Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
dalam kegalauan


__ADS_3

Beberapa hari ini hubungan Elia dan Prass merenggang. Elia banyak keluar rumah, dia sering jalan dengan Septi sahabatnya. Gairah hidupnya menurun drastis, dia cenderung bersikap apatis, tak peduli dengan lingkungan. Dia sebisa mungkin menghindar dari bertemu Ibu dan Prass.


" El, aku antar pulang ya..." ucap Septi. Elia hanya diam. Septi menoleh ke arah suaminya, Dian. Sudah hampir setahun mereka menikah dan kini Septi tengah mengandung 4 bulan.


" Aku pulang sendiri aja..." Elia lalu menyambar tas dan pergi meninggalkan mereka.


" Aku malas pulang ke rumah, lebih baik pulang ke perumahan aja deh..untung aku bawa kunci." gumamnya sendiri sambil menunggu ojek online yang dia pesan.


Hpnya berdering, suaminya berkali kali telpon namun ia biarkan. Dia sebal dengan sikap Prass yang plin plan. Dia bilang menyayangi Elia namun tidak menolak permintaan sang ibu untuk menikah kembali.


Di sisi lain Prass sedang kebingungan karena sudah larut Elia belum pulang. Dia mondar mandir kaya setrika. Ibunya yang melihat hanya menggelengkan kepala, mau menegur tapi nanti yang ada malah kena marah karena memang Elia pergi karena dirinya.


Tiba tiba Prass mengambil kunci mobil terus segera pergi.


" El, kamu dimana sih...Mas khawatir sekali sama kamu..Septi bilang kamu kesal sama Mas ya.. maafin mas ya El...Mas sebenarnya ga mau menikah lagi, tapi Mas bingung bagaimana menghadapi Ibu...andai kamu bisa segera hamil El...semua akan baik baik saja...." gumam Prass sambil celingak celinguk melihat tepi jalan, mencari Elia.


Sudah sejam dia muter muter, akhirnya dia memutuskan pulang ke rumah pribadinya. Dia ingin istirahat dan mendinginkan pikiran.


Dilihatnya lampu rumah sudah menyala.


Apa Elia ada disini ya... pikirnya mengembangkan senyum bahagia.


Langsung dia masuk karena memang dia juga punya kunci rumah itu. Dilihatnya Elia tertidur di ruang tamu dengan posisi meringkuk di sofa.


" Sayang...." ucapnya sambil membelai rambut Elia. Lalu dikecupnya puncak kepala Elia.


Elia terbangun, riyip riyip ditatapnya wajah suaminya.


" Kamu ko disini mas?" tanya Elia kaget.

__ADS_1


" Mas khawatir sama kamu...Mas muter muter nyari kamu..capek trus Mas kesini...ternyata kamu disini...kenapa kamu ga angkat telfon Mas?" cerca Prass.


Elia tidak menjawab, dia malah memanyunkan bibirnya. Prass merasa Elia sangat imut sangat merajuk. Elia memang masih muda, dia baru 24 tahun jadi rasanya sangat tidak etis untuk memadunya. Sebenarnya masih banyak waktu dan berbagai macam usaha untuk mendapat keturunan, namun entah kenapa Ibu sudah sangat tidak sabar.


" Elia sayang?" ucap Prass sembari mencium kedua punggung tangan Elia.


" Iya Mas..."


" Mas kangen baangeet sama kamu...kamu sudah berhari2 mendiamkan Mas..rasanya hampa El..." celetuk Prass lalu tiba tiba memeluk Elia dengan erat.


Elia juga membalas pelukan itu tak kalah erat, membawa suasana semakin intim dan terjadilah yang harusnya terjadi pada pasangan suami istri yang didera kerinduan.


Meski Elia sangat kesal dengan Prass, namun ia tak mampu menolak perlakuan Prass padanya. Ia sudah sangat mencintai pria itu.


-------


" Kalian tidur dimana? kenapa tidak pulang?" tanya Ibu.


" kami pulang ke perumahan Bu, sayang kalau ga sering sering di tengok..." jawab Prass sembari tersenyum, sekedar menghilangkan rasa khawatir ibu. Ibu hanya manggut manggut.


" El, Mas mau berangkat kerja dulu..kamu baik baik di rumah, jangan kabur kabur lagi..." bisik Prass saat pamitan.


Rumah kembali senyap begitu Prass pergi. Elia hanya berdiam di kamar, namun tiba tiba pintu kamar diketuk.


tok...tok...tok...


" El, boleh ibu masuk?"


" Iya bu, masuk saja..." balas Elia.

__ADS_1


Ibu duduk di ranjang di samping Elia.


" kamu marah sama ibu ya El...maafin ibu ya..Ibu memang egois memaksa kalian cepat punya anak...Ibu ingin melihat anak Prass sebelum ibu mati, kamu tau kan ibu punya penyakit jantung..ibu bisa meninggal kapan saja..jadi tolong penuhi keinginan ibu ini El...hiks..hiks..." Ibu berkata dengan nada melas yang memilukan.


Elia menitikan air mata, ia tidak tega bila ibu sudah menangis begitu. Ia lalu memutuskan akan merelakan pernikahannya.


" Atur saja bu, Elia ikhlas Mas Prass menikah lagi..demi kebahagiaan ibu..." suara Elia bergetar, dia berkali kali mengigit bibir untuk menahan tangis agar tak semakin membuncah.


" Terima kasih ya El...Ibu sangat menghargai keputusan kamu, kamu akan tetap jadi mantu kesayangan ibu..." ucap ibu sembari memeluk Elia.


Situasi dan kondisi tidak akan sama jika Mas Prass benar benar memutuskan akan menikah lagi. Jangan berjanji untuk tetap menyayangiku Ibu, karena mungkin aku tidak akan lagi menjadi menantumu. Aku rela Mas Prass menikah lagi namun bukan berarti aku mau dimadu. Pikir Elia di sela tangisannya.


" El, kamu kenal orang yang akan aku jadikan istri kedua Prass...dia dulu pernah jadi kekasih Prass sebelum menikah denganmu..dia masih sangat mencintai Prass sampai saat ini..." Elia mengernyitkan dahi mendengar ucapan ibu.


"Siapa Bu?" Elia penasaran.


" Dokter Sandra...mereka berpisah karena Sandra melanjutkan kuliah ke luar negeri, saat itulah Prass bertemu denganmu dan jatuh cinta padamu....namun Sandra masih setia dengan perasaannya.." ibu berkata lantang." Saat ibu memintanya jadi istri kedua, dia sempat menolak namun ibu meyakinkan kalau mungkin masih ada rasa di hati Prass untuknya karena perpisahan mereka bukan karena putus yang disengaja..." imbuhnya.


jeeeedeeeer...


Serasa ada kilat menyambar di kepala Elia.


Jadi justru aku yang jadi orang ketiga hubungan Prass dan Sandra??? pernikahanku dan Prass juga karena keinginan ayah, bukan benar benar karena Prass ingin menikahiku. Elia tenggelam dalam fikirannya sendiri.


**Pembacaku tercinta terimakasih sudah mengikuti ceritaku..


jangan lupa tinggalkan jejak ya..


bersambung**....

__ADS_1


__ADS_2