Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 42


__ADS_3

Long distance Marriage, itu memang nggak gampang! Susah loh mencintai tanpa adanya pertemuan. Hanya sebatas suara yang justru membuat kerinduan keduanya kian menggebu.


Dan sekarang, kepercayaan mereka sedang diuji. Salma mengaku salah karena langsung menuduh Sabda melakukan hal yang jelas dia tahu, pria itu tidak melakukannya.


Bayangkan saja, pria itu sanggup kok menahan gai rahnya selama bertahun-tahun. Bukan bermaksud bicara omong kosong, dulu ketika keduanya hendak memulai penyatuan, Salma sempat bertanya terlebih dahulu pada Sabda. Dengan siapa saja dia melakukan hubungan sek sual. Dan Sabda menjawab, jika dia melakukan terakhir kali bersamanya.


Saat itu juga Salma menyesal sudah menanyakan itu kepada Sabda. Seharusnya dia bisa menahan rasa ingin tahunya itu. Dengan siapapun Sabda melakukannya itu bukan urusannya. Karena itu bagian dari masa lalu Sabda. Seharusnya dia bisa seperti Sabda yang bisa menerima pernikahannya dengan Endra.


“Kenapa sih, Mbak? Dari tadi nggak fokus ngelayanin pelanggan. Kalau memang capek istirahat gih!” Biyan yang sedari tadi memperhatikan Salma mulai curiga jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja.


“Biyan, kalau ada seseorang menuduhmu, padahal kamu nggak ngelakuinnya. Gimana responmu?”


“Marah lah, Mbak!” sahut Biyan, lantang. "Jelas aku akan membela diri," imbuhnya semakin mempertegas jawabannya.


Benar juga, berarti saat ini Sabda sedang marah padanku? Buktinya sampai detik ini tidak ada pesan masuk dari pria itu. Tidak seperti biasanya yang hampir setiap jam mengirimi ku pesan.


“Lagi berantem ya sama Mas Sabda?” tanya Biyan penasaran.


Salma mengangguk. "Aku yang salah!" aku Salma, tanpa malu.


“Diemin dulu saja, Mbak! tunggu sampai emosinya reda. Laki-laki nggak bisa diajak ngobrol kalau sedang dilanda emosi.”


Salma berusaha mengikuti saran dari Biyan. "Aku akan mencobanya."


Keduanya kompak menoleh ke arah tangga, saat mendengar suara langkah kaki. Akhirnya Aruni keluar juga dari sarang.


Wajah wanita itu tampak pucat, tubuhnya terlihat lunglai. Salma turut prihatin dengan apa yang kini menimpa Aruni. Dia tahu pasti ini berat untuknya. Rasa sungkan untuk sekedar menanyakan siapa ayah dari janin yang ada di perutnya itupun muncul. Salma hanya bisa menunggu sampai Aruni siap menceritakan padanya.

__ADS_1


“Mbak Salma, sadar nggak sih wajahmu juga pucat loh, kaya orang kurang darah gitu!” celetuk Biyan, saat menyadari wajah keduanya hampir sama pucatnya.


“O, ya? tubuhku terasa lemas, kepalaku sedikit pusing,” keluhnya sambil tertawa kecil.


“Mbak Ma ….” tiba -tiba saja Aruni bersuara, dia menggenggam kedua tangan Salma, lalu menggelengkan kepala pelan seakan sedang memberitahu sesuatu. Di pikiran Aruni, mungkin Salma seperti ini akibat dari memikirkan dugaannya tadi pagi. “Bukan! Bukan Mas Sabda ayah biologis dari janin di rahimku.”


Mata Biyan membola, mendengar apa yang dikatakan Aruni. Jadi ini yang membuat mereka bungkam hampir seharian ini? Aruni hamil? Lalu dengan siapa? Siapa pria itu? Berbagai pertanyaan muncul begitu saja di kepala Biyan. Sekuat tenaga menahan bibirnya untuk tidak melemparkan pertanyaan.


Berbeda dengan Salma, dia justru merasa lega mendengar jawaban Aruni. Rasa takut berganti dengan rasa bersalah. Ya, dia semakin bersalah pada Sabda.


“Dia—dia, … dia, pria itu mantan suami mbak Salma.”


Kini giliran Salma yang terkejut mendengar pengakuan Aruni. Itu artinya, Endra yang sudah melakukannya?! “Run?!” bentak Salma, seakan enggan percaya dengan apa yang dilontarkan Aruni. Sosok Endra pasti akan memikirkan dua kali untuk melakukan itu bukan?


Air mata Aruni kembali mengalir deras. Wanita itu menangis lagi. "Peluk aku, Mbak! Aku nggak kuat ngadepin ini! Bisa-bisanya aku hamil tanpa suami!" Kata Aruni di sela tangis yang masih terdengar memilukan.


Aruni seakan memuaskan diri menangis di pelukan Salma. Tubuhnya bergetar hebat, tapi yang menakjubkan, lagi, sekeras apa pun dia menangis itu tidak merubah keadaan. Dia tetap hamil, benih dari pria bejat yang merenggut mahkotanya malam itu.


Setelah mulai tenang, pelan -pelan Aruni menceritakan kronologi kejadian malam kelam itu. Aruni menjelaskan secara detail kejadian yang tidak pernah diinginkan dalam hidupnya.


Semua berawal ketika Salma pergi, Saat itu Sabda membawa mereka menginap ke hotel, kemudian malam harinya mereka lanjut pergi ke Semarang. Tanpa Salma ketahui, Endra datang ke kedai dalam kondisi mabuk.


Endra mencari keberadaan Salma, tapi karena tidak menemukan Salma. Endra justru menyerang Aruni yang kebetulan berada di kedai. Pria bangsat itu menganggap Aruni adalah Salma, hingga kejadian mengerikan itu tidak bisa terhindarkan. Tak ada yang bisa menolong Aruni malam itu, sejak sore dia sedang sendirian di kedai. Biyan sudah pulang ke rumah, kebetulan pria itu pulang lebih awal karena ibunya jatuh sakit. Sedangkan pak Farhan sendiri masih berada di Malang, dan keesokan harinya baru kembali.


Awalnya Aruni ingin menyembunyikan semua ini, dia masih bisa berpura-pura tanpa terjadi sesuatu dengan menutupi semuanya. Tetapi, hasilnya diluar prediksi, dia hamil. Tidak ada lagi yang bisa ditutupi karena pasti perutnya akan membesar.


“Aku bingung gimana jelasin ke ibu, Mbak. Dia pasti kecewa sama aku. Aku benci diriku yang nggak bisa jaga diri.” Usai kejadian itu wajah kecewa ibunya selalu menghantui malam-malam Aruni. Dia tidak sanggup melihatnya. "Apa aku gugurin aja ya, Mbak! Janin ini hasil dari sebuah kecelakaan. Pasti dilegalkan!"

__ADS_1


"Jangan, Run! Jangan jadi ibu kejam untuk darah dagingmu sendiri!" Salma ingat kejadian tadi pagi, Sabda saja mungkin saat ini menginginkan anak kedua. Tapi kenapa Aruni yang diberi anugrah anak harus dihilangkan?


“Aku bisa nikahin kamu, Run! Aku siap bertanggungjawab. Aku akan mengakui bayi itu sebagai anak kita.” Biyan menyela, dia turut menenangkan Aruni. Seakan memberitahu, jika semuanya akan baik-baik saja.


Sedangkan Aruni hanya menatap remeh ke arah Biyan, menutupi ketidakmampuannya mencintai pria itu. “Kenapa kamu bodoh banget sih, Yan! Aku hamil bukan darah dagingmu, tapi kamu masih mau menerima ku? Kamu itu pria baik-baik, di luar sana masih banyak wanita yang layak untukmu. Aku tidak akan melibatkanmu ke dalam masalah ini.”


Biyan menundukan kepala, ada rasa kesal yang dipendam, berulangkali dia mencoba masuk dalam kehidupan Aruni tapi selalu ditolak mentah-mentah. Dan sekarang, di situasi seperti ini, dia pun masih saja ditolak, apa yang salah dengan dirinya?


“Aku akan menelpon Endra aku akan meminta dia untuk tanggungjawab.” Salma menyela, jalan terbaik untuk masalah Aruni adalah memberitahu pria itu.


“Dia enggak akan ingat apapun, Mbak Ma! Dia mabuk berat! Yang dia tahu aku itu kamu, Mbak! Lagian aku nggak mau menikah dengannya! aku membencinya. Seumur hidup aku membencinya! Dia sudah merusak masa depanku.” Tangis Aruni kembali pecah membuat Salma semakin erat memeluk tubuh Aruni.


Mereka bungkam, seakan sibuk mencari solusi yang tepat untuk Aruni. “Apapun keputusanmu aku akan mendukungmu, Run! Ingat, dunia belum berakhir. Ada nyawa baru di rahimmu. Kita bisa merawatnya sama-sama. Tapi untuk sementara, kamu harus bisa jaga kondisi supaya bayimu sehat. Besok aku akan mengantarmu periksa! Kita bisa melihat kondisinya.”


“Kalau kamu tidak ingin menikah denganku. Aku akan melindungimu, kita bisa hidup berdampingan. Aku bisa berperan jadi ayah untuk anakmu, jangan khawatir Run, kamu nggak sendiri.” akhirnya ketulusan cinta Biyan melenyapkan kekesalannya. Apapun kondisi Aruni seperti ini, dia akan selalu ada untuknya.


Aruni terisak-isak di pelukan Salma. “Aku takut, Mbak! Aku takut nggak kuat ngadepin semua ini.”


Mendengar setiap keluhan Aruni, Salma mendadak bimbang hendak meninggalkan kedai. Apa dia bisa mengubah keputusannya, setidaknya menunggu sampai Aruni melahirkan. “Kami akan selalu ada untukmu, Run! Kita adalah keluarga, kita akan selalu melindungimu! Kita akan menjaga anakmu sama-sama!”


Obrolan mereka berakhir saat ada pengunjung datang ke kedai. Mereka kembali melayani pelanggan seraya menahan kesedihan yang sedang melanda.


Malam ini kedai tutup lebih awal. Pukul delapan malam, Salma sudah masuk ke kamar, jujur tubuhnya juga sedang tidak baik-baik saja. Sedikit meriang, mungkin karena haidnya belum begitu lancar. Jadi perutnya masih terasa kram.


Ditambah lagi tidak ada notifikasi apapun dari nomor ayah Ody. Mau membujuk Aundy supaya menelpon pun, gadis itu sudah terlelap. Tidak ada cara lain, Salma memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke nomor Sabda.


Salma : Aku belum siap ikut ke Tabalong, izinkan aku di sini lebih lama lagi.

__ADS_1


__ADS_2