
Pada akhirnya, Bu Deva menceritakan hubungan masa lalunya dengan Habibah, kepada Sabda. Tentang pertemanan mereka yang semula sangat dekat menjadi musuh hanya karena seorang pria.
Tidak ada yang bisa melawan garis takdir jodoh. Bu Deva dan pak Arif hanya mengikuti scenario yang dibuat Allah untuk kehidupan mereka.
“Salma sama sekali tidak mengetahui hal ini! kalau bisa jangan sampai dia tahu. Atau kami akan merasa sangat bersalah. Bisa jadi, ibumu melakukan ini karena masih menyimpan dendam kepadaku.”
“Ibu percaya sama Sabda. Itu nggak akan terjadi. Sabda akan merahasiakan ini dari Salma.”
“Dan sekarang, demi kebaikan bersama, menjauhlah dari Salma! Atau Salma akan semakin disakiti oleh ibumu!” mohon Bu Deva.
“Bu, pegang ucapanku! Sabda bukan manusia bodoh yang nggak bisa belajar dari kesalahan di masa lalu. Setelah saya menikahi Salma, saya berjanji akan membawa Salma menjauh dari ibu saya. Jadi mohon restui kami. Dan masalah ibu, pelan-pelan saya akan membantu untuk menyelesaikannya. Ibu nggak perlu khawatir, ibu saya nggak akan lagi berani menyakiti Salma. Sabda janji akan melindu Salma dan Ody.”
Entah untuk apa, bu Deva menangis dalam diam. Air matanya bak sungai yang mengalir deras membasahi pipi. Dadanya seperti menahan beban berat, dia tergugu, sambil menundukan kepalanya dalam. “Aku sendiri juga enggak paham, kenapa ibumu tega melakukan ini. Ku pikir setelah kita sama-sama menikah, semua akan baik-baik saja! andai saja sejak awal aku tahu sifat ibumu belum berubah. Aku tidak akan membiarkan Salma menikah denganmu, dan tidak ada Ody yang mengikat kalian. Nggak ada Ody yang menjadi korban perceraian kalian.” Bu Deva mengatakannya, dengan penuh emosional, dia meluapkan uneg-uneg di hatinya pada Sabda.
“Bu, jangan berkata seperti itu!” tegur Sabda. “Ody itu anugrah bagi kami, hadirnya dia bisa membuat Sabda tetap berhubungan baik dengan Salma.” Sabda protes dengan ucapan bu Deva. Sabda merasa Aundy adalah bukti nyata dari cinta mereka berdua.
“Dan sekarang, karena Ody ibu harus mengiklaskan kalian untuk hidup bersama lagi.”
Wajah muram yang ditampilkan Sabda kini berubah cerah setelah mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan bu Deva. Apa itu artinya dia mendapat restu? Pikirnya, berusaha meraba maksud ucapan bu Deva.
“Jangan senang dulu, sekali saja aku mendengar kamu menyakitinya. Aku yang akan turun tangan langsung, entah ibu atau kamu aku tidak akan memberi ampun!” Bu Deva berusaha memperingati Sabda. Dia hanya ingin melindungi putrinya supaya tidak mengalami hal serupa di masa lalunya.
Sabda menganggukan kepalanya penuh semangat. Dia meraih tangan bu Deva, lalu berjongkok di depan wanita itu, bergaya seorang anak yang tengah sungkem pada ibunya. Berulangkali Sabda mengecup tangan bu Deva, dengan lirih mengucapkan kata terima kasih.
Air mata bu Deva berjatuhan, membasahi punggung tangan Sabda yang kini berada di pangkuan. Tidak ada yang tahu, kecuali mereka berdua tentang janji yang diucapkan Sabda pada hari ini.
“Sabda mencintai Salma, Bu. Dari dulu sampai detik ini. Untuk ke depannya, Sabda janji kebahagian Salma dan Ody adalah tujuan Sabda. Ibu nggak perlu khawatir lagi. Sabda akan menjaga mereka.”
Mungkin, dulu bu Deva tidak mendengarkan kalimat seperti ini ketika Sabda hendak menikahi Salma. Tapi sekarang, kalimat Sabda mampu menggetarkan jiwanya, meluluhkan hatinya yang semula menentang keras hubungan mereka berdua.
Setelah merasa puas menenangkan bu Deva, Sabda lekas menghampiri Salma. Pria itu menarik lengan Salma, membawanya menjauh dari Farhan. “Nikah sama aku, yuk!” ajaknya, dengan wajah serius.
__ADS_1
Tinjuan langsung mendarat di lengan Sabda. “Sakit, Sayang!” keluh Sabda mengusap lengannya yang terasa ngilu. Dia tidak menyangka dengan reaksi Salma. Tapi dia juga tidak akan pernah menyerah.
“Habisnya kamu gitu. Lupa sama ucapkanku kemarin?” protes Salma, sambil mengingatkan Sabda.
“Kan tinggal jawab mau atau enggak nikah sama aku? jangan repot-repot mengeluarkan tenaga untuk berbicara panjang lebar! paham?”
Salma mellirik Sabda, lalu beralih ke arah Bu Deva yang duduk menyendiri di kursi.
“Jadi, jawabannya apa?” desak Sabda.
“Tunggu ibu luluh. Apa yang terjadi dengan ibu? Kamu nggak ngatain aneh-aneh, kan?” tanya Salma melihat bu Deva, terlihat dari kejauhan wanita itu berulangkali menyeka wajahnya.
“Kalau ibu sudah merestui kita. Kapan kamu siap.”
Salma melemparkan tatapan curiga ke arah Sabda. “Detik itu juga aku siap. Tapi, semua tergantung kamu!” jawabnya.
“Kalau gitu, ayo!”
“Nikah.” Sabda menjawab singkat.
“Sabda!” pekik Salma saat tiba-tiba saja Sabda mengendong tubuhnya.
“Pak Arif, nikahkan kami!” teriak Sabda, dari jarak dua puluh langkah dengan pak Arif.
Teriakan Sabda membuat seluruh penghuni di taman itu menoleh ke arah mereka berdua.
“Sabda! Malu!” tegur Salma. Meminta Sabda untuk menurunkan tubuhnya.
“Aku serius Salma! Udah nggak sabar pengen nikahi kamu!”
“Tapi aku yang ragu?!”
__ADS_1
“Ih, jangan!” kata Sabda, lalu menurunkan tubuh Salma ketika sudah tiba tepat di depan pak Arif.
“Ayah mau nikah sama Bunda lagi?” tanya Aundy, tampak begitu penasaran.
“Iya. Dan kali ini kamu nggak usah nangis, karena kamu akan ikut jadi saksi pernikahan ayah dan bunda.” Sabda menjawab lantang.
Aundy terlihat senang mendengar penjelasan itu. “Yee … Papa Farhan, masa dulu ayah nggak ngajakin Ody saat nikahin Bunda!”
Semua orang yang duduk di sana terpingkal mendengar aduan gadis delapan tahun itu.
Di tengah rasa bahagia yang kini sedang diluapkan Aundy, Salma justru mengutarakan kekesalannya kepada Sabda. “Tahu nggak sih, Ody bisa berharap itu akan segera menjadi nyata! Dewasa dikit kenapa sih, Mas! Kamu belum mendapat restu dari kedua orang tuaku!”
“Udah, makanya aku berani ngajakin kamu nikah sekarang!” kata Sabda tegas, perlahan sudut bibirnya tertarik ke samping melihat raut kebingungan yang kini ditunjukan Salma.
“Ayo, pulang!” ajak pak Arif, yang mendengar suara adzan ashar berkumandang.
“Akung, nanti dulu!” cegah Aundy.
“Gimana sih? Katanya mau lihat ayah sama bunda menikah, ya ayo pulang!” pak Arif sedikit memaksa cucunya untuk meninggalkan kesibukannya.
“Kamu becanda, kan? Tuh lihat ibu malah duduk sendirian di sana. Mungkin ngira kamu sudah stress kali ya!” Salma menjauh dari Sabda mendekati Bu Deva yang kini duduk sendirian. Salma memberikan pelukan dari balik tubuh bu Deva.
“Jangan peduliin ucapan Sabda, Bu. Aku nggak akan menikah dengannya tanpa restu dari ibu. Jadi tenang saja!” kata Salma lirih, dia semakin mengeratkan pelukannya di leher bu Deva. Berusaha menenangkan.
“Menikahlah! Kalau memang dia yang kamu mau, ibu merestui hubungan kalian. Menikahlah dengan Sabda, ibu tidak akan menentang lagi hubungan kalian.”
“Ibu ….”
“Sudah sana! terima ajakan Sabda sebelum ibu kembali berubah pikiran!”
__ADS_1