
Prass dan Elia sudah pulang ke rumah orang tua Prass. Sebenarnya Prass mau pulang ke rumahnya sendiri tapi Ibunya melarang. Sudah lama Prass membeli rumah di salah satu area perumahan di kota Jogja. Ibunya ingin dekat dengan Elia, agar bisa saling mengenal, karena memang mereka belum terlalu akrab.
" Bagaimana kabar kalian?"..." Kira kira pesenan ibu dah jadi belum ya?" tanya Ibu.
" Maksud Ibu?" Prass balik tanya.
" Cucu...."
Uhuk..uhuk...uhuk...
Elia tersedak saat makan, karena kini mereka memang sedang mengobrol di meja makan. Wajah Elia memerah.
Buru buru Prass memberi Elia minum.
" Hati hati makannya..." ucap Prass sambil mengusap kepala Elia. Elia hanya mengangguk dan diiringi sunggingan bibir Ibu. Ibu Prass sangat bahagia dengan pernikahan ini. Dia berharap bisa segera dapat cucu.
" Sabar bun, baru juga seminggu..besok aku kasih cucu yang buanyak buat Ibu.." Prass berkata sambili melirik Elia. Elia hanya menunduk, malu. Hatinya merasa tidak enak dengan obrolan soal cucu ini.
Gimana bisa cepet hamil bun, nih mantumu belum mau aku sentuh. Sebenere aku juga sudah ga tahan ini. Kalau saja dia mau aku sentuh, mau aku kurung dia seharian aja di kamar. Aku mampu ko muasin dia berkali kali...hehehe... batin Prass sambil senyum senyum sendiri.
" kamu kenapa Mas?" tanya Elia heran.
" gapapa ko..yaudah yuk kita jalan jalan...aku cuma libur seminggu kita manfaatin dong, ini sudah hari terakhir libur..." Elia hanya menganngguk. Mereka pun kemudian bersiap untuk pergi.
Kini mereka sudah sampai di salah satu mall di kota Jogja.
__ADS_1
" El, kamu mau belanja apa?" tanya Prass. Dia menggenggam tangan Elia erat, seolah sangat takut kehilangan.
" Kita jalan jalan dulu ja Mas.. kalau ada yang menarik baru kita beli..." jawab Elia menyunggingkan senyum manisnya. Otomatis si suami langsung meleleh di buatnya. Apa lagi melihat bibir ranum istrinya..hmmmm...pingin segera melahabnya. Tapi sayangnya ya begitulah....
Lama mereka keluar masuk outlet outlet yang ada di mall tersebut tanpa ada yang di beli. Akhirnya mereka memutuskan cari makan. Sampailah mereka di salah satu gerai fast food.
Mereka memesan lalu duduk menunggu. Tanpa mereka sadari ada sosok di pojok ruangan yang memperhatikan. Arya.
" Mas, aku ke toilet dulu ya..." ucap Elia.
" oke, mau dianterin?"
" ga usah Mas..." jawab Elia sambil tersenyum.
" heeeiii..ada apa ini..!" ucap Elia sedikit berteriak.
"Ikut aku sebentar..." ucap lelaki itu memalingkan wajah ke arah Elia.
"Kak Arya....." Elia menutup mulutnya yang menganga kaget dengan tangan sebelahnya.
Mereka berhenti, lalu Arya memeluk Elia erat.
" Jangan kak...lepaskaaan...." Elia meronta mencoba melepaskan diri. Namun tenaga Arya jauh lebih besar.
" Biarkan aku memelukmu sebentar."
__ADS_1
" Tapi kak...bagaimana ini..aku bersama suamiku..aku ga mau ada kesalahpahaman.." Elia bicara dengan nada memelas.
" kenapa kau menikah dengannya? apa kau mencintainya? kau sudah tidak mencintaiku?" Elia hanya diam dengan cercaan Arya.
" Relakan aku kak..kita memang tidak berjodoh..carilah kebahagiaanmu yang lain..kamu masih muda kak, pasti banyak gadis yang menyukaimu.." ucap Elia melepaskan pelukan Arya. Terbesit rasa bersalah karena memeluk lelaki lain, dia sadar ia kini sudah menikah.
" Tapi itu pasti sulit El..hanya kamu yang ada di hatiku..bahkan bertahun tahun sejak berpisah denganmu itu tidak mengurangi rasa cintaku sedikitpun..malah semakin besar..."
" Lalu kenapa kamu tak pernah sekalipun menghubungiku?" mata Elia berkaca kaca mengatakan perasaan penasaran yang selama ini ia pendam dalam hati. Namun Arya hanya terdiam. Betul dia memang tak pernah memberi kejelasan pada wanita itu.
" Cinta itu juga butuh kepastian, kalau saja kau minta aku menunggu..aku pasti akan menunggumu...tak peduli berapa lama...aku pasti bisa menjaga perasaanku.."...." tapi sekarang lain kak, aku sudah jadi milik orang lain, lupakan aku...ikhlaskan aku...aku mohon.." terang Elia hingga tak terasa bulir bulir kesedihan jatuh membasahi pipinya.
Pada akhirnya Elia mundur berbalik dan berlari menjauhi Arya. Kaki Arya melemas, dia bersimpuh dengan kedua tangan menutup wajahnya sambil sesenggukan. Malah mirip anak gadis yang diputus pacarnya. Hingga jadi tontonan tiap orang yang berjalan disitu.
Elia duduk kembali di meja makan.
" Ayo kita pulang....makanan sudah dibungkus." Ucap Prass datar. Elia hanya mengangguk, benaknya berkecamuk.
Mungkinkah Mas Prass melihat semuanya???? batin Elia diiringi suara jantung yang berdegup kencang.
**benarkah Prass melihat semuanya????
tetep dukung author dengan memberi jejak ya pembacaku tersayang...
bersambung**...
__ADS_1