
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa hampir setahun dia bekerja. Dia sudah bersiap2 untuk mendaftar kuliah, dia memilih mengikuti pendidikan di Universitas Terbuka. Dia memilih itu agar masih tetap bisa bekerja.
Semenjak bekerja Elia jarang bertemu dengan ayah dan ibu tirinya. Tapi dia tetap berusaha berkomunikasi lewat telepon.
tut....tut....tut...
Elia sedang mencoba menghubungi ayahnya. Lama tidak diangkat. Elia menelpon Ayahnya di tempat kerja. Ya, ayahnya masih bekerja di rumah orang tua Arya.
"halo..mau bicara dengan siapa ya???" tanya seseorang di sebrang telpon.
" maaf bisa saya bicara dengan Pak Zani? ini anaknya Elia..."
" oh ya sebentar saya panggilkan.."ucap sosok itu.
setelah beberapa saat...
"hallo nduuuk...apa kabar kamu? sehat sehat aja kan?"
" iya Ayah..aku sehat wal afiat ko...Ayah juga kan? ibu gimana?" tanya Elia antusias.
" semua sehat jg nduk..kamu hati hati ya disana..kapan kapan pulang Ayah kangen..." pinta sang ayah.
__ADS_1
" iya Yah..tapi ga di waktu dekat ini, El lagi persiapan masuk kuliah..."
" yaudah semoga semua lancar..jangan lupa bahagia ya nduuuk..." ucap sang Ayah sambil menitikan air mata.
" Oia nduuuk...Mas Arya sepertinya mau pulang minggu ini..." ucap sang Ayah tiba tiba.
deg..deg..
" oh gitu....yaudah Yah..El mau kerja dulu..sehat sehat ya Yah..." Elia berpamitan pada Ayahnya. Dan telepon pun terhenti.
Sebenarnya Ayahnya masih merasa sangat bersalah. Karena dia lah, hubungan Elia dan Arya putus. Jauh dilubuk hatinya tetep menginginkan Elia bisa bahagia dengan Arya. Karena dia tahu Arya itu sangat baik dan tulus menyayangi Elia.
Tak terasa cairan bening jatuh dari pelupuk matanya. Bayangan Arya tiba tiba melintas dalam benaknya.
" Ayah ini bikin aku jadi deg degan dan tidak tenang..." gumamnya.
Dengan langkah tergesa gesa Elia datang menuju tempat kerjanya. Agaknya dia sedikit terlambat.
" Sayaaangku..kenapa terlambat???" tanya Prass melihat Elia ngos ngosan lari untuk absen dan check clock .
" Pak, ko kumat panggil gitu lagi..." cerocos Elia memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
" Lho emang aku sayang kamu ko. Kamu ja yang masih selalu cuek dan menggantung perasaanku..sebenarnya kurangku apa sih..ganteng iya..mapan iya...baik hati dan tidak sombong juga...." celetuk Prass sambil cengar cengir. Dan hanya ditanggapi dingin Elia.
Elia selalu bersikap cuek karena tak mau memberi harapan palsu untuk Prass. Dia merasa tidak akan adil untuk Prass jika dia menerima lelaki itu tapi hatinya masih untuk yang lain. Sudah berkali kali Prass menyatakan cinta tapi Elia tak kunjung menerimanya. Alasannya masih ingin kuliah dan mengejar karir. Sedang Prass yang sudah dewasa berkeinginan untuk segera menikah.
Saat Elia sedang fokus mengepel lantai bagian ruang kedatangan tiba tiba menubruk seseorang.
bruuuugggg..!!!
Elia terjatuh menubruk seorang lelaki yang sedang menelpon. Lelaki yang tinggi gagah itu langsung berbalik melihat ke belakang. Dia memakai topi dan kacamata hitam.
"maaf Pak..saya tidak sengaja..." ucap Elia begitu berdiri sambil membungkukan badan. Suaranya agar bergetar keluar dari balik masker.
" Its oke.." jawab lelaki itu membuka kacamatanya. Mereka pun berpandangan.
deg...deg...
Astaga Kak Arya!!! kenapa dia disini??? Dia masih sama seperti dulu. Hanya sedikit bertambah tinggi dan taaampaaan!!! Apa dia mengenaliku?? pastilah tidak, karena aku memakai topi dan masker. Lebih baik kalau dia tidak mengenaliku.
Lelaki itu segera berlalu meninggalkan Elia. Agaknya dia tergesa gesa mungkin karena sudah ditunggu yang menjemput di luar. Meninggalkan Elia yang masih mematung.
---akankah mereka bertemu lagi???---
__ADS_1