Hantu jaman now (Pertualangan Yura dan Kunti jaman now)

Hantu jaman now (Pertualangan Yura dan Kunti jaman now)
Bab 17. Hubungan terlarang


__ADS_3

"Sumpah Mas, tadi mas jalan dibelakang Winda, kita tadi juga bareng bapak, kalo gak percaya tanya aja bapak! " ucap Winda gemetaran, lalu didekati Arum.


"Ibuk, jangan bercanda dong, Arumkan takut jadinya! " sambungnya mendekati Winda dan memeluknya.


"Udah deh Win jangan ngaco kamu,wong Mas dari jam setengah delapan tadi sampai yo dirumah aja, abis mandi terus makan mie yang dimasakkan Arum, terus santai duduk disini,Mas gak ada pergi kemana-mana, tempat Bapak sama ibuk juga belum kok! " jawab Dewo sambil menyulut batang nikotinnya dan menghisapnya lalu menghembuskan asapnya asal.


"Sumpah Mas, Rum coba kamu panggil embah kakung sana! " jawab Winda yang masih gemetaran, karna tadi emang nyata sekali saat tangannya digenggam Dewo, saat Dewo membekap mulutnya dan perdebatan demi perdebatan mereka bertiga sepanjang perjalanan kerumah.


"Gak, aku gak mungkin salah! " gumamnya lirih.


"Arum takut buk,gak mau! " Arum justru menolak dan malah semakin mengeratkan pelukannya pada Winda.


"Telfon bapak Mas! "


"Ahk merepotkan saja kau ni Win? "


"Tapi aku serius mas! "


"Yo uwes meneng! " bentak Dewo lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping tivi.


"Halo Pak, iso nang umah Winda saiki pak? " Ucap Dewo tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Lalu dia berucap kembali.


"Iyo saiki pak, penting! " lalu dia memutuskan sambungan sepihak, dasar gak ada sopan santunnya.


"Piye Mas? "


"Iyo, bapak kesini! "


Winda masih terduduk lemas, tapi kali ini dia sudah duduk didekat Dewo, dia memeluk lengan kekar Dewo, memperhatikan dan mengingat sesuatu, lalu memekik.


"Ahk, tidak mungkin aku jalan bareng gondoruwo mas! " pekik nya seketika karna mengingat saat tadi diteras rumah Yura, Dewo menggenggam tangan Winda, Winda yang merasa sangat senang Dewo mau mengakuinya didepan semua warga terus saja memperhatikan tangan Dewo yang terus menggenggam tangannya, seperti memberikan kekuatan karna ucapan mulut pedas para warga yang gak disekolahkan itu, atau mungkin karna abis makan bakso setan dengan pedas level 20.


"Ada apa sih Win, ngageti aja? " sontak Dewo terlonjak kaget karna pekikan tiba-tiba Winda.


"Pantes aja tadi Mas Dewo waktu dirumah Mas Arga, romantis banget, tapi aneh tangannya kok bulunya lebat banget, aku sebenarnya dah heran tapi karna didepan orang ramai aku banyak diam aja Mas! " ceritanya dengan menyebut nama pria lain tanpa disadari nya, dia lupa jika suaminya emosional.

__ADS_1


"Siapa Arga? " bentak Dewo sambil menghentakkan tangan Winda dari lengannya, lalu mencengkram dagu Winda dengan keras. Winda tak kalah terkejutnya dengan apa yang dilakukan Dewo.


"Sa-sa-bar dulu mas, di-dia bukan siapa-siapa, cuma tetangga baru kita,mereka nempati rumah Ki Jarwo mas! " jawab Winda terbata karna merasakan rahangnya ngilu, sambil meringis dia mencoba menepis cengkraman tangan Dewo. Dewo sedikit melonggarkan cengkramannya.


"Ingat ya Winda, aku kayak gini demi mu dan anakmu,jadi jangan coba berani-beraninya bermain api dibelakang ku! " gertaknya, giginya bergemeletak lalu melepaskan cengkramannya dengan cara kasar.


"Jangan egois mas, buktinya kamu me..! "


"Hei,jangan membuat aku semakin marah Win, selalu kamu ungkit tentang pernikahanku dengan dia, kamu lupa ingatan, kamu yang mendesak aku menikahi Sintya, perempuan dungu busik begitu kamu,bahkan aku tak berselera menyentuhnya hingga kini !" bentak Dewo, Arum yang melihat pertengkaran kedua orang tuanya hanya bisa menangis dan lari kedalam kamarnya.


"Huuss opo iki ribut-ribut wae! " sahut Buk Lia ibunya Dewo.


"Nih! buk, perempuan gak tau diri ini sudah mulai bermain api dibelakangku! "


"Opo iyo Win?"


"Gak buk, tuduhan mas Dewo gak bener, mas Dewo aja yang cemburu buta! "


"Terus siapa Arga tadi yang kamu sebut-sebut hah ?" teriaknya memekakkan telinga dan tangannya mengudara ingin menampar Winda namun urung karna pak Diman lebih dulu menahan lengan itu dan menjelaskan.


"Arga itu bukan siapa-siapa Wo, dia tetangga baru kita diujung sana, dirumah bekas Ki Jarwo, tadi kita kesana karna diundang acara mendo'a mereka baru pindahan dan istrinya sedang hamil,tapi semua kacau, bapak gak jadi mencicipi rendang yang tampak menggiurkan karna kehadiranmu disana! " lalu Pak Diman duduk disofa tunggal dekat Winda.


"Pak, Mas Dewo loh gak percaya,kita tadi dari rumah mas Arga jalan bareng bertiga kan pak? "


"Iyo, lah ngopo? Dewo ora inget, emang kepentok opo ndase kok langsung ilang ingetan? " sahut Pak Diman sambil menyulut sebatang nikotin, gayanya persis Dewo. Wong bapak e hiihii.


"Aku semenjak datang dan sampe gak ada kemana-mana pak e! " jawab Dewo.


"Maksud te? " Pak Diman menoleh dan menghirup habis asap rokoknya tanpa menyisakan sedikitpun diudara.


"Iya Mas Dewo sedari tadi dirumah aja pak, gak kemana-mana, terus yang jalan bareng kita tadi siapa ya pak? " Winda langsung mepet pada Dewo, yang didekati merasa risih justru malah bangkit dan berdiri didepan pintu depan yang terbuka lebar. Pak Diman tampak berfikir.


"Jangan-jangan jelmaan gondoruwo dirumah itu? " ujar Buk Lia.


"Lah,moso sih Buk? " Pak Diman nampak terkejut sekaligus merinding, karna dia tadi sempat menampar dan memarahi Dewo dirumah itu, pantas saja tadi Dewo yang ada disana tidak melawan saat pak Diman melakukan kekerasan,ternyata hanya jelmaan. Pak Diman bergidik ngeri.

__ADS_1


"Merinding buk! "


"Oya le, lah kamu ngopo kok balek, bukan e nunggoni mbak mu, kok malah balek, mbak mu lagi sakit loh le! " ujar Buk Lia.


"Aku capek buk, mbak Dewi marah-marah terus, karna uang kami sudah mulai menipis, mbak Dewi juga gak bisa lepas dari barang ha*am itu buk, bahkan dia sampe jual diri buk untuk bisa dapatkan barang itu! " jelas Dewo lalu mengacak rambutnya yang sudah kelihatan gondrong itu.Tampak tidak terurus sekali.


"Aku juga takut buk, semakin lama sembunyi bakal ketahuan juga kedok kita! "


"Huuss ngomonge ojo kenceng-kenceng,nanti kalo sampe warga tau abis kita semua, Arum bagaimana ?" sementara itu mereka tidak menyadari ada sebuah kamera kecil yang terus mengintai mereka dan menangkap semua yang mereka bicarakan.


"Aku juga capek kayak gini terus mas, harus berjauhan dari kamu, harus kenak fitnah aku merebut kamu, jelas-jelas buku nikah sudah aku tunjuki tapi warga tetap saja gak percaya, apalagi sudah 3bulan ini mas Dewo gak ada ngirim uang, strees aku Mas? " liquid bening itu pun berhamburan keluar dari netra Winda, ntah itu benar-benar dia merasa sedih entah hanya sekedar akting, meskipun Dewo tidak memberinga uang selama 3bulan terakhir ini,namun Pak Diman rutin memberikannya tapi semua itu tidak gratis.


*****


Pagi itu Winda mengacak-ngacak seisi dompet dan tas nya, mencari sesuatu yang sekiranya masih terselip atau pun tersisa. Arum yang menanti diteras depan sudah mulai menangis.


"Buk, nanti Arum gak bisa ujian kalo uang sekolahnya gak dibayar, sudah nunggak 3 bulan! " adunya buliran kristal itu terus mambasahi pipi mulusnya yang hitam manis tapi terawat, alih-alih mendapatkan apa yang dipinta nya tapi justru dia hanya mendapatkan bentakan dan omelan dari ibu nya.


"Sabar to nduk, kamu fikir duit tinggal apa? Ayahmu gak ada ngirim sudah 2bulan ini, coba ngertiin ibu dikit, kamu itu sudah gede! " omelan Winda dengan suara melengkingnya yang persis suara petasan cabe. Arum yang terus menangis melangkah gontai tetap berangkat kesekolahnya, namun baru beberapa langkah dia berjalan tiba-tiba Pak Diman, mbah kakung nya memanggil.


"Ruuum,tunggu sek! "


"Iyo mbah! " jawab Arum menoleh.


"Lah ngopo kok nangis?" yang ditanya gak menjawab justru malah menundukkan wajahnya dalam sehingga Pak Diman tak dapat melihat dengan jelas raut wajah cucunya.


"Ayo cerito karo Mbah, ono opo? " ucap Pak Diman sambil mengangkat dagu Arum dengan satu jarinya.


"Arum mau bayar uang sekolah Mbah, tapi Ibuk gak punya uang, kalo gak dibayar Arum gak bisa ikut ujian mbah! " sahutnya masih terus berlinang air mata.


"Yo wes, yo wes ndak usah nangis lagi, nanti mbah kakung carikan,yo wes sana berangkat sekolah dulu besok bayar uang sekolahnya, berapa semua uang sekolahnya nanti mbah kakung carikan! " jawab Pak Diman sebenarnya agak terkejut, dia sangat menyayangi Arum cucunya, tapi entah kenapa dia terus merasa kesal pada Winda yang gaya hidupnya seperti orang kaya tapi kenyataannya Dewo kembang kempis mencari uang.


"Yo uwes, ni untuk jajan sama ongkos, ojo nangis lagi, isin wes gede iki kok! " ujar Pak Diman lagi lalu menyodorkan uang dua puluh ribuan kepada cucunya.


"Suwon yo mbah, janji yo mbah carikan uang sekolah Arum! " ia menerima pemberian mbah nya, yang tadinya sangat sedih seketika wajahnya berbinar meskipun jejak-air mata masih terukir jelas diwajahnya. Pak Diman hanya mengangguk dan mengelus pucuk kepala cucu kesayangannya itu, Arum mencium punggung tangan pak Diman dengan takzim.

__ADS_1


"Arum pergi sekolah dulu ya mbah! "


"Yo hati-hati nduk! "


__ADS_2