Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 16


__ADS_3

Salma masih bergeming di bawah selimut tebal yang semalam penuh menghangatkan tubuhnya. Sekarang bukan cuma hatinya yang gusar. Dia merasa fisiknya juga sedang tidak baik-baik saja. Suhu panas yang dirasakan membuat wajahnya yang putih terlihat lebih pucat dari biasanya. Dan pagi ini, dia kesulitan untuk bangun.


Niat hati ingin kembali beristirahat. Akan tetapi gadis kecilnya yang sudah bangun sejak petang tadi, kini justru masuk ke dalam kamar.


"Bunda! Ayah semalam enggak datang ya, Bun?"


Salma menggeleng pelan.


"Bunda, bangun udah siang!" pinta Aundy, melihat Salma justru sibuk memejamkan mata, tidak biasanya sang bunda bermalas-malasan seperti ini.


"Nanti dulu, Ody. Bunda masih mengantuk!" tolak Salma, dia justru kembali memejamkan mata.


"Emangnya kedai tutup ya, Bun?"


"Buka. Masih ada mbak Arun dan papamu. Tolong bilang kalau bunda lagi enggak enak badan."


"Emang bunda sakit?" rasa penasaran membuat Aundy tak henti bertanya -tanya.


"Cuma nggak enak badan. Nanti juga sembuh setelah diminumin obat!" Salma menjelaskan, supaya Aundy tidak khawatir berlebihan. "Udah, Ody keluar dulu aja nanti malah ketularan sakit!" minta Salma. Berharap reaksi yang ditunjukan tubuhnya saat ini hanyalah imbas dari dismenore yang kini dirasakan.


Ya, memang sejak pemeriksaan dokter kandungan di Semarang itu Salma belum sempat mengecek kondisi tubuhnya lagi. Selain takut, dia khawatir kista kecil yang dulu pernah ada, kembali muncul di rahimnya.


Melihat Aundy sudah keluar, Salma lekas memasuki kamar mandi. Salma menggelengkan kepala ketika rasanya sama seperti saat hamil muda dulu, mual, asam lambung naik, kepala pusing, belum lagi kram di perutnya. Bedanya, saat ini dia sedang datang bulan.


"Salma!" seseorang terdengar tengah sibuk mengetuk pintu kamar. "Sal, kamu sakit?"


"Cuma nggak enak badan." Perasaan Salma sudah berteriak menjawab pertanyaan seseorang di luar sana. Tapi suara yang keluar dari bibirnya tetap saja lirih.


Saat dia kembali memasuki kamar, kini sosok Farhan yang kemarin menghilang dari peredaran tiba-tiba saja duduk di meja belajar Aundy.


"Mas Farhan?! Kenapa?" dia justru bingung melihat Farhan yang mengamatinya lekat. Adakah yang ingin dibicarakan Farhan?


"Kamu sakit? Ayo aku antar ke dokter!"


"Nggak usah, Mas. Nanti minum obat aja. Aku cuma minta sama Mas Farhan, supaya ngasih waktu buat aku istirahat. Salah aku sendiri sih semalam aku begadang hingga malam." Salma memalsukan senyuman, berharap Farhan lekas keluar dan dia bisa segera kembali memejamkan mata, kepalanya mulai kembali terasa berat, pandangan matanya mulai kunang-kunang.


"Kamu yakin, nggak mau ku antar ke dokter?"

__ADS_1


"Enggak usah, Mas! Mas sendiri gimana, kemarin kan juga sakit, apa sudah sembuh?"


Farhan yang semula menatap Salma melengos. Dia mengalihkan pandangannya, memandang jauh ke arah pantai. "Hm, tentu saja! Mana tahan penyakit lama-lama masuk tubuhku." Farhan berbalik. "Kalau begitu, aku keluar dulu! Biar Aruni membawakan sarapan untukmu."


Melihat Farhan sudah menutup pintu, Salma lekas menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Dia tidak tahu yang akan terjadi di luar kamar.


...----------------...


"Mbak Arun, ayah Ody ganteng, kan? Sekarang udah tahu kan kalau Ody punya ayah kandung?!"


Wanita yang tengah menggantikan Salma duduk di meja kasir itu hanya menganggukan kepala. Kebetulan di jam sembilan pagi kedai masih sepi, jadi mereka berdua bisa mengobrol bebas.


"Mbak Arun tahu nggak! Ayah bilang dia mau ajakin Ody naik pesawat!" ocehnya sambil menceritakan janji yang diucapkan Sabda.


"Wah!" Aruni tampak antusias. "Boleh ikut enggak?" godanya.


"Ya, enggak. Orang bunda juga ikut kok. Kita mau pergi bertiga. Kaya dulu."


"Pasti dibohongi tu sama ayahmu!" lagi-lagi Aruni menggoda Aundy.


Huh ... Aundy menoleh ke arah pintu utama kedai. Benar juga yang dikatakan mbak Aruni. Karena sampai detik ini sang ayah belum juga menemuinya lagi. Apa mungkin pria itu meninggalkan dia dan bunda lagi?


Kedai mulai ramai, Aundy masih saja menunggu kedatangan Sabda yang tidak tahu kapan akan tiba. Sayangnya hingga matahari condong ke barat, pria yang dinantikan tak kunjung datang.


"Sana main keluar, Ody! Atau lihat bunda Salma. Demamnya udah turun apa belum!" pinta Farhan ketika tahu seharian ini Aundy terlihat begitu murung.


"Nggak mau."


"Ody udah mandi?" tanya Farhan, lagi.


"Nggak mau mandi."


"Jadi cewek nggak boleh malas, nggak malu kalau ada pelanggan cowok datang!" goda Farhan.


"Papa ih! Sebaiknya papa ajak jalan-jalan Ody! Beliin ikat rambut, kutek, atau baju gitu!"


Farhan tersenyum simpul, dia melambaikan tangan, meminta Aundy untuk mendekat. "Kenapa harus papa, bukannya sekarang udah ada ayah mu?"

__ADS_1


Wajah Aundy kembali tertekuk. "Kalau papa nggak mau juga nggak papa, jangan bawa-bawa nama ayah dong!"


"Ngambek nih ceritanya?!"


"Enggak!"


Pria itu mendekati Aundy, saat Aundy tak juga mendekat ke arahnya. "Mau ikut papa nggak?" tawarnya.


"Ke mana, Pa?"


"Ke makam mama. Besok papa harus balik ke Malang. Papa mau pamitan dulu."


Aundy berlari kecil, mengambil topinya lalu mengikuti langkah Farhan yang sudah berada di luar kedai. Gadis itu terlihat begitu riang berjalan di samping Farhan melangkah ke arah tempat parkir motor.


Jelas saja, Aundy memilih duduk di depan, hal yang tidak boleh dilakukan ketika naik motor dengan bunda Salma. Karena dia sudah tumbuh besar, jadi takut kalau nanti menutupi pandangan sang bunda. Tapi dengan ayah Farhan, pria itu mengizinkannya.


Tiba di makam Astrid keduanya duduk berjongkok di samping kanan kiri gundukan tanah. Aundy paham Farhan sedang berdoa untuk mama Astrid jadi dia memilih diam. Suara tangisan dari Farhan membuat Aundy menatap heran pada sosok pria itu.


"Apa papa baru saja melihat hantu, kenapa nangisnya kencang sekali?" Tanya Aundy, penasaran. Bulu kuduknya mulai berdiri, takut mengingat tempat yang mereka kunjungi terkenal angker.


"Aundy, sukanya gitu! Mama Astrid nggak mungkin jadi hantu."


"Tapi mama meninggal karena kecelakaan!"


"Hm, tapi bukan berarti mama jadi hantu." Farhan mengusap air matanya. "Aundy—apa kamu ingat ucapan mama hari itu?" tanya Farhan berusaha memastikan.


Aundy terdiam, kembali memutarkan rekaman memori yang pernah disimpan dalam kenangannya. Di mana mama Astrid memberitahu papa Farhan, supaya dia menikah dengan bunda Salma tapi tidak boleh mencintai wanita itu. "Pap—papa ...."


"Enggak, nggak papa, Aundy! Nggak perlu diingat lagi."


"Tapi sekarang ayah udah datang—kami akan jadi keluarga bahagia."


Farhan mengangguk. "Tapi Aundy tahu kan pesan terakhir mama Astrid."


"Papa harus menikah dengan mama. Demi adik bayi—supaya papa dan mama memiliki adik bayi. Lalu setelah adek keluar, kalian akan mengirim mama dan Ody ke Jakarta. Apa papa akan melakukan hal itu juga?"


"Aundy, bukan itu yang papa inginkan. Tapi, papa inginnya pelan-pelan. Dan papa nggak mau pura-pura lagi. Kalau dulu ada mama Astrid yang memaksa papa. Tapi sekarang, papa berniat mengejar bunda Salma. Apa kamu setuju, Sayang?" Farhan merasa tidak rela saja mendengar perdebatan Sabda dan Salma kemarin. Dia berharap setelah menunjukan keseriusannya Salma mau luluh dan menerimanya.

__ADS_1


"Bukannya papa mau pulang ke Malang?" tanya Aundy.


"Papa akan bawa orang tua, supaya mereka membantu papa untuk meluluhkan bunda Salma."


__ADS_2