bulek ya, Da, Salma."


Keduanya kompak mengangguk. Salma pun seakan tidak menyadari jika jawabannya itu adalah harapan besar dari seorang Sabda.


Acara akad nikah begitu cepat terlaksana. Para tamu lebih dulu dipersilakan pulang. Sebelum keluarga inti pamit undur diri.


Atas permintaan Aundy, kini Sabda mengantar mereka pulang. Dan sialnya, Sabda tak langsung membawa mereka pulang ke rumah pak Arif. Pria itu justru mampir ke sebuah toko perhiasan, demi menepati janjinya pada Aundy.


Sebelum berangkat ke Semarang, Sabda diam-diam berjanji pada gadis itu, jika dia nurut hadiahnya adalah sebuah gelang emas kesukaan Aundy.


"Ayah, mau gelang ini—" Aundy menunjuk gelang yang ada di dalam etalase perhiasan. Dia menunjuk gelang anak yang berliontin tokoh kartun kesukaannya.


"Bilang bunda boleh, nggak!" jawab Sabda, terlihat acuh. Dia justru sibuk memilih cincin.


"Lah, emang yang mau bayarin siapa?!" balas Salma, ketus.


"Iya-iya, aku. Tapi boleh nggak Ody dibeliin itu?"


"Terserah," jawab Salma, singkat. Lalu memutar tubuhnya menghadap layar kaca. Sejenak Salma menghentikan aktivitasnya, sibuk berkaca, sambil memeriksa dandannya yang sudah sedikit berantakan.

__ADS_1


Salma pikir, Sabda masih sibuk memilihkan barang untuk Aundy. Jadi, dia terlihat santai sambil menunggu mereka selesai.


Gerakan Sabda yang tiba-tiba mengecup pipinya membuatnya tersentak. Tangannya reflek menimpuk tubuh pria itu dengan tas jinjing yang ada di tangan. "Brengsek banget jadi cowok! Nggak tahu tempat!"


"Sayang cantik -cantik dianggurin!" Balas Sabda sambil mengusap pundaknya yang terasa begitu ngilu. Dia melipir menjauh dari Salma.


"Mbak, sekalian ini!" Minta Sabda, seraya menunjuk sebuah cincin emas yang begitu menarik perhatiannya.


"Awas ya! Aku balas nanti!" Ancam Salma, seraya memasang wajah kesal.


Sabda meringis. "Siap, aku siap menerima hukumanmu." Sabda fokus pada cincin yang baru saja diberikan oleh pegawai di depannya. "Sal, coba deh sini!" Pinta Sabda.


"Nggak!" Salma menolak, dia masih kesal dengan tingkah pria itu. Bahkan, wajahnya terasa hangat saat melihat pegawai menertawakan tingkah mereka berdua.


"Udah, jangan lama-lama marahnya!" Sabda menarik lengan Salma, membawanya mendekat. "Coba doang!" Paksa Sabda, seraya memasukan cincin emas ke jari manis Salma. "Bagus nggak?!" tanya Sabda.


"Bagus."


"Kamu mau?!"


"Udah, yang ini aja ya, Mbak. Biar dipakai sekalian sama calon istri saya!" kata Sabda menjelaskan pada pegawai toko.


"Sabda!"


"Dalem, Sayang ... Ditolak malah dilakukan!" protes Salma.


"Itu tandanya cinta. Udah dipakai ya! nyicil dulu—biar ntar tinggal baca akadnya." menepuk pundak Salma lembut.


"Ayah, kok bunda dibeliin cincin? Aku kok enggak?!" Protes Aundy, sengaja melerai perdebatan keduanya.


"Sabda, ini mahal! Dua puluh gram loh," protes Salma siap melepas cincin di jari manisnya tapi kesulitan.


"Kamu lebih mahal dari harga cincin itu!" ucap Sabda. Lalu mengabaikan Salma dan memilihkan cincin untuk putri kecilnya."Ody, mau cincin yang mana?" tanya Sabda.


Salma hanya bisa pasrah, dia mengamati cincin pemberian Sabda yang harganya bahkan lima kali lipat dari mas kawin yang dulu pernah diberikan oleh pria itu. "Kalau begini caranya, mana bisa aku menolak ajakanya!" gerutunya seraya melirik ke arah Sabda yang begitu telaten menemani Aundy memilih cincin.


Sebenarnya mereka tidak bisa pergi lama-lama, karena di rumah pak Arif sedang banyak orang. Tapi, Sabda yang mengaku masih kelaparan justru membawanya singgah ke warung makan tahu gimbal.

__ADS_1


Padahal Sabda sudah berencana membawa Salma ke rumah sakit untuk ikut medical check up. Tapi semuanya harus tertunda lantaran Bu Deva berpesan supaya mereka segera pulang ke rumah.


Tiba di rumah, Salma benar-benar kena omel oleh Bu Deva. Beruntung Sabda langsung pergi, jika tidak pasti perdebatan akan semakin panjang. Dan membuat citra buruk Sabda semakin bertambah.


"Uti, cantik kan gelang aku," ucap Aundy, pamer seraya menunjukan ke Bu Deva gelang barunya. "ini dibeliin sama ayah! Eh, bunda juga dibeliin sama ayah. Punya bunda lebih mahal. Uti tahu nggak waktu bunda nolak karena harganya terlalu mahal ayah malah bilang bunda itu lebih mahal dari harga cincin itu. Ugh, kaya di sinetron aja kan, Uti!" adunya, berbicara tanpa jeda menceritakan kejadian saat mereka berada di toko perhiasan.


Salma meringis, saat mendengar omelan Bu Deva. Dia langsung saja berlari menuju kamar khawatir Omelan itu tidak akan kunjung berhenti.


"Apa aku keterlaluan menerima barang pemberian Sabda!" Gumamnya sambil bersandar di balik pintu kamar. "nggak papa lah, lagian bapak hanya mengulur waktu. Toh akhirnya sudah tahu pada siapa aku akan menikah," gumamnya sambil berjalan ke arah kamar mandi.


Namun, dering panggilan dari Sabda menahan langkahnya. Dia langsung mengangkat panggilan dari Sabda.


"Aku udah sampai." Sabda melapor.


"Hm ... Istirahat dulu saja! Nanti jadi datang kan?"


"Iya, dong, kan mau ketemu calon istri."


"Ya, udah aku mau mandi."


"Ya. Cincinnya jangan dilepas ya!" Pinta Sabda membuat Salma mengamati cincin yang belum lama tersemat di jemarinya.


"Sampai kapan?" tanya Salma.


"Sampai ada cincin baru di jarimu!"


"Besok mau kujual, lumayan buat kabur dari mu."


"Awas saja kalau kamu berani!"


Salma terpingkal. "Udah aku mau mandi, udah gerah banget!"


"Ya. Yang bersih mandinya ya."


Salma tidak menjawab, dia langsung saja memutus panggilan telepon dari Sabda. Saat hendak meletakan kembali ponselnya ke atas meja, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke roomchat WA nya. Salma yang penasaran langsung membuka pesan singkat itu.


08567281xxx : Udah puas kamu menghasut anakku! Selamanya aku nggak akan merestui hubungan kalian. Dan aku pastikan hubungan kalian tidak akan pernah harmonis. Ingat statusmu, Salma. Kamu itu cuma anak tukang bengkel. Jadi, demi kebaikan Sabda—lepaskan putraku! Dia sudah punya calon, yang lebih bermartabat darimu.

__ADS_1


__ADS_2