Hantu jaman now (Pertualangan Yura dan Kunti jaman now)

Hantu jaman now (Pertualangan Yura dan Kunti jaman now)
Bab 41. Penyelamatan Sintya


__ADS_3

Hari ini Yuri merasakan gelisah,entah apa yang membuatnya seperti itu, sidang kelulusan sudah dia lewati dengan lancar dan hasil yang memuaskan.Bahkan usaha grosiran sembako barang harian juga semakin melaju pesat,sampai-sampai Yuri menyewa ruko yang tepat berada disamping bangunan ruko miliknya untuk tempat stok barang.Toko baju grosiran langsung dari konveksi juga semakin maju,dengan Kenaan yang banyak membantu dengan menghandle semua barang masuk dan keluarnya dari luar kota,ya Yuri menyetok dan membeli barang produk asli indonesia.Namun entah kenapa akhir-akhir ini setelah pulang dari rumah Yura,Yuri sering merasakan takut, was-was dan sangat khawatir.Dia takut terjadi sesuatu pada saudari kembernya tersebut melebehi kejadian dirumah Dewo.


"Ada apa Cantika,abang perhatikan sejak kemaren kamu tampak gelisah?"tegur Kenaan saat mereka menikmati makan siang dilesehan dekat toko sembako mereka.Yuri hanya menyambut pertanyaan Kenaan dengan senyuman tipis lalu ia melanjutkan melahat menu pecel lele dan bebek goreng yang mereka pesan.


"Apakah ada masalah ditoko baju atau toko sembako,cerita sama Abang,mungkin abang bisa membantu,tapi kemaren sore abang abis cek toko baju kamu,semua baik-baik saja,bilang sama Abang jika ada masalah,abang akan siap membantu sesibuk apa pun pekerjaan Abang"Kenaan menatapa intens wajah Yuri yang cantik.


"He-em makan dulu bang"sahut Yuri melahap abis seporsi menu pecel lele dengan babek goreng tersebut,ia pun menyeruput jus jeruk dinginnya.


"Ok,janji nanti kamu cerita ya"Kenaan mengerlingkan matanya lalu melahap hidangan tersebut yang sudah meminta untuk dimakan.Yuri menyunggingkan senyum manisnya.


"Ok sayang,gue.."Kenaan memelototi Yuri,Ia hanya nyengir.


"Maksudnya aku akan cerita sekarang juga,aku hanya merasa khawatir pada Yura bang"Kenaan melihat sekilas dan menyeruput teh es itu hingga tandas lalu mencomot sehelai tissue.


"Punya ponsel?"tanyanya tenang,Yuri mengangguk heran.Kenaan menengadahkan tangannya dan menerima ponsel yang disodorkan oleh Yuri.


"Baik Cantika ini bicaralah pada Yura"Kenaan memberikan kembali ponsel Yuri kepadanya.


(Hallo assalamualaikum Ri)salam dari seberang sana,terdengar suara cempreng Yura.


"Ehm Waalaikumsalam Ra,bagaimana kabar lo?"tanyanya khawatir.


(Gue baik Ri,oya Ri sudah dulu ya gue dan bang Arga akan keluar sebentar,bye)


Sambungan telefon itu terputus sepihak,Yuri hanya mencebik.


"Kebiasaan deh Yura kayak gini,memutuskan telefon sesuka hatinya"gerutunya.


"Gemes"Kenaan mencubit pipi tirus Yuri.Wajah Yuri bersemu merah menahan rasa bahagia.


"Siapa Mi?"Arga menggeliat meregangkan otot-ototnya,malam tadi sungguh sangat menegangkan sehingga mereka bisa tertidur setelah subuh,kebetulan sekali Arga masuk kerja sifht malam jadi siang ini masih bisa untuk beristirahat.


"Yuri Pi"jawab Yura malas dan sesekali masih menguap lalu ia tersentak kaget lalu berlari keluar kamar.


"Rose"


"Rose"


"Ro... "


Yura menghentikan teriakannya ketika mendapati Roselea tengah bermain bersama Adrian dihalaman depan.


"Hhuuhaaahh,lo buat gue sesak saja Yan?"Yura duduk dikursi rotan yang terdapat diteras tersebut.Adrian menyeringai memandang Yura.


"Ada apa Sayang?"Arga berhasil mengejar Yura setelah nyawanya terkumpul.


"Roselea bang,tu sedang bermain bersama Adrian"tunjuk Yura,Arga mengerti sekarang.


"Tante Yula,Los lapel"Rose mendekati Yura lalu memeluk dan mencium pipi Yura,bocah itu juga mengeluhkan jika cacing dalam perutya telah memberontak minta diberi makan.


"Ya sudah, Rose duduk dulu disini,tante akan mengambil ponsel dulu dikamar"Yura memindahkan Rose pada pangkuan Arga.


"Nasi padang saja Ra"teriak Adria,Yura hanya memberikan kode dengan jempolnya.


Setelah sekitar 30menit pesanan nasi padang Yura telah tiba.Mereka menikmati makan siang di jam 3 sore.


"Heran deh malam tadi seperti suara ledakan bom keras banget tapi pekarangan gue masih tetap rapi banget"setelah selesai mengisi kampung tengah yang memberontak sejak tadi sekarang Yura berkacak pinggang melihat-lihat bunga-bunganya yang masih tetap pada tempag padahal kejadian malam tadi begitu dahsyat.


"Lo lupa jika mereka semua hantu Ra?"


"Kira-kira siapa ya yang telah tega ingin menumbalkan Sintya?"Adrian hanya mengangkat kedua bahunya.


"Sayang,apa mungkin Sintya ada hubungannya dengan tetangga Paman Rian?"tebak Arga sedikit masuk akal.


"Bisa jadi,siapa nama tetangga lo yang menjadi korban tumbal pesugihan itu?"Yura mengambil ancang-ancang akan mengangkat Rose namun perutnya terasa kram.

__ADS_1


"Aaaw"


"Tante,tante kenapa"Rose memegangi tangan Yura.Arga dan Adrian berlari menuju Yura.


"Gak apa-apa"Arga langsung mengangkat tubuh Yura dan membaringkan tubuh Yura dikursi rotan tersebut.


"Apa perlu kerumah sakit sayang?''


"Gue keluarkan mobil dulu"panik,Adrian hendak berlari menuju garasi dan menurunkan Rose dari gendongannya.


"Adrian No,gue gak kenapa-kenapa ini hanya kram biasa,sebentar lagi akan membaik"Yura meringis menahan rasa sakit yang sudah mulai mereda.


Adrian menghentikan langkahnya.


"Ra gue serius!"Adrian mencoba meyakinkan Yura.


"Paman bener sayang"bela Arga,Rose hanya memandang heran melihat apa yang dilakukan orang-orang dewasa tersebut,lalu dia mengelus lembut perut Yura.


"Dedek bayi jangan nakal ya didalem,nanti pelut Mami Yula sakit telus,Oom Lian dan Papi Alga kacian dipelototi Mami Yula telus"seketika para orang dewasa itu saling pandang dan tertawa mendengarkan celoteh balita itu.Adrian yang gemas pada Roselea langsung saja menangkap dan menghunjami Rose dengan ciuman maut Adrian.


"Hahaahahahiiihiii,geli Oom"Rose tergelak kegelian.


"Abis kamu gemesin banget bocil"Adrian mendaratkan hidung bangirnya kepipi gembil Rose.


Tanpa terasa hari semakin sore dan sudah magrib.Setelah itu mereka bercengkerama sambil menikmati makanan yang telah dihidangkan oleh Yura.


'Tuuuiinggg bruuuuk'


Yura menoleh kearah sumber suara.


"Kebiasaan,berapa tahun sih lo jadi hantu?"tanya Yura.


Kunkun hanya cengengesan,entah mengapa dia selalu mendarat dengan terjatuh,jubahnya selalu nyerimpet.


"21 tahun Ra,heeheee,gue mau pinjem baji gamis atau daster lo aja deh,biar gak nyerimpet lagi"Kunkun nyengir memamerkan gadul giginya yang menumpuk.


"Ra tunggu"seru Kunkun mengimbangi langkah Yura.


"Hemm,apa?"cuek


"Ini masalah Sintya"ujarnya


"Sintya,dia baik-baik saja kan?"Yura menoleh pada Kunkun yang duduk disamping kanannya,lalu Yura fokus pada layar laptopnya kembali.


"Ra gue serius"Kunkun memasang wajah sok imut tepat didepan Yura.


"Iya ngomong saja,gue denger Kun kagak pekak kayak lu,emang kenapa dengan Sintya?"Yura berbicara tanpa melihat Kunkun,Kunkun mencebik kesal.


"Sintya tidak sebaik yang kita kira!"singkat padat dan berhasil menarik perhatian Yura,Yura menutup laptopnya kembali.


"Maksudnya?"Yura menatap intens wajah Kunkun.


"Lo ingat kasus perampokan dirumahnya dan kematian kedua orang tuanya"Kunkun mengingatkan kejadian sebulan yang lalu.


"Iya,gue inget"


"Kekayaan kedua orang tua Sintya itu juga hasil pesugihan Ra,hasil memuja setan seperti yang dilakukan bibinya kemaren"


"Bibinya?"mata Yura terbelalak kaget,dan saat itu Adrian melintas akan kebelakang.


"Bibinya siapa Ra?"Adrian ikut nimbrung


"Yan,bisa jadi tetangga lo itu ada hubungannya dengan Sintya,gue gak nyangka jika keluarga Sintya seperti itu,mereka seperti keluarga baik-baik"kecewa,raut wajah Yura seketika keruh bercampur geram.


"Terus"

__ADS_1


"Belok Ra"jawab Kunkun.


'Buuugghh'


Yura mendaratkan bantal sofa kewajah Kunkun.Adrian terkikik melihat itu.


"Oya sekarang Sintya dimana?"tanya Yura lagi.


"Dia sudah dirumahnya Ra,sebenarnya itu bukan kesalahan Sintya,tapi orang tuanya,Sintya hanya korban Ra"wajah Kunkun masam.


"Ra,Adrian gawat!"Alea tiba-tiba muncul dengan membawa berita buruk.Dengan nafas mgis-ngosan,Alea mengatur nafasnya agar stabil.


"Apanya yang gawat?"sahut Adrian.


"Sebentar,gue ambil nafas dulu"Alea membungkuk memegangi lututnya.


"Hah,hantu juga masih bernafas ya,bukan kah lo bisa jadi hantu karena lupa nafas ya?"Yura mendelik mengucapkan kata-kata konyol nya itu.


"Haaahhh"Alea meraup oksigen banyak-banyak dan membuangnya.


"Si alan lo Ra"mereka terkekeh.


"Ya udah buruan jelasin"


Alea mengambil posisi tepat disamping Adrian.


"Kita harus menolong Sintya saat ini,bibinya dan sepupunya datang lagi untuk memaksa Sintya melayani Barus"


"Sintya juga harus membayar hutang tumbal orang tua nya dahulu Ra,gue gak nyangka ternyata orang tuanya Sintya bisa memiliki harta sebanyak itu karna bersekutu dengan setan Ra"


Adrian,Yura dan Kunkun menjadi pendengar budiman.


"Buruan kita harus selamatkan Sintya"Alea bangkit, wajahnya panik.


"Satu lagi Ra,wak Ijah juga dalang dari ini semua,buruan!Rose akan gue urus akan gue bawa kebasecamp,ada Lola disana,cepat kalian semua kesana"


Adrian,Yura menarik Arga yang masih bingung ada apa hanya mengikuti langkah sang istri dan paman dan masuk kedalam mobil.


"Ada apa sayang?"tanya Arga bingung.


"Sintya dalam bahaya,siapkan mental bang,abang dan Adrian yang akan melawan mereka"


"What?"mata Arga membola terkejut.


"Biasa aja,yang Abang lawan nanti manusia bukan demit"jawab Yura sadar akan kekhawatiran sang suami.


"Syukurlah,jika masih manusia Abang akan lawan,tapi tunggu dulu sebentar abang akan menelfon mandor minta ijin tidak masuk"ucap Arga lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan berbincang sebentar dengan sang Mandor.


"Kiri Yan,itu rumahnya"tunjuk Yura.Adrian membelokkan mobil mereka dan memarkirnya agak jauh dari rumah Sintya,dari jarak sekitar 30meteran sudah terdengar suara kericuhan dirumah tersebut.Adrian memberikan pengarahan hanya dengan kode tangan,Adrian juga memberikan kunci mobil Yura.


"Ra jika nanti terjadi sesuatu yang genting dan lo sudah membawa Sintya,lo pergi dari sini ya"bisik Adrian,Yura menggangguk mengerti.Gindo dan Kutu kupret menghampiri mereka.


"Hati-hati mereka membawa tukang pukul,bahkan Sintya sudah beberapa kali mengalami kekerasan,tapi bisa gue pastikan Barus tidak berani menyentuh Sintya"jelas Gindo.


"Berapa orang tukang pukul mereka?"tanya Arga.


"Hanya dua orang dan seorang kakek tua,tapi sepertinya mereka sangat kuat"jawab Kutu kupret lagi.


"Kakek tua itu sepertinya sangat menginginkan Sintya, ayo atur strategi"Gindo mulai panik.


"Bik Rosita,Sigit lepasin aku"pekik Sintya hingga terdengar keluar.


"Sumpal mulutnya,teriakannya akan mengundang tetangga curiga"suara berat dan serak itu memerintah.


"Baik Ki"kedua bodyguard kakek tua itu menuju dapur dimana Sintya disekap.

__ADS_1


"Woi Barus,apa yang kau lihat? apakah gadis itu tidak menarik?"tanya kakek tua itu kepada Barus sisosok menyeramkan dan menjijikkan.


"Kita selesaikan terlebih dahulu tukang pukul itu"bisik Adrian,jika melawan manusia Adrian tidak akan gentar begitu juga Arga,ilmu bela diri mereka bisa diacungi jempol hingga 4.


__ADS_2