Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
bimbang


__ADS_3

Pertemuan siang tadi benar benar menorehkan tanda tanya besar dalam benak Elia. Dia sangat mengenal Prass sebagai sosok lelaki yang sangat penyayang dan bertanggung jawab dengan keluarganya. Kini dalam rahim perempuan yang sudah dinikahi suaminya itu tumbuh tanda cinta keduanya. Sama dengan yang ada di rahimnya kini.


Elia berfikir jika Prass tahu dirinya hamil, kecil kemungkinan Sandra mendapat kasih sayang Prass. Elia merasa tak tega dengan bayi itu. Lalu bagaimana dengan bayinya sendiri? bisakah Elia membesarkannya tanpa Ayahnya?? Ataukah Elia harus tetap bertahan dalam lingkar poligami ini???


Tiba tiba ponselnya berdering. Sosok lelaki yang sedang ia fikirkan.


"Hallo..." seru seseorang dibalik telfon.


" Iya Mas, ada apa?" Elia berkata lembut.


" Keluar ya, aku ada di teras..ada martabak kesukaanmu ini..." Ucap orang tersebut.


Mendengar kata martabak liurnya seakan kelebihan produksi. Dengan susah payah ia telan agar tak menetes keluar. Buru buru ia buka pintu rumahnya.


" Hai El...beberapa hari ga ketemu kangen banget aku..." Wajahnya sumringah melihat istrinya keluar. Ingin dia merengkuhnya dalam dekapan dan tak ingin dilepas lagi. Namun ia urungkan, mengingat hubungannya masih belum jelas kini.


Elia hanya membalas dengan senyuman.


"Ini dimakan..." Prass menyodorkan plastik berisi makanan.


"Terimaksih..." tanpa babibu Elia langsung mencomot makanan itu. Tanpa sungkan dia langsung melahabnya. Mengunyah dan terus mengunyah, hingga beberapa keluar dari mulutnya. Prass memperhatikan istrinya itu, dia membersihkan sisa makanan itu dengan ujung jarinya.


Air liur Prass banjir, hingga ia telan buru buru. Sebenarnya bukan makanan yang membuatnya ngiler, tapi bibir dari mulut yang sedang bekerja itu membuatnya tidak tahan. Ingin ********** dalam dalam.

__ADS_1


" Mas Mau? tapi tinggal satu..hehehe.." Elia melebarkan senyumnya.


" Buat kamu aja, kan emang beli buat kamu..biar kamu tambah gembul dan menggemaskan..." ucap Prass seraya menciwel pipi Elia.


Kedua mata mereka bertemu. Saling mengunci pandangan. Tiba tiba Elia teringat Sandra. Buru buru dia masuk ke dalam rumah.


" Aku ambilin minun dulu Mas.." Prass hanya mengangguk.


Beberapa saat mereka terlarut dalam obrolan. Hingga jam sudah menunjukkan jam 11 malam.


"Boleh nginep sini ga El? aku kan masih sah suami kamu, jadi ga bakal digerebeg tetangga El..." Prass mencoba meyakinkan Elia.


Elia hening sejenak, mencerna kata kata Prass. Sesungguhnya dia sangat merindukan sentuhan lelaki yang sudah jadi suaminya bertahun tahun ini. Namun, sosok madunya seakan menari dalam benaknya.


"Aku merindukanmu El..berilah kesempatan untuk memperbaikinya..." Prass berharap sangat Elia mau kembali. Elia yang didera cemburu dan kemarahan merasa bimbang.


"Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuk kita, kembalilah ke Sandra..."


"Tapi aku hanya mencintaimu El...." Prass masih membujuk Elia.


Elia menatap tajam Prass, Ia membulatkan matanya sambil berkacak pinggang.


" Istrimu sedang hamil kan? kamu harus lebih banyak meluangkan waktu untuknya...kamu harus lebih perhatian dengannya...."

__ADS_1


" maksud kamu apa?" Prass merasa aneh dengan ucapan Elia.


"Sandra menemuiku, dia menunjukkan hasil tes kehamilan...aku mengerti, bagaimanapun dia istrimu...bukan sebuah dosa kamu menyentuhnya...sekarang kita cukupkan saja sampai disini, kasian dia mas..." Elia langsung masuk ke rumah dan menutup pintu. Meninggalkan Prass sendiri dalam kekalutan.


Bagaimana bisa kau berbohong sejauh ini Sandra... Kau benar benar tidak tahu malu... jelas jelas aku belum pernah menyentuhmu, bagaimana bisa kau bilang sudah hamil, aku harus segera membuat perhitungan denganmu... Prass mengeraskan rahangnya, geram dengan sikap Sandra.


Di dalam kamar, Elia sesenggukan sambil mengelus perutnya yang agak membuncit. Dia merasa bersalah tidak memberitahu Prass soal kehamilannya. Namun, dia merasa ini yang terbaik, Prass akan segera mempunyai anak dengan Sandra. Elia tidak mau Prass meragukan anak di dalam kandungannya. Seperti yang dulu ibu mertuanya bilang, Elia lama hidup berpisah dengan sang suami tentulah meragukan yang dikandungnya anak suaminya atau bukan.


Segera dia ambil benda pipih di atas nakas, dia hubungi seseorang.


" Hallo Kak..." sapanya.


" Iya El.. bagaimana?"


" Aku bersedia ikut denganmu, sepertinya urusanku sudah selesai disini.." Elia menghapus air matanya yang tidak berhenti mengalir.


Mengijinkan suaminya poligami adalah hal yang paling Elia sesali. Meski saat itu memang hasil paksaan mertuanya. Elia hanya bisa pasrah, karena dia fikir kondisinya saat itu yang tidak bisa memberi keturunan untuk suaminya.


Namun dia bersyukur, kini ada kehidupan baru dalam rahimnya yang harus ia jaga. Jujur, ia ingin tetap selalu ada di samping suaminya. Membesarkan anak mereka bersama sama. Namun ada kehidupan lain yang musti Prass jaga pula, Elia tidak mau menghancurkan perasaan wanita lain.


Sandra, Elia dan Prass...cinta segitiga itu harus segera diputus, kalau berlarut larut tanpa ada yang mengalah semua hanya akan ada kehancuran. Korbannya tentulah anak anak.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2