
Bu Habibah tak mampu menjawab pertanyaan Sabda. Dia justru mengalihkan topik pembicaraan.
“Jadi wanita itu sudah mengadu sama kamu! Apa saja yang dikatakan Salma padamu, apa dia mengatakan keburukan tentang Ibu?!”
“Jelas saja Salma bilang ke Sabda. Dia itu calon istri Sabda, Bu! Dia menghormati Sabda.”
"Dasar perempuan tak tahu diri," gumam Bu Habibah, mengomel.
“Bukankah Sabda udah sering bilang sama ibu, supaya tidak mengatur kehidupan Sabda!”
“Sabda!” teriak bu Habibah saat Sabda berlalu dari hadapannya.
"Kalau ibu masih belum berubah. Selamanya, Sabda enggak akan pernah menginjakan kaki di rumah ini lagi! Ingat baik-baik, Bu!" Sabda sudah siap berlalu, tapi saat mengingat satu hal, dia kembali berbalik menghadap ibunya. "Dan ingat, jangan lagi menyumpahi Salma! Itu sama saja ibu ingin menyulitkan aku!" pesannya, kemudian berlalu dari wilayah dapur.
Sabda berlenggang menuju kamar kenangannya dengan Salma. Saat tiba di sana, tampak Aundy sudah membuka mata lebar. Gadis itu sibuk menutup telinga, seolah tidak ingin mendengar apapun yang terjadi di luar kamar.
Sabda merasa bersalah melihat tingkah Aundy seperti itu. Dia berusaha meredakan ketakutan yang kini dialami Aundy.
"Ayah pikir, Ody belum bangun!" kata Sabda sambil menyusul Aundy berbaring di kasur busa.
Pelan-pelan Aundy menjauhkan tangannya dari telinga. “Kenapa Mbah putri marah-marah, Yah?”
“Nggak papa, itu karena ayah bandel aja!” jawab Sabda, meski dia bersikap keras pada ibunya, jujur dia juga tidak tega melihat Bu Habibah seperti itu. Dia terpaksa melakukannya karena sudah kehabisan cara untuk meluluhkan hati Bu Habibah.
“Nggak, Ody tahu, pasti mbah putri itu mau bikin ayah sama bunda bertengkar lagi, kan?” bantah Aundy.
Sabda terkekeh sambil mencubit gemas pipi Aundy. Tiba-tiba saja ada rasa ingin memeluk tubuh Aundy. "Peluk ayah, dong!" pinta Sabda, memelas.
Aundy seolah paham. Dia melingkarkan tangan kecilnya di pinggang Sabda. Persis seperti sikap Salma yang selalu menjadi tempat bersandarnya ketika lelah. "Ayah jangan sedih, masih ada Ody dan bunda!"
Sabda menepuk pundak Aundy yang lebih rendah dari tubuhnya. Dia kembali tertawa ketika telunjuk Aundy menggelitik pinggangnya. “Nanti, kalau Ody udah besar, jangan bangkang sama ucapan ayah dan bunda ya. Apa yang ayah lakuin saat ini tidak bagus untuk ditiru! Ayah janji sama Ody, nggak akan mau ikut campur dalam memilihkan jodoh. Asal pria itu mau menerima semua yang ada pada dirimu, dia juga mencintaimu, ayah janji akan merestui hubungan kalian.” Suara Sabda terdengar parau, ada kesedihan bercampur penyesalan yang kini dirasakan.
__ADS_1
Aundy justru merespon dengan tawa, gadis seusianya memang belum begitu memikirkan jodoh. Tapi, ucapan sang ayah akan selalu dikenang olehnya. “Ayah, apa Ody kalau sudah besar bakalan lebih cantik dari bunda? Apa bisa Ody jadi artis Jakarta?”
“Kalau cantik sih itu udah pasti, tapi bukan cantik aja yang harus kamu miliki! Lagian, kamu nggak usah jadi artis, emangnya kamu mau makan aja harus manggil wartawan buat diwawancara?”
“Terus, Ody jadi apa, Yah!”
“Jadi anak ayah aja. Temani ayah sama bunda sampai tua.”
“Ih, masa Ody jadi kecil terus, ya, enggak adil.” Aundy mulai mengomel.
Sabda mengecup kening Aundy. "Ody."
"Ya."
"Maafin ayah ya, belum jadi ayah yang baik untukmu. Seharusnya di usia kamu saat ini, ada ayah yang selalu menjagamu."
"Enggak papa, Ody kan punya bunda Salma yang bisa jadi ayah juga buat Ody. Lagian, kata bunda Salma, ayah di sana kerja. Buat bayar Ody sekolah. Iya, kan?!"
Aliran darah Sabda berdesir perih mendengar penjelasan Aundy. Rasa bersalahnya kian bertambah. “Sebaiknya, Ody cuci muka dulu, kita pulang ke rumah bunda Salma yuk. Tadi bunda juga udah marah-marah minta Ayah buat anterin Ody pulang.”
Hingga sesaat kemudian, lamunannya buyar oleh percikan air yang dilemparkan Aundy. Sabda kini berganti memasuki kamar mandi. Berpesan pada putrinya supaya tidak keluar dari kamar.
Saat mereka keluar dari rumah itu, Aundy terus berjalan di belakang tubuh Sabda. Rautnya menunjukan rasa takut, kalau-kalau sang nenek akan melahapnya hidup-hidup. Padahal Bu Habibah tidak lagi menunjukan batang hidungnya.
Sebelum ke rumah pak Arif, Sabda membawa Aundy mampir ke rumah makan untuk menikmati sarapan. Khawatir akan diomeli Salma, karena lupa memberi Aundy makan.
Mereka berdua juga singgah sebentar ke gudang beras milik pak Ageng. Berpamitan, karena mungkin nanti malam mereka akan kembali Kulonprogo. Aundy enggan diajak pulang, dia justru nempel dengan sang kakek yang sedang menghitung stock beras yang baru saja datang.
“Sabda, berikan alamat Salma padaku, biar nanti kalau ayah kangen sama Ody, bisa berkunjung ke sana.”
Sabda mengangguk. "Nanti aku kirim lewat pesan, Yah." Sebelum berpisah Sabda memeluk tubuh pak Ageng erat-erat. “Jangan terlalu keras kerjanya, Yah!”
__ADS_1
Pak Ageng menepuk pundak Sabda. “Kalau nggak kerja keras nggak ada yang bisa kutinggalkan untuk kalian,” balas pak Ageng.
“Sabda bisa nyari sendiri. Sabda udah besar, sabda hanya butuh doa dari Ayah semoga diberikan jalan terbaik untuk masalah yang saat ini kuhadapi,” balas Sabda lalu melepas pelukan pak Ageng.
"Ya, itu sudah pasti. Mohon bersabarlah, ayah juga akan membantuku membujuk ibu!"
Sabda mengangguk, "terima kasih, Yah!" katanya lalu menuntun Aundy memasuki mobil.
“Dadah Mbah Kung.” Aundy melambaikan tangannya ke arah pak Ageng. Dia baru menutup jendela kaca setelah gudang pak Ageng tak terlihat lagi.
Sabda yang melihat sikap Aundy hanya bisa menahan tawa. "Sedih ya pisah sama Mbah kung?"
Aundy mengangguk.
"Nanti kalau Ody besar sering -sering kunjung ke rumah Mbah ya! Pasti Mbah bakalan seneng banget."
Lagi-lagi Aundy mengangguk.
"Ody mau mampir beli sesuatu nggak?!"
"Enggak, Ody mau pulang saja."
Sabda pun langsung mengarahkan mobilnya menuju rumah pak Arif.
Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit, mereka akhirnya tiba di gang masuk rumah pak Arif. Sabda menurunkan kecepatan mobilnya saat melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah pak Arif.
Saat jarak semakin dekat, mobil itu semakin jelas terlihat detailnya. Perlahan Sabda mulai mengenali siapa pemilik mobil itu.
"Ayah, itu kan mobil papa Farhan."
Ucapan Aundy semakin memperjelas kecurigaan Sabda. Dalam hatinya bertanya-tanya, untuk apa dia datang kesini?
__ADS_1
"Ayah, apa papa Farhan—"
"Itu nggak akan terjadi Ody!" potong Sabda, seolah tidak menerima kenyataan yang akan terjadi di dalam rumah pak Arif.