
Sudah beberapa bulan Prass dan Elia menjalani program kehamilan, namun tak kunjung mendapatkan hasil. Ibu semakin uring uringan, Elia juga stres. Stres Elia ini jadi semakin menghambat usaha kehamilannya.
" Prass, ini bagaimana..Elia belum hamil juga, gimana kalau kamu nikah lagi aja..." titah Ibu gegabah.
pyaaaarrr...
Elia menjatuhkan gelas yang ia pegang begitu mendengar ucapan Ibu. Dia terisak trus lari menuju ke kamar.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini. Haruskah pernikahan yang belum genap 3 tahun ini harus berakhir?? jelas aku tidak rela di madu, aku tidak rela berbagi suami dengan wanita lain...kenapa mereka begitu tidak sabar, apakah Mas Prass akan menuruti kata ibu???? Elia bergumam dalam pikirannya sembari mengusap air mata yang tak henti mengalir.
Prass masuk ke kamar, berusaha menenangkan dan menghibur Elia.
"Sayaaang...jangan dengarkan ucapan ibu..kita bisa usaha lain, kita bisa coba bayi tabung..." ucap Prass menenangkan.
" Ibu tidak akan mengijinkan kita mengikuti program bayi tabung Mas, bukankah ibu sudah mengatakannya.." Elia menghela nafas panjang berusaha memberi angin segar untuk dadanya yang sesak.
Prass terdiam, dia sangat menghormati Ibunya tapi dia juga menyayangi Elia. Dia bingung harus bagaimana, untuk urusan menikah lagi tak pernah terbesit dalam benaknya untuk berpoligami. Meski dalam keluarganya, poligami bukan lagi hal tabu karena ibunya juga dinikahi ayah Prass dengan posisi sebagai istri kedua.
Elia semakin yakin posisinya sebagai nyonya Prass satu satunya akan terancam bila tak kunjung hamil. Dia tidak mau kehilangan Prass, karena hanya dia yang Elia punya. Orang tuanya sudah tiada, tidak mungkin dia kembali ke rumah ibu tirinya meski sebenarnya itu adalah haknya karena rumah itu peninggalan orang tuanya.
__ADS_1
Prass memeluk Elia yang masih sesenggukan, mengecup puncak kepalanya dan membelai rambut panjangnya dengan lembut. Elia terisak di dada bidang Prass, ia benar benar merasa nyaman berada di pelukan suaminya itu.
" Aku ingin tetap jadi satu satunya yang kamu peluk erat Mas, aku tidak rela ada yang lain memilikimu..." teriak Elia, namun hanya sebatas dalam hati.
Prass memegang kedua pipi Elia, mengusap sisa sisa air mata dengan ujung jarinya. Tatapan mereka saling bertemu.
" Jangan menangis lagi ya...semua pasti akan baik baik saja, Allah akan memberi jalan keluar terbaik..dan pada akhirnya semua akan indah pada waktunya..oke sayang..." Prass langsung mengecup bibir Elia.
Ciuman mereka semakin panas, dalam dan bergairah. Direbahkannya Elia di ranjang, dan Prass menatapnya dengan dalam. Ia rapikan anak rambut di dahi Elia. Dalam fikirnya ini cara terbaik menenangkan kegundahan sang istri. Heeeh...namanya juga jiwa lelaki.
" Mas saaayaaaang kamu El..." dengan senyum merekah menatap Elia. Mata lelaki kalau sudah penuh nafsu pasti kentara, Elia hanya tersenyum. Senyum yang semakin membuat Prass terlena api asmara.
" Sayang..Mas mencintai kamu, jangan pernah berfikir Mas akan meninggalkanmu..percaya Mas ya..." bisik Prass dan hanya dibalas Elia dengan anggukan kepala.
Hadirnya keturunan tidak bisa disegerakan ataupun ditunda. Semua adalah wewenang penuh sang pencipta. Meski mereka berdua divonis sehat namun sudah hampir 3 tahun belum juga dapat keturunan. Tapi kadang ada yang divonis mandul ternyata bisa hamil normal tanpa bantuan dokter. Semua itu kembali pada takdir sang pencipta.
----------------
" Prass, ibu sudah punya calon istri kedua kamu..." ucap ibu mengagetkan seisi rumah.
__ADS_1
" Apa? ibu serius? aku ga da niat menduakan Elia bu..." jawab Prass. Elia yang ada di sampingnya menunduk pilu. Serasa hatinya ditusuk sembilu. Nyeri dan sakit meski tak berdarah.
"El..kamu ijininn suami kamu menikah lagi kan? kamu mau berkorban demi kebahagian ibu dan suami kamu kan?" hardik Ibu. " Kamu harus sadar kekurangan kamu, kalau saja kamu bisa hamil Ibu akan sangat bahagia...hiks..hiks..." imbuh ibu dengan suara bergetar.
" Ibu...." ucap Prass pelan sembari memegang kepalanya.
" Iya bu, aku ijinkan..." teriak Elia sembari berlari menuju kamar.
hiks...hiks...hiks...
Ya Allah kenapa semua harus seperti ini. Belum lama aku mereguk kebahagian. Aku bisa menerima dan mencintai suamiku dengan tulus. Namun malah begini, aku tidak sanggup bila harus berbagi suami. Ya Allah berikanlah jalan terbaik untukku. Teriak Elia dalam hati sembari menangis terisak.
Elia berdiri mengambil obat obatan yang selama ini ia konsumsi untuk mempermudah proses kehamilan. Ia bawa ke lubang closed membuang dan mengguyurnya hingga habis.
" Tak ada gunanya aku memakan obat obatan ini lagi..." bisik Elia." Aku menyerah, sekarang aku pasrah..apapun keputusan kamu Mas..." imbuhnya.
***ketika cinta dan kesetiaan tengah di uji, bagaimana keputusan Prass???
----bersambung***...
__ADS_1