Hantu jaman now (Pertualangan Yura dan Kunti jaman now)

Hantu jaman now (Pertualangan Yura dan Kunti jaman now)
Bab 19. Amarah Dewo


__ADS_3

Dewo tampak menahan emosinya, wajahnya memerah dan tatap matanya tetap mengarah pada Winda, yang ditatap salah tingkah, Winda melirik Dewo kembali tapi Dewo masih juga menatapnya tajam. Tatapannya menusuk tepat kemanik matanya.


Dewo mulai bersuara kembali dengan nada yang sedikit menekan dia tetap mengulang pertanyaan itu kembali.


"Mau menjelaskan semua nya Win? "


Yang ditanya hanya diam, Winda memainkan jemarinya mengaitkan satu sama lain.


'Braaakk'


"Mau bapak atau kamu yang menjelaskan, hah? " sudah hilang kesabaran Dewo, dia mengebrak meja triplek yang berada didepan mereka hingga jebol, membuat semuanya terbengong, lebih-lebih Arum, dia heran kenapa setiap hari keluarga selalu ribut.


"Kenapa sih, dari tadi Ayah marah-marah terus?" tanya Arum polos, bocah kelas 2sekolah menengah pertama itu tidak mengerti apa yang terjadi, bocah itu terlalu polos. Dewo seketika luluh dengan pertanyaan Arum, wajahnya tidak menegang seperti tadi. Lalu mendekati Arum, memberikan ponselnya dan sebuah hansfree.


"Arum masuk kamar dulu ya, Ayah mau bicara sama Embah dan ibuk, ni dipakai dengerin lagu atau drama korea kesukaan Arum ya? " Dewo bisa menjadi semanis itu ketika menghadapi putri semata wayang nya itu,ntah itu putri kandungnya atau tidak yang pastinya dia sudah sangat menyayangi Arum,Dulu dia mengenal Winda di dunia malam, dan mereka melakukan beberapa kali, namun setelah 1bulan hubungan mereka Winda mengaku hamil, Dewo percaya saja, namun setelah menikah dan memeriksakan kehamilan, ternyata Winda sudah hamil lebih dari waktu perkenalan mereka.


Arum menurut lalu bangkit dengan wajah berbinar, Dewo mengecup pucuk kepala Arum.


"Apapun yang Arum dengar diluar jangan perduli ya, tetap didalam dan maen hapenya ya? " ucap Dewo lalu mengunci pintu kamar Arum dari luar, lalu menghampiri Winda lalu menarik rambutnya dengan kasar.


"Jawab atau aku akan rontokkan semua rambut ini dari kepalamu!" ujar Dewo penuh amarah, Pak Diman dan Buk Lia terperangah dan terkejut dengan tindakan Dewo. Winda meringis kesakitan dan mengikuti kemana arah tangan Dewo menariknya, karna jika melawannya akan terasa semakin sakit.


"Sa-sakit mas! "


"Dewo apa-apaan ini ?" Pak Diman langsung berdiri mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan Dewo dirambut Winda. Dewo melepaskan dengan kasar sehingga Winda terjatuh dan kepalanya terantuk pada sudutan lemari TV dan mengucurkan darah segar, Winda tidak menyadari itu dia hanya merasakan ngilu, karna rambut yang ditarik Dewo.


"Ya Allah nduk " ucap Buk Lia menghampiri Winda dan langsung cepat mengambil telapak meja dan menutupkan diluka Winda.


"Kelewatan koe Wo! " bentak Pak Diman juga langsung menghampiri Winda lalu memapahnya duduk disofa. Dewo hanya tersenyum miring.


"Itu belum apa-apanya, dasar pelac*r akan tetap kembali keasalnya, dia tidak akan bisa berubah! "


'plaaak'


Pak Diman menampar Dewo, yang ditampar hanya tertawa.


"Haahaaahaaaa! "

__ADS_1


"Bapak sama Winda sama aja, aku memang jahat pak, tapi semenjak aku kenal dia, aku tidak pernah mengkhianati dia pak, bahkan Sintya yang sudah sah menjadi istriku, aku belum pernah menyentuhnya, padahal Sintya masih gadis bukan seperti dia! " pekik Dewo sambil mengusap pipi nya yang memerah.


Hati Winda mencelos dan sedikit banyak membenarkan ucapan Dewo, tapi dia tidak suka jika harus dibandingkan dengan Sintya perempuan burik itu, Sintya tidak ada apa-apanya dibanding dia, jika semua orang hanya mengetahui Winda adalah perebut suami Sintya, tapi justru mereka adalah saudara sepupuan, ibunya Winda dan Sintya adik kakak, bahkan Sintya sendiri tidak tahu itu, dari ikatan itulah Winda mengetahui dari ibunya jika harta keluarga Sintya sangat lumayan, tapi bodohnya mereka tidak mau hidup mewah dan menikmati harta mereka. Maka timbullah ide gilanya agar suaminya menikahi Sintya.


"Terus mas kira dalam beberapa bulan ini kami harus gak makan, dan uang sekolah Arum harus dibayar, apa kamu ada ngirim uang untuk kami Mas? " pekik Winda tak mau kalah, sejak tadi Dewo selalu memojokkannya dengan statusnya dulu saat bertemu Dewo.


"Apa kau harus jadi perempuan murahan? dan kau menjadi mainan Bapakku, ingat Bapakku Win! " suara tegas Dewo semakin membuatnya terkucil dengan nada yang sedikit lirih namun menusuk jantung.


*****


Sementara dirumah Yura juga sedang sibuk beberes, karna semua warga sudah kembali.


"Nduk Uwak sama yang lainnya pamit pulang ya! " ucap wak Ijah setelah semua nya beres.


"Iya Wak, terimakasih ya Wak, tentengannya jangan lupa ya Wak untuk yang lainnya juga wak! "


"Oo udah kok nduk, terimakasih ya nduk! "


"Mbak terimakasih ya, Tya pulang dulu ya? "


"Iya Wak, Sin makasih semuanya! " sahut Yuri sambil melambaikan tangannya sejenak.


"Sejak kapan lu balik? " tanya Yura.


"Baru aja, beritanya semakin menarik! " ujar Yuri.


"Berita apa lagi, sudah lo rekam semua kan? " Yuri hanya menunjukkan jari jemarinya membentuk sebuah kode 'ok'.


"Good adik gue " Yura mengecup pipi Yuri sekilas.


"Ihk jijik Ra! " ujar Yuri sambil berusaha menghapus jejak bekas bibir Yura, Yura hanya terkekeh geli.


"Emang berita apaan lagi sih ?"


"Lo mau tau gak, yang melakukan perampokan dirumah Sintya jelas keluarga Dewo dan dalangnya adalah Winda, dan yang paling hotnya itu, Winda selingkuhan Pak Diman! "


"Pak Diman? " Yura mengerutkan keningnya heran.

__ADS_1


"Iya, bapaknya Dewo! "


"Astaghfirullahal 'azdim !"


"Astaghfirullaha 'azdim !"


Ucap Arga Yura dan Kenaan serempak.


"Ihk kayak tim cheleaders deh kalian, kok bisa kompak gitu !" ujar Yuri terkekeh.


"Serius sayang? " tanya Arga lalu melingkarkan tangannya diperut Yura.


"Inget woi, dunia gak milik berdua! " pekik Yuri, yang membuat Yura semakin menarik tangan Arga dan menjulurkan lidahnya kearah Yuri.


"Weeeekkk, syirik aja lo jomblo akut " cibir Yura.


"Enak aja gue jomblo, ni bule ganteng mau dikemanain Yura! "


"Belum halal, belum ada tanda kepemilikan, lo masih milik ayah dan ibu! "


Yuri memberengut sambil terus mencomot hidangan yang disiapkan oleh Yura dimeja makan, karna mereka tadi belum sempat untuk makan. Setelah acara makan dengan diam seribu bahasa, Yura dikejutkan oleh Kunkun dan Alea.


"Kalian ngapain disitu? " tanya Yura yang melihat Kun dan Alea nangkring dekat westafel.


"Turun, gue mau nyuci piring ni !" ujar Yura lalu sibuk dengan aktifitasnya.


"Loh Ra, ini tentangan punya siapa 2bungkus? " tanya Yuri sambil membawa kebelakang dua bungkus tentengan yang disediakan untuk warga. Yura mencoba mengingat-ingat.


"Oo iya, itu kan punya Pak Diman sama Winda lah, lu tau gak rumah Winda dan pak Diman? "tanya Yura tapi tangannya tidak berhenti bekerja.


"Yura, gue tu disini tamu, ingat T-A-M-U! " nada meledeknya Yuri mulai ngajak perang Yura, Yura melihat sekilas, dia membenarkan ucapan Yuri, dia pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya.


"Ya udah ntar gue aja sama Bang Arga yang nganter, tolong hape gue dicoloki sebentar,siapa tau ntar disana ada bukti yang lain lagi! " ujar Yura yang dijawab anggukan oleh Yuri dan bangkit memgambil ponsel Yura dimeja makan. Yuri pun segera menuju kedepan kembali membantu Arga dan Kenaan membersihkan didepan. Semua peralatan memasak tadi siang sudah bersih mengkilap dikerjakan oleh Sintya dan Wak Imah, ahk mereka memang bisa diandalkan, orang-orang baik. Tak lupa Yura tadi juga menyelipkan beberapa lembar rupiah ditentengan khusus wanita-wanita hebat itu.


Setelah semua dirumah sudah beres, Yura dan Arga bersiap-siap mau mengantarkan tentengan untuk Winda dan Pak Diman. Jam baru menunjukkan pukul 21:23 Wib.


Arga dan Yura menyusuri jalan setapak yang memang rumah Winda dan Pak Diman sedikit kebelakang masuk kegang. Tidak lupa Yura mengajak Kunkun dan Alea sebagai pemantau kasat matanya agar terjadi sesuatu, karna keluarga Dewo ini terkenal licik.

__ADS_1


__ADS_2