
Sepanjang perjalanan Prass selalu menggoda Elia. Elia pun tak bisa untuk tidak tertawa. Prass ternyata seorang yang humoris. Meski yang dikatakannya kadang garing dan jayus, Elia selalu berusaha tertawa.
" El..kamu tau ndak kenapa Ayah kamu sayang banget sama kamu?" tanya Prass.
" Ya karena aku anaknya..mana ada Ayah yang ga sayang anaknya..."
" saaalaah..."
" teeeruuuz????..." tanya Elia penasaran.
" Ya karena kamu cantik..aku aja yang baru kenal kamu sudah jatuh sayang sama kamu..."jawab Prass sekenanya.
" yaeeelaaah Pak..." Elia mengerutkan kedua alisnya hampir menyatu. Tapi tetep bisa mengukir senyum di bibirnya.
Pak Prass ternyata sangat menyenangkan. Sudah lama tidak ada yang bisa membuatnya tertawa lepas begini. Aku jadi teringat Septi, kangen juga sama anak itu. Apa kabarnya dia ya. Lama ga bertemu, terakhir ketemu pas acara perpisahan di sekolah. Mungkin dia sudah kuliah sekarang. Ohhh...kuliah...kapan aku bisa kuliah ya...
" El..kanapa melamun????" ucap Prass mengagetkan Elia.
" Ah enggak ko Pak..cuma teringat temen aja..." jawab Elia.
" Siapa? pacar kamu?" tanya Prass penasaran.
" Bukan ko..temen sekolah..lagian cewek juga..." jawab Elia.
" kirain cowok kamu..takutnya nanti ada yang marah..baguslah kalau gitu..kita sama sama jomblo, jadi bebas deh mau kemana mana...heeee.." celetuk Prass.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan sebuah toko perhiasan. Tampaknya Prass mau membelikan perhiasan untuk ibunya. Prass keluar dari mobil, diikuti Elia yang mengekor di belakangnya.
"Selamat siang Pak..ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang pramuniaga toko tersebut.
" Iya mbak saya mau membeli untuk ibu saya..."
Akhirnya Prass membeli sebuah gelang jenis bangkok yang ada ukiran bunga yang sangat indah. Ada beberapa permata yang melingkar pada gelang tersebut. Elia yang sudah membantu memilihkannya.
" El...makasih sudah bantu milih ya..semoga ibuku suka..."
" Iya Pak..sama sama. Anda harus menyayangi dan membahagiakan ibu anda Pak..anda sangat beruntung masih memilikinya..sedang saya, hanya doa yang bisa saya berikan. Karena beliau sudah meninggal...."ucap Elia sambil meneteskan air mata.
" kapan kapan kamu akan aku kenalkan..kamu bisa anggap ibuku ibu kamu sendiri."
Tiba tiba mobil berhenti di sebuah counter HP. Prass turun dengan menyuruh Elia tetep di dalam mobil. Beberapa saat kemudian dia keluar membawa sebuah bungkusan. Elia tidak terlalu mau tahu isi bungkusan tersebut.
" kita makan dulu El..."
kata Prass setelah masuk mobil.
" Iya Pak saya ikut saja..." jawab Elia lirih.
Mereka turun di sebuah restoran makanan tradisional. Mereka melahap makanan dengan rakusnya, karena memang dari pulang kerja mereka belum makan, pastinya cacing perut mereka sudah meronta minta jatah.
Selesai makan, mobil Prass meluncur menuju tempat kost Elia. Harus putar balik lagi ini karena kost Elia ada di seberang jalan komplek bandara. Sebenarnya rumah Prass ada di dekat tempat mereka makan itu, tapi Prass harus bertanggung jawab mengantar Elia pulang.
__ADS_1
Tidak sampai setengah jam, mereka sudah sampai tempat kost Elia.
" mampir dulu Pak?" tanya Elia pelan. Meski sebenarnya dia ga berniat mengajak atasannya itu mampir hanya sekedar basa basi aja.
" tidak El..lain kali aja.." jawab Prass.
" alhamdulillah..sebenarnya cowok kan mang dilarang masuk...heeeee..."ucap Elia cengengesan.
" kamu ini ya naakaaal..." ucap Prass sambil mencubit hidung Elia.
Elia kaget dan merasa malu. Otomatis pipinya merona seperti tomat matang.
" Oia El...ini hadiah buat kamu, karena kamu sudah membantu aku hari ini..kamu ga boleh nolak.." cerca Prass.
" maaf Pak..saya tidak bisa terima..saya ikhlas membantu Bapak..."
" pokoknya harus kamu terima, kalo ga aku marah dan ga mau jadi temen kamu lagi..." ancam Prass memaksa Elia.
" Baik Pak..terimakasih. Bapak hati2 ya pulangnya..." ucap Elia sambil melambaikan tangan, namun hanya dibalas dengan suara klakson.
Setelah sampai kamar dia buka bungkusan itu.
" Waah...handphone..." bibirnya tersenyum lebar mengetahuinya isi kotak tersebut. Karena memang sudah lama ia menginginkannya.
" trimakasih Pak..." batin Elia. Meski sebenarnya dia sangat merasa tidak enak menerimanya.
__ADS_1