
'Tok tok tok'
'Tok tok tok'
Deg,darah berdesir gamang.Yura mempererat genggamannya pada jemari Arga.Pandangannya beralih pada Adrian.Keringat mulai mengucur disekujur tubuhnya,entah kenapa Yura merasa sangat takut karena tawanan para hantu-hantu itu lepas.
"Ok,gue yang buka"bisik Adrian seraya bangkit menuju pintu.
'Tok tok tok tok tok tok tok'
Suara ketukan itu pun semakin beruntun,Adrian mengintip dari sebalik gorden jendela yang terletak disamping pintu,namun sial ia tidak dapat melihat siapa yang berada diluar.Adrian segera ingin membuka pintu handle pintu sudab dipegangnya.
"Tunggu Adrian,biar gue lihat dulu siapa yang berada diluar"cegah Kunkun lalu ingin keluar,namun Yura memberikan kode tidak mengijinkan dengan menggeleng.
"Astaga Yura,lo lupa ya kalau gue ini hantu,H-A-N-T-U"Kunkun mengeja kalimat terakhirnya,ya Yura hampir lupa karena rasa paniknya tersebut sehingga dia lupa jika ia hidup berdampingan dengan mahluk kasat mata yang somplak.
'Suufffbleess'
Kunkun telah menembus dinding,tampak disebalik pintu seorang wanita paruh baya sedang menenteng tas yang lumayan besar,wanita itu tampak memencet-mencet ponselnya dan sesekali menempelkannya ditelinga lalu berdecak kesal,dan astaga bibirnya cacat,maaf itu sumbing.Telefon itu tampak tersambung dengan sambungan video call.
"Bagaimana Mak,sudah ketemu sama Bapak?"suara ditelefon itu bertanya.Wanita itu hanya menggeleng.Lalu tanpa sopan sambungan telefon itu diputuskan sepihak.
Kunkun masuk kembali.
"Hanya seorang wanita tua,sepertinya beliau sedang mencari seseorang,buka saja pintunya Ganteng"ucap Kunkun,Adrian dengan cepat memutar handle pintu yang sedari masih ia pegangi.Yura tampak bernafas lega.
'Ceklek'
'Krieeeetttt'
Pintu terbuka lebar,wanita itu tampak tersenyum dan mengucap hamdalah,kelihatan dari gerak bibirnya.
"Ehm,Emak cari siapa ya,masuk dulu Mak?"tanya Adrian sopan dan mempersilahkan wanita tua tersebut masuk.Adrian berlari kecil lalu membawa kursi dan mempersilahkan wanita itu duduk.
"Duduk Mak"wanita itu menurut.
"Maaf nak,emak kesini ingin bertanya"ucap wanita itu dengan ucapan yang kurang jelas karena bibirnya cacat,didaerah kami ini bilang 'bindeng'.
"Iya Mak tanya saja"jawab Adrian.
"Emak cari Kik Seno,kemaren dia pamit katanya mau kerumah Sintya keponakannya,yang rumahnya disebelah sana itu"dengan susah payah wanita itu berbicara dan menyelesaikan nya.
Mereka yang berada disana saling pandang,Yura lalu bangkit menuju ruang tivi,sesampainya disana Yura melihat Sintya dan Rose sedang bermain lumbung/congkak yang biasa dimainkan Alexa.
"Sin"panggil Yura,yang dipanggil pun menoleh.
"Ada Mbak?"jawab Sintya menghentikan permainannya sejenak,Rose juga segera berhenti.
"Lo kenal Ki Seno?"Yura to the point.Sintya memandang lekat Yura,lalu mengangguk.
"Ki Seno siapa lo?"tanya Yura lagi.
"Paman,tapi patut disebut paman Mbak,aku gak sudi mengakuinya sebagai paman"jawab Sintya geram dan penuh penekanan.
"Dibelakang ada seorang wanita parub baya mengaku sebagai istri Ki Seno,dan beliau sedang mencari Ki Seno"mata Sintya terbelalak membola dengan sempurna.
"Mbak tolong jangan beritahukan Aku ada disini ya,dan satu lagi,jangan terlalu percaya dengan wanita sumbing berotak picik itu"ucap Sintya berapi-api.
"Kenapa?"
"Mereka yang provokator agar Bapak dan Ibuk ikut pesugihan agar cepat kaya tanpa kerja keras Mbak,aku kira Bapak dan ibu tidak tertarik karena aku lihat gelagat Bapak dan Ibu tidak mencurigakan sama sekali,tapi ternyata Bapak dan Ibuk justru menumbalkan aku juga Mbak,untung ada Mbak Yura dan yang lainnya,jika tidak entahlah nasib aku sekarang mbak"jelas Sintya.Yura sekarang tahu apa permasalahan nya.
"Okey,jadi gue harus apa sekarang?"tanya Yura.
__ADS_1
"Bilang saja Mbak tidak tahu dimana suaminya dan aku mbak"saran Sintya.
Yura kembali kebelakang,tampak disana hanya terdiam.
"Nah ini istri saya Mak,biasanya dia yang sering ketemu Sintya"ujar Arga.
"Ada apa sayang?"Yura pura-pura tidak mengerti.
"Anak tau Sintya dimana?"tanya wanita itu,dengan susah payah Yura mencerna apa yang diucapkan wanita tersebut karena kurang jelas.
"Sintya?"wanita itu mengangguk.
"Ehm,terakhir kali saya bertemu dia kemaren pagi Mak saat ingin bersama-sama pergi belanja kewarung,dan hari ini saya belum ada ketemu Mak,ada apa itu ya Mak?"tanya Yura kembali setelah iya mengarang cerita tidak bertemu Sintya.Arga dan Adrian menatap heran Yura,mereka terkejut mengapa Yura menutupi jika Sintya berada dirumah ini sekarang.Untung saja tadi ketika mereka ditanya-tanya tidak menjawab jika tidak mengenal Sintya karena mereka jarang dirumah.Yura mencoba memberikan kode pada Arga dan Adrian dengan mengedipkan matanya berulang kali,lau ketika wanita itu menatap Yura,Yura segera mengucek-ngucek matanya.
"Jadi kalian semua tidak melihat kemana Sintya pergi,dan rumahnya juga kosong tidak ada siapapun,kedua orang tuanya juga entah kemana"ucap wanita itu payah,namun tetap mengucapkan kata demi kata.
"Bener Mak,suami saya jarang dirumah sibuk bekerja dan ini paman saya baru 2hari berkunjung kemari"jawab Yura sembari tersenyum.
"Oo baiklah,terimakasih ya Nak sudah bersedia mendengarkan Emak"jawab wanita itu seraya beranjak dari kursinya.
"Emak mau kemana"ucap Yura berdiri ingin membantu wanitu itu berdiri karena terlihat kepayahan.Tapi wanita itu terus menatap tajam kearah perut Yura yang membuncit.Yura tampak risih lalu menutupnya dengan kedua tangan dan menarik tangan Arga.
"Bang tolong bantu ibu ini berjalan kedepan,tiba-tiba saja perut Mami mules kayak mau buang air"alibi Yura lalu bersembunyi dibalik tubuh kekar Arga.Arga menurut.
"Emak dengan siapa datang kesini?"wanita tersebut terkejut lalu mengalihkan pandangannya kearah lain.Arga mengantar wanita itu hingga keujung jalan,disana tampak seorang remaja sedang duduk diatas motor matic,saat melihat Arga dan wanita itu ia segera berlari mendekat.
"Sudah nek?"tanya nya lalu menggamit lengan wanita itu.
"Adik yang membawa Emak kesini?"tanya Arga.
"Iya Bang,aku tetangga Nenek Tin,tadi nenek minta tolong antarkan kesini kerumah keponakan Kakek,tapi rumahnya kosong,sudah sejam kami memanggil tapu tidak ada jawaban,lalu nenek memutuskan untuk bertanya pada tetangga terdekat"jelas remaja itu.
"Kita pulang saja yuk Ren,kakek ndak ada,nduk Sintya juga ndak ada?"ajak wanita yang disebut Nenek Tin oleh remaja itu.
"Iya mbak,mereka semua pecundang"terdengar suara Sintya.
"Assalamualaikum"ucap Arga.
"Waalaikumsalam"jawab mereka serentak.Yura langsung menghampiri sang suami dan duduk disampingnya.
"Apakah Abang sudah melihat mereka benar-benar pergi?"tanya Yura.
"Iya,Nenek Tin bersama seoran remaja,katanya sih tetangganya,dipanggil Ren gitu tadi"
"Itu Rendi Ma,rumahnya tepat disamping rumah Ki Seno,diurus dari bayi sama Bik Tin,karena ibunya meninggal dunia saat melahirkan,saudaranya tidak ada yang mau mengurus,kebetulan Bik Tin dan Ki Seno tidak punya anak,ehm lebih tepatnya bukan tidak punya anak,tapi anak mereka selalu menjadi tumbal kekayaan mereka semenjak dalam perut"jelas Sintya panjang.
"Oo,pantes saja tadi saat wanita itu melihat perut gue langsung melotot"sahut Yura.
'Kruuuuukk'
Semua menoleh kearah Adrian. Adrian hanya nyengir sambil memegangi perutnya,lalu mereka tertawa bersama.
"Syuut,jangan kenceng-kenceng ketawanya,Rose sedang tidur"hardik Kunkun yang baru saja tiba dibelakang.
"Kita balik kebasecamp ya Ra"ijin Kunkun.
"No"jawab Yura cepat.
"Why"sahut Kunkun lagi,ia merasa heran,jika biasanya Yura terus saja mengusir mereka terus mengapa kali ini justru Yura menahan mereka tetap berada disini.
"Lo berdua istirahat digudang saja sana,atau diatas lemari depan kek, atau diteras kek"saran Yura.
"Ehm ya sudah,gue mau disudut lemari tivi aja deh"sahut Lola ngesot,ia pun mengesot kesana.
__ADS_1
"Kun lo diatas lemari tivi saja,jangan jauh-jauh,mulai hari ini dan seterusnya diantara kalian harus ada yang berada disini mau itu pagi siang dan malam, harus ada yang tinggal disini,sampaikan pada kawan-kawan, oke?"titah Yura,Kunkun hanya mengangguk lalu melayang menuju ruang depan,ia lebih memilih berbaring dibawah gorden jendela didepan.
Yura lalu menuju kulkas dan mengeluarkan beberapa sayuran dan ikan.Sintya pun beranjak untuk membantu Yura.Adrian dan Arga berbincang-bincang sambil menunggu masakan matang.
"Sudah pukul dua ternyata,tapi kenapa gue gak denger suara azdan zuhur ya"gumam Yura lirih sambil terus bergerak,perutnya juga merasa sangat lapar.Setelah selesai mereka semua menyantap hidangan tersebut.Lalu Yura mengecek luka Sintya,luka nya sudah sedikit kering.Sintya juga berniat pulang sore ini.
"Yakin lo berani dirumah sendirian Sin?"tanya Yura ketika mengantarkan Sintya dengan mengendarai sepeda motor maticnya,Rose berdiri didepan.
"Yakin kok Mbak,jika mbak khawatir aku minta dijaga juga dong sama mereka yang kasat mata,jika terjadi sesuatu sama aku,mereka kan bisa lapor sama Mbak Yura"saran Sintya,bagus juga.
"Boleh,nanti gue akan tugaskan teman-temannya Gindo jaga disini"ujar Yura memberhentikan motornya tepat didepan rumah Sintya.Sintya mendorong pintunya tidak terkunci,rumah tampak rapi dan wangi.Yura hanya melongok didepan pintu tidak berniat untuk masuk.
"Sin,gue langsung pulang saja ya,belum mandi ni"seru Yura.
"Okey Mbak,terimakasih ya"Sintya membuka lebar daun pintu tersebut.
***
Malam ini Arga kembali masuk bekerja setelah cuti 1hari.Yura merebahkan tubuhnya pada sofa didepan televisi,Rose setelah makan tadi sudsh tertidur kembali dikamar.
"Rian,gue kok kepengen makan bakso ya"ucap Yura,Adrian tidak menggubrisnya tatapannya tetap fokus pada layar datar didepannya.
"Riaaan?"rengek Yura.
"Iya,apaan sih Ra?"jawabnya malas tanpa memandang Yura,Adrian juga asyik mengunyah keripik balado khas Sumatera Barat itu.
"Ihk,kok gak ada sayang-sayangnya sih sama ponakan dan calon cucu"Yura memberengut kesal karena respon Adrian yang cuek.Adrian bangkit dari duduknya lalu duduk tepat disamping Yura dan mencubit pipi Yura yang sudah mulai berisi.
"Iya,apa,apa keponakan gue yang bawel"tanya Adrian sangat menggemaskan.
"Yura mau bakso mercon yang diSido dadi itu"mulut Yura manyun.
"Ada syaratnya"ujar Adrian.
"Ihk kan gak ihklas"teriak Yura,Adrian terkekeh melihat tingkah kekanakan Yura,sambil menggebuki Adrian pakai bantal sofa.
"Panggil gue (Adrian,paman gue yang sangat tampan,plis beliin gue bakso dong)"ucap Adrian sambil menahan bantal yang terus menerus mendarat dikepalanya.
"Ogah"
"Ya sudah jika gak mau,paman lo yang ganteng ini juga gak mau beliin bakso"Adrian melengos dan berjalan kebelakang.Yura mengikutinya dan menggamit lengan berotot Adrian.
"Paman gue yang tampan beliin gue bakso dong"ucap Yura sambil menggoyang-goyangkan lengan Adrian.Adrian tertawa puas.Tangan Yura juga dengan lihai mencubiti perut Adrian,saat mereka asyik bercanda tiba-tiba saja.
'Bluk duk bluk duk bluk duk'
'Yihaaa'
'bluk bluk bluk dug dug dug'
"Asyek kita nemu tempat baru ni,kok bisa sih kita sampai disini"ujar seseorang.
Adrian dan Yura menghentikan aksinya,mereka jalan berjinjit menuju pintu samping.Siapa mereka?
Gelap.
"Astaga gue lupa ngidupi lampu"bisik Yura ditelinga Adrian nyaris tidak terdengar.
"Yiiihaaaaa,lanjuuuu"
"Gaskeuun"
'Bluk bluk dug dug,bluk bluk dug'
__ADS_1