
Langit sore di kota kecil ini sungguh berbeda dengan di Ibu kota. Aku selalu menyempatkan waktu meski hanya sebulan sekali untuk kesini, kalau lagi senggang bisa seminggu sekali. Hatiku sudah lama bertaut di kota ini, kota kecil bersahaja yang jadi tempat tinggal belahan jiwaku. Permainan kehidupan yang telah merenggut kebersamaan kami, hingga aku tak bisa dan lebih tepatnya tidak berani untuk menemuinya. Sosok tercinta yang sudah kusakiti sedemikian dalam dan aku yakin luka itu masih ada dan tak mungkin hilang begitu saja.
Sudah 2 jam aku menunggu di depan sekolah tempat Elia mengajar. Hatiku berdegup kencang tiap memikirkan akan bertemu dengannya. Seorang janda dengan 1 anak yang tetap mempesona, meski janda tapi aku yakin banyak lelaki yang mengharapkannya. Namun, sampai 3 tahun ini dia masih betah menjanda entah karena belum bisa move on atau karena masih memendam rasa sakit dan kecewa . Dia hanya fokus membesarkan Zidan, anak lelaki satu satunya. Aku yakin Zidan pasti bahagia dibesarkan oleh sosok Ibu seperti Elia. Andai aku masih bersamanya.
" Tuan, kenapa anda tidak masuk dan langsung menemui beliau saja?"...sopir sekaligus asistenku ini selalu mempertanyakan hal yang sama tiap aku ajak ngetem disini.
" Belum waktunya...cukup melihatnya saja sudah mengurangi rasa rinduku...cukup melihatnya bahagia dan selalu tersenyum...oh, Elia aku benar benar merindumu...." jawabku lirih.
__ADS_1
Sopirku hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin heran dengam sikapku. Saat menghadapi klien dan kolega bisnisku aku bisa sangat tegas dan berwibawa tapi begitu dihadapkan dengan sosok Elia aku keder dan gugup.
Tepat pukul 3 sore Elia keluar dari area sekolah. Menggunakan motor matic yang sudah agak usang membonceng jagoan kecilnya. Tanpa diberi aba aba, sopirku langsung melesat mengikutinya. Berkali kali dia menengok ke belakang, mungkinkah dia tahu kalau kami membuntutinya???
Dia memacu kendaraan begitu kencang, sungguh aku khawatir, sangat khawatir. Sebenarnya dia itu kenapa.
"Tuan, nyonya berhenti masuk ke supermarket..." mobilku berhenti tepat di depan supermarket.
__ADS_1
Aku selalu mengiriminya uang tiap bulan, entah dia tahu atau tidak, aku tidak mau sampai dia kekurangan. Tidak begitu mencolok nominalnya, tapi lebih dari cukup untuk biaya hidup di kota kecil ini. Bahkan jika dia ingin membeli mobil ataupun motor baru nominalnya cukup. Tapi Elia tetaplah Elia, selalu sederhana dan tidak berlebihan dalam menjalani kehidupannya.
Kota kecil ini yang terkenal dengan monumen bambu runcingnya, kota tempat belahan jiwaku membesarkan buah hati kami. Ya Zidan adalah anakku, anak yang aku nanti nantikan. Tapi yang justru aku tinggalkan karena alasan krusial. Bayi mungil yang sudah beberapa kali aku gendong. Aku ayahnya tapi dia tidak begitu mengenalku, meski begitu aku diam diam selalu mengikuti tiap tumbuh kembangnya.
" Tuan, apa kita bisa kembali ke Jakarta sekarang? butuh 1 jam untuk sampai ke bandara... sedang penerbangan kita tinggal 2 jam lagi..." assistenku mengingatkan harus segera kembali ke kehidupan ibu kota. Mengingatkanku akan posisiku, seorang pimpinan sebuah perusahaan pertambangan. Bagaimana seorang Prass bisa terdampar jadi orang kaya yang teramat kaya itu??? itulah inti masalah hingga dia harus meninggalkan istri dan anaknya.Ada alasan yang mengharuskannya pergi seorang diri.
pov selesai.....
__ADS_1
Elia dan Prass, masih saling sayang tapi takdir tidak menijinkan mereka bersama. Apakah mereka memang tidak berjodoh?????
Kejutan apalagi yang akan mereka hadapi???? adakah sosok kelaki yang bisa menerima Elia da anaknya dengan tulus??ataukah dia akan kembali pada Prass? sang mantan yang masih sangat dia cintai.