
Matahari sudah meninggi, namun Elia masih enggan bangun. Mungkin karena matanya yang sembab kebanyakan menangis membuatnya terasa lengket ingin terus terpejam. Dia menginap di tempat kost Septi. Septi sudah beberapa saat lalu pergi kuliah.
" Aku tinggal El...ntar jangan lupa sarapan..." ucapnya tadi sembari pergi dari rumah.
Namun Elia hanya diam.
Tiba tiba...dreeet...dreeet...
Ponsel Elia berdering, dilihatnya ternyata Arya yang telpon!
Diangkat ndak ya...apa ada yang penting ya... batin Elia bimbang.
" hallo kak.." akhirnya diangkat juga.
" El, bisa kita ketemu..siang ini aku tunggu di kafe X..." ucap pria itu dari sebrang telpon.
Namun, tiba tiba telpon itu dimatikan. tuut...tuut...
Kenapa dengan mas Arya ya. Ga biasanya sedingin ini. Oh mungkin pulsanya abis kali ya... batin Elia.
Akhirnya dia bersiap dan segera menuju ke tempat janjiannya dengan Arya. Setelah beberapa waktu menunggu, pria yang dicintainya itu datang.
" Sudah lama El???" sapa dia begitu sampai di depan Elia.
__ADS_1
" Belum ko kaak..." senyum simpul tergurat di bibir Elia.
" Kamu mau nikah sama aku?" ujar Arya tiba tiba. Elia kaget hanya diam mematung.
" Gimana El...?" tanya Arya lagi mencoba meyakinkan.
" Ko tiba tiba, kakak ini ga pake basa basi pula..." ucap Elia.
" Ayolah El..jawab pertanyaanku...." pinta Arya ga sabar.
" Menikah denganmu adalah impianku dari dulu kak. Meski sudah kau sakiti, hatiku tak bisa berpaling darimu. Aku mencintaimu selalu....taaapiiiii....." Elia terhenti karena lehernya terasa mendongkol ingin menangis.
" taaapiii apa???"
" Jadi benar yang dikatakan Tria..." Arya tersulut emosinya.
" Aapaa?" Elia penasaran.
" kamu jadi ayam kampus El..." Ucap Arya lirih. Mata Elia membelalak, rasanya seperti tersambar petir di siang bolong. Dia tak bisa berkata kata lagi, hanya tangannya yang langsung menutup mulut sambil menggelegkan kepalanya.
" berapa kamu dibayar El..Aku...aku akan membayarnya lebih banyak, tapi kau puaskan aku malam ini...." Elia tambah syok dengan penghinaan ini.
" aku bukan pe***** seperti ya kau tuduhkan kak..!" Elia meninggikan suaranya.
__ADS_1
" Lalu kenapa tidak mau menikah denganku???" tanya Arya lagi. Tapi Elia hanya terdiam. Hatinya sakit, teramat sakit. Apalagi mendengar Tria yang memberitahu Arya. Dia pasti sudah menfitnah Elia dengan banyak bumbu di dalamnya. Hingga Arya yang baik hati ini bisa sekurang ajar ini.
Namun Elia tak bisa membohongi Arya, toh kenyataannya dia memang sudah tidak suci lagi. Lebih baik dia jujur, meski konsekuensinya harapan untuk bersama Arya akan hilang untuk selamanya.
" Aku memang bukan gadis suci lagi Kak..tapi bukan berarti aku jadi seperti yang kau tuduhkan."
deg duer...
Hati dan keyakinannya hancur. Arya menatap gadis di depannya nanar. Rasa marah, kecewa, jengkel semua jadi satu.
" kalau begitu tidurlah satu malam denganku El...anggaplah sebagai salam perpisahan. Kau bisa tidur dengan orang lain, pasti kau tidak keberatan kan menghabiskan malam dengan lelaki yang kau cintai ini..kalau kau hamil kau bisa menuntutku untuk menikahimu...." berondong Arya membuat Elia semakin tidak karuan. Dia tidak percaya hal sekeji itu meluncur dari mulut Arya. Orang yang sangat dicintai dan mencintainya.
plaaaaak...!!
Tamparan keras mendarat di pipi Arya. Wajah Elia memerah menahan amarah. Tanpa berkata kata lagi dia meninggalkan Arya yang sedang mengelus pipinya yang terasa perih. Tangannya mengepal geram.
Kau benar benar membuatku semakin terhina Kak. Kita benar benar sudah selesai. Cukuplah kau jadi embun pagi yang hanya bisa menghiasi pagi tanpa bisa kumiliki. Semoga ini pertemuan terakhir kita. Carilah kebahagiaanmu yang lain Kak.
Dengan berderai air mata, Elia meninggalkan kafe itu. Meninggalkan hati dan cintanya untuk selamanya.
***Benarkah Elia dan Arya sudah benar benar berakhir? ???
----bersambung***....----
__ADS_1