
Sepeninggalnya Arum,pak Diman memgurungkan maksud utamanya keluar rumah, yaitu dia akan pergi kewarung membeli rokok dan kopi. Tapi semua itu dia urungkan, dia membalikkan badan dan menuju rumah Winda. Pintu yang masih terbuka lebar memudahkan Pak Diman untuk masuk tanpa memanggil sang empu rumah. Winda yang tidak menyadari masih terduduk lemas didepan pintu kamarnya yang terbuka, dia hanya memakai celana legging pendek sepaha dan tanktop berwana merah menyala dan sempit, hingga tonjolan setiap tonjolan menyembul. Pak Diman masuk dan mendapati rumah berserakan. Ia berjalan hingga sampai depan pintu kamarnya.
"Astaga Win, ono opo iki? omahmu bar kemalingan? "tanya Pak Diman karna melihat semua kekacauan ini, namun mata Pak Diman tidak lepas dengan pemandang indah dipagi hari ini, sungguh molek tubuh menantunya. Namun yang dipandangi begitu intens tidak merasa risih, Winda yang menyadari pandangan mertuanya justru semakin membuat gextur tubuhnya semakin seksi. Pak Diman menelan saliva nya sendiri. Sudah lama dia tidak mencicipi barang muda kayak begini, jika istrinya dirumah sudah peot katanya, dasar laki-laki mata keranjang yang hanya mencintai kemolekan dan nafsu. Pak Diman berusaha mengalihkan pandangan kelain arah.
"Gak kok pak, bukan maling yang buat berserak, ini aku sendiri karna cari uang yang terselip gak ada! " jawab Winda, entah kenapa yang ada dikepala pak Diman saat ini, mendengarkan suara Winda berbicara, justru seperti *******. Sehingga sudah ada yang baper hanya sekedar memikirkan saja.
"Katanya Arum mau bayar uang sekolah ?"
"Iyo pak, aku bingung mas Dewo gak ada ngasih duit lagi! " jawab Winda sambil memanyunkan bibirnya, yang saat itu juga pak Diman melihat ekspresi itu, sangat menggemaskan fikir pak Diman.
"Bapak bisa bantu kok? "
"Serius Pak, syukurlah pak, Arum jadi gak merajuk lagi sama aku pak, nanti aku akan bilang sama Arum! " ucapnya lega sambil mengelus dadanya yang menonjol, belahan dada nya tampak jelas, Pak Dima sudah entah berapa banyak menelan ludahnya.
"Tapi gak gratis! " sahut Pak Diman lagi.
"Maksud bapak ?"
"Ya bapak ngasih uang untuk kalian, tapi harus ada imbalannya! "
"Imbalan, Winda harus apa pak? " ujar Winda lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar menuju dapur. Pak Diman terus memperhatikan lenggokan Winda, ahk yang disana sudah baper sekali, sudah tegak menantang, Pak Diman yang hanya mengenakan sarung tercetak jelas jika burungnya sudah siap tempur.
"Bapak mau Winda nanti ngembaliin lagi gitu? " ujarnya setelah meneguk segelas air putih lalu memdekati Bapak mertuanya.
"Ehm bukan !"
__ADS_1
"Jadi apa pak? " yang ditanya tidak menjawab tapi Pak Diman berjalan kedepan dan menutup pintu depan dan menguncinya.
'ceklek'
Winda baru tau apa yang dimaksud Bapak mertuanya ini, Pak Diman mendekati Winda, rasanya dia sudah tidak tahan. Dia langsung saja merengkuh pinggang Winda dan kepala Winda lalu menyambar bibirnya, Winda yang sudah menduga tidak memberontak sama sekali dan Winda akui, badan bapak mertuanya inieskipun sudah tua tampak gagah dan lebih menarik dari Dewo yang sedikit pendek dan berisi, emang wajahnya lebih tampan Dewo.
Tangan pak Diman semakin liar entah kemana-mana. Dia melepas lumatannya pada bibir Winda lalu menyusuri belahan dada Winda yang sejak tadi menantang.
"Ja-ja-ja heemmpp uh jadi i-i-ni ba-yaran-nya pak? "tanya Winda ditengah-tengah permainan pak Diman yang terus bringas, Winda yang sudah lama tidak disentuh Dewo dan tidak mendapat mangsa tidak dapat menolak apa yang dilakukan Bapak mertuanya.
"Ya "ucapnya terengah dan membopong tubuh Winda masuk kekamar. Pak Diman melucuti semua yang dikenakan Winda, dan mereka melakukan yang semesti tidak dilakukan. Setelah pak Diman selesai melakukan hajatnya, ia segera membersihkan diri,sebelum bangkit dia menyempatkan diri untuk ******* bibir Winda dan meremas dada Winda, namun Pak Diman justru terkejut dengan reaksi Winda.
"Tadi kan Bapak yang kerja, sekarang giliran Winda yang kerja ya Pak, bapak hebat, ndak kayak mas Dewo, cuma sebentar dah lemes! " ucapnya lalu mendorong tubuh pak Diman dan memposisikan nya tepat dibawah Winda, kepunyaan pak Diman yang sudah siap bekerja langsung saja diduduki oleh Winda, Pak Diman mengerang nikmat, tangannya tak lepas dari dada nya Winda. Satu jam mereka mengerjakan pekerjaan dosa itu.
"Pak besok kalo pengen lagi datang aja dari pintu belakang ya! " ucap Winda setelah menerima uang satu juta dari mertuanya. Pak Diman menyeringai puas dan menyambar bibir Winda.
"Iyo-iyo Win, tapi Bapak harus diservis abis ya! " jawabnya lalu melenggang keluar rumah Winda. Winda didalam hanya jingkrak-jingkrak kesenangan, karna dia merasa puas dengan apa yang dilakukannya, selama ini dia tidak pernah merasakan permainan yang begitu memuaskan dirinya. Dia berbaring tanpa sehelai benangpun setelah memastikan semua pintu terkunci.
Semenjak hari itu hingga kemaren sebelum kepulangan Dewo, mertua dan menantu itu terus melakukannya setiap malam,setiap ada kesempatan.Pak Diman yang sekarang hidupnya sedikit lumayan, uang hasil merampok perhiasan dan tabungan orang tua Sintya dibagi dua oleh Dewo, dan itu bukan jumlah yang sedikit,mereka juga heran kok bisa uang orang tua Sintya sebanyak itu,sehingga pak Diman bisa mendirikan usaha kecil-kecilan sebuah warung kelontong dan konter pulsa.
*****
"Kamu kan bisa minta bapak untuk keperluan Arum Win, gak mungkin bapak gak ngasih yo kan Pak?" Dewo memberikan saran yang hanya dijawab dengan deheman oleh Bapaknya.
'Emang dikasih mas, bahkan lebih-lebih, tapi semua gak gratis, tapi gak apa-apa aku juga butuh belaian dan uang, yang penting aku KB' ucap Winda dalam hati sambil tersenyum bahkan tertawa lebar dalam hati. Ngomong-ngomong tentang KB, dah tanggal berapa sekarang ya, Winda mengecek ponselnya.
__ADS_1
"Astaga,Oh my God" pekiknya Winda histeris seperti melihat hantu. Semua menoleh padanya dan penasaran. Arum yang sejak tadi dikamar ikut bergabung kembali. Semua memandang heran pada Winda.
"Ada apa? " ujar Dewo langsung mendekati Winda yang menatap ponsel.
"Sekarang sudah tanggal 25 mas !" sahutnya santai lalu loading kembali kedunia mayanya yang berlogo 'F' itu.
Arum yang baru saja keluar kamar langsung menyahut ucapan ayahnya tadi.
"Embah kakung sering kok Arum tengok ngasih ibuk duit Yah, kadang juga malem-malem Mbah kakung nganter kemari kok Yah, sering malah! " ucapnya sambil mengunyah biskuit dan menatap layar telivisi didepannya, tanpa dia tahu bahwa ucapannya barusan membuat para orang dewasa disana berada dipuncak emosi, dan bakal ada perang dunia.
"Pak, bisa jelaskan apa yang dimaksud Arum? " Dewo langsung to the point saja.
"Ehm, iku, anu yo bapak emang ngasih duit ke Winda untuk kebutuhan Arum, karna Winda pernah bilang kebapak kalo koe wes ora ngirimi duit! " jawab pak Diman sambil berfikir alasan apa yang tepat ingin ia ucapkan kepada anak dan istrinya.
"Yakin gak ada maksud laen pak? " pertanyaan Dewo sangat membuat Pak Diman tidak berkutik, dia hanya terdiam sambil terus memutar otak jawaban apa selanjutnya yang akan dia ucapkan.
"Dewo, ora ilok ngomong koyok ngunu karo Bapakmu! " bela buk Lia terhadap suaminya, padahal dia paling tau bagaimana tabiat suaminya, mata keranjang, tapi dia pasrah karna penyakit kelaminnya akhir-akhir ini sering kambuh sehingga tidak bisa melayani suaminya dalam hal ranjang.Karna beberapa kali dia memergoki suaminya keluar malam-malam dari belakang dengan mengendap-endap seperti maling,lalu dia menuju rumah Dewo, dan masuk dari pintu belakang yang sudah ditunggu Winda, dan Winda hanya memakai pakaian dalam saja, awalnya Buk Lia mengamuk pada pak Diman, tapi setelah suaminya mengungkit masalah penyakitnya, akhirnya dia lebih memilih mengalah, daripada suaminya bermain diluaran, dan mengancam akan menikah lagi,maka lebih baik dia biarkan permainan suaminya dan menantunya. Meskipun cemburu itu ada tapi apa hendao dikata, nasi sudah menjadi bubur. Ini juga atas kesalahannya dimasa lalu, dulu masa muda nya dia habiskan dengan gonta ganti pasangan, hingga saat dia tau hamil maka dia harus mencari pria yang mau bertanggung jawab, pucuk dicinta ulampun tiba, pak Diman datang dan tergila-gila dengannya, karna buk Lia ini cantik seksi dan bohay. Makanya dari bentuk fisik Dewo itu tidak ke Pak Diman dan tidak ke Buk. Lia. Pak Diman tinggi gagah, dan berkarisma, buk Lia meskipun bertubuh keci berisi dan cantik. Sementara Dewo tubuhnya sedikit pendek dan berisi.
"Emboh anakmu iku Buk, semakin hari semakin kurang ajar karo wong tuek! " sahut pak Diman merasa mendapatkan angin segar karna pembelaan dari istrinya.
"Oo ibuk belain bapak, oke. Apa penjelasanmu Win? "
Yang ditanya malah gelagapan lalu sibuk mencari alasan yang akan mengambil air minum dibelakanglah, yang mau buang air kecillah.
"Duduk Win? "titah Dewo
__ADS_1
"Aku haus mas, mau ambil minum dulu, lagiankan sudah dijelaskan Bapak sama Ibuk, apalagi sih Mas! " jawabnya jengkel namun tetap menuruti perintah Dewo untuk duduk kembali.
"Kamu mulai melawan sama aku ya?" ucap Dewo mulai emosi karna dia merasa semua telah mempermainkan dia.