Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
menemui Prass


__ADS_3

Elia meyakinkan dirinya apa yang mertuanya katakan kemarin itu tidak benar. Ia yakin Prass tidak mungkin sebegitu mudahnya melupakannya. Elia tahu perasaan Prass selama ini bukanlah kepura puraan. Ia yakin Prass tulus mencintainya. Kalaupun memang Prass sudah menikah kembali, dia akan menerimanya. Yang Elia pikirkan sekarang hanyalah anak dalam kandungannya. Elia ingin ayahnya mengetahui keberadaannya dan mengakuinya. Elia tak mau anaknya lahir tanpa keberadaan ayahnya.


"Aku akan menemuimu langsung Mas, aku ingin bertanya apa maksud ucapan ibu kemaren...apapun yang terjadi kamu harus tahu tentang bayi kita, buah hati kita.." gumamnya pelan.


Elia kembali menyesali keputusannya untuk meninggalkan Prass, andai waktu itu Elia tahu sudah hamil dia tidak akan gegabah pergi dari rumah. Penyesalan memang selalu datang terlambat.


-----------


Belum tengah hari, Elia sudah sampai di tempat kerja Prass. Dia menuju kantor Prass namun nihil, tak ditemukannya sosok suaminya disana. Dia hendak bertanya ke teman kerja Prass namun seseorang lebih dulu menyapa.


" Elia...kamu kenapa kemari?" tanya seseorang yang memakai seragam seperti punya Elia dulu.


" Oh, Tyas...apa kabar kamu...aku nyari suami aku..."


" Aku baik...loh mang kamu ga tau Pak Prass sudah resign dari seminggu lalu..." ungkap Tyas. " Tapi aku ga tau apa alasannya..." imbuhnya.


Elia tertegun, kenapa Prass tiba tiba berhenti. Mungkinkan ada yang terjadi pada suaminya.


" Gitu ya.. yaudah Yas aku pamit dulu..." Elia beranjak pergi. Ia sekarang akan menuju ke rumah Prass.


Beberapa saat kemudian, dia sampai tempat Prass. Belum sempat turun dari taksi online yang ia tumpangi, ia sudah melihat pemandangan yang mengiris iris hatinya.


Prass ada di teras. Berpelukan dengan sosok wanita yang sangat Elia kenal. Dokter Sandra!


Air matanya tak bisa lagi terbendung. Dia tersedu sedu di dalam mobil. Dadanya sesak, kerongkongannya seakan susah tuk menelan. Ingin rasanya meraung raung, tapi dia masih punya malu. Pak sopir melihat dari spion depan.


"Mbak, kita sudah sampai..." ucapnya.

__ADS_1


" Putar balik saja Pak, kita ke alamat ini...." Elia menyodorkan sebuah kertas ke sopir itu.


Ambyar semua harapan Elia. Hati dan perasaannya luluh lantak. Bayangan untuk bisa bahagia dengan Prass suaminya semua hancur. Dia tahu ini semua kesalahannya. Elia kini sadar Prass bukan lagi miliknya.


Mas, benarkah semua telah berakhir. Aku tahu ini semua salahku. Andai aku tidak meninggalkanmu. Andai aku bersabar sebentar menghadapi ibu. Mungkin belum saatnya untukku mendapat kebahagiaan sejati. Aku berjanji akan merawat dan membesarkan anak kita dengan baik. Ini adalah kenangan terindahku darimu. Maafkan aku Mas, terlambat menyadari rasa cintaku yang sangat besar kepadamu. Selama ini yang kutahu aku hanya wajib melayanimu sebagai seorang istri. Tak pernah terbesit bahwa cinta itu telah lama tumbuh dalam hati.


Kini saat aku melihat kau bersanding dengan wanita lain, hatiku benar benar hancur. Ragaku lemas seakan tak bertulang. Aku memang bodoh telah melepas mutiara seindah dirimu. Ini hukuman untukku. Untuk istri durhaka yang telah meninggalkan rumah suaminya tanpa ijin suaminya.


Semoga kamu bahagia Mas..... Elia terbenam dalam fikirannya sendiri sembari terisak isak.


-----------


Elia sudah sampai ke alamat yang ia tuju.


ting..tong...


" Elia...." sapa orang itu lalu memeluk Elia dengan erat. "Kamu apa kabar? lama kamu menghilang. Berkali kali suamimu datang mencarimu...." imbuh wanita itu.


" Benarkah? Prass mencariku?" jawab Elia ragu.


" El, dia selalu mencintaimu...kamu kok tega ninggalin dia." ujar Septi sembari menyuruh Elia duduk lalu mengambilkan minum.


Elia kembali termenung.


" Tapi dia sekarang sudah bersama orang lain Sep. Aku melihat sendiri dia bermesraan dengan dokter Sandra..." Elia berkata dengan mata yang berkaca kaca. Ia lalu menyerutup teh yang sudah Septi siapkan untuk membasahi kerongkongannya yang sedari tadi merasa kering kelu.


" Tidak mungkin El... Prass tidak mungkin semudah itu melupakanmu..." Septi lalu memeluk Elia lagi. " Kamu sudah bicara dengannya? siapa tahu kamu salah paham..." Septi mencoba menasehati Elia.

__ADS_1


Elia kembali temenung. " Aku sudah mencoba menghubunginya tapi dia tidak meresponnya. Aku mengirim chat, sms dan email tidak di balas. Aku telfon yang angkat malah ibu mertua...hmmmmm...kamu taukan semenjak aku ga hamil hamil beliau jadi sinis..." papar Elia sambil reflek mengelus elus perutnya


Septi menyadari sesuatu. Tak pernah dia lihat sahabatnya sedown itu.


" kamu hamil El? " Septi mengernyitkan dahinya. Elia hanya mengangguk.


" Alhamdulillah..selamat ya El..." Septi kembali memeluk Elia.


" Tapi sayangnya ayahnya mungkin ga akan pernah tahu..hiks..hiks..." Elia tak bisa menahan tangisnya. Mereka kembali perpelukan.


ooooeeeek....ooooeeeek...


Terdengar suara bayi menangis dari dalam.


" Bentar ya El, aku lihat bayiku dulu..." Elia kembali mengangguk.


Beberapa saat kemudian, setelah disusui bayinya kembali tidur. Septi lalu menuju ruang tamu namun Elia sudah tidak ada disama. Hanya ada secarik kertas yang tertindih cangkir teh.


*Aku pamit Sep, terima kasih sudah mendengarkanku. Semoga kita bisa bertemu lagi dengan keadaan yang lebih baik lagi. Kamu adalah teman terbaikku..


Elia*.


"Kamu ko sukanya main pergi gitu sih El.." gerutu Septi. Dia paling tahu Elia itu sosok yang benar benar menghargai privasi orang lain meski dia kesannya jadi seenaknya sendiri.


Semoga kamu bisa dapat kebahagiaan sejatimu El... batin Septi.


oke reader bagaimana selanjutnya ya...jangan lupa dukung author ya....

__ADS_1


---bersambung.....


__ADS_2