Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
rasa itu masih ada


__ADS_3

Semburat rindu mengantar Elia dalam peraduan malam. Dalam angannya teringat akan malam malam panjang yang telah ia lalui bersama suaminya dulu. Saling mencumbu menyalurkan rasa dan saling menghangatkan diri dalam kebekuan malam. Oh....betapa aku ingin memelukmu Mas..aku merindukanmu... Elia bergumam dalam batinnya.


Elia kini menyadari betapa hatinya sudah terjatuh dalam cinta dan kasih sayang Prass. Sosok yang sudah 3 tahun lebih menemani hari harinya. Betapa sungguh kenyamanan selama ini yang ia rasakan hancur seketika oleh kekhilafannya sendiri. Hanya penyesalan yang ia rasakan. Terutama atas kehadiran janin dalam rahimnya yang tidak dipedulikan ayahnya. Betapa ia kasihan dengan calon anaknya itu.


Kini saat ia masih terpuruk, sosok masa lalunya kembali. Arya, yang dulu bertahun tahun menggantung hubungan mereka, hadir kembali mengorek luka lama. Luka yang hampir sembuh sempurna dalam perawatan dokter cinta pribadinya, Prass. Kini agaknya terbuka kembali.


--------------


Surya pagi mengepakkan sayapnya. Menyapu kesejukan embun pagi yang tertoreh pada tiap lembar dedaunan. Bersama waktu membuka kembali catatan lembaran kehidupan baru, menutup torehan cerita hari kemarin.


Elia sudah bersiap menyambut hari baru. Penuh semangat mengayun langkah menggapai asa mengais rejeki. Dia bertekad apapun yang terjadi ia akan berjuang untuk calon anaknya.


"Selamat pagi sayang...ayo kita berangkat kerja..baik baik ya, jangan rewel..." ucapnya sembari mengelus perutnya yang masih juga terlihat rata.


Begitu sampai kantor, Elia bekerja semestinya. Pagi pagi dia sudah menyerahkan jadwal hari ini untuk bosnya.

__ADS_1


" Maaf Pak, ini rencana jadwal hari ini..." ucapnya sembari menyerahkan tablet khusus yang berisi laporan harian Direktur.


Arya membaca dengan seksama, terlihat serius dan berwibawa. Elia merasa damai pagi ini. Bosnya sepertinya tidak rewel. Kopi yang sudah ia sajikan tadi tak lagi mendapat komplain seperti hari hari lalu. Bosnya itu juga terlihat kalem, tidak menunjukkan taringnya.


" El, tolong kamu reschedule ulang jadwal minggu ini..jangan sampai ada yang terlewat..." Arya berkata dengan lantang.


" Maksud Bapak?" Elia bingung.


" Aku tidak sengaja memformat ulang tablet itu, jadi file nya hilang...catatan harian minggu lalu juga hilang, tolong kamu rekap ulang..." Elia melongo. " Ayo cepat kerjakan, kamu itu aku gaji untuk bekerja bukan melamun..." imbuhnya.


Apa apaan ini, hasil kerjaku seharian kemarin terhapus begitu saja??? apa dia sengaja menghapusnya??? bener bener deh tuh orang...kalau bukan karena perjanjian kontrak menyebalkan itu, aku sudah pergi dari perusahaan ini. Batin Elia sambil membolak balik file yang musti ia catat kembali.


Arya tersenyum simpul, ia melihat dari balik kaca riben yang langsung menuju meja Elia. Ia bisa leluasa melihat gerak geriknya, tanpa Elia ketahui. Hatinya senang melihat Elia berwajah masam dan cemberut seperti saat ini.


" Kamu masih imut kayak dulu El... meski cemberut kamu masih tetap manis..." Arya tak jemu memandang ke arah wanita itu. Wanita yang telah mematahkan dan menghancurkan hatinya berkeping keping dulu.

__ADS_1


Arya bertahun tahun berusaha melupakan Elia, tapi itu benar benar sulit. Ia tak bisa benar benar tertarik dengan wanita lain. Kini dia memang sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis. Namun itu terpaksa ia lakukan karena gadis itu pilihan ibunya. Dia tak benar benar mencintainya.


Kini Elia hadir kembali, namun dalam keadaan rumit. Elia bukan seorang single maupun wanita menikah. Andai dia masih jadi istri orang, dia tidak akan mengusiknya. Tapi Elia datang dalam kondisi berbeda, tercampakkan suami namun belum resmi bercerai. Ia pun kini sedang hamil. Kalau saja dia sudah resmi jadi janda, Arya pasti akan berusaha mendapatkan Elia kembali.


" Rasa itu masih ada El...namun, kenapa kamu hadir dalam kondisi rumit begini...aku tak bisa memperjuangkanmu, namun tak bisa juga untuk tidak mempedulikanmu...aku bingung El..." gumamnya masih dengan tetap memandangi Elia.


Elia yang merasa seakan dipermainkan bosnya kesal bukan main. Bagaimana bisa bosnya itu menghapus hasil kerjanya seharian kemarin.


Cinta dan takdir memang bagai dua sisi uang logam yang tak bisa dipisahkan. Selalu beriringan meski tak bisa saling berhadap. Tak bisa juga untuk saling meninggalkan, selalu bersama. Cinta memang bisa berlabuh kemanapun, namun ia harus tetap mengikuti kemana arah takdir membawanya.


Elia dan Prass akankah cinta mereka adalah takdir mereka? Ataukah hanya pelabuhan sementara untuk salah satu berganti kapal?


Dan Arya, akankah takdir membawa cintanya kembali? ataukah cintanya selamanya tak kan jadi takdirnya???


lika liku kehidupan memang rahasia kehidupan. Yang kita harapkan kadang bukan Yang Kuasa berikan. Namun apa Yang Kuasa berikan adalah yang terbaik untuk kita...

__ADS_1


bersambung.......


__ADS_2