Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
harapan esok hari


__ADS_3

Malam ini terasa sunyi dan dingin. Mengantarkan masing masing orang ke dalam paraduan dengan damai. Setelah seharian bergumul dengan kehidupan dunia yang melelahkan, saatnya mengisi kembali daya kehidupan untuk esok hari. Tapi bagi gadis malang yang saru ini, Elia, ini jadi malam yang terasa sangat panjang.


Mata sembab cerminan kehancuran hati dan harapannya. Sudah berkali kali ia pejamkan matanya, namun tak kunjung terlelap juga. Ia berusaha ikhlas, ia berfikir mungkin ini memang yang terbaik. Ia tidak akan lagi bertengkar dan membuat kemarahan saudarinya lagi. Biarlah semua mengalir apa adanya. Dan setelah semakin larut ia pun memejamkan kedua matanya.


-------------


Sebulan telah berlalu sejak perpisahannya. Nyaris tak pernah bertemu ataupun berpapasan dengan embun paginya itu. Namun ia berterima kasih karena meski cuma sekejap dia telah memberi kesegaran hingga Elia merasakan apa itu bahagia. Biarlah semua menjadi kenangan manis dalam hidupnya.


" Melamun ja neng...." sapa Septi saat tiba di kelas. Membuyarkan lamunan Elia.


" Ah ga juga Sep...lagi mikirin......"ucapnya terhenti. Hampir dia keceplosan mengatakan sedang memikirkan Arya. Orang yang bahkan tidak memberi penjelasan karena telah memutuskannya. Orang yang harusnya ia benci namun tak mampu ia lakukan.


" Kak Arya ya...udahlah ga usah pikirin lagi. Dia juga udah pergi. Dia kan udah ke luar negeri setelah selesai UN..kayaknya dia stay disana buat kuliah..." lugas Septi mengagetkan Elia.

__ADS_1


deg...deg...


Benarkah Kak Arya telah pergi. Kenapa dia tidak perpamitan padaku. Semudah itukah dia melupakanku. Ataukah dia membenciku???? tapi apa salahku...Sungguh hatiku bagai teriris sembilu. Entah kapan aku bisa bertemu lagi denganmu kak. Cinta pertamaku yang hanya sebatas embun pagi, memberi kesegaran yang hanya sebentar.


" kamu nangis El???" tanya Septi melihat butiran bening menetes dari pelupuk matanya.


"sebegitu bencikah dia padaku, hingga pergipun tak pamit padaku. Aku salah apa Sep hingga diperlakukan begini...hiks...hiks..." rengek Elia.


" sudahlah El..tatalah kembali masa depanmu.. jangan biarkan masa lalu menghalangi masa depanmu...." titah Septi sambil menyeka lelehan air mata Elia.


setahun berlalu.....


" Lulusan terbaik tahun ini diberikan kepada siswi atas nama Elia Permata Nurani..." jelas kepala sekolah di akhir pidato kelulusan murid kelas XII tahun ini.

__ADS_1


" Alhamdulillah..." ucap ayah sumringah. Beliau menemani Elia di wisuda kelulusannya.


Dengan langkah mantap dan penuh kebanggaan Elia menuju ke arah panggung untuk menerima penghargaan. Setelah acara selesai dia menyalami dan mencium tangan gurunya satu persatu sebagai ucapan terimakasih atas semua ilmu yang diberikan.


" Selamat ya El..." ucap sahabatnya, Septi, sambil memberi pelukan hangat pada Elia.


" trimakasih Sep....ini semua juga karena dukunganmu..."


Setelah acara selesai mereka berfoto ria untuk kenang kenangan. Kemudian menjelang sore mereka pulang ke rumah masing masing.


Kak Arya, aku sudah lulus dengan sangat memuaskan sepertimu. Tahun lalu kamu jadi lulusan terbaik namun tidak datang di hari kelulusan. Karena kamu sudah di luar negeri. Sebenarnya aku berharap bisa untuk sekedar melihatmu. Terakhir bertemu saat kamu memutuskanku. Sesak rasa hati ini bila mengingatnya. Hmmmm...kau torehkan kebahagiaan dan rasa sakit bersamaan dan semua masih tersimpan dalam hati. Teramat susah dan sulit untuk melupakannya. Aku hanya selalu berdamai dengan hatiku agar tidak ada rasa dendam di dalamnya. Hampir tiap detik dia tak bisa membohongi hatinya. Meski hatinya terluka dan tersakiti dia tetap mencintai cinta pertamanya itu. Cinta yang hanya sebatas embun pagi.


Akankah embun pagi hadir lagi esok hari???

__ADS_1


--beri dukungan author terus ya😀--


__ADS_2