
Angin pegunungan berhembus lembut. Seakan menyeka air mata Elia yang sedari tadi meleleh. Ya, saat ini mereka sedang ada di Ketep pass. Tempat kenangan terindah Elia dengan Arya, si embun paginya. Prass hanya diam saja memperhatikan Elia. Dia tahu hati Elia sedang kalut, tapi dia tidak tahu ada permasalahan apa. Mau bertanyapun enggan, takut si empunya marah.
" El..sebenarnya kamu kenapa? kenapa tiba tiba lari dari acara?" tanya Prass serius. Yang ditanya masih diam hanya melayangkan pandangan ke depan. Melihat suasana hijau dengan latar belakang gunung merapi yang menyegarkan mata.
Pikiran Elia melayang jauh ke 2 tahun lalu, saat dia kesini bersama Arya. Betapa bahagianya dia saat itu. Kenangan manis itu benar benar tertoreh abadi di hati Elia. Meski kini dia harus mereguk kepahitan, karena yang dia sayangi itu akan segera jadi iparnya. Betapa dia merasa kemalangan selalu hadir di hidupnya.
" Mas, kamu menikah denganku?" tanya Elia tiba tiba.
"Apa El???"
" Kalau seandainya aku bilang begitu bagaimana..apa kamu mau menikah sama aku? aku pingin bahagia Mas, aku ingin lepas dari bayang bayang dia.." lanjutnya," Hatiku sakit tiap mengingatnya, apa dengan menikah aku bisa melupakannya?"
Prass mencerna tiap kata kata yang keluar dari mulut Elia. Dia mulai mengerti arah pembicaraan Elia.
Apa tadi Elia ketemu mantannya? mantan yang selalu membuatnya gagal move on. Mantan yang benar benar mengunci hati Elia hingga aku pun tak sanggup masuk ke dalamnya. Apa yang harus aku lakukan? harus menyerah atokah tetep bersama meski sakit karena cinta yang tak terbalas. Tapi bukankah witting tresno jalaran soko kulino??? cinta pasti akan hadir di hatinya meski hanya seujung kuku, asal aku selalu hadir menemaninya dan mengisi hari harinya dia pasti akan menyayangiku. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Aku akan bersabar menunggu hatimu, asal kau selalu ada di sisiku El.. gumamnya sambil merebahkan kepala Elia di bahunya.
__ADS_1
Lama mereka duduk berdampingan. Melayangkan pandang ke arah pemandangan hijau itu. Hingga kebekuan pun menyelimuti hati mereka.
"Oke El..kapan kita menikah?" tanya Prass mencairkan suasana.
"Haaaah...apa Mas?" jawab Elia kaget.
" Lha tadi kamu sendiri yang bilang mau nikah sama aku.. ya haayuuuk...aku dengan senang hati akan menjadi imammu..." ucapnya sambil senyum senyum. Yang ditanya malah cuma bisa bengong. Mengingat ingat apa iya tadi dia bilang begitu.
"Aaiiss, ada ada aja..aku masih 19 tahun Mas..besoklah kapan kapan heeeee...."
" Tapi El, aku udah 25 tahun ini..jangan lama lama ya...tahun depan ya..oke oke..."ucap Prass mengedipkan mata.
"Brati sekarang kita pacaran kan El....kamu beneran jadi kekasihku El?" Prass menggenggam tangan Elia.
" Entahlah Mas..kita jalani aja. Aku kayaknya ikhlas dia jadi calon kakak iparku..." ucap Elia datar.
__ADS_1
" maksud kamu?"
" Mantanku itu calon iparku itu Mas..makanya aku tadi kabur..daripada nangis bombay disana melihat mereka bertunangan." jelas Elia pada Prass.
" yasudah ayo kita pulang..kamu mau balik kos ato pulang ke rumah ayah?"
" ke kosan aja..."
----------------
Di sisi lain di rumah Pak Zani. Ada hal besar terjadi.
" Ini semua karena Eliiiiaaa!!!!" teriak Tria mengamuk membanting semua barang di dekatnya.
" sabar El...ini bukan kemauan Elia. Jangan kamu salahkan dia. Dia sudah selalu menderita selama ini. Dia selalu mengalah padamu." pinta Pak Zani menitikan air mata.
__ADS_1
---apakah yang telah terjadi di rumah itu???----
---bersambung--