
Jujur saja, pesan yang dikirim Bu Habibah berhasil menyita sebagian konsentrasi Salma saat ini. Bagaimana bisa dia mengabaikan sosok wanita yang telah melahirkan Sabda. Terlepas dari apapun itu, Sabda tidak boleh berbuat demikian. Atau pernikahannya tidak akan menyentuh kebahagiaan.
Diam adalah solusi Salma saat ini, berharap dengan akalnya saja yang bekerja dia bisa menemukan jalan keluar dari masalahnya.
Salma tidak tahu saja, jika kebisuan yang tengah dia lakukan membuat sosok Sabda kelimpungan. Pria yang malam ini mengenakan kemeja songket itu terlihat gusar akibat dari pesan yang dikirim tak juga mendapat balasan. Terlebih lagi ketika sapaan senyumnya tidak terbalas, rasanya ingin langsung protes di tengah situasi keramaian saat ini. "Culik saja, apa ya!" rencana busuk mulai hinggap di kepala Sabda ketika mendapati Salma hanya diam sambil menundukan kepala.
Jarak yang cukup jauh membuat Sabda kesulitan untuk mengambil kesempatan berinteraksi dengan Salma. Beruntung ada Aundy yang siap membantunya. Dia pun memberikan perintah kepada Aundy supaya mendekati Salma.
“Bunda, aku mau bobo sama ayah, boleh?” Aundy yang baru saja duduk di samping Salma, berusaha meminta izin. Sejujurnya bukan sepenuhnya ide Aundy, semua itu hasutan dari Sabda. “Satu kali saja Bunda." Aundy begitu piawai bermain peran. Dia merengek saat tak mendapat jawaban apapun dari Salma.
“Ya, bunda!” bujuknya dengan mata merah, mengambil ancang-ancang untuk meledakan tangisnya.
Salma menggeleng pelan. “Ayah tidak pulang ke rumah kakek, Ody! Ayah itu menginap di rumah om yang kemarin datang, om Rendi.” Salma berusaha mencegah keinginan Aundy. Sialnya, ketika dia menoleh memperhatikan Aundy, rona kesedihan yang terpancar membuat hatinya begitu sakit.
“Sayang, kita harus siap-siap. Besok kita kembali ke Kulonprogo. Bunda ngga bisa ninggalin kedai lama-lama. Dan kamu juga nggak bisa terus-terusan bolos sekolah.” Salma masih berusaha memberi pengertian.
“Bunda … tapi Ody masih mau sama ayah!” air matanya jatuh, Aundy menyembunyikannya di pangkuan Salma. Sedetik kemudian Salma bisa merasakan tubuh putrinya bergetar, dia meraung, beruntung suaranya berhasil teredam oleh kain yang membalut tubuh Salma.
Merasakan kesedihan yang dialami Aundy saat ini, Salma seperti memiliki hak untuk memperjuangkan hak putrinya. Perlahan Salma memiliki keberanian untuk membalas pesan singkat yang ditulis bu Habibah tadi sore. Demi Aundy, Ya demi Aundy! Batin Salma, sambil menenangkan putrinya.
“Ody, bunda masuk kamar dulu ya!” izin Salma setelah melihat Aundy mulai tenang. Setelah menitipkan Aundy pada sang ibu, Salma lekas meninggalkan ruang tengah. Dia berlari kecil memasuki kamarnya. Saat tiba di sana dia lekas membuka roomchat milik Bu Habibah. Jemarinya begitu lihai menari-nari di atas layar ponsel, mengetikan pesan untuk Bu Habibah.
Salma : Maaf, Bu. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya akan menjelaskan semuanya mengenai hubungan saya dengan Mas Sabda. Dari dulu saya tidak pernah memiliki niat menghasut mas Sabda. Dia sendiri yang memilih kembali pada saya. Dan lagi, kalau mas Sabda memilih untuk pergi dari rumah ibu—mungkin karena ibu sudah berlebihan mengedepankan ego. Mungkin karena dia sudah tidak nyaman berada di rumah ibu. Kita pernah gagal menjadi pasangan, dan sekarang kita berusaha beratu demi putri kami, cucu ibu.
Satu lagi pesan saya, Ibu boleh mencaci saya sepuas ibu, tapi jangan bawa-bawa latar belakang keluarga saya. Bagi saya tukang bengkel adalah pekerjaan yang halal. Dan ibu tahu, saya bangga dibesarkan di keluarga Arif.
__ADS_1
Ada emosi membara saat Salma mengetikkan pesan itu. Dia tidak ingin menjadi Salma yang dulu lagi, jika dia berada di posisi yang benar dia akan berusaha menjelaskan baik-baik pada mertuanya itu.
Mungkin wanita itu juga sudah terlelap, terbukti tidak ada balasan apapun yang didapatkan olehnya. Kini Salma seperti orang kebingungan, Salma berjalan keluar kamar. Kali ini dia mendekati Sabda yang duduk di teras rumah. Salma berbisik, meminta pria itu meninggalkan acara.
"Kita butuh bicara!" kata Salma. Lalu menuntun Sabda menjauh dari keramaian. Hingga langkah mereka tiba di bengkel pak Arif. Di mana di sana tidak ada yang mampu mendengar obrolan keduanya.
“Apa? Di Wa nggak di balas! Disenyumin pasang wajah judes?! Emang aku ngelakuin kesalahan ya? kamu di marahin ibu gara-gara tadi pulang telat?” tanya Sabda.
Salma menggeleng, pelan. Lalu menunjukan pesan singkat yang dikirim bu Habibah pada Sabda. “Ibu ngirim pesan ke aku, Mas. Aku takut kamu dicap anak durhaka. Aku harus gimana?”
Sabda mengambil alih ponsel itu dari tangan Salma. Lalu membaca dengan sekilas pesan yang dikirim oleh ibunya.
Sabda merespon dengan gelengan pelan.
“Aku salah membalasnya begitu? harusnya aku tidak sekasar itu kan, Mas? Enggak tahu, rasanya aku bingung dan emosi saja melihat Ody menangis meminta tidur denganmu. Kalau kita tidak bercerai, dia tidak akan mengalami hal seburuk ini, kan?”
08567281xxx : Demi apapun kalau sampai kalian menikah, aku sumpahin kamu mandul seumur hidup! Hidup kalian tidak akan pernah bahagia selama aku masih hidup! Ingat itu Salma.
Sabda mere mas ponselnya, meluapkan emosi yang ditahan. “Ibu sudah keterlaluan! Bisa-bisanya mengirim pesan seperti ini padamu!” Sabda meraih ponselnya, berniat menelpon sang ibu. Tapi segera dicegah oleh Salma.
“Mas, nanti ibu nyalahin aku lagi! jangan!” cegah Salma.
“Jangan? Terus aku harus kehilangan kamu gitu? Aku tahu tipe wanita sepertimu, Salma! Mudah sekali kena hasutan ucapan seperti ini, dan aku harus menghentikan ini, kata-kata ibu ini bahaya buat mental kamu.”
“Mas! Tahu gini aku nggak akan ngasih tahu kamu. sudahlah, apa salahnya sih diam sejenak, tunggu sampai ibu luluh.”
__ADS_1
“Ibu nggak akan luluh, Salma! Dia cuma ingin aku pulang dan menikahi wanita yang sama sekali enggak aku cintai. Apa kamu siap kehilangan pria setampan aku?!" kata Sabda berusaha membujuk.
"Kita udahan aja gimana. Kamu bisa bawa Ody pas cuti. Kita bisa seperti dulu, berhubungan baik."
"Salma, Apa kamu mau percaya sama aku sekali lagi! Percayalah ibu akan melunak saat melihat kebahagian kita.”
Cristal bening mulai menggenang di pelupuk mata Salma, timbul rasa bersalah yang begitu besar karena menjadi pokok masalah antara Sabda dengan ibunya. Belum lagi rasa bersalahnya pada Aundy. Dia bingung memilih kebahagian Aundy atau menuruti perkataan mertuanya itu.
“Hei, Salma—dengarkan aku! aku yang memutuskan untuk memilihmu. Cuma kamu yang kuharapkan bisa menjadi keluargaku. Jadi, percayakan masalah ibu padaku. Aku sudah bicara sama ayah, dan dia setuju untuk menjadi wali di pernikahan kita.” Sabda membantu Salma mengusap air matanya. “Kalau kamu begini, aku jadi pengin cepat-cepat menikahimu, dan bawa kamu ke Tabalong. Biar nggak ada yang gangguin kita lagi. Kita bisa hidup bahagia di sana. Dan aku juga bisa membuktikan pada ibu kalau kamu adalah wanita baik dari yang terbaik.”
“Enak aja, udah dibilangin aku nggak bakal mau nikah sebelum bapak merestui hubungan kita!”
Sabda tersenyum penuh arti. “Salma, ngomong-ngomong bapak lagi pengen beli apa? Siapa tahu bisa kusuap!”
“Jangan aneh-aneh!” Salma memperingati.
“Udah masuk sana rumah sana! tuh maskaramu luntur kena air mata.”
“Enak aja! Ini bulu mata asli tau, mana ada aku pakai begituan!”
Tawa Sabda semakin pecah. “Iya, iya, sekarang udah, diem! nggak usah menangis lagi. Hilang cantikmu ngerti enggak!” Sambil membawa Salma masuk ke pelukannya, diam-diam Sabda menghapus pesan terakhir yang dikirim oleh bu Habibah. Dia tidak ingin Salma membaca pesan singkat yang dikirim ibunya. Untuk kali ini dia ingin diam dulu, menurut dengan peringatan Salma, tapi jika sikap ibunya sudah kelewatan dia juga tidak segan untuk memperingatinya.
“Udah, aku udah tenang—aku mau masuk dulu!” kata Salma, sambil berusaha terbebas dari pelukan Sabda.
Sabda menjauhkan dadanya dari Salma, menelisik wajah wanita itu lalu menggunakan kedua telunjuknya untuk menarik sudut bibir Salma. “Senyumlah, kamu cantik kalau tersenyum. Sebelum tidur, pikirkan hal-hal yang indah saja, okay.”
__ADS_1
Salma menganggukan kepala lalu menjauhkan tangan Sabda dari pinggangnya. “Kamu juga pulang, besok kita harus kembali ke Kulonprogo.”
Sabda ingin menolak, saat teringat ucapan Aundy yang mengatakan jika Farhan hendak membawa orang tuanya ke Kulonprogo. Dan niatan mereka untuk meminang Salma. "Jangan besok ya. Kita kembali ke Kulonprogo ya setelah sah menikah saja. Gimana?!"