
Semua orang sibuk, ketika hari sudah sore semua masakan sudah terhidang, harum masakan pun tercium hingga kedepan. Ruang tamu tampak sudah rapi digelar beberapa karpet, Arga dan Kenaan sibuk menyusun minuman gelas dan buah disebuah meja yang memang disediakan untuk meletakkan makanan nantinya.
Tetangga tadi yang membantu pulang sebentar untuk membersihkan diri, termasuk siWinda ganjen.
Yuri dan Yura juga sudah tampak rapi. Arga dan Kenaan kelihatan lebih tampan memakai baju koko dengan model kurta itu dengan memadukannya dengan celana bahan.
"Ngapain sih lo Ra? "
"Gue lagi jatuh cinta, liat deh Bang Arga tu Ri,uuhh tampan sekali dia, Kenaan mah lewat kagak ada apa-apanya! "ucap Yura berbohong, padahal Kenaan tak kalah tampan, meskipun badannya tak setegap Arga, justru Kenaan terbilang agak kurus karna tingginya hampir dua meter,tapi semua itu tidak mengurangi ketampanannya. Tapi bagi Yura ketampanan suaminya yang paripurna itu tidak terkalahkan oleh siapapun, sekalipun itu babang Lee min hoo, kecuali kalo babang Lee min hoo mau sama Yura, nah itu baru lebih tampan Lee min hoo.
Yuri hanya menjetikkan jarinya kejidat Yura.
"Berapa tahun lu nikah? "
"Kurang lebih lima tahun lah! "
"Kok masih bucin? "
"Ri, dalam rumah tangga tu mengagumi suami sendiri bukan bucin, tapi suatu kebanggaan karna suami nya ganteng terawat begitu, ntar lu sama Kenaan, si Key jangan lu siksa ya, bukannya semakin sehat dan gemuk lah tu siKey justru semakin kurus kering karna lu omelin mulu"
"Heem, kayak bang Arga gak lu omelin aja Ra, Ra..! "
"Heehee tapi Bang Arga makannya banyak Ri, makanya gemuk begitu! "
Arga dan Kenaan sudah selesai membereskan semuanya, lalu Arga menuju Yura.
"Sayang udah semua ni, warga sudah pada diundang kan? " tanyanya pada Yura tapi yang diajak bicara justru malah senyum-senyum gak jelas.
"Yura, jangan bilang kamu lagi kagum sama Abang? " tanya Arga meledek Yura dan duduk tepat didepan Yura, Yura hanya mengangguk sambil terus tersenyum, pandangannya tak lepas dari sang suami. Yuri yang melihatnya langsung menimpuk kepala Yura pakai sendok sayur yang dibawanya.
"Sakit Yuri, gak ada sopan-sopannya deh sama kakaknya! "ujar Yura datar tidak memekik seperti biasanya, lalu dia pun memegang tangan Arga, Arga juga semakin menggenggam erat jemari Yura. Yuri hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Huueeeekkk, lebay deh kalian berdua ni! "
"Romantia Yuri! " jawab Arga.
"Lebay bang " jawab Yuri lagi sambil memutarkan bola matanya dengan malas, Kenaan yang melihat hanya senyum-senyum lalu bangkit menghampiri Yuri.
"Abang juga bisa kok romantis kayak Arga! " bisik Kenaan tepat ditelinga Yuri.
"Jangan mulai lebay deh bang! " ujar Yuri.
"Kayaknya kamu lebih cantik jika pakai jilbab seperti Yura! "ucap Kenaan.
"Bang Key, aku gak minta pendapat abang! " jawab Yuri mulai sewot.
Yuri sangat heran dengan hatinya, selama ini banyak pria yang mencoba mendekatinya, namun entah mengapa Yuri tidak merasa nyaman saja dengan mereka. Tapi pertemuan tidak terduga itu dengan Kenaan, membuat seorang Yuri yang sulit ditaklukkan justru takluk sendiri oleh senyuman Kenaan, pria jangkung berwajah asia itu.
*****
'Buugh'
"Aww..! " wanita itu jatuh tersungkur ketika seorang pria berperawakan kurus tinggi itu berlari kecil mengejar seseorang lalu menabraknya, wanita itu mengadu kesakitan karna memang lututnya luka dan mengeluarkan darah, pria itu sempat menoleh sebentar.
Wanita itu adalah Yuri Cantika, ya sesuai dengan namanya, Yuri yang berparas cantik,tinggi dan kuning langsat dengan rambut lurusnya yang dicat warna merah cocacola membuatnya semakin keren. Dengan model rambut bob dan berponi, mamakai kaos oblong longgar dan kemeja oversize dipadukan dengan celana jeans pendek diatas lutut dan sepatu kets nya membuat penampilan sederhananya semakin semua orang terpesona.
Yuri duduk disebuah kursi tunggu penumpang distasiun kereta api rantau prapat. Dia mengambil tissue membersihkan lukanya, entah kenapa dia memilih dia daripada beradu mulut oleh pria itu, tidak sifat Yuri seperti biasanya, dia hanya mengumpat dalam hati. Tidak lama dia duduk datang seorang pria bertubuh jangkung, berkulit putih,berhidung bangir, berambut pirang dan memiliki senyum yang membuat Yuri seakan terhipnotis.
"Hai, sorry saya tidak sengaja! "ucapnya tiba-tiba yang langsung duduk tepat disebelah Yuri, masih dengan nafas tidak beraturan, Yuri menyodorkan sebotol air mineral.
"Minum! "
"Terimakasih! "
"Heem"
"Sekali lagi maaf ya, saya tidak sengaja, saya sedang mengejar copet-copet si alan itu, sedang membawa kabur tas saya! " ujarnya lagi menghadap Yuri, lalu dia tersenyum, Yuri memalingkan wajahnya dan astaga ada mahluk bumi yang sangat tampan tepat didepannya, seketika tenggorokan Yuri tercekat, yang awalnya ingin mengomel panjang kali lebar kali luas, dia hanya diam seribu bahasa, terpukau ya, mengapa sangat rupawan.
"Haloha? " ucapnya sambil mengibaskan tangan tepat depan wajah Yuri Yuri lalu tersadar.
"Ahk lupa kan saja! " jawabnya gugup lalu berpura-pura melihat luka dilututnya kembali. Pria itu memandang luka dilutut Yuri,lalu dia berjongkok didepan Yuri.
"Apakah sakit? "
"Heem, sepertinya iya! "
"Haahaa,kamu lucu deh! "
"Maaf tapi gue bukan pelawak! " jawab Yuri. Tiba-tiba pria itu mengulurkan tangannya.
"Kenaan alfaro! "
__ADS_1
Yuri hanya memandang tangan pria yang memperkenal dengan nama Kenaan itu, entah beberapa menit tangan itu terus mengambang diudara dan pada akhirnya Yuri menyambutnya.
"Yuri Cantika, panggil aja Yuri! " jawab Yuri dengam gaya juteknya.
"Jutek amat, tapi tetap cantik, sesuai namanya,berteman !" ucapnya sambil memgerlingkan matanya.
Yuri tersenyum tipis melihat pria yang baru dikenalnya itu sok akrab.
Lalu Kenaan mengeluarkan selembar handsaplast dan betadine, menyingkirkan tangan Yuri dan dia yang mengambil alih mengobati lutut Yuri yang memang lumayan juga lukanya.
"Terimakasih "
"Eksklusif? "
"Ya"
"Ke Medan? "
"Binjai "
"Wah kebetulan sekali, apa mungkin kita juga berjodoh, oh Tuhan,semoga saja! "
Yuri hanya menatapnya tajam, lalu mengalihkan pandangannya keponselnya.
"Boleh pinjam ponselnya sebentar? "
"Hem, ya " jawab Yuri menyodorkan ponselnya.
"Sandinya?"ucap Kenaan lagi sembari menyodorkan lagi ponsel Yuri, dan Yuri membukanya. Lalu Kenaan mengetik no, ntah no siapa lalu memencet tombol call, dan astaga ponsel disakunya yang berdering.
"Dasar curang! "gumam Yuri, tapi dihatinya dia merasa senang, tidak pernah dia merasa sebahagia ini dekat dengan orang yang baru dikenalnya.
Kereta api pun berangkat, mereka terpisah diMedan.
*****
Lamunan Yuri buyar saat mendengar seseorang mengucapkan salam dengan suara yang sangat melengking.
"Assalamualaikum Bang Arga, Bang Kenaan? " pekik Winda yang masih dihalaman, setelah sampai diteras pun dia masih memekik.
"Bang Arga, bang Kenaan,Wiwin datang ni? " pekiknya lagi.
"Ada ya mbak panggil-panggil suami saya? " jawab Yura sambil bersedekap tangan didada. Yuri mengikuti langkah Yura, Yura dan Yuri mendelik melihat penampilan Winda.
"Gak ada baju yang sopan mbak? "tanya Yura.
"Ini dah sopan loh mbak Yura, ni kan panjang sampe kebawah lutut, atasnya juga tertutup kok! "jawab Winda membela diri.
"Heh pelakor, emang tertutup tapi badan lu kayak lontong yang dibungkus daon,lebih pas nya kayak ulet pisang,tadi pas pake baju itu dirumah ngaca kagak? " ucap Yuri geram, karna Winda terus mengunjukkan taringnya dari siang tadi, terus mencoba menggoda Kenaan dan Arga.
"Ih mbak Yuri, abis makan bakso setan ya,mulutnya pedes amat! " jawab Winda misuh-misuh sambil mengeluarkan cermin kecil dari dompetnya.
Yuri ingin ngomong lagi, tapi urung karna beberapa warga sudah mulai datang.
"Ri, lebih baik lu jumpai Kunkun dan Alea aja sono,suruh panggil Gindo !" perintah Yura pada Yuri dengan berbisik.
"Ngomong apa sih Mi, kok bisik-bisik! " tanya Arga, Yura hanya mencubit perut Arga.
"Tu para tamu nya dipersilahkan masuk, masa Kenaan yang seperti tuan rumahnya, liat tu! "ucap Yura, Arga hanya cengengesan.
"Buruan sana! "
"Yuk Ri, gue mau kebelakang cari Sintya,ntar kalo dah ketemu dan dapet fotonya gue kirim ke lu deh! "ujar Yura lagi.
"Siipp"jawab Yuri sambil mengacungkan jempolnya.
Yura langsung saja melangkah kebelakang, dan sudah mendapati Wak ijah, wak Imah dan Sintya.
"Loh wak sudah dateng aja, Yura sampe gak tau?" sapa Yura sambil menyalami wak Ijah dan yang lainnya.
"Iyoloh nduk, tadi uwak datang pas kalian pada ribut sama sipembuat onar tu "jawab wak Imah yang memonyongkan bibirnya kearah Winda.
"Ulet pisang kata Yuri wak! "ucap Yura lirih,lalu mereka semua terkekeh. Winda yang berada disudut sana merasa heran.
"Lagi pada ngomongi saya ya, pasti iri ya karna saya cantik begini !" ucapnya pongah, tapi tanpa dugaanya,semua orang tidak ada yang merespon ucapannya. Winda pun merasa geram, dia pun langsung mengambil ponselnya lalu berselfie.
"Hidangan didepan sudah lengkap semua nduk? "
"Udah wak, tadi dah disusun semua kok wak, oya ini kalo uwak sama yang lainnya mau makan, udah Yura sisihkan ditudung saji wak, masih banyak kok wak! "
"Iyo nduk, aman tu, uwak mau buat teh aja dulu ya! "
__ADS_1
"Ok Wak"
Semua sibuk dengan kerjaannya masing-masing.
Yura pun mendekati Sintya.
"Sin, aku mau tanya-tanya dikit boleh gak? " Sintya menoleh dan mengangguk.
"Tanya aja mbak, gak apa-apa kok! " jawab Sintya, gadis manis berlesung pipi.
"Tapi kita duduk diteras samping aja yuk? "ajak Yura lalu menggamit lengan Sintya, Sintya hanya manut saja.
"Kamu bawa hape? "
"Ehm ada kok mbak, mau no nya Tya ya, Tya dah hafal kok! "
"Iya boleh, yuk duduk disana aja ya, dipojokan sana! "tunjuk Yura disebuah kursi rotan panjang.
"Serem mbak, agak gelap gitu"jawab Sintya dan memberhentikan langkahnya.
"Kata orang-orang rumah ini angker loh mbak, setiap orang yang lewat sering diganggu sama Kunti dan gadis cantik mbak! " ujar Sintya lirih sekali, apalagi saat menyebutkan nama Kunti dan gadis sangat pelan nyaris tak terdengar. Mungkin yang disebut gadis itu Alea.
Yura terkekeh.
"Udah jangan takut, ada aku ini kan? "
Sintya masih tampak ragu, dia masih mematung.
"Mbak, tu mbak Yuri lagi ngomong sama siapa? " tanya nya menunjuk Yuri sedang berbicara bahkan kadang sesekali tertawa,aku lihat disana sudah ada Kunkun, Kutukupret, Alea dan Gindo.
"Ya udah kita duduk disini aja ya"
Sintya mengangguk, tapi pandangannya tak lepas dari sosok Yuri yang sedang berbicara pada mahluk kasat mata. Yura segera mengeluarkan ponsel, mengetik agar Yuri pura-pura bicara diponsel.
"Mungkin sedang menelfon kali"ucap Yura.
"Mbak tadi mau tanya apa? " tanya Sintya to the point.
"Kamu masih simpan foto suami kamu siDewo? "
Sintya mengerutkan keningnya, heran mungkin saja.
"Untuk apa mbak? "
"Katanya suami kamu kecelakaan, tapi jasad nya gak ditemukan ya?"
"Iya mbak, katanya sih gitu kecelakaan, tapi gak tau kabar pastinya mbak! "
"Maksudnya ?"
"Soalnya, jika mas Dewo kecelakaan, Tya faham betul gimana orang tua Mas Dewo mbak, jika bener kecelakaan dan jasadnya tidak ditemukan, pasti dah mencak-mencak mbak dan aku pasti dah jadi sasarannya mbak! "
"Oo jadi masih kabar burung ?"
Sintya hanya mengangguk.
"Terus hubungannya dengan ulet pisang itu bagaimana? "
"Ulet pisang, ulet pisang mana mbak? "
Yura hanya menepok jidatnya, astaga ternyaata Sintya ini begitu polosnya.
"Maksud aku Winda loh Sin! "
"Ooo..! "
"Jadi gimana? "
"Pernah temen aku nyampein ke Aku mbak, setelah adanya berita mas Dewo kecelakaan, tapi temen aku pernah lihat Mas Dewo belanja diRumayana bareng mbak Winda! "
"Sabotase, jelas ini sabotase, biar kamu tu gak nyariin Dewo lagi, ya udah lah Sin, laki-laki kayak gitu gak usah diharapkan lagi!"
"Aku juga udah gak mau lagi kok mbak, simbok dan pak ne dulu terpaksa aja mbak nikahkan aku sama mas Dewo, tapi untung saja mas Dewo gak pernah nyentuh aku mbak! "
"Jadi kamu sudah janda tapi masih gadis? "
Sintya hanya tersipu malu.
"Oya, mana sih foto Dewo, aku mau lihat! "
Sintya mengeluarkan ponselnya, lalu membuka-buka galeri, dan menyodorkannya pada Yura. Tanpa sepengetahuan Sintya dengan gerak cepat Yura langsung mengirim beberapa foto Dewo keponselnya.
__ADS_1
"Lumayan ganteng juga ternyata yang namanya Dewo itu ya Sin? "ucap Yura pura-pura masih memperhatikan ponsel Sintya.
"Mukanya aja yang ganteng mbak, tapi semua orang kampung juga sudah tau gimana kelakuan mas Dewo mbak, keluar masuk penjara karna pakai nar***a,terus suka maen perempuan juga mbak! "