
Suara mesin motor yang berhenti di teras rumah, membuat Aundy bersorak girang. Gadis dengan rambut sebahu itu berlari ke arah pintu, menyambut kedatangan sang ayah.
"Ayah, kenapa perginya lama?" protes Aundy ketika pintu utama terbuka lebar, menampilkan sosok Sabda dengan seragam lengkap.
"Hm, bentar kok, ini juga baru jam sebelas!" bantah Sabda seraya menatap jam tangan.
"Ih, katanya mau ngajakin aku ke emoll!" Kata Aundy penuh ekspresif. Dia menagih janji Sabda tempo hari. Gadis itu tidak tahu jika di daerahnya belum ada mall besar, yang ada hanyalah supermarket.
"Ayah istirahat dulu, dong! Habis itu kita jalan-jalan, Ody udah mandi belum?" meski sedikit lelah, tapi rasanya berbeda ketika suara Aundy menyapa pendengarannya.
"Udah." Aundy menjawab singkat.
Sabda menutup kembali pintu utama, lalu menuntun Aundy ke ruang keluarga. "Eh, bunda mana, Sayang?!"
"Ada di kamar. Nyusun baju!"
Sabda yang masih mengenakan seragam warna biru elektrik lekas melangkah memasuki kamar. Dan benar saja, ketika tiba di sana Sabda bisa melihat Salma menyusun pakaian ke dalam lemari.
Setelah mengunci pintu kamar, sabda memeluk tubuh Salma dari belakang, berniat mengejutkannya, tapi kehadirannya lebih dulu diketahui oleh Salma. "Suami pulang kok nggak disambut sih? Nggak kangen apa? Padahal aku yang di kantor aja pengen segera pulang dan lihat kamu," bisiknya di samping telinga Salma.
"Kerjaanku lagi tanggung." Salma menyahut pelan, dia berbalik menghadap Sabda. Seketika dia bisa melihat sosok Sabda lain dari biasanya, terlihat lebih memesona dengan seragam warna biru elektrik. Hingga rasa marah yang dipendam pun seketika sirna. Sepasang tangannya memeluk pinggang Sabda, bibirnya lekas mengecup singkat bibir pria itu. "Ody dari tadi ribut pengen keluar, tapi aku menjelaskan padanya supaya nunggu kamu," adu Salma.
"Ya sudah ayo pergi!"
"Motornya nggak muat!" tolak Salma.
"Terus gimana?"
"Mas Sabda sama Ody aja yang pergi. Biarkan aku di rumah."
"Nggak seru, Sayang!"
"Ya habisnya mau gimana lagi? Aku juga masih capek, aku mau istirahat." Salma berusaha menjelaskan, tenaganya belum pulih sempurna jadi lebih baik di rumah saja.
"Ya sudah, eh kamu catat ya barang yang perlu dibeli nanti aku belikan." Sabda mengalah, berdebat dengan Salma hanya akan membuang waktu, toh pasti wanita itu juga yang akan menang.
"Mas?" panggil Salma.
"Hm?"
"Ada yang ingin kamu ceritain ke aku?" tanya Salma berusaha memancing Sabda supaya berkata jujur padanya.
"Ada."
Salma tersenyum simpul, "aku pengen dengar!" kata Salma tak sabaran.
"Jadi aku tadi ngajuin cuti tambahan. Aku perpanjang sampai empat hari ke depan. Kita harus nyari sekolah buat Ody. Dan alhamdulilah di-ACC."
Bukan ini yang ingin didengar Salma. Melainkan, siapa wanita yang tadi menyapa Sabda di depan rumah.
"Ow, syukurlah."
"Aku tinggal mandi dulu ya!" pamit Sabda.
"Hm." Salma berdehem, masih belum bisa terima dengan sikap Sabda. "lepas pelukannya!" minta Salma saat Sabda tak kunjung menjauhkan tangannya.
__ADS_1
"Yang, tangan aku pegal nih, tadi kejedot pintu!"
"Sukurin! Enak kan? Makanya punya mata itu dipakai buat lihat jalan, bukan malah lihat cewek lain!"
"Sayang, gini amat bicaranya! Padahal cuma mau minta bantuan buat nglepasin kancing baju!"
"Udah gede jangan manja! udah lepas!" Salma memberontak. Tapi Sabda tak membiarkan dia pergi sebelum melepas kancing bajunya.
"Jangan marah-marah terus, nanti cepat tua!" goda Sabda, yang tidak paham dengan penyebab Salma terus berbicara ketus padanya.
"Siapa yang marah? Aku cuma mau kamu nglepasin pelukanmu aja, ini gerah!"
Mendengar suara Salma semakin lantang, Sabda melepas pelukannya, membiarkan Salma berlalu dari kamar. Sedangkan dia lekas masuk ke kamar mandi, sebelum Aundy kembali berteriak.
Di kala Salma tengah sibuk menulis daftar barang yang wajib dibeli oleh Sabda. Terdengar suara ketukan pintu rumahnya. Salma menghentikan kegiatannya, lalu melihat siapa yang berkunjung ke rumahnya saat ini.
"Wanita itu?" gumam Salma, saat tahu bayangan sosok wanita dari jendela rumahnya. Salma langsung mendekat lalu menarik handle pintu. Dia penasaran juga dengan sosok yang berdiri di teras rumahnya.
"Mas Sab—
Wanita itu tampak terkejut saat melihat Salma yang membukakan pintu, dia sampai tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Ini benar rumah mas Sabda kan?" tanya perempuan itu.
"Iya, ada apa?" tanya Salma.
"Ouh, nitip ini, bilang dari Linda, tetangga depan rumah."
Oh, jadi dia Linda. Batin Salma, matanya menilai penampilan wanita itu dari ujung rambut hingga kuku kaki. Lalu berhenti pada semangkok mie kuah yang dibawa Linda. Sepertinya enak, apalagi suasana sedang mendung-mendung begini. Enggan rasanya untuk menolak.
"Bunda mau dong!" Kata Aundy saat mencium aroma bawang putih dari arah meja makan. Dia juga sudah lapar, jadi ingin segera menikmati.
"Nggak boleh, ini mie instan. Kamu kemarin udah makan pop mie kan? Jadi jangan dimakan." Salma menolak tegas permintaan Aundy. "Ody siap-siap dulu sana! Kan mau pergi sama ayah!" imbuhnya meminta Aundy mengganti baju.
Gadis itu menurut, dia berlari menuju kamar, begitu semangat mengganti pakaian.
"Kamu masak, Yang?" tanya Sabda yang baru keluar dari kamar. Dia melangkah mendekati Salma.
"Nggak, tetangga rumah yang ngasih!"
"Wuih, udah punya kenalan aja!" Goda Sabda, tanpa dosa.
"Justru ini yang buat aku kesal sama kamu. Kenal di mana sama cewek depan rumah. Sepertinya akrab ya sampai dia ngirim makan siang buat kamu!" gerutu Salma, ingin rasanya menuangkan mie kuah itu ke rambut Sabda demi meredam amarahnya. Tapi sayang kalau buang-buang makanan.
"Tetangga depan?" Sabda justru baru ingat dengan sosok wanita yang tadi pagi bertemu dengannya.
"Namanya Linda. Sepertinya dia naksir sama kamu."
Sabda justru terpingkal. "Jangan kaya ABG ah, udah tua gini masa sih ada yang naksir!" bantah Sabda.
"Terkadang cewek itu, naksir bukan dari wajahnya, tapi isi dompetnya! Atau bahkan rudalnya yang panjang dan besar!"
Tawa Sabda semakin menggelegar. "Ketahuan lagi dirundung cemburu! Gemesin jadinya, kamu itu lagi ketakutan kehilangan aku, kan?"
"Seneng banget ya kamu!"
__ADS_1
"Iya seneng, dong! akhirnya aku tahu kalau kamu itu benar-benar cinta sama aku."
"Tidak berucap bukan berarti tidak cinta. Aku bersedia hidup denganmu itu sudah cukup memberi tahu kamu, kan?"
Sabda mengangguk-angguk. "Sayang, dengarkan aku! Mau berapapun cewek yang datang ke aku, itu tidak akan berpengaruh karena aku sudah menjadi milikmu." Melihat wajah Salma masih masam, dia berusaha membujuk lagi. "Jangan marah, Sabda itu diciptakan khusus buat Salma bukan buat wanita siapa tadi namanya? Aku lupa!"
"Linda."
Sabda diam, berusaha menggali memorinya. Hingga hampir tiga puluh detik berlalu dia kembali berkata, "Ah, iya—aku ingat wanita itu. Linda pernah minta jadi kekasihku."
"Nah kan!" sahut Salma semakin kesal.
"Sayang! Itu kan waktu statusku masih duda." Sabda teringat dengan nama Linda. Yang dulu sempat menjadi perawat di klinik mess. Saat Linda meminta jadi kekasihnya dia menjawab kalau tidak bisa, lantaran saat itu dia hanya tertuju kepada Salma. Bahkan melirik ke arah Linda pun tidak sama sekali.
"Sepertinya kamu perlu mempertegas lagi deh! Bilang sama dia kalau kamu sudah punya istri dan anak!"
"Iya, udah jangan terlalu di pikirkan! Makan gih mie nya, keburu dingin."
"Nggak kita buang aja, gara-gara mie semangkok bisa bikin petaka!"
"Ya udah terserah." Sabda memeluk tubuh Salma lagi. "Ternyata enak ya dicemburuin, serasa cintamu buat aku semua. Aku janji nggak akan aneh-aneh! Cintaku udah habis untuk kamu dan Ody."
"Tapi kan bisa saja kalau ada kesempatan. Ibaratnya, kucing garong kalau udah disuguhi ikan asin langsung aja dilahap! Sama tu kaya laki-laki kebanyakan juga gitu!"
"Tapi aku nggak butuh ikan asin, karena di rumah udah ada ikan salmon."
Salma mencubit gemas pinggang Sabda. "Ngeselin! Aku lagi ngomongin serius! Awas saja kalau ketahuan kamu deket-deket sama dia! Aku ledakin rumah itu ya!" ancam Salma.
"Kamu aneh. Cemburu dipelihara! Nggak usah lama-lama cemburunya, bentar saja! Nanti badan ku sakit semua kamu cubitin!" rengek Sabda, sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas.
"Ayo ayah, Ody udah siap!" Suara Aundy berhasil melerai perdebatan mereka berdua. Sabda yang sedari tadi memeluk Salma langsung menjauhkan tangannya. Aundy lebih mengerikan lagi kalau sedang cemburu.
"Ody, jagain ayah ya! Siapa tahu ada gadis yang berani godain ayah!" pesan Salma.
"Kalau ayah main mata sama cewek lain, aku suruh ayah tidur di luar aja bunda, biar disantap anaconda!" balas Aundy yang sibuk mengambil sepatunya.
"Kalian kenapa sih?! Sekongkol gini!"
"Harus! Dari pada aku kehilangan untuk ke dua kali!"
"Ody keluar dulu sayang! Pakai helm mu!" Pinta Sabda, seraya melirik ke arah Salma. Mendengar suara Aundy yang sudah berjalan ke luar rumah, sabda langsung melu mat bibir Salma, tanpa ampun bahkan tidak mau melepas saat Salma mulai kehabisan napas.
"Jangan ajarin Ody aneh-aneh. Dia lebih mengerikan dari kamu, Yang! Percaya sama aku, sampai kapanpun pun aku nggak akan membawa cinta lain ke rumah kita."
"Aku pegang janjimu!"
Sabda mengangguk, "selamanya cuma kamu!"
"Ayah! Ayo!" Teriakan Aundy membuat Sabda segera mengambil list belanjaan, dia mendaratkan kecupan di kening Salma, kemudian berlalu dari hadapan wanita itu.
Sabda bukannya kesal tapi justru semakin mencintai Salma. Sekarang dia tahu, meski Salma tidak pernah mengucapkan secara gamblang, tapi wanita itu juga mencintainya, bahkan tidak mau kehilangan dirinya untuk ke dua kali.
"Sudah siap Ody?"
"Sudah, Yah! Nanti kita main game dulu ya?" kata Aundy seraya mengikat pinggang Sabda dengan lengannya.
__ADS_1
Bahaya, Sabda mulai berpikir keras, apa Aundy mau main odong-odong? mengingat di supermarket itu tidak ada wahana permainan lain selain yang ada di bagian sisi kasir.