Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
kejutan untuk Elia


__ADS_3

Sudah seminggu lebih Prass klimpungan mencari keberadaan Elia. Dia mendatangi tiap tempat yang sekiranya Elia singgahi. Saudara, kerabat, sahabat maupun teman Elia dia datangi. Bahkan beberapa kenalan sosmed Elia juga dia hubungi namun semua nihil.


Ada kemarahan pada benaknya, kenapa istri yang sangat dicintainya itu tega meninggalkannya begitu saja. Namun, dalam batinnya dia merasa bersalah tidak bisa tegas pada Elia. Jujur dia masih sulit menerima keadaan jika seandainya Elia benar benar tidak bisa hamil. Dia sangat mendambakan hadirnya seorang anak dalam hidupnya.


Apa aku menikah lagi saja, kalau wanita itu sudah punya anak aku bisa langsung menceraikannya dan hidup bahagia bersama Elia selamanya... pikir Prass..


-------------


Di sisi lain, di suatu tempat yang Elia pilih untuk menenangkan diri. Elia sedang merenung memikirkan keputusannya, apa ini yang terbaik untuk rumah tangganya. Andai Elia egois, ia tak ingin berbagi suami dengan siapapun.


Elia ada di rumah saudaranya, tepatnya di rumah bibinya, Bu Siti adik dari almarhumah ibunya. Rumahnya ada di pinggiran kota, letaknya ada di kaki gunung sumbing di daerah Kabupaten Wonosobo.


" El, kenapa melamun?" sapa Bu siti menyambangi Elia di beranda rumah.


" Gapapa ko bi.." jawabnya sambil tersenyum.


Meski Elia tersenyum, namun Bibi bisa melihat kesedihan di mata Elia.


Elia sedang memegang foto pernikahan yang sengaja ia bawa. Ia bahkan membawa surat nikahnya, entah kenapa terbesit dalam benaknya untuk membawa surat penting itu.


" kamu merindukannya ya....kenapa ga pulang saja El...semua pasti bisa dibicarakan baik baik..." Bibi mencoba menasehati Elia.


" kalau aku tetap dirumah mas Prass akan sulit untuk memutuskan, dia pasti sungkan untuk mengatakan iya. Aku pernah memergokinya berkata sebenarnya ingin menikah lagi agar bisa punya keturunan, tapi dia kasihan dan tidak tega padaku..." Elia membuang pandangan sembarang. " hatiku hancur bi, saat tahu dia bertahan padaku hanya karena kasihan bukan karena cinta..." imbuh Elia.


Tangis Elia mulai pecah dan ia terisak tersedu sedu. Pandangannya mulai kabur, kepalanya juga pening. Lalu tiba tiba......


bruuuugh....

__ADS_1


Elia terjatuh pingsan.


Bibi kebingungan dan berteriak minta tolong. Dia memanggil anggota rumah yang lain, sejurus kemudian mereka datang, ada pak Darto dan juga anak lelaki bibi, Aldi, yang berusia 17 tahun. Dia masih kelas 11 SMA.


Elia direbahkan di kamar, tak beberapa lama dia siuman setelah bibi mengolesi minyak kayu putih di bawah hidungnya. Kepalanya masih berkunang kunang.


" Aku kenapa bi? duh kepalaku...." rintih Elia memegang dahinya.


" Tadi kamu pingsan El, tunggulah beberapa saat, dokter akan datang memeriksamu...Aldi sedang menjemputnya." Elia hanya menggangguk mendengar ucapan bibi.


Beberapa saat kemudian dokter datang. Dia langsung memeriksa Elia. Dia juga bertanya status Elia, sudah menikah atau belum. Terakhir dia meminta Elia untuk berkemih, dokter curiga sesuatu.


" Mbak Elia, anda silakan kencing dan bawa kesini..." ucap dokter memberi cawan kecil kepada Elia. Tanpa curiga Elia pun melakukannya.


Beberapa saat kemudian dokter memberi selamat kepada Elia.


" Selamat ya nyonya, anda positif hamil...." Elia kaget, matanya membulat sempurna, hingga tak terasa air matanya meleleh.


Mas Prass, aku hamil Mas..aku bahagia sekali, tidakkah kau juga Mas???? maafkan aku yang gegabah meninggalkanmu..apa kau mau memaafkanku mas?? aku akan kembali mas, semoga tidak terlambat.... Elia berteriak dalam hati.


" Selamat ya El..." ucap bibi seraya memberi pelukan hangat untuk Elia.


" Iya bi..terima kasih..." balas Elia dengan senyum lebar.


Segera Elia mencari keberadaan ponselnya. Mencoba menghubungi suami yang sudah berhari hari ia tinggalkan.


tut..tut...tut...

__ADS_1


maaf nomor yang anda putar tidak dapat menerima panggilan telepon!! ucap dari seberang telfon. Berkali kali ia coba tetap seperti itu.


Sepertinya Prass sedang sibuk, hingga tak bisa menerima telfon. Elia tidak sabar hingga dia telepon lagi berkali kali namun tetap nihil. Dia juga mengirim pesan, menanyakan kabar namun tidak di balas.


Terakhir dia mengirim email ke suaminya, karena dia fikir kalau Prass sedang bekerja dia pasti mengaktifkan emailnya.


*Suamiku sayang...


Maafkan kebodohanku sudah meninggalkanmu, maafkan aku tidak percaya Allah akan memberi keajaiban untuk kita.


Tahukah Mas keajaiban apa itu???


Aku HAMIL Mas!....anak kita, anak yang bertahun tahun kita tunggu. Aku bahagia sekali Mas.. Akhirnya benihmu bisa tumbuh dalam rahimku.. buah cinta kita, aku janji aku akan menjaganya dengan baik...


Jemput aku Mas, aku di tempat Bibi Siti di Wonosobo, kamu masih ingatkan?


Elia, istrimu*...


Elia sangat berharap Prass membalas salah satu pesannya. Saking girangnya, dia menghubungi semua jalur koneksi sosmed Prass. Dia tidak sabar ingin tau reaksi suaminya. Bibirnya tersenyum lebar, matanya berbinar binar betapa sangat terpancar kebahagiaan di matanya.


Angannya melayang, membayangkan suaminya datang menjemputnya. Merentangkan kedua tangan dengan lebar, memeluk erat dan menghujaninya dengan ciuman yang tak habis habis. Sungguh benar benar membahagiakan pikirnya.


"Kalau saja Bibi tidak melarangku, aku ingin segera kembali ke Jogja..mengatakan langsung ke Mas Prass..hmmmmm...." Elia tersenyum dan kembali mengelus perutnya yang masih datar. Dia masih tidak percaya ada kehidupan kecil di rahimnya.


***Hidup selalu jadi misteri, penuh keajaiban dan kejutan....


Semoga Elia mendapat kebahagiaanya ya...

__ADS_1


pembacaku tersayang jangan lupa like dan koment ya***...


----bersambung....


__ADS_2