Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
permintaan Ayah


__ADS_3

Detik berganti detik, menit berganti menit, jam pun mengikuti untuk terus bergulir dan berlalu mengikuti kodratnya. Tak terasa sudah sebulan lebih Arya pergi tanpa kabar sama sekali. Elia semakin dalam bergelut dengan fikirannya sendiri. Hari harinya berjalan biasa saja, aktifitasnya masih biasa hanya saja pandangannya tak bisa beralih dari layar ponsel. Kemanapun benda pipih kotak itu selalu dibawanya. Berharap kalau ada notifikasi masuk, entah sms atau chat dari pujaan hatinya.


Prass sesekali menemuinya sekedar mengajak makan atau ngobrol. Hubungan mereka sudah membaik, Elia menganggapnya sebagai kakak tempatnya bersandar. Namun jauh di hati Prass dia selalu berharap lebih. Dia belum bisa move on dari perasaannya pada Elia. Meski hanya bertepuk sebelah tangan, hatinya tetap setia berharap ada keajaiban. Padahal tiap hari ibunya selalu menyodorkan nama dan foto gadis yang akan dijodohkan dengannya. Ibunya bahkan ingin menemui Elia, mempertanyakan kejelasan nasib cinta Prass. Sebenarnya ibunya tak masalah Prass berjodoh dengan gadis manapun, yang penting cepat dapat cucu.


Elia sedang termenung memainkan ponselnya di teras kosan. Tiba tiba ada mobil berhenti. Sudah dipastikan Prass yang datang. Hati lelaki itu benar benar terpatri kuat pada sosok Elia. Segala cara sudah ia lakukan untuk memenangkan hatinya, hingga cara yang tidak terpuji sekalipun tapi sia sia. Sekarang dia ingin bermain cantik dan lembut. Dengan mengisi tiap kekosongan waktu Elia, dia berharap ada celah di hati Elia untuknya.


"Jalan yuk El..." pinta Prass sambil mengacak acak rambut Elia. Mirip kakak yang sangat menyayangi adiknya.


"Mau kemana sih..." tanya Elia


" Ya kemana gitu ngilangin suntuk kamu itu..oia kalau ketemu ibuku mau ndak? dia berharap banget bisa ketemu kamu, dari dulu pingin anak cewek..pasti seneng deh kalo kamu main..."


" hmmmm....." gumam Elia sambil memanyunkan bibirnya.


Belum sempat jawab ponsel Elia bergetar.


drreettt...drreettt....


" halo Ayah...ada apa ko telfon?" Elia mengangkat panggilan ponselnya.


" kamu pulang ke magelang ya..ada yang penting..."


" iya yah..." lalu Elia mematikan telfonnya.


" Mas anterin aku ke rumah ayah ya..katanya ada yang penting..." ujar Elia.


" Oke ...lets go beb..."

__ADS_1


Bibir Elia hanya manyun memdengarnya.


Sampai di rumah Ayah Zani.


tok....tok...tok...


" Ayah.. El pulang..."


" Ngapain kamu kesini?" sapa Tria tiba tiba keluar dari rumah. Melihat Elia bersama Prass dia mengerutkan kedua alisnya.


Ngapain Elia ngajak dia sih. Dulu pas kejadian itu aku dah janji buat bersikap baik sama Elia kalau tidak mau dilaporin polisi. Aku jadi ga bisa menindas Elia lagi. Gerutu Tria dalam hati.


" Ayah di rumah sakit, kamu temui aja disana..sudah opname 2 hari.." ucap Tria.


Akhirnya mereka pergi ke rumah sakit. Setelah turun mereka bertanya di bagian resepsionis dimana ayah Elia dirawat. Elia masuk ruangan perawatan dengan tergesa gesa.


" Ayahmu kena serangan jantung El..." ucap Ibu begitu masuk ruangan." Ada penyumbatan di pembuluh darah jantung akibat penumpukan kolesterol.." imbuhnya.


" Astaga...benarkah Yah???" butiaran air mata Elia semakin deras mengalir.


" Untunglah saat terjadi serangan Ayahmu segera ditangani jadi belum fatal..." Ibu Utri menghela nafas." Kalau ingin sembuh harus dilakukan operasi pemasangan ring jantung, kalau tidak akan sering kambuh." ucap ibu Utri pelan.


Baru kali ini Elia melihat gurat kesedihan dan kekhawatiran di wajah ibu tirinya itu. Dalam pandangan Elia, Ibunya ini sangat kejam dan tidak punya rasa kasih sayang. Tapi hari ini dia sangat berbeda.


" Kalau gitu operasi aja ya yah.. aku akan usahakan biayanya..." tegas Elia.


" Kau yakin sanggup membayarnya? 100 juta lebih El..." ucap Ibu meninggikan suaranya.

__ADS_1


Elia terdiam, seakan sesuatu menyumbat tenggorokannya hingga sekedar menelan ludah pun susah.


" Aku punya uangnya El..." ucap Prass dari arah belakang Elia. Elia menengok ke arah Prass. Elia terdiam memikirkannya. " kamu bisa menganggap sebagai pinjaman..." tambah Prass


" Tidaaak..." ucap Ayah Zani lantang.


" Kenapa Yah..aku akan membayar dengan mencicil..yang penting ayah sembuh..." kata Elia dengan mata berkaca kaca.


" Kecuali kamu mau menikah dengan Prass, ayah baru mau operasi..." ucap Pak Zani pelan. "Mungkin seolah ayah menjualmu, tapi bukan itu niat ayah, kalau kamu mau menikah dengannya meski ayah tidak jadi operasi Ayah akan pergi dengan tenang..."..." jangan harapkan Arya lagi, mungkin dia memang bukan jodoh kamu..jalan untuk kalian bersama teramat sulit...."


deg...deg...deg...


Jantung Elia berdegup kencang. Dia terkejut dengan ucapan ayahnya. Matanya melebar membulat karena kaget. Bagaimana bisa ayahnya meminta hal itu. Dia sama sekali tak menyangka ayahnya lebih memilih Prass daripada Arya, padahal beliau jauh lebih mengenal Arya.


" Maksud ayah apa sih.." gumam Elia pelan.


" Prass tulus mencintai kamu, sedang Arya apa yang bisa dia berikan selain membuatmu menunggu dan menunggu tanpa kejelasan..." imbuh Ayah Zani membuyarkan pikiran Elia.


Prass yang masih disana seakan tak percaya. Hanya diam terpaku karena tak kalah kagetnya.


Benarkah ayah Zani mempercayakan Elia kepadaku?!?....batin Prass.


**bagaimana kelanjutan kisah Elia???


dukung terus author ya pembaca yang budiman..tinggalkan jejak dengan like dan koment..


bersambung**....

__ADS_1


__ADS_2