
Alhamdulillah acara akad nikah dadakan itu berjalan dengan lancar. Salma dan Sabda dinikahkan oleh penghulu yang biasa bertugas di KUA, yang tak lain adalah pak Rudi tetangga pak Arif.
Para saksi bungkam ketika Sabda menyebut nama Salma dengan lengkap. Suasana yang dihasilkan terasa jauh lebih sakral dari pernikahan mereka yang pertama. Meskipun, tidak ada riasan mewah yang dikenakan Salma malam ini.
Rasa lega pun hinggap di hati Sabda usai saksi yang merupakan jamaah masjid At-Taubah kompak berseru ‘SAH’. Banyak tetesan air mata yang tumpah mengiringi kalimat doa yang dipimpin oleh salah satu takmir masjid yang bertugas. Terutama bu Deva yang duduk di antara jamaah lain. Wanita itu tampak menunduk, sesekali mengusap air matanya dengan mukena yang masih dikenakan.
Setelah acara inti selesai pun, tidak ada acara besar yang bisa diberikan Sabda. Beruntungnya, Pak Ageng langsung sigap memesan nasi kotak, di rumah makan padang yang biasa mengambil beras di tempatnya.
Para jamaah yang hadir pun terlihat begitu senang, mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Namun, di tengah kebahagian itu ada rasa sedih di hati Sabda, saat menyadari sang ibu tidak mau menghadiri pernikahannya dengan Salma.
Meski begitu, dia tidak akan menyerah untuk membahagiakan ibunya. Dia akan menurut, dengan ucapannya jika itu tidak mengancam hubungannya dengan Salma.
Kali ini keduanya sudah duduk di serambi masjid. Berulangkali, mereka berdua menerima ucapan selamat dari para jamaah yang tadi turut menjadi saksi pernikahan keduanya. Ada rasa haru, di tengah rasa lelah yang kini tengah menyerang tubuh Salma. Diam-diam dia selalu mencuri pandang ke arah Sabda yang terlihat begitu semangat membalas ucapan mereka.
“Astaghfirullah, aku aja masih jomblo, kamu udah nikah dua kali.” Rendi yang hadir terlambat ikut memberikan ucapan selamat pada rekannya. “Memang menyenangkan jatuh cinta pada orang yang sama, ya!” Imbuhnya, sambil memeluk Sabda, saat dia hendak memeluk Salma, Sabda langsung menariknya menjauh.
"Nggak usah sentuh wanitaku!" lirih Sabda, penuh penekanan.
"Kita prend lho masa sih peluk aja nggak boleh!"
"Nggak! Kamu kan jomblo! Takutnya sekali sentuh kamu langsung jatuh hati!"
__ADS_1
Rendi mencebikkan bibir, lalu memasang wajah sumringah ke arah Salma. “Aku doain kalian bisa sampai kakek nenek, dan hanya maut yang bisa memisahkan kalian. Bikin adiknya Aundy yang banyak, aku siap jadi ayah angkatnya!” ucap Rendi, tulus.
"Aamiin ...." Salma mengaminkan doa yang diucapkan Rendi.
“Eh, Sal, coba kenalin temanmu ke aku!” minta Rendi.
“Aku nggak punya teman, circle pertemananku nggak seperti dulu, temanku cuma Ody dan dua orang di kedai!”
“Wah boleh tuh! Ada ceweknya kan? Kenalin dong!”
“Gercep banget! Kenalan dulu sana!” timpal Sabda.
“Eh, kapan kamu balik. Kenalan lewat wa dulu boleh kali ya!” Rendi mulai tertarik. Dia tampak tak sabar untuk berkenalan dengan wanita yang hendak dikenalkan dengannya.
“Okay-okay baiklah. Tapi kalau sudah siap—kasih tahu nomornya ke aku ya, Sal!” pesan Rendi.
“Nggak janji, deh! Takutnya dia takut sama kamu!”
Di tengah rasa gembira yang sedang mereka rasakan saat ini, tidak ada yang lebih bahagia dari Aundy. Tapi dia tak menunjukan itu. Matanya terus menatap kedua orang tuanya, bibirnya melengkung membentuk senyuman yang membuat wajahnya terlihat begitu manis.
“Eh, tem item! Itu bapak kamu yang asli kan?” sosok pria yang jauh lebih tinggi dari Aundy mendekat.
__ADS_1
“Berisik!” Aundy melotot ke arah pria yang baru saja berdiri di sampingnya. “Mau kutonjok lagi kamu!” ancamnya sudah mulai mengangkat kepalan tangan, bersiap memberikan pukulan ke arah pria yang jauh lebih besar darinya. Dia kesal, meski sejujurnya sebutan bocah laki-laki itu adalah fakta. Kulit Aundy memang hitam, menurun dari ayah Sabda. Tapi, wajahnya kan manis kaya bunda Salma.
“Ampun, jangan! Kalau gitu aku nggak punya bahan ledekan lagi deh!” gumamnya. “Eh, kamu pindah ya? pindah ke mana, dari dulu aku lewat rumah akung mu nggak pernah lihat kamu di sana!”
“Kepo banget kamu!” balas Aundy. Lalu menjauh dari sosok pria yang dulu sempat bertengkar dengannya, sengaja mengabaikan panggilan pria itu. Aundy mendekat ke arah Sabda lalu menarik lengan pria itu dan mengajaknya untuk pulang, dia sudah tidak kuat untuk menahan kantuk.
“Ayah, jadi hari ini kita bisa bobo bertiga kan?” tanya Aundy dengan wajah girang.
“Ya enggak! Kamu tidur sama uti dulu!” jawab Sabda, yang sudah menggendong Aundy di punggungnya.
“Ih, jadi cuma bunda aja yang boleh tidur bareng sama ayah? Ayah sama bunda nggak akan ngapa-ngapain, kan?"
Sabda terlihat bingung hendak menjawab apa.
"Pintunya jangan dikunci ya, Yah! kalau Ody tidur di kamar uti biasanya akung ngorok banter banget jadi Ody nggak bisa tidur! Kan kalau dikunci Ody nggak bisa nyusul ayah sama bunda,” pesan Aundy.
Sabda yang berjalan di samping Salma, berusaha meminta bantuan. Mana bisa nggak dikunci? Kalau Aundy melihat mereka berdua yang sedang berupaya menebar benih baru, kan berbahaya! "kasih ngerti ke Ody, dong, Bunda!" minta Sabda dengan suara lembut.
“Biar aja dia tidur sana kita. Ody tu lagi happy karena ayah dan bundanya kembali bersama.”
Bukannya tidak tahu maksud Sabda. Tapi, tujuan mereka kembali kan salah satunya untuk membahagiakan Aundy. Jadi, biarkan gadis itu terbuai dulu dalam kehangatan keluarga yang diinginkan.
__ADS_1