Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 49


__ADS_3

"Kamu lupa, ibu pernah bilang apa sama kamu?" Sabda memberi jeda supaya Salma menjawab pertanyaannya. Kesal juga mendengar kata cerai yang keluar dari bibir Salma, kalau dikit-dikit minta cerai, sampai kapan mereka akan hidup bahagia? "Jangan gegabah, Yang! Harusnya kita bisa belajar dari masalah masa lalu. Ibu berpesan begitu sama kamu, karena ibu itu nggak mau kamu mengulangi kesalahan yang sama! Kita pernah berpisah, dan Ody yang kalang kabut!"


Pandangan Salma tetap setia ke arah pertemuan langit dan laut. Diam sejenak, sebelum akhirnya merogoh ponselnya di saku baju yang dikenakan, lalu menyerahkannya kepada Sabda.


Pria itu pun bingung dengan tujuan Salma menyerahkan ponselnya. "Mau ganti hp baru? Yang lebih bagus dari ini? Aku bisa beliin sekarang juga!" Ujarnya seraya meraih ponsel Salma.


"Aku nggak pengen ponsel baru, Mas. Tapi benar apa yang dikatakan ibu."


Sabda mulai nyambung dengan makna ucapan Salma. Mungkin seseorang sudah mengirimkan pesan padanya. Jemarinya mulai sibuk membuka ponsel Salma. Lalu masuk ke chat wa. Dan benar saja di bagian paling atas terdapat pesan singkat dari nomor ibunya.


085523457xxx : Jangan berharap kamu bisa memiliki anak lagi. Karena aku sebagai wanita yang sudah melahirkan Sabda, sedikitpun tidak rela melihatmu bahagia. Bercerailah! lepaskan Sabda! Hidup damai lah bersama Ody, aku tidak akan mengganggumu! Anggap saja kalian berdua tidak pernah mengenal, dan tinggal bersama Sabda. Aku juga ingin melihat Sabda bahagia tapi sadarlah, bahagia Sabda itu bukan bersamamu.


Sabda sebagai seorang laki-laki saja merasa sakit hati membaca pesan singkat yang dikirim ibunya. Lalu, bagaimana dengan Salma yang baru saja ditimpa musibah, yang hatinya masih rapuh dan sensitif terhadap hal apapun. Lagian menurutnya, sang ibu sudah melewati batas, tak seharusnya dia mengirimkan kalimat menyakitkan itu kepada Salma. Ibu sama sekali tidak tahu jika kebahagiaannya adalah hidup bersama keluarga kecilnya. "jangan diambil hati, mungkin—ibu sedang banyak pikiran, atau ibu sedang merindukanku!" kata Sabda. Dari dulu memang dia hendak mengurus perkara ibunya, tapi dari dulu pula dia lupa belum bisa menemukan celah untuk duduk berdua dengan ibu.


Sabda hanya bisa mere mas ponsel Salma usai membaca pesan dari ibu Habibah yang dikirim sekitar satu jam yang lalu, tidak menyangka juga sang ibu masih berani mengirimi Salma pesan dan ancaman seperti ini. "Maaf ya, Sayang ... Maaf untuk sikap ibu. Maafin aku juga yang nggak bisa cepat menangani perkara ibu."


"Bukan ibu yang salah, Mas. Tapi kita. Kita yang nggak paham tentang hukuman apa menikah tanpa restu."


Sabda bingung harus melakukan apa, tapi yang jelas sampai kapanpun dia tidak akan melepas Salma. "Aku akan menolak perceraian kita. Aku mau kita tetap sama-sama! Kita buktikan sama ibu, kalau kita bisa hidup bahagia. Mengerti?! Jadi, jangan harap aku mengulangi kesalahanku dulu yang hanya mengikuti kemauanmu!"

__ADS_1


Tangis Salma pecah. "Aku takut!" Kata Salma sambil menundukan kepala. "Aku takut apa yang ditulis ibu lewat pesan itu, jadi kenyataan, Mas! Kita nggak akan bahagia dan nggak akan pernah memiliki anak lagi, ibu akan nekat memisahkan kita dan membahayakan kamu atau lebih parahnya membahayakan Ody!"


Sabda menggeleng pelan. "Ibu nggak akan seberani itu, Sayang! Kita berdoa sama Allah, kalaupun benar itu yang terjadi. Anggap saja, setiap apa yang terjadi adalah ujian pernikahan kita. Dan Allah pasti akan memberikan kebahagian bagi hamba-Nya yang sudah berhasil melewati ujian, apapun itu, Sal!"


"Jangan mudah mengatakan cerai. Aku nggak suka kamu ngomong begitu," kata Sabda. "Sudah banyak rencana yang ingin kulakuin bersamamu. Dan itu cuma bisa kulakuin denganmu."


Salma memeluk pinggang Sabda dengan erat, meski masih banyak kekhawatiran yang bersarang di kepala, tapi dia cukup bisa mengurangi rasa itu karena tahu, Sabda akan selalu berada di belakangnya.


"Aku suka kamu yang seperti ini. Dan aku berharap setiap ibu mengirim pesan, kamu juga ngelakuin hal yang sama, memberitahukan semuanya kepadaku. Supaya kamu juga tahu. Kamu tidak sendiri, dan kita harus berhasil melewati ini."


Salma tidak merespon, dia hanya semakin erat memeluk tubuh suaminya. Dia seakan ingin membagi beban berat yang kini dirasakan. "Aku pengen cepet-cepet pergi dari sini!" gumam Salma sambil meletakan kepalanya di pundak Sabda.


"Aku siap ke mana pun kamu membawaku pergi!"


Sabda tersenyum simpul. "Sayang, untuk masalah kemarin, aku harap kamu juga bisa meninggalkan kenangan itu di sini! Kita memulai semuanya di kota baru."


"Hm ... Setelah aku keluar dari rumah sakit tadi aku percaya satu hal, Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Mungkin, waktu kemarin belum tepat."


Mereka berdua cukup lama mengambil waktu untuk sekedar bercerita sambil menikmati angin pantai. Berulangkali Bu Deva menelpon dan mengirim pesan pun hanya dibalas singkat oleh Salma.

__ADS_1


Sampai akhirnya tepat pukul dua siang mereka baru tiba di kedai kayu manis. Sambutan Aundy yang merindukan Sabda pun terlihat berlebihan. Dia langsung meminta gendong kepada Sabda.


Pria itu sama sekaki tidak masalah, mengingat beberapa hari yang lalu dia hanya menyapa sebentar saja. Lalu bertolak ke rumah sakit.


"Ody kangen banget sama Ayah. Setelah ini kita nggak akan berpisah lagi kan, Ayah!"


"Iya, ayah akan membawa Ody dan bunda ke rumah kita."


Gadis itu bersorak senang. Dia terlihat bahagia sekali mendengar apa yang dikatakan Sabda. Bahkan lupa dengan calon adik yang kini sudah tidak lagi tinggal di perut Salma. Bu Deva juga sudah memberi peringatan supaya Aundy tidak menanyakan perihal calon adiknya kepada Salma.


"Ayah, apa di sana Ody akan memiliki banyak teman? Apa ayah juga akan tidur setiap hari bersama Ody?"


"Kalau ayah masuk pagi, pasti dong! Sebaiknya Ody mulai mengemasi barang deh, kita akan langsung berangkat setelah mendapat tiket."


Aundy langsung turun dari gendongan Sabda, dia berlari ke kamar untuk mengemasi barang barang yang entah kapan mereka akan pergi meninggalkan pulang Jawa.


Hari berikutnya, Sabda disibukan dengan proses perpindahan sekolah Aundy. Dia bergerak sendiri, lantaran tidak tega membiarkan Salma melakukannya.


Dan di hari berikutnya, Sabda membawa keluarganya pergi dari Pulau Jawa. Penerbangan mereka pagi hari, jadi tidak sempat untuk pergi ke dokter Wira. Mereka hanya berpamitan pada ibu dan bapak serta penghuni kedai.

__ADS_1


Air mata tak luput mengiringi perpisahan Salma dengan keluarga besarnya. Salma berjanji tidak akan melupakan Aruni dan Biyan yang sudah lebih dari satu tahun sekali menemaninya.


__ADS_2