
Arga dan Adrian segera mengambil jalan dari belakang.
'Kreeeekk'
Suara pintu dapur itu berderit ketika Adrian mendorongnya.Kedua bodyguard itu pun langsung menoleh.
"Siapa disana?"teriaknya.
Arga dan Adrian menghentikan langkahnya.
"Bro kau periksa dulu pintu belakang itu,kenapa kayak ada yang buka,Aku mau urus gadis manis ini"perintah salah satu dari mereka.
"Ahk kau ini cuma mau yang enak-enak aja,bareng-bareng aja lah kita yok,bayaran kita sama"tolak temannya.
"Kau bilang aja lah takut,ayoklah!tapi tunggu sebentar biar Aku ikat dulu kakinya ini biar gak bisa kabur dia"ujar temannya.
Setelah itu mereka berjalan bersama menuju pintu yang sudah terbuka sedikit.
'Sat set sat set'
Dengan mudah Arga dan Adrian mengalahkan kedua bodyguard itu.
"Ahk ternyata mereka tukang pukul yang payah"Adrian menepuk-nepuk kedua tangannya.Adrian dan Arga membekuknya dan menyekap mereka,mengikatkan pada pohon asam belimbing dibelakang rumah dan menutup kepala mereka dengan sebuah karung.
"Oom-oom,kenapa Oom itu kok diikat?"Arga tidak mengetahui itu,Adrian menoleh kesumber suara.
"Astagfirullah,dasar botak"umpat Adrian terlonjak kaget hingga jatuh terjengkang.
"Hah botak,siapa yang botak Paman?bukankah keduanya justru gondrong Paman?"Arga menatap Adrian yang terjengkang dan mengulurkan tangannya.
"Tu"tunjuk Adrian pada 3bocah botak yang menatap heran pada mereka.
"Ma-ma-maksud Paman?"Arga merinding.
"Sudah jangan difikirkan ayo cepat kita selesaikan"Adrian dengan cepat mengikat kembali kaki dan tangan dua bodyguard tersebut pada pohon belimbing.Ketiga bocah botak itu mendekati Adrian.
"Oom dia jahat ya?"polos
"Iya, buruan Ga,Yura sendirian disana"
"Aku bantu ya Oom?"tawarnya lalu menyentuk tali tambang kaku yang mereka gunakan untuk mengikat itu tiba-tiba saja melunak dan mudah untuk diikatkan.Adrian tersenyum.Dia mengacungkan kedua jempolnya,ketiga bocah botak itu berlonjak gembira.Arga mengelus tengkuknya.
"Harusnya lo terbiasa dengan hal seperti ini Ga,tapi ya sudahlah,ayo Yura sendirian disana"Adrian bangkit, Arga berlari mendahului Adrian,dia menuju dimana Yura berada.
"Lo bertiga tetap disini ya, jaga mereka jangan sampe lepas,Oom akan menolong seseorang lagi,ok?"Adrian memberikan perintah pertama pada ketiga bocah botak tersebut.
"Siap Oom"ucap mereka serempak.
"Good"Adrian tersenyum lalu meninggalkan mereka.
Arga dan Yura sudah memapah Sintya keluar dari dapur.Gindo dan Kutukupret juga membersamai mereka.
"Ya ampun,apa yang terjadi pada kakinya?"bisik Adrian pada Yura.
"Bibinya yang telah melakukannya,bibnya menempelkan setrika panas pada betis dan pahanya Sintya"jelas Yura dengan berbisik.
__ADS_1
"Gila,apakah benar jika bibinya itu bernama Rosita dan berasal dari Bukit kapur?"tanya Adrian lagi.
"Hah,darimana Abang tau tentang Bik Rosita?"kali ini Sintya yang bertanya,saat mereka tekah sampai dimobil.
"Jadi benar Dia?"gumam Adrian tapi didengar oleh yang lainnya.
"Sigit telah menodai ku Mbak Yura"isaknya.
"Kurang ajar,dasar manusia bedebah"umpat Adrian.Arga membantu Sintya masuk kedalam mobil,Yura duduk dikursi kemudi.
"Gindo lo ikut gue,kunti lo dan yang lainnya awasi Yura,gue gak ingin Yura tergores sedikitpun?"titah Adrian.Kutukupret mengangguk lalu melindungi mobil Yura saat Yura sudah mulai menyalakan mobil tersebut,suara mobil itu menjadi seperti ditempat yang sangat jauh.
Arga dan Adrian mengendap-ngendap kembali dari pintu belakang.
"Dasar anak gak tau di untung,pantas saja mahluk jelek itu tidak ingin menyentuh Sintya!"ucap buk Rosita datar,giginya bergemeletak,rahangnya mengeras menahan amarah,jika meledak-ledak ia takut warna disini akan mengetahui belang mereka selama ini.Kakek tua itu hanya memilin-milin kumisnya.Barus yang mendengar umpatan Buk Rosita sudah ingin menyerangnya,namun Kakek tua itu menahannya.Mulutnya telah menganga didepan wajah buk Rosita.Tubuhnya seketika berubah kewujud aslinya,bahkan Buk Rosita dan Sigit hingga terjengkang dari tempat duduknya ketakutan akan mahluk menyeramkan tersebut.
'Heeerrrrmmmmm'
'Ceplakceplakceplak'
Barus mengecap air liurnya sendiri,padahal dia sudah tidak sabar ingin mengunyah hidup-hidup wanita separuh abad tersebut.
"Sabar Barus,dia akan menerima ganjaran akan perbuatannya yang ingkar!"ucap Kakek tua itu lalu menyesap cerutunya.
"Begini Sigit,saya tidak bisa membantu lagi,jika kalian tidak bisa mencarikan darah perawan,makan jangan salahkan saya jika Barus akan hilang kendali karena keadaan tubuhnya seperti ini"Kakek tua itu dan menepuk pelan pundak Barus dan membisikkan sesuatu.
"Tapi Mbah,harta kami juga sudah hangus semua,mahluk itu telah membakar kediaman kami,jadi untuk apa kami harus memenuhi kemauannya"ucap buk Rosita berusaha berani.
"Oo itu urusan kalian dengan Barus,bukan urusan saya lagi.Buk Rosita sudah ingkar berulang kali"ucap kakek tua itu menuju belakang.Dia tidak menemukan siapa pun,padahal dia sudah berniat akan membawa gadis itu untuk melayani nafsu bejatnya karena ia berfikir Barus sudah tak ingin lagi karena gadis itu sudah tidak perawan lagi.
"Kemana Upin dan Ipin?"Kakek itu berlari kearah pintu dan melongok,disana hanya ada kegelapan.Adrian dan Arga sigap meringkus Kakek tersebut.
Selesai.
'Heeeemmmmppppp'
Kakek tua itu berusaha bicara namun tak diberi kesempatan oleh Arga dan Adrian,Arga telah melakban mulut kakek tersebut.
"Maafkan saya ya Kek, saya terpaksa melakukan ini untuk menyelamatkan Sintya"ujar Arga sambil terus melakban mulut kakek tersebut.
Mereka membawa kakek tersebut bergabung pada dua bodyguard itu.
"Oom dia siapa lagi?"tanya bocah botak itu menghampiri Adrian.
"Kakeknya mereka"jawab Adrian asal.
"Oom-Oom kita boleh ikut Oom gak?"tanya bocah botak yang lainnya.
"Ok,tapi harus jaga mereka ya,jangan sampai lepas"titah Adrian.
"Paman buruan nanti Buk Rosita dan Sigit akan kabur"ajak Arga.
"Paman dari depan,Arga akan dari belakang"titah Arga.Adrian langsung berlari kedepan.
'Braaaaak'
__ADS_1
Adrian mendobrak pintu depan.Sigit dan Buk Rosita membelalakkan matanya.Mereka terkejut melihat siapa yang datang.
"A-A-Adrian?"Buk Rosita tergagap melihat kehadiran Adrian.
"Selamat malam Buk Rosita,Sigit?"sapa Adrian dan menyeringai,lalu duduk tepat didepan Buk Rosita.Mereka saling pandang satu sama lain,masih menatap aneh pada Adrian,tidak lama Arga nongol.
"Paman"seru Arga.
"Duduk Ga,kita bermain-main dulu dengan manusia-manusia bedebah ini!"Adrian mengangkat kakinya sebelah dan menyilangkan,lalu dia mengeluarkan sebatang nikotin dan menyulutnya dengan mancis yang tergeletak dimeja.
"Jaga kata-kata lo bang"bantah Sigit.
"Tau apa kamu Adrian,ini bukan urusan kamu"ucap Buk Rosita dengan wajah sinis.
"Lagian ini juga bukan rumah lo,Sintya keluar lo"pekiknya.
"Heh"Adrian menghisap asap yang ia keluarkan dari mulut itu kembali melalui hidung.Arga juga menyulut sebatang nikotin tersebut.
"Teriak saja,untung-untung warga mendengar"ucap Arga santai.
'Buuugghhh'
'Duuugghhh'
'Duuuaaarr'
Tambun dan Bungkring meringis,mereka bertubrukan.Televisi dan sebuah aquarium mini diruangan tersebut pecah.Sigit terlonjak kaget hingga memeluk ibunya dan Arga jangan ditanya lagi dia langsung bersembunyi dibalik tubuh Adrian dengan secepat kilat sehingga tidak menyadari jika dia masih memegang sebatang nikotin yang telah dinyalakan.
"Awww panas Arga, gila lo ya"Adrian melemparkan nikotin itu dengan tidak sengaja kearah Tambun dan Bungkring.Arga mengintip dari balik leher Adrian,tidak ada siapa-siapa tapi televisi dan air yang berasal dari aqurium tersebut telah berantakan.
"Ihh ganteng kok buang nya kesini sih,lihat ni kan tangan Moza kenak deh"ucapnya centil lalu berdiri dan menghampiri Adrian dengan sesekali menepuk bajunya.Bungkring mengikuti langkah Tambun.
"Wah lo bener Tambun,ternyata dia ganteng banget"Bungkring ingin mencubit pipi Adrian,namun Tambun terlebih dahulu menghalangi.
"Jangan sentuh milik gue"Tambun mendorong tubuh Bungkring hingga terjengkang.
"Ahhkk gila lo berdua ya,merusak acara gue aja yang kayak ditivi-tivi menangkap penjahat"cebik Adrian.
"Ya mangap ganteng"
"Mangap-mangap,maaf "bentak Bungkring.
"Kita cuma mendapat tugas dari Yura,untuk melihat kalian sudah meringkus mereka"jawab Tambun sambil mengarahkan bibirnya kearah Sigit dan Buk Rosita yang masih shock,mereka tidak tahu jika kekacauan itu berasal dari dua hantu somplak ini.Ketika Adrian melihat kebelakang,tampak disana Barus dengan seringaiannya yang mengerikan.Bungkring dan Tambun berdiri tepat dibelakang Adrian.
"Salah satu dari kalian lihat tawanan dibelakang,bawa ketiga bocah botak itu kesini"perintah Adrian setengah berbisik pada dua hantu itu,tanpa berdebat Tambun menuju luar.
"Wow ada tamu rupanya"ucap Barus,entah kenapa Arga bisa melihat mahluk tersebut,tubuhnya bergetar bahkan tangannya mencengkram lengan Adrian.
"Hei mahluk jelek,tolong kami"seru Rosita.
"Hahaaahaaa dasar manusia ingkar lo berdua akan menerima ganjarannya"suara Barus menggema.
"Dasar mahluk jelek gak bisa diandalkan,kemana Ki Seno?"bentaknya,lalu Barus dengan mudahnya meraih tangan Rosita yang menunjuknya lalu dipatahkan.
"Ahhkkkk sakit"Rosita mengerang kesakitan.
__ADS_1
"Ibuk,astaga ibuk!"pekik Sigit,lalu memandang Barus dengan mendelik,Barus dengan mudahnya juga mencoblos kedua mata Sigit.
"Aaahhhkkkkk "pekik Sigit.