Hantu jaman now (Pertualangan Yura dan Kunti jaman now)

Hantu jaman now (Pertualangan Yura dan Kunti jaman now)
Bab 15. Kedatangan Dewo


__ADS_3

Sesuai rencana, Yura segera mengirim beberapa foto Dewo keYuri. Yura tetap mendengarkan penuturan Sintya.


Yura merasa iba melihat gadis itu, ketika Yura sedang asyik mendengarkan cerita Sintya, tiba-tiba saja Alexa datang menghampiri.


"Kak Yura, ada rencana apa sih? Lexa ikutan donk! "


"Anak kecil gak usah ikut campur !" jawab Yura sambil merapatkan giginya agar Sintya tidak curiga Yura pun memamerkan susuanan giginya.


"Siapa yang anan kecil mbak? " tanya Sintya.


"Oh ini, ponakan aku chat kepo aja dia! " jawab ku asal.


"Oo kirain Mbak Yura ngomong Tya anak kecil, heehee Tya emang masih kecil mbak, baru 19tahun! " ucapnya lalu tersenyum lebar, Sintya sebenarnya manis, hanya saja dia orang tidak punya sehingga tidak memiliki segala untuk merawat wajah dan tubuhnya. Kedua orang tuanya juga sudah sangat renta. Entah apa maksud keluarga Dewo, meminang anak gadis orang tapi setelahnya menyiksanya.


"Eh mbak, aku masuk dulu ya, kayaknya orang sudah selesai mendo'anya, kasian uwak nanti! "ucapnya sembari bangkit dan melangkahkan kaki nya menuju kedalam.


"Oo iya, nanti aku nyusul! "


Tampak Yuri berlari kecil bersama para tiga sikasat mata.Yura semakin lucu melihat Kunkun kini tidak memakai jubah putihnya yang lecek dan jorok itu, tapi Kunkun sekarang memakai jubah berwarna pink, dengam wajah sedikit segar dari biasanya.


"Nyolong dari mana lu jubah pink itu Kun? astaga jangan-jangan sprei gue yang dikamar belakang ya? "pekik Yura yang langsung dibekap oleh Yuri, dan menjitak kepala Yura.


"Kebiasaan deh, jangan kenceng-kenceng ntar yang mendo'a pada kabur Yura!" ucap Yuri berbisik.Yura hanya nyengir kuda.


"Gimana ni rencana kita? " tanya Yuri


"Jadi donk, gue juga sudah dapat fakta baru, tentang Dewo! "


"Fakta baru? "


"Iya, sebenarnya itu Dewo dikabarkan kecelakaan dikampung ini saja, tapi bisa jadi sebenarnya dia tidak mengalami apapun, karna menurut Sintya, jika Dewo mengalami kecelakaan yang sebenarnya dan jasadnya tidak ditemukan, bisa jadi dia akan menjadi bulan-bulanan oleh mertuanya, mertua itu kejam abis deh katanya! " jelas Yura.


"Ehm, oke kita jalan kan rencana untuk mengerjain tu pelakor biar tau rasa, gerem banget gue, sejak siang tadi asyik mepet sama Bang Arga dan Kenaan terus " ucap Yuri sambil mengepalkan tangannya.


"Terus tugas kita ngapain? " tanya Kunkun.


"Lu nanti tugasnya, setelah ulet bulu itu ketemuan sama Dewo, yang penting kalian kerjain abis-abisan deh tu ulet bulu gak usah dikasih ampun, kalo bisa sampe ngompol-ngompol dicelana deh! " ujar Yura yang tingkat emosi dan cemburunya melebihi Yuri, Yuri mengangguk.


Tampak Gindo hanya duduk diam tanpa mau ikut nimbrung dengan yang lainnya.


"Mana sih pelakornya ?" tanya Alea celingukan.


"Ada didalem! "jawab Yuri sambil mengotak atik ponselnya.


"Gin, sini lu? "panggil Yuri, Gindo manut dan beranjak menemui para cewek-cewek rempong itu. Namun dia tidak berani menatap Yura. Yura yang menyadari itu hanya tersenyum tipis saja.


"Biasa aja kali Gin, yang penting jangan diulangi, dah itu doang kok! " Ginda mengangkat wajahnya perlahan dan menatap Yura, saat ini dia dalam bentuk normal setinggi manusia.


"Makasih ya Ra! "


"Iya, tapi gue punya tugas buat lu ni? "


"Iya, gue mau kok! "jawab Gindo kalem tidak sesuia dengan wajahnya yang sangar dan menyeramkan itu.


"Sok kalem deh lu! " ujar Yura lagi.


"Ni, lu harus menyerupai laki-laki ini persis tanpa tertinggal seincinya pun! " ucap Yuri sambil menyodorkan ponselnya.


"Bisa kan? " tanya Yura

__ADS_1


"Ya bisalah, mirip sama lakik lu aja gue bisa apalagi cuma dia! "jawab Gindo tersenyum dan menunjuk foto yang ada diponsel Yura.


"Ya udah buruan, kita mau kedalem lagi ni, gak enak sama yang lain, ingat hasil briefing kita tadi ya? "tanya Yuri menuntuk pada Kun, Alea dan Gindo.Ketiga hantu itu hanya mengangguk.


"Kak Lexa juga mau dong ikutan? " tiba-tiba Alexa berada disamping Yuri.


"Lu ikut gue aja kedalem yuk, tugas lu didalem, soalnya bocah! " ucap Yuri menyusul langkah Yura masuk dari pintu belakang. Terdengar suara warga pria masih bersenda gurau karna baru saja abis mendo'a dan mereka pada mau makan.


"Lu gangguin aja tu siulet pisang, terserah deh diapain !" ujar Yuri sudut matanya mengarah ke arah Winda.


"Siip kak! " jawab Alexa sambil mengacungkan jempolnya.


Saat semua orang sedang menikmati hidangan yang disuguhkan tuan rumah, tiba-tiba saja semuanya terperangah dan ketakutan, karna kehadiran seseorang yang dikabar beritakan telah meninggal karna kecelakaan.Namun jasadnya belum ditemukan kini hadir dengan pakaian sedikit kotor dengan menyandang sebuah tas ransel besar dipunggungnya.


Seorang pria bertubuh sedikit berisi,berkulit kuning langsat, berkumis tipis dan berambut lurus itu melangkah menuju teras, tapi sebelum dia masuk seorang pria paruh baya kira-kira berusia kepala lima menghampiriny terlebih dahulu dan menarik lengannya sedikit menjauh dari warga yang lain. Terdengar bisik-bisik sana sini ada yang terlihat ketakutan menyangka jika itu adalah sosok hantu seorang Dewo, ada yang bertanda tanya pada dirinya sendiri dan pada teman-teman disampingnya.


"Dewo, kae tenan Dewo kan? " suara tanya terdengar dari mereka.


"Iyo Dewo, kae Dewo, opo hantu ne Dewo? " jawab yang lainnya lagi.


"Tapi Pak Diman ngomong kalo Dewo kecelakaan, jasad e ora ketemu !"


Sebagian orang berhamburan keluar ingin melihat dengan dekat benar kah itu sosok Dewo yang selama ini dikabarkan hilang dan meninggal. Tak luput para wanita yang dibelakang, karna mendengar sedikit keributan, mereka juga menghambur kedepan melihat ada apakah gerangan. Dan terdengar percakapan antara mereka.


"Koe wes gendeng opo Wo? ngopo kok balek? " tanya bapak paruh baya itu dengan nada sedikit menekan kepada pria yang disangka Dewo itu.


"Aku eneng perlu karo Winda pak, aku wes ora nduwe sangu pak! " jawabnya setengah berbisik tapi yang dekat mereka pasti dapat mendengarkan obrolan bapak dan anak itu.


"Oo dadi iki emang tenan Dewo toh, ora penampakan toh? " tanya bapak-bapak yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Dadi kang Diman reti kalo Dewo isek urip? "


Yura dan Yuri mengintip dari balik gorden jendela, Winda sudah menerobos kerumunan bapak-bapak yang didepan pintu dengan bibir manyun dan mengerucut kedepan.


"Ra liat tu Sintya kenapa ya? " tanya Yuri menunjuk arah Sintya disebalik gorden jendela yang disudut kiri, dia tampak gemetaran dan pucat.


Yura mengahampiri Sintya.


"Kamu baik-baik aja kan Sin? "tanya Yura membuat Sintya terkejut.


"Mbak, yang diluar itu beneran Mas Dewo ya? "


"Ehm mungkin, aku kan gak kenal sama Dewo! "


"Aku takut mbak,takut mas Dewo nanti jahati aku lagi!"


"Kamu dijahati Dewo, emang kamu diapakan? " tanya Yura lagi terkejut, lalu Yura menarik Sintya duduk diruang Tv.


Tampak Sintya semakin pucat dan gemetaran. Yura menggenggam tangan Sintya.


"Ceritalah biar sedikit ringan, aku akan bantu kamu sebisa mungkin! "


"Mbak, Mas Dewo dan keluarganya itu jahat sekali mbak. Sebelum ibuk sama bapak pergi, Mas Dewo dan mbak Dewi dari rumah Bapak, saat itu aku masih diladang belakang sedang memetik beberapa hasil ladang mbak untuk dijual dan sebagian dimasak, tiba-tiba saja aku mendengar ribut-ribut dari dalam rumah, dan mendengar teriakan ibuk, aku pun langsung berlari pulang! " ucapan Sintya terjeda, tampak dia mengambil nafas, lalu Yura menyerahkan segelas air putih dan tisu.


"Sesampainya aku dirumah, aku sangat terkejut mbak, mbak Dewi ngobrak ngabrik lemari Ibuk, dan dia juga mengambil perhiasan Ibuk dan tabungan ibuk. Padahal Bapak sama Ibuk pengen sekali menunaikan ibadah haji mbak, tapi semua sirna karna ulah Mas Dewo dan Mbak Dewi, mereka itu pembunuh mbak! "


Yura terperangah dengan kata-kata Sintya, ternyata masih banyak fakta tentang Dewo yang dirahasiakan oleh keluarganya.


"Mbak maaf, aku...! "

__ADS_1


"Apa Sin, cerita aja kami sebisa mungkin membantu kamu kok! " ujar Yura sambil mengelus pungung tangan Sintya agar lebih tenang.


"Semoga saja Bapak dan Ibuk tenang disana, mbak sebenarnya aku tau jika keluarga Mas Dewo berbohong tentang keadaan mas Dewo, aku pernah beberapa kali liat Mas Dewo pulang kerumah mbak Wiwin saat malam sudah larut mbak! "


"Dan kamu tadi menyebutkan jika Dewo dan Dewi adalah pembunuh siapa yang mereka bunuh? "


"Bapak dan ibuk mbak, hari itu saat mereka telah merampas paksa surat tanah,perhiasan dan tabungan Bapak dan Ibuk mbak. Aku ingin ingin menolong Bapak dan ibuk saat itu, tapi apalah dayaku mbak, aku juga dihajar abis-abisan, dan setelah itu dengan cara licik mereka meminta tolong warga jika rumah kami abis kenak rampok! "


"Mereka bebas begitu saja mbak, dengan membawa sebagian harta bapak, dan ternyata semua itu memang sudag direncanakan oleh keluarga mas Dewo mbak, makanya orang tua nya meminangku hanya untuk sekedar buat sarana mereka bisa dengan bebas keluar masuk rumah ini, tapi bodohnya aku mbak, aku tidak pernah curiga !"


"Kamu tenang saja, aku akan menguak semuanya hingga tuntas, nanti dibantu teman-temanku! "


"Terimakasih mbak Yura "


"Ok, sekarang angkat wajahmu didepan mereka, buka mulut ketika nanti ada yag tanya bagaimana kronologis kejadian bagaimana bisa Bapak dan Ibuk mu meninggal ditangan Dewo dan Dewi! "


"Aku takut mbak! "


"Jangan takut, ada aku,Yuri dan yang lainnya! " ucapku sambil menguatkannya dengan tetap menggenggam tangannya, dan tiba-tiba saja wak Ijah datang.


"Suwon yo Nduk Yura, uwak selama ini jiga kasian sama Sintya, sedikit banyaknya uwak tau apa yang dilakukan Dewo dan Dewi, tapi Uwak gak bisa apa-apa nduk, uwak cuma janda miskin jadi gak bisa ngapa-ngapain nduk" ucap Wak Ijah sambil memeluk Sintya.


"Tya wedi wak, mas Dewo nyekik Tya wak! "


"Wes ndak opo-opo, wong rame iki! " ujar Wak Ijah lagi sambil terus memeluk Sintya.


"Yo uwes, Yura kedepan dulu yo wak, mau lihat situasi wak, kamu sing tenang yo Sin? " ucap Yura menirukan bahasa jawa yang selalu digunakan warga sini.


Yura bergegas melangkahkan kaki nya dengan cepat, ia sudah tidak sabar ingin bertemu Yuri, Arga dan Kenaan, fakta baru yang baru diketahuinya membuatnya sedikit merinding. Yura pun berhenti sejenak merogoh ponselnya disaku rok kulotnya, lalu mengirim pesan yang sama kepada Yuri dan Arga untuk menemuinya dikamar, dada Yura serasa sesak dan seluruh badan Yura serasa gemetar menahan rasa takutnya.


"Kenapa aku menjadi takut begini, apa karna bawaan hamil aja kali ya? " Yura bermonolog sendiri pada dirinya. Saat dia terus berusaha menetralkan perasaan takutnya, Yura dan Arga datang tergopoh-gopoh.


"Ada apa sayang, perut kamu sakit? " tanya Arga langsung memberondong tubuh istrinya, Yura hanya menggeleng yang membuat Yuri bisa bernafas lega.


"Terus ada apa sayang? "


Yura mengisyaratkan agar keduanya duduk.Lalu Yura mengedarkan pandangannya kearah belakang Yuri.


"Kenaan mana Ri? "


"Apa dia harus ikut andil juga? " tanya Yuri heran.


"Iya,buruan panggil kesini, oya bagaimana akting Gindo? "tanya Yura.


"Aman? " jawab Yuri yang terus berlalu keluar dari kamar Yura untuk mencari Kenaan.


"Bang Key, bang? " panggil Yuri sambil mencolek-colek bahu Kenaan yang berdiri tepat depan pintu ruang utama.


"Alah wes ngaku wae lah kang, kalo selama iki kang Diman sekeluarga bohongi kita kan? "


"Hei Dewo, apa kamu tau jika mertua kamu Pak Pardi dan Buk Minten sudah meninggal? "


Dewo mendongakkan kepalanya lalu hanya mengangguk, karna dia emang tidak tahu karna saat itu yang duduk disana yang diinterogasi warga bukanlah sosok Dewo yang sebenarnya, melainkan siGindo sang hantu ahli multitalenta.


"Jangan-jangan aksi perampokan dirumah mertua mu itu adalah karna rencana mu gak? "seseorang melontarkan pertanyaan itu yang membuat Pak Diman murka, wajahnya memerah menahan amarah.


"Jaga bicaramu Roni! jangan asal menuduh, justru Dewo yang menyelamatkan Sintya dan orang tuanya,ingat saat itu Dewo dan Dewi juga sebagai korban yang bisa kabur dan luka-luka sekujur tubuhnya! " ucap pak Diman dengan nada yang sedikit meninggi.


Yuri dan Kenaan tidak peduli dengan perdebatan warga,mereka langsung buru-buru masuk kekamar Yura, entah apa yang akan disampaikan Yura.

__ADS_1


__ADS_2