
Hari ini Yura dan Yuri tampak sibuk mondar mandir sedari subuh,mereka sudah pulang dari pasar. Yura akan melaksanakan hajatnya untuk mengundang para tetangga baru.
Yura sengaja beberapa tetangga yang dekat dengan rumah untuk membantu memasak. Setelahnya selesai mengundang Yura berpamitan sebentar mencari beberapa bumbu yang terlupa, saat Yura sedang mengeluarkan motor maticnya dari garasi, datang seorang wanita dengan baju yang sempit.
"Eh mbak Yura ya? " tanyanya.
"Iya Mbak, cari siapa mbak? " jawab Yura tersenyum dan berbalik bertanya.
"Oo itu tadi mbak Yura ketemu sama anak saya kan, tu yang rumahnya no tiga dari sini, anak saya tadi bilang saya disuruh bantu-bantu masak disini!"jelasnya.
"Oo iya mbak, tadi Yura ketemu anak. mbak, katanya mbaknya lagi mandi,jadi Yura titip pesan aja deh, maaf ya mbak, jadi gak enak ni! " jawab Yura nyengir.
"Gak apa-apa mbak Yura, gak masalah,kenali nama saya Winda, panggil saja mbak Wiwin! " ucapnya mengulurkan tangannya.
"Oo iya, Yura mbak" ucapku sambil memyambut uluran tangannya.
"Ya udah Aku mau pergi sebentar ya mbak, masuk aja mbak dari samping, sudah ada teman-teman yang lain kok, ada Adik juga suami aku didalam kok mbak...!" terangku lalu melajukan motorku,aku akan membeli beberapa bumbu yang terlupa tadi beli dipasar.
Winda pun masuk kedalam rumah, tapi sebelumnya dia melihat-lihat suasana diluar, Winda merasa heran karna rumor bahwa rumah ini katanya angkeer, tapi kini tampak enak dipandang. Sekeliling teras dari depan hingga teras belakang dihiasai berbagai macam bunga hias yang sangat terawat. Indah dan asri sekali, tenang memandangnya. Winda tersenyum. melihatnya.
"Kata orang berhantu, rumah asri begini, betah deh kayaknya disini! " gumam Winda bermonolog pada dirinya sendiri sembari tersenyum sendiri dan menghirup wangi mawar merah yang sedang merekah pagi ini.
"Masuk ahk, penasaran deh sama suasana didalam, diluar aja serapi dan seasri ini, siapa aja yang melihat pasti betah tinggal disini, apalagi didalam ya! " ucapnya lagi.
Winda pun tidak mengindahkan pengarahan sang tuan rumah untuk masuk dari samping yang langsung menuju ruang dapur, karna sifat kepo Winda yang tingkat dewa dia pun memilih mengetuk pintu depan.
"Assalamualaikum, spada? " teriaknya keras.
"Ada orang dirumah?" pekiknya lagi pura-pura tak tau, padahal sang empunya rumah tadi sudah menjelaskan jika sudah ada beberapa tetangga dan adiknya dirumah.
Winda pun mengeluarkan kaca mininya lalu berkaca melihat penampilannya.
"Masih cantik, masih seger, meskipun janda anak 3 harus tetap jaga penampilan,siapa tahu suami orang kecantol ma gue! " gumamnya sambil terus menelisik setiap inci wajahnya yang memang rupawan, siapapun lelaki hidung belang pasti akan tertarik akan kecantikan Winda, body nya aduhai.Tak lama suara pintu berderit.
'Kriiieeeettt'
Dan menyembullah kepala Arga, lalu membuka pintunya sedikit dan tersenyum lebar sehingga memperlihatkan lesung pipinya. Winda terperangah melihat ketampanan Arga.
"Ya ampun,Oppa Lee min hoo? " pekiknya sambil memegang pipinya.Arga yang risih sedikit menjauh.
"Mbak cari siapa ya? " tanya Arga sopan, Winda yang terus sibuk dengan cerminnya memperbaiki dandananya yang sebenarnya tidak rusak, dia juga sambil menepuk-nepuk pelan pipinya lalu sesekali mencubit lengannya. Arga hanya keheranan melihat tingkah Winda.
"Mbak nya cari siapa sih, pake tang aja mbak nyubitnya, mau saya ambilin? "seloroh Arga sambil terkekeh geli melihat mahluk didepannya yang uget-uget seperti ulat belatung itu.
"Ih si Abang bisa aja !" ucapnya Winda dengan centil sambil ingin berusaha mencubit lengan Arga, tapi Arga dengan sigap langsung menjauh.
"Mbaknya kenapa kok uget-uget kayak belatung sih?" ucap Yuri yang tiba-tiba nongol, Winda langsung terkejut melihat wajah Yuri yang sama persis dengan Yura hanya beda gaya dan dandanan saja.
"Loh bukannya mbak tadi keluar ya, pamit mau pergi kewarung? "
"Ditanya malah tanya, iya gue punya ilmu ngilang, ngapa rupanya? kaget ya? " jawab Yuri tidak bersahabat, gerah Yuri melihat perempuan gatel kayak begini, karna pengalaman pribadi Yuri emang sungguh sangat menyakitkan.
Winda hanya melengos masuk.
"Eh, eh mbaknya mau kemana? kok malah masuk? " pekik Yuri memecahkan gendang telinga, Arga hanya mengelus dada.
'Selamat, untung ada Yuri ' batin Arga.
__ADS_1
Winda yang diteriaki terus saja melangkah kedalam sambil melihat kanan dan kiri, dan terpaku pada satu figura,disitu terlihat Foto Yura dan Yuri saling berpelukan dan memamerkan senyum indah mereka, Yuri pun mencekal lengan Winda.
"Eh mbak, sopan sedikit dong, masuk tanpa ijin tuan rumah! " ucap Yuri sedikit meninggikan suaranya, agar Winda mengerti. Winda yang sudah mengetahui dari foto itu bahwa yang bersamanya adalah kembaram Yura, karna sifatnya berbeda jauh, jika tadi saat didepan seseorang yang berwajah sama dengan orang yang bersama mempunyai sikap lemah lembut, berbalik dengan orang yang bersamanya sekarang, sikapnya sangat bar-bar, sehingga rencananya dia akan menggoda Arga gagal total, padahal dia tadi sudah sangat tidak tahan dengan penampilan Arga, ada gejolak lain dalam dirinya.
"Siapa bilang saya belum diijini tuan rumah, justru saya tadi sudah di ijini sama mbak Yura, sewaktu dia mau pergi kewarung! "jawab Winda sambil melepaskan cekalan Yuri dan mengusap-usap lengannya seolah najis.
"Eh mbak, tapi setidaknya pamit juga sama orang yang ada dirumah, jangan melengos seperti itu, belagak tuan rumah, belagak sok sudah akrab saja mbak! " jawab Yuri sewot, Yuri benar-benar memperlihatkan ketidaksukaannya, karna Yuri melihat ada gelagat aneh pada Winda,yakni gatel, tu tadi saja dia mencoba Menggoda Arga.
"Iya maaf ya mbak, saya masuk dulu,mau bantu masak! "jawab Winda langsung ngeloyor kebelakang yang diikuti oleh Yuri.
"Wah dah rame aja, wak Ijah,wak Imah eh ada bik Leli juga toh! "sapa Winda, tapi yang disapa hanya tersenyum aneh.
"Eh Sintya, ada disini juga toh! "ucapnya lagi pura-pura akrab lalu duduk disamping wanita yang bernama Sintya itu, yang disapa hanya memandang sekilas lalu fokus kembali mengupas kentang. Winda duduk lalu mengambil ponselnya, sibuk ntah apa yang dikerjakannya. Sintya tampak risih dan tidak nyaman dengan kehadiran Winda.
"Mbak Yuri, ini kentang nya semua ya? "tanyanya sembari bangkit mencari sesuatu.
"Kayaknya iya deh Sin,tanya wak Ijah saja yang pasti tau, oya kamu cari apa? "
"Cari sesuatu mbak, nah ini dia! " jawab Sintya lalu memungut sebuah dompet kecil dan memasukkannya kesaku celana kulotnya. Lalu dia menuju kearah wak Ijah yang sedikit agak jauh duduknya sambil membawa kentang dalam plastik.
"Eh Sin, mau kemana sih? " tanya Winda.
"Pindah! " jawab Sintya ketus.
"Alah bilang aja kamu gak pede duduk berdampingan dengan aku, secara aku kan berpenampilan cantik terus, seger dan menggoda begini, ya gak sebanding lah sama penampilan kamu yang kucel begitu! " ucapnya sombong. Sintya hanya melihatnya sekilas tanpa membalas perkataan Winda, tapi terlihat jelas sorot mata Sintya seperti ingin menerkam sosok Winda yang angkuh.
"Wes kowe ndak usah gawe ribut nang umahe uwong Win, kalo mung arek ribut balek kono Win! "ujar Wak Imah yang sedari tadi hanya diam dengan tangan terus bekerja mengupasi bawang merah dan putih serta bumbu yang lainnya.
Yuri hanya memperhatikan saja dari kejauhan, dan sedang mengaduk teh didalam teko, ia ingin melihat karakter beberapa tetangga baru Yura.
"Alah kan emang iyo toh wak, kalo aku karo Sintya iku bedo level wak, mangka ne kang Dewo lebih milih aku daripada Sintya toh! " jawab Winda lagi.
"Huss, wes meneng Win,iki nang umah tonggo baru, ojo ditunjuke sifat elek mu, jawab eneh, tak suek-suek engko lambe mu karo piso daging iki! " ujar Wak Ijah suaranya meninggi sambil mengacungkan sebilah pisau daging, karna saat ini wak Ijah posisinya memang lagi membersihkan daging ayam. Saat suasana lagi kisruh karna ulah mulut remes siWinda, tiba-tiba saja Kenaan kebelakang nyamperi Yuri.
"Ri, buatin abang kopi dong sekalian buat Arga ya ?" pinta Kenaan sambil mengelus puncak kepala Yuri.
"Ehm, emang abang dah cuci muka dan sikat gigi apa? "
" Udah dong sayang " jawab Kenaan sambil nyengir dan terkekeh.
Winda yang melihat Kenaan hanya melongo dan mulut terbuka. Lalu segera dia bangkit dan menghampiri Yuri, dengan alasan meminta teh yang telah dibuat Yuri.
"Mbak, aku haus, boleh gak minta tehnya? " tanyanya pada Yuri tapi matanya terus menatap pada Kenaan yang duduk sambil memainkan ponselnya. Yuri yang awalnya tidak curiga langsung mengambil gelas dan menuangkan teh dan akan memberikannya pada Winda, tapi apa yang dilihatnya, Winda tak berkedip melihat Kenaan.
'Dasar ******' gerutu Yuri memaki, lalu menyiramkan teh panas itu kearah kaki Winda.
"Awwwwawww,panas mbak, gila ya mbak masa teh panasnya disiramkan kekaki saya sih? " Winda mengomel karna kaki nya seperti melepuh tersiram air panas.
"Mas bantu saya dong, kaki saya kenak air panas ni! " pinta Winta tak tau diri, Kenaan yang tadinya langsung berdiri karna mendengar teriakan, kini hanya diam saja ditempat,ingin menolong wanita cantik itu tapi terlihat tatapan Yuri seperti menghakimi jika sempat menghampiri wanita itu, habislah dia. Maka Kenaan mencari amanya saja, diam dan diam. Lalu terdengar dari arah depan suara derapan langkah kaki.
"Ada apa Ke, kok teriak-terak? " tanya Arga yang lalu mendapati wanita cantik yang mencoba menggodanya tadi duduk bersimpuh sambil meniup-niup kakinya dengan meneteskan air mata.
"Loh mbaknya kenapa Ri? " yang ditanya belum menjawab tapi Winda sudahemotongnya.
"Mas tolongi saya, kaki saya disiram air panas sama dia? "ucap Winda sambil menunjuk kearah Yuri.
Arga melihat kearah Kenaan, Kenaan hanya mengangkat kedua bahunya sambil memonyongkan bibirnya kearah Yuri.
__ADS_1
"Ri? " panggil Arga.
"Hemm! "jawab Yuri
"Kenapa? "tanya Arga lagi.
"Ehm, masih untung gak mulut dan wajah mukusnya itu yang Yuri siram Bang,tetangga baru tapi rese', dari awal ketemu tadi emang Yuri melihat gak ada beresnya ni perempuan! " jawab Yuri yang membuat semuanya terperangah dengan jawaban Yuri yang ceplos saja tanpa berbasa basi. Terutama Wak Ijah, Wak imah dan Sintya,karna mereka baru mengenal Yuri hari ini, mereka belun mengetahui sifat Yuri yang sebenarnya, berbeda dengan Arga dan Kenaan, mereka tau Yuri seperti apa.
Yuri akan berkata ceplos jika dia tidak menyukai seseorang.
"Eh mbak hati-hati dong kalo bicara, saya juga baru kenal mbak, kok bisa bicara seperti itu? " ucap Winda tak mau kalah.
"Dah lah gak usah banyak ngeles, gue tau dengan perkenalan kita yang baru beberapa jam, gue tau gimana lo sebenernya, yaitu perempuan kagak bener! " ujar Yuri lagi lalu membawa nampan berisi teh hangat ke arah Wak Ijah,Wak Imah dan Sintya.
"Maaf ya Uwak-uwak dan Sintya, Yuri kalo gak suka sama orang emang suka begitu! " ucap seseorang tiba-tiba dari bekakang Arga yang ternyata Yura. Yura tersenyum melihat semuanya bengong.
"Silahkan diminum wak tehnya, Sin jangan malu-malu, ini ada gorengan juga "ucap Yura sambil menuangkan gorengan itu kewadah lalu menyodorkan pada tamunya, alisa tetangga barunya.
"Ni mbak, diobati! " ucap Yura menyodorkan salep pada Winda yang baru saja diambilnya dari kotak P3K. Winda menerimanya.
"Mbak lain kali bilang tu sama saudaranya jangan suka menuduh orang yang tidak-tidak! " ujar Winda sambil mengoleskan salep pada kaki yang terkena air panas.
"Itu belum apa-apa kali! " jawab Yuri.
"Ri ?" panggil Yura.
Yuri hanya terkekeh lalu berjalan kearah tetangga baru Yura yang sedang menikmati teh hangat dan gorengan yang disuguhkan tuan rumah. Arga dan Kenaan memilih kedepan membawa kopi yang telah dibuatkan oleh Yuri.
"Lu ada masalah sama siGanjen Winda itu Sin? "tanya Yuri tiba-tiba yang membuat Sintya menundukkan kepalanya.
"Mbiyen bojone Sintya iki kepincut karo Winda nduk, alesan Sintya urong nduwe anak! "ucap Wak Ijah.
Yuri hanya menggeleng pelan, merasa iba dengan nasib Sintya.
"Kepiye arek nduwe anak, wong ora pernah disenggol mbak Yuri! "sahut Wak Imah lagi. Yuri sangat terkejut.
"Mbiyen Sintya karo Dewo nikah iku karna wong tuo, Dewo bar nikah langsung lungo meranto, eh balek-balek kok yo langsung nang umahe Winda, balek karo Winda, kui wedok gatel, wes reti Dewo bonone Tya, lah yo sek diembat wae! "sahut wak Ijah lagi.
"Wah, wah persis seperti disinetron ikan terbang deh cerita rumah tangga lo Sin,dan sijalang itu tetep dibiari dikampung ini? " ucap Yuri.
"Yo arek piye neh Nduk, wong iku nduwe buku nikah, lah karo Tya mung nikah siri, sampe Dewo matek, Tya urong dicere karo Dewo! "
Mulut Yuri membulat mendengarkan fakta tentang tetangga Yura.
" Tenang aja Sin, gue ada cara kok ntar ngasih pelajaran sama tu ******! "
"Lah piye nduk? " tanya wak Ijah yang sudah mulai menggoreng Ayam, tu perempuan sudah menghilang aja entah kemana.
"Nduk Yura iki tahu e kabeh toh? "tanya Wak Imah.
"Oo iyo Wak !" jawab Yura.
"Ri, bantu gue kegudang yuk, mau ambil penanak nasi! "
"Siap bos! " jawab Yuri cepat dan bangkit.
"Seneng yo yu ndelok Yura karo Yuri, wes ayu-ayu, sopan akur meneh! " ujar wak Imah, masih terdengar ditelinga Yura dan Yuri. Twin itu hanya terkekeh, tapi seketika tawa mereka berhenti kala mendengar suara yang membuat Yuri tadi sempat emosi sedang bercakap-cakap dengan Arga dan Keenan. Yura ingin menghampiri karna panas juga mendengar cerita tentang Sintya tadi.
__ADS_1
Tapi Yuri segera mencegahnya, lalu berbisik, Yura hanya mengangguk sambil menyeringai.
"Liat aja ntar lo ya pelakor! " gumam Yuri lalu menyeringai lebih seram dari Yura.