Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
pupus sebelum berkembang


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan sinar mentari yang lembut. Hangat menyentuh bumi seakan membawa harapan dan semangat baru untuk melangkah. Menggeser esok yang menjadi hari ini serta membawa hari ini yang akan menjadi kemarin. Putaran waktu yang akan selalu dan tak bisa tuk dicegah.


Dengan kesejukan embun pagi yang mulai hilang disapu mentari, Elia keluar dari rumah dengan semangat menuju tempatnya menuntut ilmu. Beberapa hari ini sekolah jadi tempat favoritnya. Disana dia selalu bisa bertemu dengan kekasih hatinya. Meski hanya sekedar tersenyum saat berpapasan hatinya sudah berbunga bunga. Mereka memang tidak ingin terlalu mengekspose hubungan mereka. Hanya sesekali mereka bertemu di belakang sekolah sekedar untuk ngobrol sepulang sekolah.


" El, mau aku anterin pulang ga?"...."sekalian aku mau ke bimbel, kan searah ma rumah kamu.."


" ga usah kak..kayak biasa aku jalan kaki aja..."jawab Elia.


" aku ga tega kamu jalan kaki terus..."


" gapapa kak..sehat malahan..." ucap Elia sambil mengukir senyum di wajahnya.


" Oia El, kayaknya mulai besok kita bakal susah ketemu deh..aku musti prepare ujian aku bulan depan..gapapa ya??" tanya Arya.


" Iya kak, gapapa..aku doain semua lancar ya..."


" Iya, makasih sayang..." bisik Arya sambil mengelus pipi Elia." yaudah yuk pulang...kamu langsung ke laundry?"


" pulang dulu kak..ganti baju.."


Tanpa mereka ketahui Tria mengintip dari balik tembok. Amarahnya seakan tidak terkendali. Namun, ia tak ingin terlihat oleh Arya. Dia tak mau mendapat citra buruk dari Arya.

__ADS_1


" Awas kalau sampe rumah El sialan...!" gumamnya memukuli tembok dengan kepalan tangannya.


Di rumah....


" siiiaang kak.." sapa Elia melihat Tria di teras. Tria tidak merespon. Elia mengangkat kedua bahunya dan berlalu menuju kamarnya.


tiba-tiba....


"asap apa ini!" teriak Elia melihat gulungan asap dari balik jendela kamarnya. Ia langsung berlali keluar, didapatinya Tria sedang membakar sesuatu.


"jaaaangaaaan kaaaak...!"..." itu foto foto ibu...hanya itu kenangan ibuku kaaak..hiks hiks..." isaknya. Kakinya lemah seketika ambruk di samping kobaran api itu. Album foto foto lama kenangan sang ibu habis dilalap si jago merah.


"kakak keterlaluan!"


meninggalkan Elia.


Memang acapkali Tria memergoki Elia bersama Arya dia akan selalu berbuat jahat di rumah. Bahkan pernah dia membakar buku PR Elia. Namun Elia hanya bisa pasrah. Kini dia bingung harus bertahan atau melepas cintanya yang baru tumbuh ini.


Ayah Zani geram mengetahui kejadian itu. Akhirnya dia membuat keputusan.


"aku harus segera mengakhirinya sebelum Elia tambah menderita.." batinnya.

__ADS_1


Beberapa hari berlalu Elia benar benar ga pernah bertemu Arya. Meski satu sekolah entah kenapa ga bisa sekedar berpapasan. Mau telfon atau kirim pesan dia ga punya hp.


Tiba - tiba ada sosok lelaki yang menghadang langkahnya. Saat ia menatapnya..deg.


" kak Arya..ngagetin aja.." ucap Elia. Matanya berbinar seakan kapal rindu yang beberapa hari terombang ambing kini menemukan pelabuhannya.


"nanti pulang sekolah ketemu di tempat biasa.." ucap Arya dingin. Tidak hangat seperti biasanya.


Elia hanya mematung, bingung apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya itu.


kriiiiiing...


Bel tanda berakhir pelajaran telah berdering. Elia sudah menunggu di tempat yang dijanjikan. Arya datang terlambat, padahal tak pernah terjadi sebelumnya.


" maaf menunggu El.."ucap seseorang tiba tiba.


"gapapa kak.." Elia menoleh sambil tersenyum.


" El, aku mau kita putus." ucap Arya.


deg...deg...

__ADS_1


Tak ada kata kata apapun dari mulut Elia. Bibirnya mengatup tak mampu berkata kata. Bahkan sekedar mnanyakan alasan pun tak sanggup. Bulir bulir air dari matanya menetes deras, padahal sekuat hati dia tahan. Dadanya terasa sesak. Akhirnya dia berlari pergi menjauh.


Ternyata kau memang hanya sebatas embun pagi yang hanya memberi kesejukan sementara. Matahari akan tetap menghapusmu. Kak Arya kenapa kak?????


__ADS_2