Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
malam pertama


__ADS_3

Setalah prosesi ijab qobul selesai, acara dilanjutkan dengan resepsi di sebuah hotel di kota jogja. Rombongan berangkat bersama sama. Semua urusan sudah diserahkan ke pihak WO, meski undangan tidak terlalu banyak, namun Prass ingin acara berjalan dengan meriah.


Sejam lebih Elia dan Prass berdiri di atas panggung. Menerima ucapan selamat para tamu. Terlihat teman Elia, Septi, menggandeng mesra Pak Dian, mantan bos Elia. Semenjak acara lamaran tempo hari Elia mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk fokus kuliah saja.


Elia menyunggingkan senyum melihat rombongan mantan teman teman kerjanya di kafe. Dia lega Septi bisa bersanding dengan lelaki idamannya.


" Selamat ya El..." ucap Septi sembari memeluk Elia.


" Selamat juga buat kamu..." bisik Elia di telinga Septi. Si empunya telinga hanya tersenyum dan pipinya bersemu merah.


" Jangan lupa titip bikinin ponakan yang lucu ya..." Ucapnya pada Prass dengan suara lantang. Prass hanya tertawa dengan mengacungkan jempol. Si Elia hanya mengkrucutkan bibir.


Jauh di ujung ruangan ada sosok yang intens memperhatikan mereka. Mata memerah dan tangan mengepal. Seakan ada amarah membara yang sekuat hati ia tahan. Arya!!!


Elia melihatnya, hingga saat pandangan mereka bertemu waktu seolah berhenti, jantungnya berdetak kencang hingga air matanya pun meleleh. Rasa aneh yang ia rasakan dalam hatinya. Kasian, marah, bahagia semua bercampur jadi satu.


Sejenak ia berandai jika saja sosok yang disampingnya kini adalah Arya betapa bahagianya dia. Bukan mau mengingkari kebaikan Prass selama ini, namun cinta kadang bukan memilih yang terbaik. Andai Arya datang sebelum permintaan Ayahnya untuk bersanding dengan Prass. Begitulah pemikiran Elia penuh dengan andai sana sini.


Ayah Elia hanya tidak rela, anak gadisnya menunggu dalam ketidak pastian. Pak Zani ingin Elia ada yang menjaga sebelum dia dipanggil Yang Kuasa.


" El....Elia..." panggilan Prass membuyarkan lamunan Elia." kamu kenapa sayang?" imbuhnya.


" gapapa Mas..." jawab Elia pelan. Saat ia melihat ke arah Arya lagi yang bersangkutan sudah pergi.


Maafin aku kak, ini aku lakukan demi ayah. Andai kau tidak menghilang tiba tiba. Andai kau menghubungiku sekali saja, aku akan setia Kak... tapi sekarang sudah terlambat, meski masih ada dirimu di hatiku tapi jiwa ragaku milik suamiku.


---------------


Acara berakhir, tamu dan kerabat sudah pulang. Tinggal keluarga inti yang masih tinggal.

__ADS_1


" El..Ayah pulang..baik baiklah kamu jadi istri dan menantu.. berbaktilah pada suamimu jangan durhaka kepadanya. Surgamu ada padanya." nasehat Ayah Elia sembari memeluk dan pamit pulang.


" Iya yah..." ucap Elia sesenggukan. Akhirnya Ayah Zani dan rombongan pulang. Di susul Keluarga Prass yang juga berangkat pulang.


Tinggal Elia dan Prass kini berada di kamar suite room hotel tersebut. Mereka menginap untuk 2 malam. Semerbak wangi bunga di kamar tersebut. Ranjang mereka dipenuhi kelopak bunga dengan bentuk hati dan handuk dibentuk angsa yang seolah sedang berciuman.


Elia duduk di tepi ranjang dengan perasaan tak menentu. Tangannya tak diam meremas remas ujung kebayanya. Rasa grogi dan kikuk yang ia rasakan. Belum lagi jantunganya berdetak kencang saat pandangannya bertemu dengan lelaki yang sudah menyandang gelar suami untuknya itu.


Kenapa sih Mas Prass menatapku begitu. Aku jadi ga nyaman mau ngapa ngapain. Batin Elia.


" El..kamu ga mau mandi?"....." hmmmm, atau mau aku mandiin?..." goda Prass berusaha mencairkan suasana.


deg...deg...


" Aku bisa mandi sendiri ko..." bantah Elia lalu beranjak menuju kamar mandi.


Sudah terlanjur telanjang dan mandi, ternyata dia lupa bawa handuk maupun pakaian ganti!


Akhirnya ia putuskan meminta bantuan suaminya. Dia membuka sedikit pintu kamar mandi.


" Maaas...." panggil Elia. Yang di panggil malah masih asyik dengan hpnya.


"Maaasssss..." panggilnya lagi.


" Kenapa El?" Prass bergegas mendatangi kamar mandi.


" Stop disitu!"


" Haaah?" Prass bertanya tanya.

__ADS_1


" Ambilin handukku...." ucap Elia. " tadi lupa bawa..."


" Owh...oke..." dia berbalik dan mengambilkannya.


Prass berniat menggoda Elia lagi. Dia senang melihat wajah Elia memerah karena malu.


" Ini handukmu..."


Saat Elia membuka pintunya, tetiba handuk yang sudah di depan pintu dia jauhkan lagi...


" Mass, jangan nakal to...udah kedinginan ini.."


" kamu harus panggil aku sayang dulu dong.." pinta Prass.


" Iya sayang, mana handuknya???" lebih baik menurut daripada amsyong pikirnya.


Elia keluar kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit tubuhnya. Handuk itu tidak terlalu besar, hanya menutup separuh pahanya.


" Pakainku dimana ya Maas.." tanya dia mondar mandir di depan Prass tanpa rasa bersalah.


Prass tidak menjawab, dia melonggarkan beskapnya karena merasa gerah. Jakunnya sudah naik turun dan produksi air liurnya meningkat.


Apa sih maksudnya mondar mandir di depanku hanya pakai handuk begitu??? ...Oh El...kamu ko seksi gitu sih.. leher kamu, bahu kamu...rambut panjangmu yang masih basah itu juga uhhhhh... batin Prass mengacak acak rambutnya.


" Tas kita ada di samping itu El..." Prass menunjuk ke arah depannya. Lalu ia berlalu masuk kamar mandi, mendinginkan pikiran kotornya. Sebenarnya tergoda dengan istri sendiri bukan masalah kan pikirnya.


***Akankah terjadi sesuatu setelahnya?? ?


hmmm... terus ikuti ya..jangan lupa like, koment n vote untuk dukung author...

__ADS_1


bersambung***...


__ADS_2