Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 18


__ADS_3

“Ayah, ayah … Bunda di mana?”


Aundy tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Dan sialnya di saat jarum jam menunjukan pukul sebelas malam. Di kala Sabda belum lama memejamkan matanya rapat.


“Hm? Apa, Sayang? Kan malam ini Ody nginap di hotel sama Ayah.”


Mendengar jawaban singkat itu membuat Aundy langsung membelakangi tubuh Sabda. Pria itu bingung saat merasakan guncangan kecil dari tubuh Aundy. Kekhawatirannya naik tingkat melihat air mata putrinya mulai jatuh membasahi bantal. “Kenapa, Ody?” tanya Sabda, penasaran. "Ody, kenapa?" dia berusaha memeluk tubuh kecilnya.


“Ody enggak papa kok!” jawabnya ketus, lain dengan hatinya yang mendadak dilingkupi kesedihan atas mimpi yang baru saja hadir dalam tidurnya. Dia bimbang, hatinya tidak bisa jauh dari bunda Salma. Tapi, dia tidak mau juga menyiakan-nyiakan kesempatan tidur dengan sang ayah.


“Bohong, ya? ayah udah hapal gimana gaya Ody kalau sedang banyak pikiran.”


Satu hal yang diinginkan Aundy, dia ingin bertemu bunda Salma. Apalagi, ingat jika saat ini, sang bunda sedang sakit—pikirannya justru mengkhawatirkan kondisi wanita itu. Siapa yang akan merawat bunda? Apa bunda sudah makan dan minum obat?


Ternyata, perasaan ini jauh lebih menyiksa ketimbang dia harus jauh dari sang ayah. “Ayah, apa Ody mau ketemu Bunda Salma? Ody nggak mau hidup tanpa bunda Salma, Ayah?” rancunya dengan suara tangis yang semakin jelas terdengar.


“Kenapa? Kenapa, harus hidup tanpa bunda?”


“Iya—karena ayah cuma mau ody tapi enggak mau bunda. Buktinya malam ini cuma Ody yang ayah ajak ke hotel.” Aundy membuang napas kasar.

__ADS_1


"Ody, untuk sementara ayah hanya ingin bunda paham—kalau kita akan memulai kehidupan baru. Jadi, bunda harus siap meninggalkan kenangan buruk di masa lalunya."


“Apa ayah nggak khawatir akan terlambat?Sebentar lagi papa Farhan akan jadi suami Bunda. Nggak ada waktu buat ketemu lebih bebas lagi sama ayah. Sama seperti dulu ketika bunda menikah dengan ayah Endra.”


“Ody, kok bilang begitu. Mana mungkin bunda Salma izinin papa Farhan nikahi bunda. Mereka nggak cinta, jadi jangan khawatir Ody.”


“Bagaimana bisa ayah bicara begitu? Apa ayah tahu, besok papa Farhan aku pulang ke Malang, papa mau ngajakin orang tuanya buat datang ke sini, terus main cinta-cintaan sama bunda. Mereka akan menikah, dan Ody selamanya akan jadi anak broken home.”


“Ody jangan becanda, deh! Udah bobo ya! Pasti Ody habis mimpi buruk kan? Sekarang Ody nggak perlu khawatir, ada ayah di sini! okay?”


“Ayah dari dulu emang nggak pernah percaya Ody. Nanti kalau bunda udah nikah sama papa Farhan jangan nangis!” desak Aundy. Dia ketakutan Farhan akan melakukan hal nekad seperti apa yang tadi diucapkan ketika mereka berdua berada di makam.


“Dari papa Farhan. Dulu, pas sebelum kecelakaan, mama Astrid melarang papa Farhan buat sayang sama bunda. Mama Astrid cuma minta mereka berdua buat bikin adik bayi aja. Bilangnya nanti kalau adik sudah keluar—mama Astrid mau ngirim bunda dan Ody ke Jakarta. Mereka merencanakan itu tanpa diketahui oleh Bunda. Papa Farhan menolak, dia ingin melakukannya, tapi bukan karena ingin mendapatkan anak, tapi tulus ingin membantu bunda yang seorang janda. Pagi itu, mereka bertengkar hebat dan membuat nyawa mama Astrid enggak tertolong. Sekarang mama Astrid udah nggak ada. Papa Farhan mau menikahi bunda, tulus. Dengan cinta, tanpa tuntutan—kalau papa telat, bunda akan dimiliki orang lain, dan kesempatan kita untuk tinggal sama-sama hilang lagi.” Aundy menjelaskan panjang lebar. Sedangkan Sabda mengamati ekspresi polos Aundy, gadis seusianya paling sulit diperintah untuk berbohong. Jadi, jika Aundy berbohong akan terlihat jelas dari raut wajahnya. Dan kali ini, Sabda melihat kejujuran di mata Aundy.


“Ayah tahu, bunda sedang sakit. Semalam nggak bisa tidur, mikirin ayah. Ayah sudah nglakuin apa sama bunda? Harusnya kalau ayah salah minta maaf, masa iya harus kembali ke SD perlu dikasih tahu sama Ody.”


“Ayah nggak suka bunda berduaan sama Endra. Tunggu, tunggu, Bunda sakit? Sakit apa memangnya?” tanya Sabda, penasaran. Pantas saja tadi wajah Salma terlihat lebih pucat dari biasanya.


Aundy mengangguk. “Sakit panas sama sakit perut.”

__ADS_1


“Kalau begitu—Ody tidur dulu, besok pagi kita ke kedai.” Sabda berusaha menenangkan, putrinya. Menghantarkan gadis kecil itu supaya lekas terlelap. “Emangnya, Ody mau ayah balikan sama Bunda?” tanya Sabda.


“Mau, itu kan impian ody dari dulu. Tidur sama ayah bunda—terus punya adik lagi yang banyak. Apa itu terlalu mustahil ayah?” balas Aundy.


“Hm, enggak, makanya ody doain semuanya lancar. Ayah cuma nungguin bunda.”


“Gimana kalau besok saja menikahnya? Kalau ayah terlalu lama keburu papa datang lagi dari Malang. Papa akan bawa kedua orang tuanya buat membujuk bunda ”


“Ody, kamu tenang saja—itu tidak akan terjadi. Karena bunda cuma sayang sama ayah!”


“Padahal Ody sudah enggak sabar, pengen kalian bersama lagi.”


Setelah obrolan panjang itu, Sabda meminta Aundy supaya segera tidur. Dan ke esokan harinya, Sabda sudah berdiri di depan pintu kedai. Dia sengaja meninggalkan Aundy yang masih terlelap, karena semalaman tak bisa tidur akibat mendengar ucapan Aundy.


“Salma mana?” tanya Sabda pada Aruni.


“Tidur lagi sepertinya, Mas—soalnya habis ngantar pak Farhan subuh tadi—terus kembali ke kamar.” Aruni menjelaskan.


Dan dengan lancang, Sabda naik ke lantai dua. Saat tiba di sana, matanya di sambut oleh keberadaan Salma yang tidur meringkuk di bawah selimut tebal. Sabda sengaja menarik kain gorden, supaya matahari tidak lagi mengusik tidur mantan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2